Ibu Ajaklah Aku Bersamamu

Ibu Ajaklah Aku Bersamamu
PART 35


__ADS_3

Kini aku sedang menuju ke Bandara Soekarno-Hatta. Dulu aku tidaklah percaya bahwa ada orang yang punya pesawat pribadi, tapi kini aku memercayai bahwa orang itu benar-benar ada, dan aku adalah anak sang pemilik pesawat pribadi tersebut. Tak menyangka ternyata takdirku seindah ini, apakah takdir akheratku juga akan seindah ini. Semoga saja sama-sama indah.


Pesawat yang sedang aku tumpangi ini sungguh sangat indah sekali. Entah ini rumah atau pesawat. Interior di dalam pesawat ini sungguh sangat membuatku takjub. Ada sofa yang tertata rapi yang membentuk melingkar. Meja makannya juga sangat tertata rapi pula, yang di sisinya terdapat kursi untuk kita duduki, ya jelas lah, ya kali kursi buat jalan.


Tak sampai di situ, di sini juga ada kamar tidur dengan ranjang ukuran king size. Di sana terpajang fotoku dan Ibu. Apa mungkin ini pesawat khusus keluarga. Aku pun kembali keluar kamar setelah menaruh koper yang aku bawa. Aku pun duduk di sofa tepat di samping Papa Malik.


"Kok di kamar ada foto Vio dan Ibu, Pa?" tanyaku setelah duduk dengan nyaman di sofa.


"Itu foto kiriman dari Ibu kamu, dulunya foto saat kamu masih kecil, tapi sekarang sudah di ganti. Foto yang masih kecil di pindah di kamar Kakak kamu," jawab Papa Malik.


"Terus kamar yang Vio tempatin kamar siapa, Pa?" tanyaku penasaran, kalau Kak Alshad punya kamar sendiri otomatis aku juga dong.


"Itu kamarnya Papa, kamar kamu masih di perbaiki jadi untuk sementara kamar Papa kamu tempatin, nanti Papa istirahat di kamar Kakak kamu aja," jawab Papa Malik dengan tersenyum.


Aku pun menganggukan kepala. Gila bukan main, ini pesawat apa rumah. Apakah ini rumah yang berbentuk pesawat, entahlah. Berapa ya kira-kira uang Papa Malik yang di keluarkan hanya untuk beli pesawat ini aja. Gila dah, nanti akunya makin lama masuk surga. Harus pinter habisin uang Papa nih aku, biar cepat habis jadi nggak mikir kalau masuk surganya bakal lama. Haduh, semoga saja uang ini halal semua, jadi tidak terlalu berat saat pengadilan di akherat nanti.


"Ini pesawat yang sering Papa pakai kalau ke luar negeri?" tanyaku dengan menonton televisi.


"Kalau Papa sendirian sih iya, tapi kalau sama anak buah Papa pakai pesawat yang lainnya," jawabnya dengan nada santai.

__ADS_1


"What ...," ucapku dengan refleks langsung melihat Papa Malik, dan beliau pun kaget karena suaraku yang agak tinggi.


"Kamu ngagetin aja sih, Vi," ucapnya dengan mengelus dadanya. "Untung Papa nggak punya sakit jantung, kalau punya dah masuk rumah sakit, Papa," Sambungnya dengan menatapku.


"Ya maaf, lagian kan Vionya kaget. Satu pesawat pribadi yang seperti biasa aja mahal apalagi yang seperti ini. Vio nggak bisa bayangin berapa uang yang Papa keluarin demi membeli pesawat pribadi ini. Dan tidak sampai di situ Papa masih punya pesawat yang lain," terangku dengan menggebu-gebu. "Berapa pesawat pribadi yang Papa punya sekarang?" sambungku memberikan Papa Malik pertanyaan.


"Ada lima kalau nggak salah, sepertinya pesawat ini juga belum termasuk," jawabnya dengan santai bak makan petai.


"Kalau pesawat yang di sewakan Papa punya?" tanyaku masih penasaran dengan harta Papa Malik.


"Ya punyalah, maunya Papa juga punya Bandara sendiri. Jadi kalau bosan di rumah bisa tidur di Bandara." jawabnya dengan mulut penuh karena makan camilan.


"Nggak gitu juga kali, Vi. Lagian cinta Papa cuman buat Ibu kamu," jawabnya dengan nada yang merayu. Mungkin beliau tau bahwa aku tidaklah suka kalau beliau cari istri lain. Apalagi di tambah liat Mbak Pramugari yang sok kecakepan itu, duh pengen nendang keluar tuh orang.


"Terserah Papa lah, lain kali kalau nggajak Vio naik pesawat tolong Vio minta Pramugarinya yang pakai hijab dan bertingkah sopan apalagi tidak keganjenan," jawabku dengan menatap Mbak Pramugari dengan sisnis.


"Maaf Papa lupa pesan Ibu kamu, yang nyuruh Papa untuk pakai masker," dih iklan nih orang. "Oh salah, pesanan untuk mengganti Pramugari yang bertugas di pesawat ini," ralatnya, mungkin saking hafalnya iklan pesan Ibu jadi kebawa kata-kata iklan itu.


"Jadi Papa kalau naik pesawat ini, Pramugarinya juga Mbaknya ini, dan Papa sendirian penumpangnya?" tanyaku dengan nada marah. Papa Malik pun menganggukan kepala sebagai jawaban pertanyaanku.

__ADS_1


"Papa keterlaluan ...," ujarku dan langsung beranjak berdiri.


"Kamu mau kemana?" tanya Papa Malik dengan memegang pergelangan tanganku.


"Mau ke kamar ... Vio marah sama, Papa ...," jawabku dengan menghempas tangan beliau.


Aku pun berjalan untuk ke kamar. "Nggak Anaknya, nggak Ibunya sama-sama posesifnya," gerutu Papa Malik yang masih aku dengar, yang menghentika langkahku.


"Karena kita tuh sayang sama Papa, sayang yang kami lakukan tuh berbeda dari perempuan lainnya. Kita nggak mau Papa berbuat dosa karena melihat aurat Mbak Pramugari yang Papa kerjakan ini. Vio aja kalau lihat takut jadi dosa, apalagi Papa yang otomatis akan dosa. Kan sayang tuh mata tiap ada waktu di jadikan buat zina mata." Ujarku dengan menatap tajam Papa Malik.


Papa Malik hanya menundukan kepalanya tanpa mau menjawab pertanyaaku. Mungkin beliau paham akan perkataanku barusan. Begitulah aku dan Ibuku. Menyayangi seorang laki-laki itu dengan cara yang bermanfaat, dengan contoh tadi. Menjaga agar laki-laki yang kita cintai tak berbuat dosa itu adalah bukti cinta yang sangat besar.


Untuk rasa cemburu mungkin ada, tapi tak sebanding dengan rasa keinginan ntuk menjaga mereka dari mara bahaya dan dosa. Aku sendiri pun hanya memikirkan itu. Rasa cemburu pasti ada di setiap manusia, Tuhan sang pencipta alam dan seisinya saja terkadang cemburu dengan makhluk-Nya yang terlalu mencintai apa yang telah diciptakan-Nya. Apalagi kita manusia yang mudah memberi rasa kasih dan sayang kepada makhluk lain.


Aku membanti pintu kamar dengan keras, tingkahku yang tak sopam ini janganlah di tiru meski marah pada orang tua. Sebenarnya aku menyesal telah membanting pintu yang jelas-jelas tidak ada masalah dengan. Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur masa iya harus di ulangi lagi, emang lagi siaran konser langsung apa pakai acara di ulangi.


Aku rabahkan tubuhku di kasur yang sangat empuk ini. Ibu aku sungguh tak sabar ingin berjumpa denganmu. Kak Alshad semoga engkau baik seperti apa yang aku bayangkan. Kota Shanghai semoga kau menerima kehadiranku disana. Sungguh aku tak sabar untuk sampai di sana. Aku ingin berlibur disana dengan keluargaku ini. semoga saja keinginanku terwujud.


Shanghai I am coming ....

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2