
Aku pun sudah sampai di rumah dengan selamat. Pak Malik pun masih setia mengikutiku untuk menemui Ibu. Aku langsung mencari Ibuku di dapur, karena disana terdengar suara Ibuku sedang mencuci piring.
"Assalamu'alaikum, Bu ...," salamku ketika sudah berada di belakang Ibuku.
"Hah ... Wa'alaikummusalam ... kok kamu sudah pulang, Vi?" tanya Ibu dengan kaget.
"Ada yang mau Vio bicarakan sama, Ibu," jawabku. "Kita bicara di ruang keluarga aja, bu," sambungku dengan menarik tangan Ibuku.
Aku dan Ibu beranjak ke ruang keluarga. Ibuku tidaklah tau bahwa di ruang keluarga ada Pak Malik. Seperti dugaanku Ibu pasti kaget melihat Pak Malik.
"Mas ...," ucap ibuku dengan kaget melihat Pak Malik.
"Bu ...," ucap Pak Malik dengan lirih. Beliau langsung beranjak berdiri dari duduknya.
"Kamu sehat, Bu?" tanya Pak Malik dengan mata yang berkaca-kaca.
"Seperti yang kamu lihat, Mas," jawab Ibu dengan tersenyum.
Keheningan terjadi setelah Ibu menjawab pertanyaan Pak Malik. Mereka berdua hanya saling memandang tanpa mengedipkan mata sama sekali. Aku kok merasa seperti nyamuk ya.
"Aduh ... nyamuknya jahat," ucapku mengakhiri acara memandang mereka. "Ayo kita duduk," sambungku dan menarik Ibu untuk duduk di sebelahku.
Selepas duduk aku pun memandang Ibuku dan Pak Malik secara bergantian. Ibuku hanya bisa menundukan kepalanya, sedangkan Pak Malik terus memandang Ibuku. "Apa kalian saling mengenal?" tanyaku.
__ADS_1
Ibuku hanya menundukan kepalanya, Sedangkan Pak Malik terlihat gugup untuk menjawab. "Sebenarya aku adalah Ayah ... Ayah ... Ayah kandung kamu, Vi," huh, seperti dugaanku. Aku merasa saat di peluk beliau tadi merasa nyaman dan merasa selalu terlindungi, sedangkan bila aku di peluk oleh laki-laki pensil warna itu aku selalu merasakan sebaliknya.
"Kalau Pak Malik Ayah kandung, Vio, kenapa Pak Malik membiarkan Vio dan Ibu menderita?" tanya dengan tegas.
"Papa sangat terpaksa melakukannya, Nak," jawab Pak Malik dengan lirih. "Papa nggak bisa berbuat apa-apa waktu itu, Papa hanya bisa membawa Alshad dan meninggalkan kamu yang masih di rahim Ibu kamu bersama laki-laki bej** itu, tapi sekarang Papa akan bawa kalian pergi dari laki-laki seperti Hans." Sambungnya dengan pancaran penuh tekad di wajahnya.
"Untuk cerita masa lalu kalian nanti-nanti saja di bahasnya, yang lebih penting sekarang adalah keselamatan Ibu. Vio, nggak mau terjadi apa-apa sama Ibu ... Bu, Vio, mohon sama Ibu untuk pergi sama Papa dan Kak Alshad ... Vio, biar disini sendiri yang nyelesain masalahnya ... Vio, mohon sama Ibu, ubah nama pemilik rumah dan Perusahaan atas nama Vio sebelum mereka mengambil semua kekayaan yang selama ini Ibu pertahankan." Ujarku seperti rumus persegi panjang.
"Besok kita ketemu aja di rumah kakek kamu. Soal surat biar Papa urus," ucap Pak Malik, seakan tau isi pikiranku.
Ibu pun setuju dengan semua yang aku dan Pak Malik ucapkan. Sepertinya aku harus mengganti nama panggilan Pak Malik menjadi Papa Malik, baiklah akan aku ubah panggilan nama untuk beliau.
Baiklah besok aku dan Ibu akan pergi Ke rumah Oppa dan Grandny. Semoga mereka juga bisa membantu menyelamatkan Ibu. Aku tak sanggup bila harus kehilangan Ibu karena di bunuh oleh tangan kotor seperti manusia keji seperi laki-laki pensil warna dan Tante Seli itu. Mereka hanya sampah yang bernasib seperti sang Raja dan Ratu. Itu dulu sebelum aku tau apa yang akan mereka lakukan. Tunggu saja pembalasanku untuk kalian berdua.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Aku pun sudah sampai di rumah Kakek Bramanta yang kemaren aku kunjungi. Di depan rumah sudah ada mobil asing yang belum aku kenal nomor polisinya, mungkin itu mobil Papa Malik. Aku dan Ibu masuk ke rumah mewah ini, didalam sudah terlihat banyak orang yang duduk manis dan saling mengobrol.
"Assalamu'alaikum ...," ucapku dan Ibu bebarengan ketika masuk ke rumah.
"Wa'alaikumussalam ...," jawab semua orang yang ada di dalam ruang tamu.
Aku dan Ibu pun beranjak ikut bergabung ke dalam ruang tamu. "Oppa gimana kabarnya?" tanyaku selepas bersalaman dengan Oppa Bramanta.
__ADS_1
"Baik Sayang, kamu sendiri gimana kabarnya?" tanya Oppa balik.
"Alhamdulillah, baik Oppa ...," jawabku sambil tersenyum. Aku pun menghampiri Grandny Jelita, wanita yang telah melahirkan Ibuku. Bila tak ada beliau, mungkin juga tidak akan ada aku. "Grandny apa kabar?" tanyaku dan memeluk wanita yang selalu menyayangiku.
"Kabar baik Sayang, Grandny kangen banget sama kamu," ucap Grandny sambil memelukku dengan erat.
Aku pun membalas pelukan beliau dengan meneteskan air mata. Seandainya dari awal aku tau bahwa laki-laki itu bukan Ayah kandungku, tak akan aku patuhi semua ucapannya yang melarangku untuk bertemu dengan keluargaku ini, yang selalu menyayangiku tanpa ada batasnya. "Kabar Vio seperti yang Grandny lihat," jawabku. Aku pun bersimpuh di depan Grandny karena tak kuat menahan penyesalan ini "Maafkan Vio, Grandny ... seandainya, Vio tau sebenarnya, Vio rela tinggal bersama Grandny, yang selalu menyayangi Vio tanpa pamrih," ucapku dengan meletakkan kepalaku di pangkuannya.
"Kamu nggak salah, Sayang ... semua bukan keinginan kamu, jadi kamu jangan salahin diri kamu," ucap Grandny dengan mengelus kepalaku yang tertutup dengan hijab.
Aku pun duduk di dekat Kak Julio selepas berbincang dengan Grandny, dia adalah Kakak laki-laki yang sangat aku sayangi di antara Kakak laki-lakiku. Dia yang selalu memberi semua perhatiannya untukku setelah kejadian Mbak Siska menamparku.
Aku pun di kenalkan oleh keluarga Papa Malik. Mereka saling menatapku tanpa berkedip, entah apa yang mereka pikirkan. Entah mereka berfikir aku mirip dengan Papa Malik atau tidak. Dulu aku kira kecantikan yang aku miliki adalah keturunan dari Ibu tapi ternyata salah. Kecantikan ini sangat mirip dengan Papa Malik. Wajahku adalah wajah Papa Malik versi perempuan.
Mungkin wajah ini bukti bahwa Ibuku tidaklah salah dalam kejadian yang menjebak beliau, sehingga membuat beliau hidup dengan penderitaan di sisi laki-laki pensil warna.
Sedikit cerita tentang Ibuku yang di jebak dari laki-laki itu. Ketika Ibuku mengandungku satu bulan, beliau di jebak oleh laki-laki itu. Beliau di jebak tidur bersama laki-laki itu di salah satu kamar hotel. Hans membayar seseorang untuk menculik Ibuku dan menjebaknya seolah-olah tidur dengan si Hans. Sebelum Hans sudah tau bahwa Ibuku sedang hamil dan dia memanfaatkan keadaan itu untuk merebut semua harta Ibuku. Dia menyuruh Ibuku menceraikan Papa kandungku dengan dalil Ibuku sedang mengandung anaknya, padahal aku yang saat itu di kandung Ibuku adalah anak Papa Malik. Semua percaya dengan ucapan si Hans, tapi tidak dengan Papa Malik. Eyang Kakung dan Eyang Putri pun percaya dengan ucapan si Hans sehingga memisahkan Ibuku dengan Papa Malik dan Kan Alshad secara paksa.
Posisi Papa Malik saat itu sangatlah lemah karena semua bukti menyudutkan Ibuku telah berbuat keji. Papa Malik pun tau bahwa Ibuku sedang mengandung anak beliau. Tapi apalah daya mereka hanya manusia biasa yang tak mampu menunjukan kejahatan manusia secara langsung. Si Hans sangatlah licik, dia membuat surat perjanjian setelah menikah dengan Ibuku, surat perjanjian yang menyudutkan Ibuku, selain surat perjanjian dia juga mengancam akan menyebarkan foto Ibuku yang tidur dengan dia tanpa pakaian. Mau tak mau Ibuku dan Papa mengalah demi menghindari gunjingan orang.
Tapi sekarang semua orang tau bahwa mereka telah di bodohi oleh laki-laki yang bernama Hans Saputra itu. Laki-laki yang sangat licik dan keji. Eyang Kakung dan Eyang Putri pun meminta maaf kepada Ibuku dan aku saat tau peristiwa sebenarnya.
Papa Malik hanya anak tunggal dari mereka. Meskipun mereka memaksa Papa untuk menikah lagi, tapi Papa selalu menolak karena beliau tau bahwa kami berdua butuh di perjuangakan untuk bahagia bersamanya dan juga Kak Alshad.
__ADS_1
BERSAMBUNG
TERIMAKASIH UNTUK YANG SUDAH MAU MEMBACA. LOVE YOU ALL, JANGAN LUPA DI LIKE DAN DI VOTE.