
Baru aja masuk kuliah dua hari, tapi ada aja yang bikin aku kesal. Dia duluan yang cari gara-gara malah nuduh aku duluan. Kalau dia tau siapa aku sebenarnya, nggak mungkin dia nyalahin aku kek gini.
"Kok gitu sih, Mbak. Padahal tadi Mbak yang narik rambut aku duluan, tapi kok kata Mbaknya aku yang napar duluan." Jawabku tak terima, pasalnya dia memfitnah aku. Katanya aku dulu yang cari gara-gara.
"Emang gitu kenyataan, mau ngeles aja lo!" bentanya keras. Mungkin dia lupa kalau ada Pak Justin yang ngelihat kita.
"Kalau bener aku nampar, Mbak ... pasti pipi Mbaknya sudah merah, la ini pipinya aja masih putih gitu!" ujarku sambil nunjuk pipinya, masuk akalkan? Biasanya orang yang punya kulit pipi putih, kalau di tampar pasti membekas.
"Ya ini karena aku tutupi pakai bedak!" ngeles ajo lo Sarminah.
"Kapan Mbak pakai tepung kanji alias tapioka? perasaan dari tadi Mbaknya nggak pakai tepung kanji sama sekali deh!" nyahokkan, lagian salah nggak mau ngaku. Diemkan nggak bisa jawab, mangkanya jangan macem-macem sama aku.
"Sekarang giliran kamu yang cerita, Vio." Ucap Pak Justin dengan menatapku.
Mari kita ceritakan yang sebenarnya terjadi kalau si Sarminah alis Sari yang mulai duluan. Aku pun menceritakan yang sebenarnya terjadi, bahwa dia yang mulai ngajak berantem duluan.
"Kalau Pak Justin nggak percaya. Pak Justin, bisa lihat CCTV," ujarku setelah menceritakan kejadiannya.
Pak Justin pun melihat CCTV, setelah meminta seseorang untuk mengirim rekaman kejadian kami tadi, entah siapa yang di telepon beliau. Alangkah bahagianya aku CCTV tersebut di sertai rekaman suara.
"Kamu cium Pak Farhan?" tanya Pak Justin penasaran.
__ADS_1
"Iya Pak ... emang kenapa, ada masalah Pak?" tanyaku heran, mau cium atau enggak itu kan urusan aku.
"Dimana kamu cium Pak Farhan?" nih orang keponya kebangetan.
"Di Parkiran, Pak ...." jawabku jujur. Beliau agak syok dengar jawabanku.
"Kamu tunangannya, Pak Farhan, Sari?" kita lihat jawabannya apa, dia milih Pak Justin atau Kak Farhan. Dia diam aja setelah tiga menitan kali, dia baru jawab.
"Betul, Pak ... saya tunangan beliau." Otomatis aku langsung ngakak dong. Aku nggak mikir kalau di depanku ada Dosen, bodo amat yang penting ketawa.
"Hahahahahaha ...." serius aku ketawa ngakak, kapan Kak Farhan tunangan sama dia, la wong Kak Farhan aja baru lulus kuliah S2nya, kapan tunangannya. Meskipun kita tak pernah bertemu tapi kami sering komunikasi jadi ya aku tau semuanyalah.
"Terus kamu ada hubungan apa sama, Pak Farhan, Vio?" Pak Justin nanya ke aku.
"Saya Adeknya, Pak ... aduh sakit banget perut saya denger dia ngoceh!" jawabku, jujur aku masih ngakak sambil pegang perut karena keram gara-gara denger jawabnya Sari.
"Adeknya? ...." Pak Justin dan Sari terkejut dengar aku Adeknya Kak Farhan.
"Iya, kalau nggak percaya tanya aja sama Kak Farhan!" jawabku jujur dan santai kek di Pantai.
"Satu lagi sebelum saya pergi, Kak Farhan bukan tunangan kamu Mbak, pacar aja kagak punya apalagi tunangan, yang modelnya kek Ondel-ondel seperti Mbaknya." Ujarku dan beranjak berdiri.
__ADS_1
"Saya pamit, Pak. Saya mau belajar bukan menghajar, lagian Bapak sudah tau siapa yang mulai duluan." Aku pun berjalan hendak keluar.
"Permisi ... Assalamu'alaikum." Ucapku sebelum menutup pintu Ruangan Pak Justin.
#######
Aku pun berlari untuk ke kelas. Saat sampai di kelas aku langsung kerjakan tugas dari Pak Justin. Aku hanya fokus pada tugas di buku ku. Tiba-tiba di depan bangku yang ku duduki ada satu mahasiswa yang gantenya kek Enrique Gil. Banyak mahasiswi yang teriak histeris, karena cowok di depanku ini baru masuk kuliah dan dia paling tampat di kelasku ini.
Menurutku sih memang ganteng, tapi masih gantengan si Kajul alias Kak Julio. Kak Julio tuh paling tampan di antara saudaranya yang lain dia tuh mirip banget sama Lin Yi, sedangkan Kak Juan mirip sama Jin Han dan Kak Farhan mirip Rio Haryanto. Kalau di ukur dari tampannya masih tampan Nabi Yusuf dan Nabi Muhammad. Cari pasangan tuh yang seperti Pak Habibi, udah tampan, kaya, setia dan tau ilmu agama lagi. Meskipun tak Ustadz, asal bisa ajak kita ke surga mah jangan di tolak.
Ku lihat sepertinya nih cowok sombong deh. Soalnya dia tuh diam aja pas di tanya anak di sebelahnya, udah persis patung di Tuban yang roboh itu. Pasti anak orang kaya nih, dari kelakuannya aja sudah sok jual mahal gitu. Apa sih gunanya punya harta banyak kalau kelakuannya seperti itu.
Punya harta berlimpah tapi nggak pernah sedekah ya percuma atuh hidupnya. Sedekah tuh banyak manfaatnya, tapi masih aja nggak ada yang mau sedekah. Pernah aku dengar Ibu berbicara pada tetangga yang kehidupannya berkecukupan, karena di dunia ini sebenarnya nggak ada yang miskin semuanya serba cukup. Cuman manusianya aja yang kurang bersyukur. Beliau berkata 'Hidup itu tak selamanya di atas Bu, kalau kita ada di atas janganlah memandang ke atas lagi, kecuali untuk berdo'a. Jika kita hidup di bawah bersyukurlah, karena kita masuk surga duluan, tanpa perlu menunggu balasan atas apa yang kita gunakan terhadap harta tersebut. Harta di dunia bisa di cari, tetapi bisakah kita cari harta di akherat? tidak Bu. Harta kita di akherat hanya harta yang kita bawa dari dunia. Bila ada orang bilang harta tak bisa di bawa mati, itu salah semua harta bisa kita bawa mati hanya ada dengan cara sedekah. Selain bisa di bawa mati, kita juga bisa memperpanjang hidup kita di dunia. Jadi jangan lupa sedekah meski hanya sebutir nasi dan setetes air, meskipun sedikit jika kita ikhlas In syaa allah kita dapat keuntungannya di akherat.'
Itulah sebabnya aku tak suka hidup berlebihan, selain karena Tuhanku tak suka orang yang berlebihan. Juga karena bila aku hidup di roda bawah aku akan tersiksa sebab sebelum hidup di bawah, aku selalu hidup di atas semua apa yang ku inginkan pasti bisa di dapatkan, itu juga impianku dulu. Sekarang mah aku ingin jadi orang paling miskin di dunia, biar aku masuk surga duluan setelah Nabi Muhammad.
Kalau aku masih berharap hidup di atas terus pasti ke siksa akunya di akherat. Di dunia aja api panasnya Naudzubillah padahal itu hanya secuil api dari neraka, apalagi di neraka beneran. Nggak akan kebayang seperti apa bila itu terjadi padaku. Jadi bila ada orang berkata 'anak pemimpin Perusahaan kok seperti anak Pemulung' itu hak kalian. Yang penting aku dan Ibu nggak masuk neraka kelamaan.
BERSAMBUNG
TERIMA KASIH UNTUK YANG SUDAH BACA NOVEL UANG KOIN INI. JANGAN LUPA DI LIKE, DI COMENT DAN DI VOTE. ITUNG-ITUNG SEDEKAH. YUUUKK KITA SAMA-SAMA BAWA HARTA KITA DI DUNIA KE AKHERAT BIAR KITA KAYA DI SANA. HAHAHAHAHA.
__ADS_1