Ibu Ajaklah Aku Bersamamu

Ibu Ajaklah Aku Bersamamu
PART 39


__ADS_3

Matahari dengan malu-malu menampakkan cahaya untuk menyinari Bumi. Seperti janji Papa Malik kemarin bahwa hari ini aku akan di ajak berlibur kembali ke tempat wisata yang sangat indah menurutnya, entah dimana letaknya aku pun tak tau. Jangankan letaknya, namanya saja aku tak tau.


Aku pun turun ke lantai satu mengunakan lift. Sungguh kaya raya juga Kak Alshad, rumah lantai empat ada liftnya pula. Aku juga mau rumah yang kek gini, tapi aku males kalau harus bersih-bersih sendiri. Rumahku aja cuman dua lantai kalau bersihin bisa encok nih pinggang apalagi lantai empat. Kecuali kalau ada orang yang bersihin rumah sih nggak masalah.


"Bibi juga orang Indonesia?" tanyaku kepada pelayan yang sedang membantu Ibuku masak.


"Iya, Non. Dulu Bibi kira Bibi akan kerja sama orang asli sini. Eh nggak taunya orang Indonesia juga majikannya," jawabnya dengan tersenyum.


"Tapi masih banyak pelayan yang asli sini ya, Bi," tanyaku lagi.


"Iya, Non. Padahal lapangan kerja disini lumayan banyak, tapi ada juga yang lebih memilih jadi Pelayan," jawabnya.


"Mungkin mereka malas mikir, Bi. Jadi mereka lebih memilih jadi Pelayan dari pada keja di kantoran." Terangku yang mungkin sesuai kenyataan.


"Mungkin bisa begitu, Non," jawabnya dengan membersihkan jamur.

__ADS_1


"Tapi dengan cara begitu sama saja kita mencemarakan nama negara kita, Bi. Sama saja kita dijajah dengan cara sopan. Kita kerja di negara kita, tapi majikannya bukan rakyat asli Indonesia, bukankah hampir mirip dengan pejajah dulu, bedanya yang dulu tidak di beri upah sama sekali, tapi sekarang di beri upah." Terangku sesuai pikiranku.


"Betul, Non. Sebab itu Bibi lebih memilih jadi TKW di luar negeri dari pada di negara sendiri, tapi majikannya orang asing," jawabnya, esntah sesuai fakta apa tidak.


"Saluuuuuuut ...," ucapku dengan tertawa.


Aku pun membatu Ibu masak untuk sarapan. Moment yang sering kita lakukan berdua saat berada di Indonesia. Seperti kataku dulu, bahwa dari Ibulah aku belajar tentang arti kehidupan dan kodrat kita sebagai wanita. Setinggi-tingginya derajat wanita, tetap saja derajatnya masih di bawah laki-laki. Karena kita tulung yang ada di rusuk, bukan tulang yang berada di kepala.


Aku pun menyajikan makanan yang di masak Ibu tadi. Setelah semuanya tertata rapi, aku memanggil Papa Malik dan Kak Alshad untuk sarapan. Mereka berdua kalau sudah bahas tentang pekerjaan pasti akan lupa tentang makan. Mereka sama saja seperti Anak-anak di Panti. Kalau tidak di ancam tidak mau makan.


"Papa sama Kakak, kalau nggak di panggil untuk makan, pasti kalian nggak bakal makan dengan inisiatif kalian sendiri kan," tanyaku saat berjalan di tengah-tengah mereka berdua. Mereka hanya menggelengkan kepala dengan tersenyum. "Kebiasaan ...," ucapku.


Selesai makan kami langsung bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan kembali. Meskipun aku tinggal di Shanghai, tidak membuatku lupa aka tugas kuliah. Aku juga mengerjakan tugas-tugas kuliahku di malam hari. Di saat semua sudah istirahat disitu aku mengerjakan semua tugas yang Dosen berikan. Karena dengan suasana yang sepi aku bisa berfikir lebih cepat dari pada banyak teman. Emang aku aneh, kalau yang lain mah lebih cepat kalau ada teman, tapi aku malah agak lemot kalau banyak teman.


Kami pun berangkat menggunakan mobil yang kemarin kami tumpangi, tapi sekarang yang jadi Supirnya adalah Kak Alshad. Aku duduk di belakang dengan Ibu. Seperti biasa saat naik mobil aku rebahkan tubuhku dan pangkuan Ibu sebagai bantal. Tempat favoritku ya posisi begini, sungguh nyaman sekali. Anehnya hanya pangkuan Ibu yang nyaman, itulah sebabnya aku tidak pernah menjadikan pangkuan orang lain sebagai bantal.

__ADS_1


Setelah menempuh setengah jam perjalanan kini kita sudah sampai di Shanghai Ocean Aquarium. Tempat ini di kenal juga dengan Aquarium Laut terpanjang di dunia. Bangunan dari Shanghai Ocean Aquarium ini memiliki dua bagian gedung yang masing-masing gedung memiliki bentuk Piramida. Tempat ini juga satu-satunya Aquarium yang memiliki China Zone.


Selain itu juga, Aquarium ini sangatlah spesial menurutku, karena tempat ini menampilkan berbagai jenis spesies serta enkologi yang ada di sungai Yangtze. Di tempat ini pula terdapat beberapa jenis spesies yang terancam punah di China. Mungkin karena itu orang-orang China pada mencuri ikan di Indonesia. Menurut berita yang aku lihat di siaran berita televisi dan mendengarkan keluhan para pemborong ikan yang menyatakan bahwa harga ikan naik derastis.


Aku tak lupa mengabadikan moment disini. Aku berfoto dengan berbagai gaya, dan memiliki hasil yang cukup memuaskan karena sang fotografer yang handal. "Aku posting fotoku di inst**ram, ah ...," ujarku.


"Nanti aja, sekalian kamu post foto kamu di tempat terakhir yang kita kunjungi nanti," saran Kak Akshad yang masuk akal. Kalau kalian tak paham dengan perkataan Kak Alshad, jangan dipikirkan biar tidak menjadi beban.


Kini aku sedang berada di tempat yang terakhir setelah dari Shanghai Ocean Aquarium. Di sini tepatku berpijak menampilkan sebuah keindahan yang begitu menawan.Ya, kini aku berada di The Bund .


Dukunya tempat wisata di Shanghai ini merupakan Dermaga di sepanjang sungai Hangpu, yang berada tepat di tengah-tengah Kota Shanghai. Disini kalian bisa menikmati betapa indahnya sungai Hangpu ini, yang menjadikan tempat ini sebagai jantung kota Shanghai.Di tepi The Bund kita juga bisa mepihat deretan bangunan yang berarsitektur yang sangat menawan disisi kanan dan juga kirinya.


Dulunya The Bund ini salah satu kawasan yang tertua dan teramai di Shanghai. Karena banyak penguasa asing di Shanghai yang membangun tempat ini untuk di jadikan pusat perkantoran . Dari situlah arsitektur bangunan lama di sini banyak yang bergaya klasik bercorak arsitektur khas Eropa, seperti Art Deco. Dan sebab itulah Papa Malik membangun salah satu perusahaannya disini yang kantor pusatnya gerletak di Beijing.


Aku sangat menikmati indahnya langit sanghai selain saat-saatnya Matahari terbit dan terbenam. Warna jingga dan biru yang berada di langit akan terpantul dengan indah di sungai Hangpu. Pemandangan seperti ini cocok di jadikan sebagai layar belakang untuk berfoto. Dan semua itu tak aku sia-siakan untukku berfoto.

__ADS_1


Foto keluarga yang berlatar sungai Hangpu yang berpangulan dengan langit yang berwarna jingga dan biru itu. Foto ini sangat cocok untuk di pajang di ruang tamu, agar semua orang tau bahwa begitu indah ciptaan Tuhannya.


BERSAMBUNG


__ADS_2