Ibu Ajaklah Aku Bersamamu

Ibu Ajaklah Aku Bersamamu
PART 26


__ADS_3

Setengah jam berlalu kini aku sudah sampai di depan Caffe tempatku mengais rezeki. Aku langsung memakirkan mobil cantik ini di tempat parkir mobil, ya kali tempat sepeda. Aku pun mengabsen diriku terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaan. Suasana Caffe semakin hari semakin rame saja. Pintar juga para pegawai disini dalam bekerja.


"Assalamu'alaikum ...," salamku ketika memasuki dapur.


"Wa'alaikumussalam ... eh lo dah masuk, Vi. Kemana aja selama seminggu?" jawab Mas Reno. Sekarang bukan hanya perempuan yang kepo, tapi laki-laki juga jauh lebih tinggi keponya di banding perempuan.Nggak percaya tanya aja sama Pak Ustad.


"Ada urusan sama keluarga aku, Mas" jawabku dengan memakai apron.


Mas Reno hanya menganggukan kepala. Terkadang aku juga bingung sama Mas Reno, kadang cerewet dan kadang kala diem aja. Mungkin dia punya dua sisi kepribadian. Ya sudahlah, biarkan saja.


Aku pun membuat adonan kue, karena stok kue di Caffe sudah habis kemaren lusa. Sebelumnya aku sudah buat kue lumayan banyak, karena kan aku libur seminggu. Sebelumnya juga aku sudah izin nggak masuk seminggu sama Pak Darta.


Aku buat brownies kukus dengan varian rasa, japanese cheese cake, desert box, donut, dan macam-macam bakery. Untuk memasak makanan kita nunggu pesanan dulu, jadi makanan yang kita jual baru di masak.


"Eh, kemana aja lo seminggu ini ... lo kira nih Caffe milik keluarga lo, kerja seenak jidat lo ...," si Mbak Lestari cari gara-gara sama aku.


"Lah emang ini Caffe milik keluargaku ...," jawabku dengan jujur apa adanya.


"In your dream ...," ngatain di mimpi. Ente kagak tau mangkanya bilang kek gitu.


"Tak percaya tak masalah," jawabku dengan nada ketus. Dari pada sakit hati lebih baik pergi dari hadapannya. Inilah alasanku tidak mau berteman, ujung-ujungnya pasti akan saling bermusuhan.


Aku teringat sahabat yang menusukku dari belakang. Di awal pertemanan aku sangat bahagia punya sahabat seperti dia. Dia yang sering main ke rumahku, tapi saat aku mau main ke rumah dia, dia selalu aja punya alasan untuk menolak. Entah kenapa aku juga tidak tau.


Hari demi hari kita lewati bersama, hingga aku menganggap dia saudara kandungku sendiri. Enam tahun lebih kita bersama, hingga membuatku percaya akan semua kata-katanya. Entah karena aku yang terlalu baik hati atau sahabatku yang terlalu kejam menghinaku. Ketika dia terus saja memfitnahku, yang aku lakukan hanya diam saja. Untuk membalas semua kejahatannya pun aku tak mau. Aku pasrahkan pada sang pencipta alam semesta.


Aku hanya punya tangan dan satu mulut, tak mungkin bila aku harus menutup semua telinga mereka. Aku yakin kebenaran akan terungkap dengan sendirinya, karena tak semua kebohongan akan terus melanda. Memang kebohongan akan menang di awal, tapi bukankah kebohongan terungkap di akhir kemenangan.

__ADS_1


Hidup bagaikan roda yang selalu berputar, jadi aku nggak mau pusing-pusing kalau ada yang ngajak bermusuhan hanya karena harta. Intinya, kalau orang percaya padaku ya syukurlah, kalau tidak ya urusan mereka.


Aku terlalu fokus untuk bekerja, hingga tak menghiraukan orang-orang berbicara. Aku hanya berdehem sebagai jawaban perkataan mereka, entah apa yang mereka katakan aku pun tak tau. Itulah salah satu sifat burukku yang baik dan tidak untuk di contoh. Hanya fokus pada satu tujuan tanpa belok kanan dan kiri. Namanya juga perilaku ada sisi baik dan buruknya.


**********


Aku pun pulang pukul delapan malam. Sebenernya bosan harus tinggal sendirian seperti ini, tapi mau bagaimana lagi. Tibanya di rumah aku melihat mobil Hans parkir di garansi rumah. Ternyata inget pulang dia, aku kira sudah nggak doyan harta Ibuku.


Cih, lagi-lagi perbuatan keji mereka merusak mata suciku ini. Heran deh, kamar tidur dan kamar mandi nggak ada yg huni, tapi mereka ngelakuin itu di ruang tamu, dasar nggak punya malu.


"Assalamu'alaikum ...," salamku menghentikan tautan bibir mereka.


"Anak perempuan kok pulang malem-malem. Ngapain aja tuh di luar," ngajak ribut nih Tente Seli.


"Aku pulang malem karena habis kerja, ya itung-itung buat biaya kuliah. Soalnya harta Ibuku udah di kuras sama manusia bia***. Toh aku kerja juga halal, meskipun cuman jadi pelayan Caffe, tapi setidaknya aku tidak jadi pel***." Jawabku dengan nada ketus. Diem kan, mau marah silahkan, kalau kalian mau langsung keluar dari rumah ini.


"Terserah kalian mau ngapain, bukan urusanku juga. Kalian tinggal bareng nggak pakai nikah aja aku biarin, kan dosa yang nanggung kalian sendiri. Yang penting aku nggak akan pernah keluar dari rumah ini sudah cukup," jawab dengan sinis tanpa melihat mereka berdua.


Aku langsung lari ke kamar, akting sakit hati ceritanya. Masa bodoh mau dia ngapain, emang aku pikirin. Yang aku pikirkan sekarang adalah gimana caranya agar bisa bertemu dengan Ibuku dan Kak Alshad secepat mungkin. Aku sangatlah merindukan Ibuku, meskipun baru seminggu kita berpisah.


"Ibu ... Vio, kangen sama, Ibu ...," ucapku ketika selesai salam, ya kami berdua sedang bertelepon.


"Ibu, juga kangen banget sama kamu ... kamu disana jaga diri baik-baik, ya. Jangan lupa makan, kalau bisa berhenti bekerja," jawabnya dengan nada yang menyejukkan.


"Vio, bosan kalau harus di rumah sendirian, Bu. Ibu ajaklah aku bersamamu ...," ucapku dengan lirih, dan tanpa aku duga air mataku pun ikut jatuh.


"Ha ha ha ha ... tenyata dia manja banget ya, Ma ...," eh, ada yang ketawa.

__ADS_1


"Ibu sama siapa sekarang?" tanyaku penasaran.


"Ibu sama Kakak kamu, Nak ... kita lagi kumpul di ruang keluarga ...," jawabnya, mungkin dengan tersenyum. "Kamu yang rajin belajar, biar bisa cepet kesini," sambungnya.


"Kelamaan, Bu ...," jawabku dengan nada memelas. "Ayolah, Bu ... ajak Vio kesana ...," sambungku.


"Minggu depan Papa jemput, Nak. Kalau sekarang Papa nggak bisa ajak kamu," itu kan suara Papa Malik.


"Kalian jahat sama, Vio ... kalian kumpul bareng disana, sedangkan Vio disini sendirian nggak ada temannya," ucapku dengan nada kesal. "Assalamu'alaikum ...," salamku dan langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban.


Aku ngambek nih ceritanya. Mereka kumpul bareng, tapi nggak ngajak aku. Mama telpon lagi berkali-kali, tapi nggak aku angkat aku biarin aja sampai beliau suruh Papa jemput aku. Aku pun telpon para sepupuku, waktunya kita main game online bareng.


"Assalamu'alaikum, ya akhi ...," salamku dan mendapat jawaban kompak dari mereka.


"Kamu di telpon Ibu kok nggak kamu angkat, La?" Ibuku parah juga, pakai acara ngaduin aku ke Kak Juan.


"Biarin aja, ceritanya lagi ngambek aku sama mereka," jawabku.


Aku langsung ngajak mereka main bareng tanpa basa-basi lagi. Nanti kita lanjutkan saja pembicaraan kita waktu main game bareng.


BERSAMBUNG


TERIMA KASIH UNTUK SUDAH YANG MAU MEMBACA NOVEL UANG KOIN INI.


jangan lupa di LIKE, COMENT dan VOTE.


LOVE YOU ALL.

__ADS_1


__ADS_2