Ibu Ajaklah Aku Bersamamu

Ibu Ajaklah Aku Bersamamu
PART 34


__ADS_3

Matahari pun mengeluarkan sinar terangnya di Bumi. Kini waktunya aku menemui surgaku yang trlah pergi. Seminggu lebih kita tak saling berjumpa sehingga membuat rindu melanda. Surgaku pergi di negri sebrang untuk menyelamatkan nyawanya, sedangkan aku disini meratapi kepergiannya. Ya sudahlah, toh aku akan berangkat menemui Ibuku sekarang.


Aku membersihkan tubuhku dan berganti Pakaian. Aku juga memaikai make up natural yang tidak terlalu tebal. Aku pun bercermin ternyata cantik juga wajahku. Nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan. Di beri wajah yang cantik rupawan masih kurang bersyukur. Tetapi, kecantikan inilah yang membuat laki-laki tak sengaja berbuat dosa ketika melihatku, mau bagaimana lagi aku juga tidak meminta di lahirkan dengan wajah ysng cantik rupawan.


Aku pun memanaskan mobilku terlebih dahulu sebelum di gunakan. Ternyata si Hans masih tidur, biarkan sajalah toh aku sudah pamit tadi malam. Aku pun hanya sarapan roti yang sudah aku olesi dengan selai rasa melon dan segelas jus alpukat tanpa es dan gula. Aku tak terlalu suka manis, tapi sukanya masam.


Setelah selesai makan aku pun membersihkan piring dan gelas untuk wadah sarapanku. Setelah beres semuanya aku pun membuat secarik surat untuk Hans. Dan aku taruh di meja makan, di samping roti yang telah aku olesi dengan selai kacang kesukaan dia. Aku tetap menghargai dia sebagai Ayahku, meski dalam hati ada banyak kebncian. Meskipun begitu aku masih menghormati dia, karena aku mengingat tidak pernah kasar padaku, tapi pada Ibuku, surgaku sebelum suamiku.


Ayah, Viola berangkat. Maaf kalau Viola pergi tak pamit dengan, Ayah. Mungkin Ayah kecapean bekerja, jadi Vio tak tega untuk membangunkan Ayah. Viola sudah siapkan sarap untuk Ayah, mohon di makan biar tidak mubazir. Untuk rumah, tolong sewa tukang pembersih rumah ya, Yah untuk selama Viola tak di rumah. Viola pamit, Yah. Assalamu'alaikum.


Kata-kata itulah yang tertulis di suratku untuk Hans. Aku suruh aja dia membayar orang untuk membersihkan rumah, ya kali aku nggak di rumah, tapi Papa Malik yang harus bayar orang untuk membersihkan rumahku.


Aku pun berangkat menuju rumah Papa Malik. Sekarang pukul 08.00 pagi, mungkin kita akan berangkat ke Shanghai pukul 10.00 pagi. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ibuku dan Kak Alshad. Setelah melalui waktu setengah jam akhirnya aku sampai di Mansion Papa Malik. Mansion yang paling, paling dan paling mewah di antara yang lainnya. Entah berapa kekayaan yang dimiliki Papa Malik, aku juga tak tau. Tak pernah aku memandang seseorang dari kekayaan yang di mililinya. Karena sekaya-kayanya manusia masih lebih kaya raya Tuhan manusia.


"Assalamu'alaikum ...," salamku ketika memasuki rumah Papa Malik.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam ...," jawab seorang perempuan dari dalam. Perempuan tersebut pun keluar dan tenyata Eyang Putri yang menjawab salamku. "Eh ... Cucu Eyang yang datang," ucapnya yang langsung menghampiriku.


Aku pun mencium tangan beliau. "Eyang Putri gimana kabarnya?" tanyaku dengan sopan.


"Alhamdulillah ... baik, Sayang. Kamu sendiri gimana kabarnya?" jaeabnya dan menanyakan kabarku.


"Alhamdulillah, baik juga, Eyang," jawabku dengan tersenyum.


"Ayo kita ngobrol dulu, Papa kamu masih siap-siap di kamarnya," ajak Eyang Putri untuk mengobrol di ruang keluarga. Beliau bertanya tentang kegiatan apa yang aku lakukan setiap hari. Aku pun menjawab dengan jujur apa adanya.


"Iya, Eyang. Mungkin sudah satu bulan aku kerja disana. Sebelumnya sih kerja di toko Vio sendiri. Empat tahun lalu Vio jualan online dan Alhamdulillah semakin kesini semakin banyak yang order, karena dulu tugas sekolah Vio banyak jadi Vio cari pegawai dan akhirnya Vio sudah nggak terjun langsung setiap hari sampai sekarang," jawabku dengan jujur soal olshopku.


"Maaf Eyang ya, Vi. Kalau saja dulu Eyang percaya sama omongan Ibumu, kamu nggak akan susah payah berkerja keras seperti ini," ujar Eyang Putri dengan sajah penuh penyesalan.


"Vio nggak papa kok, Eyang. Malah Vio bersyukur, dengan begitu Vio bisa ngerasain bagaimana caranya bekerja keras dan tidak mengandalkan uang yang orang tua kasih. Vio buka usaha itu juga dapat uang saku dari Ibu, meskipun Ibu terlihat seorang Istri yang mengandalkan gaji Suami, tapi mereka tak tau apa yang di lakukan Ibuku pada malam hari. Di saat semua orang tengah tidur nyenyak, Ibuku bangun untuk membuat roti pesanan dan yang di titipkan di warung-warung makan. Dari Ibulah Vio belajar seorang perempuan juga bisa bekerja meskipun tak keluar rumah. Biarkan orang lain berkata bahwa kita tak pernah bekerja, tapi pada kenyataannya kita susah payah cari uang di malam hari." Ceritaku tentang Ibuku, yang mungkin di mataku menderita, tapi di sudut pandangan beliau itu adalah bentuk perjuangan Ibu untuk seorang anak.

__ADS_1


Eyang Putri meneteskan air matanya karena mendengar ceritaku. "Sekali lagi maafkan Eyang ya, Nak. Seandainya Eyang tau kenyataannya tak mungkin Eyang pisahkan


Ibu kamu dan Papa kamu. Ketika Eyang melihat raut wajahmu yang begitu mirip dengan Malik, sungguh hati Eyang sakit saat mengatakan bahwa kamu anak haram dari Ibumu dan Hans. Maafkan Eyang ya, Nak," ucapnya dengan menangis sesenggukan.


Aku langsung menghapus air mata yang keluar dari mata Eyang. "Vio, nggak apa-apa kok Eyang. Bukankah mata manusia tak sama dengan mata Tuhan. Ibu Vio dan Vio sendiri tak pernah memikirkan untuk di pandang baik di mata manusia. Tapi kita selalu berusaha agar selalu di pandang baik oleh sang pencipta. Jadi Eyang tak perlu menyesal untuk semua cara pandang Eyang ke Ibu Vio. Ibu tak pernah marah apalagi dendam kepada orang lain. Kami juga serahkan pada yang maha kuasa agar hidup kita damai tanpa dendam." Jawabku dengan menggenggam tangan Eyang Putri.


Eyang Putri langsung memelukku dan terus mengucapkan kata maaf dan terima kasih. Aku pun terkejut ketika Eyang Kakung dan Papa Malik ikut memelukku dan Eyang Putri. Apa mungkin mereka berdua mendengarkan pembicaraan kita berdua, entahlah.


"Maafkan Eyang Kakung juga ya, Nak. Maafkan Eyangmu yang kejam ini, disaat Ibumu melahirkan kamu dengan teganya Eyang mengirim Papa dan Kakak kamu ke luar negeri agar tak melihat tubuh kecilmu dulu, dan maafkan Eyang yang tak mengakuimu sebagai cucuku," ucap Eyang Kakung. Begitu kejamnya dulu mereka pada Ibuku dulu. Segitu bencinya kah mereka kepada Ibuku hanya karena fitnah yang di berikan Ibuku. Tapi mau bagaimana lagi, memang penyesalan ada di belakang, dan tak akan pernah terlupakan.


"Semunya tinggal cerita, Eyang. Cerita mau di buat sebagus apapun pasti hasilnya tak sesuai yang kita inginkan. Tak perlu menyesalali masa lalu karena akan menghambat kehidupan kita di masa depan. Biarkan semua jadi sejarah tentang pahitnya kehidupan, dan menjadi pelajara untuk hidup di masa hadapan." Jawabku dengan tersenyum.


BERSAMBUNG


TERIMA KASIH UNTUK YANG SUADAH MAU MEMBACA NOVEL UANG KOIN AUT INI. JANGAN LUPA DI LIKE, DI COMENT DAN DI VOTE YA.

__ADS_1


LOVE YOU ALL.


__ADS_2