Ibu Ajaklah Aku Bersamamu

Ibu Ajaklah Aku Bersamamu
PART 19


__ADS_3

Aku tak mau harga diriku di rendahkan oleh perempuan lain. Sebagai sesama perempuan kenapa dia tega bicara seperti itu kepada perempuan lain.


"Hehehe ... Mbaknya sok tau ya ternyata, saya kesini juga ngembalikan uang yang saya pinjam ke Kakek. Mbaknya nggak ingatkah siapa saya, apa mau saya bongkar kebusukan Mbak?" ucapku menyauti perkataannya.


"Tau apa lo tentang gue, ketemu aja kagak pernah, apalagi kenal!" serunya dengan mengegebu-gebu.


"Kalau nggak pernah ketemu dengan saya kenapa ngehina saya seperti itu, atau ternyata Mbaknya amnesia ya ... apa Mbak lupa rasanya di seret keluar dari rumah Oppa Bramanta Brawijaya ... Mbak lupa siapa yang Mbak tampar gara-gara nuduh Kak Julio selingkuh, padahal Mbaknya sendiri yang tidur sama Om-om," ucapku mengingatkan kejadian silam. Untung aku langsung sadar karena dengar ucapan dia. Dia perempuan yang bernama Siska, mantan pacar Kak Julio. Pekerjaannya cuman morotin harta orang-orang kaya. Termasuk simpanan Om-om girang.


"Yang murahan disini siapa? saya atau Mbak?" sambungku sambil menunjuk wajahnya.


"Ngapain saya jadi Pel***r kalau keluarga saya sudah kaya dari dulu. Harusnya Mbak tuh yang ngaca, kalau bukan karena saya mungkin Mbaknya sudah di dalam penjara dari dulu. Jadi perempuan kok malu-maluin." Cercaku dengan mengegebu-gebu pula.


"Kamu kenal sama dia, Vi?" tanya Kakek Samsudin sambil menunjuk wajah Mbak Siska.


"Jangankan saya Kek, pria hidung belang aja tau siapa dia," jawabku dengan tersenyum sinis.


"Maksud kamu apa, Hah?" busyet dah, si lakinya marah gara-gara aib pacarnya tak buka. Duh, Vio punya mulut kok nggak di jaga.


"Kalau mau tau kebenarannya tentang Mbak Siska Anasta ini, tanya saja sama Kak Julio Aditya Brawijaya, sudah berapa banyak harta yang dia sedekahkan sama Mbak ini," jawabku sambil nunjuk Mbak Siska.


"Kamu ...," geram Mbak Siska.


"Apa? mau nampar saya lagi, nggak takut. Secuil kulit saya Mbak sentuh, bisa saya pastikan Mbak akan mendekam di penjara!" ancamku dengan tegas.

__ADS_1


"Vio pamit kerja dulu, Kek. Vio kalau lama-lama disini makin banyak buat dosa," ucapku berpamitan dengan Kakek Samsudin.


"Iya, Nak ... silahkan ...," jawab Kakek Samsudin.


Aku pun langsung pergi meninggalkan kediaman Kakek Samsudin. Kalau nggak seperti itu, semakin emosi kalau denger kata-katanya yang nggak berfaedah itu. Dapat pahala enggak, dapat dosa iya. Mendingan dengerin kajiannya Ustadz Somad dari pada dengerin radio rusak yang berbentuk mulut.


Aku mah sama orang cuek aja, mau dia jadi Pel***, mau dia selingkuh, mau dia jadi pengusaha, dan lain sebagainya. Aku mah masa bodoh sama mereka, tapi jangan salahkan mulutku yang pedes ini keluar, kalau mereka nyangkutin aku dalam kehidupan mereka. Padahal aku nggak pernah bandingin kehidupanku dan kehidupan mereka, tapi kenapa masih aja ada yang ngusik kehidupan aku. Heran deh akunya.


Lupakanlah soal si Mbak Siska, bikin gerah hati dan gerah body aja kalau inget kejadian dulu, aku nggak mau ceritakan soalnya aib orang. Aku langsung naik ojek online yang ku pesan sebelum bertengkar tadi. harus cepet-cepet sampai di Caffe, entah kenapa perasaanku akan terjadi sesuatu di Caffe. Entah apa itu aku pun tak tau.


Aku pun langsung masuk ke Caffe, dan betapa terkejutnya aku melihat laki-laki yang aku panggil Ayah duduk cantik dengan Tante Seli. Jangan salahkan aku kalau aku harus mencapuri urusan kalian, karena kalian sudah menyakiti surgaku.


Aku pun duduk di kursi yang agak dekat dengan mereka, agar tau apa yang mereka berdua bicarakan. Aku pun tak lupa minta izin ke Pak Darta untuk tidak masuk kerja, tapi istrinya tau kalau aku ada di Caffe. Aku pun mengisaratkan dia untuk diam di tempat dan duduk manis. Aku pun duduk untuk mendengarkan pasangan yang berselingkuh ini.


"Sepertinya sulit aku berpisah dengan Mala, padahal dia tau kalau aku sering tidur sama kamu, tapi masih aja dia nggak mau tuntut aku buat cerai," nih laki minta di santet kali ya.


"Terus aku harus gimana kalau kalian nggak cepet cerai?" Tante Seli merajuk guys, pengen aku tampol tuh mulut.


"Kamu harus sabar dong Yang ... aku juga lagi berusaha buat dia cerain aku ...," dasar laki-laki nggak punya kolor, dia sebenarnya laki apa waria sih.


"Kenapa sih kamu nggak bunuh aja tuh perempuan, perempuan seperti dia masih aja kamu pertahanin," tuh mulut, sabar Vio, sabar. Orang sabar di benci setan.


"Bagus juga ide kamu, tapi gimana caranya agar kita nggak ketauan kalau kita yang bunuh?" emosiku sudah tak tertahankan dengar jawaban tuh laki-laki. Aku pun beranjak berdiri ingin memukul tuh laki-laki. Tapi saat langkahku sudah dua langkah mulutku di bekap oleh Pak Malik, dan beliau membisikanku untuk diam dan sabar terlebih dahulu. Aku pun duduk kembali dengan Pak Malik didepanku. Untung aku ingat pesan tiga sepupuku untuk terus merekam pembicaraan dua manusia tak punya hati itu.

__ADS_1


"Kita sabotase aja mobil dia ...," ya Tuhan perempuan macam apa dia.


"Oke, aku akan suruh bawahanku buat sabotase mobil yang sering dia pakai," Tuhanku kenapa kau takdirkan hidup ibuku bertemu dengan laki-laki bia**b ini.


"Tapi kan si Mala tak pernah naik mobil kalau nggak terpaksa," Tante Seli belum tau kalau singa di depanku sedang menahan amarahnya, rasakan akibatnya kalau kalian sudah di ujung tanduk.


"Minggu depan akan aku suruh dia ke Perusahaan, aku yakin kalau dia akan naik mobilnya," cih, jangan harap rencana kalian akan berhasil.


Aku pun mematikan ponselku dan langsung berdiri. Aku harus pulang ke rumah untuk memberi tau Ibuku soal rencana laki-laki itu dan selingkuhannya. Aku tidak akan tinggal diam kalau menyangkut Ibuku, wanita yang mengandungku, melahirkanku, menyusuiku dan merawatku dari kecil. Ibuku mempertaruhkan nyawanya demi melahirkanku dan aku akan mempertaruhkan nyawaku juga demi melindungi beliau dari manusia bia**b seperti mereka berdua.


Aku pun menyetop taxi yang baru saja menurunkan penumpangnya. Aku langsung masuk kedalam taxi tersebut tanpa memedulikan Pak Malik yang mengejarku. Tak ku sangka Pak Malik pun ikut masuk kedalam taxi yang ku tumpangi, dan beliaulah yang memberi alamat tujuanku kepada sang supir.


Beliau duduk di sampingku dan langsung memelukku dengan erat, beliau terus mengucapkan kata maaf berulang kali. Padahal beliau tak bersalah dalam masalahku, tapi kenapa beliau meminta maaf kepadaku.


"Kenapa harus Ibuku yang mereka sakiti, Ibuku salah apa sama mereka, Pak ... Ibuku salah apa?" ucapku dengan menangis di pelukan Pak Malik.


"Maafkan Papa, Sayang ... Papa nggak bisa jaga kalian berdua ... Papa janji akan membebaskan kalian dari penderitaan ini," ucap Pak Malik dan beliau pun ikut meneteskan air mata.


Aku pun hanya menganggukan kepalaku sebagai jawaban ucapan dari Pak Malik. Di perjalanan pun aku masih menangis di pelukan Pak Malik. Entah mengapa, rasanya sangat nyaman berpelukan dengan beliau. Aku merasa terlindungi dalam pelukan beliau, apakah beliau Papa kandungku yang sebenarnya, karena aku tak pernah merasakan rasa seperti ini ketika di peluk laki-laki yang dulu ku panggil Ayah.


BERSAMBUNG


TERIMA KASIH YANG SUDAH MAU MEMBACA NOVEL UANG KOIN INI. JANGAN LUPA DI LIKE, DI COMENT DAN DI VOTE. AUT MOHON LIKE KALIAN SEMUA UNTUK NOVEL AUT INI. LIKE NGGAK BAYARKAN? LIKE ITU GRATIS TAPI KENAPA PADA PELIT, SEDIHNYA AKU.

__ADS_1


SEKALI LAGI TERIMA KASIH, LOVE YOU ALL.


__ADS_2