Ibu Ajaklah Aku Bersamamu

Ibu Ajaklah Aku Bersamamu
PART 2


__ADS_3

Siang itu teriknya Matahari tak mengurangi semangatku untuk menunggu sang Kekasih hati, eh salah sang Kakak maksudnya. Ku menanti seorang kekasih yang tertampan dan termanis hari ini adakah dia kan selalu setia bersanding hidup pesona harapanku. Sambil menunggu Kak Farhan datang aku bernyanyi meskipun liriknya aku ubah, kalau sampai di dengar sama penyanyinya bakal berabe keadaannya. Lagian aku kan perempuan ya aku ubah jadi yang tertampanlah ya kali aku nyanyi 'menanti kekasih yang tercantik' di kira aku gay lah sama orang-orang jadi ya nggak salah kalau aku ubah, aaaah masa bodo.


Dari kejauhan, ku lihat Kak Farhan keluar Kampus dengan mengendarai Mobilnya. Nih orang lupa apa amnesia ya? perasaan tadi aku sudah bilang nungguin dia Gerbang Kampus ini kok malah bawa Mobil kesininya.


"Jangan bengong ayo cepetan masuk!" ujarnya memerintahkan Prajurit untuk masuk. Aku pun menuruti kemauannya.


"Iiihhh ... tau gini tadi langsung ke Parkiran akunya, nggak usah nunggu di gerbang Kampus." Ucapku dengan kesal sambil memanyunkan bibir indahku bak buah Kedondong. Eh itu mah perilaku manusia.


"Siapa suruh pergi tanpa nunggu jawaban, ya rasain sendiri akibat ulahmu!" jawabnya dengan tersenyum, senyum yang sangat menjengkelkan menurutku.


"Tiga kali sehari aku di kerjain sama nih manusia, sudah kek minum obat aku tuh." Ujarku dengan kesal.


"Siapa suruh ceroboh jadi orang," jawabnya enteng, busyett nih orang dari dulu nggak mau salah harus benar melulu.


"Iya ... iya. Diriku selalu salah di matamu Panduka Raja." Jawabku, lebih baik mengalah dari pada debat melulu kek Calon Presiden.


"Hahahaha ...." tawanya pecah, duh pengen ku tabok tuh mulutnya yang menyakitkan hati kek Pelakor jaman sekarang. Eh bawa-bawa Pelakor bisa di santet online dan offline aku sama Geng's Pelakor, wah bahaya.


"Kita mau kemana Kak?" tanyaku karena ini bukan jalan pulang ke Rumahku soalnya, jalan pulang sama berangkat beda, ya kali sama, bisa-bisa tabrakan sama Mobil lain atuh.


"Ya pulanglah masa ke Hongkong." Jawabnya membingungkan, iya tapi kita pulang kemana Haji Muhidin. Sudahlah mendingan diem dari pada sakit hati gara-gara ucapan kembarannya Haji Muhidin ini.


Tak berselang lama Kita sampai ke salah satu Rumah yang sangat besar nan indah. Aahh jangan katrok Vio jadi orang. Tenyata ini Rumah peninggalan mendiang Kakek buyutku. Mungkin Om Rian dan Tante Vidya pindah kesini.


"Mama dan Papa pindah kesini Kak?" tanyaku penasaran dan hanya di balas anggukan. Pantesan nih orang gak punya pasangan kalau kelakuannya masa bodoh kek gini.


Aku pun langsung lari masuk tanpa menunggu sang Supir yang mengantarkanku tadi. Sesampainya di pintu Rumah inginku teriak.


" Ma ...." baru mau teriak panggil Tante Vidya dah keduluan mereka motong teriakanku.

__ADS_1


"Nggak usah teriak kita semua di sini!" busyeet keluarga ini kompak banget ya kek paduan suara.


"Grandny ...." ujarku dan langsung memeluk Nenekku. Dia wanita yang sangat aku sayangi setelah Ibuku. Wanita yang baik hati, lembut dan sangat penyayang.


"Adek kangen banget sama Grandny ...." ucapku sambil memeluk erat wanita yang telah melahirkan Ibuku.


"Kalau kangen kenapa enggak pernah jenguk Grandny?" jawabnya dengan membalas pelukan erat dariku.


"Soalnya Ayah ...." lagi-lagi ucapanku di potong Bebek Angsa masak di Kuali Nenek minta dansa enggak ku turuti.


"Iya ... Grandny sudah tau!" nih orang kalau sudah tau ngapain nanya, untung sayang sama nih orang.


"Ekhem ...." alamat nih ada orang yang aku cuekin.


"Mama ... Papa ... Vio, kangen sama kalian," ujarku sambil duduk di tengah-tengah antara Om Rian dan Tante Vidya. Kalau Ada yang nanya kok panggilnya Mama dan Papa, ya terserah mulutku dong mau manggil gimana. Hehehe ya karena dari kecil aku manggilnya Mama dan Papa.


"Kalau kangen harusnya kasih kabar bukan ngilang bak di telan Hulk!" nggak salah lagi si Kak Farhan mulutnya nurun dari titisan Haji Muhidin yang ada disamping kiriku ini.


"Udah nggak usah kesel gitu. Kamu udah makan belum?" tanya sang wanita yang aku sayangi setelah Grandny yang tak lain adalah Tante Vidya.


"Belum, Ma. Tadi nungguin Kak Farhan kek nungguin Bang Toyib pulang, lamanya Naudzubillah." Jawabku dengan melihat Kak Farhan yang acuh saja.


"Ya udah sana makan dulu gih!" perintah sang Mulia Ratu. Ratu aja kalah cantiknya di banding Tanteku ini.


Aku pun makan dengan lahap tapi tiba-tiba ku teringat kepada sang Bu Pres di Rumah.


"Wadidaw aku belum kasih tau Ibu kalau aku disini, Ma." Ucapku dengan mulut yang masih mengunyah makanan.


"Tadi sudah di hubungi sama, Grandny kamu," syukurlah kalau begitu. Kalau nggak di hubungi saat pulang bisa-bisa jadi Vio geprek akunya setelah di tepungi sama Bu Pres.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu Ma." Jawabku. Lanjutkan makan lagi kan mubazir kalau nggak aku habiskan. Dalam sejarah kamusku tidak ada kata kenyang kalau makanan belum habis, meskipun aku sakit aku tetap menghabiskan makanan.


Di luaran sana tuh banyak orang yang nggak bisa makan enak seperti yang aku makan ini. Jadi bersyukurlah diriku bisa memakan makanan lezat ini. Dalam kamusku juga terdapat 'jangan sisakan makannan meskipun sebutir nasi di piring makanmu karena kita tak tau mana yang berkah dan mana yang tidak' jadi buat kalian semua mari kita bersyukur dengan hal-hal kecil seperti menghargai makanan. Menghargai disini bukan harga untuk di jual tapi harga untuk kita syukuri.


Setelah selesai makan aku pun kembali kepada ruang keluarga untuk kumpul lagi bersama keluarga saudara Ibuku itu. Aku pun langsung duduk di samping Grandny tanpa menghiraukan orang lain. Ku ambil benda pipih yang bisa mengubah semua perilaku manusia hanya karena teknologi canggihnya, apalagi kalau bukan Ponsel.


"Ekhem ...." tanda ada orang yang di acuhkan keberedaanya mulai mengeluarkan suara. Aku pun mengurungkan niatku untuk membuka ponsel. Tunggu, ponsel emang bisa di buka tapi kan ponselku pakai baterai tanam terus gimana cara bukanya? Entahlah.


"Kak Juan ... Kajul ...." hebohku setelah melihat siapa yang telah mengeluarkan suara tanda tadi. Aku pun langsung beranjak berdiri untuk duduk di tengah-tengah mereka.


"Eits ... duduk di samping Grandny aja ... Grandny, masih rindu sama cucu perempaun satu-satunya Grandny." Ucap Grandny sambil memegang pergelangan tanganku.


"Siap, Komandan." Jawabku tegas, ya duduk lagi atuh sesuai perintah sang maha Petinggi.


"Kak Juan gimana kabarnya, sebenernya kemaren Lala mau ketemu sama Kak Juan tapi nggak di izinin sama Ayah. So yaaa nggak jadi ketemulah sama Kak Juan!" ucapku dengan jujur dan sesuai fakta kalau Ayah melarangku untuk bertemu dengan keluarga dari Ibuku ini, padahal mereka semua sangat menyayangi ku tak seperti keluarga Ayahku yang bahkan tak menganggap aku keturunan mereka.


"Nggak usah sedih sekarang kita udah ketemu kan. Kita semua selalu awasi kamu sama Ibu kok Dek, jadi tenang aja kalau kamu mau ketemu tanpa sepengetauhan Ayahmu!" ucap Kak Juan menenangkanku.


"Nggak usah nangis, udah di ajarin caranya biar nggak nangis, masih aja nangis!" ini dia suara sang pelindungku.


"Kajul, Lala rindu padamu," ucapku dengan meneteskan air mata. Kak Julio pun menghapiri dan langsung memelukku dengan erat.


"Jangan nangis ya, nanti Ibu kesini jadi kalian bisa nginap disini," ucapnya dengan mengelus kepalaku yang tertutup jilbab ini.


"Terus Ayah gimana Kak kalau kita nginap disini?" tanyaku dengan memikirkan Ayah.


"Suatu saat kamu akan tau, La. Untuk sekarang kamu fokus dulu sama pendidikan kamu," jawabnya yang ambigu, kan kita nginapnya disini sekarang kenapa harus suatu saat nanti taunya? terserahlah masa bodo.


BERSAMBUNG

__ADS_1


jangan lupa di like dan comen yaaaa guys. Di vote juga atuh biar semangat ngetiknya.


__ADS_2