Ibu Ajaklah Aku Bersamamu

Ibu Ajaklah Aku Bersamamu
PART 29


__ADS_3

Kini aku dan Anak-anak sedang belanja kebutuhan pribadi mereka. Aku membeli tempat tidur untuk mereka. Peralatan dapur dan bahan-bahan untuk masak Mbak-mbak yang merawat mereka. Tak lupa makanan ringan pun aku beli untuk stok seminggu. Semuanya aku beli untuk mereka.


Setelah selesai membeli kebutuhan untuk rumah, sekarang untuk kebutuhan pribadi mereka. Aku belikan pakaian, sepatu dan sandal, tas dan alat tulis untuk mereka yang sudah sekolah. Aku tak pernah melihat nominal uang yang aku keluarkan untuk mereka, karena aku yakin uang yang aku kasih ke mereka itu adalah uang untuk tabungan akheratku. Mereka mau membeli apapun aku izinkan, karena dengan itu mereka sungguh bahagia. Aku ingin mereka tetap tercukupi kebutuhan sehari-harinya meski tanpa memiliki orang tua.


Kartu yang di kasih Papa Malik ke aku sama sekali tidak aku gunakan untuk berfoya-foya. Aku tak pernah membeli tas atau baju yang harganya sangatlah mahal, mungkin ada bajuku dari baju brand terkenal, tapi semua aku manfaatkan. Aku tau ajaran islam, kita tak boleh hidup berlebihan karena diluaran sana masih banyak orang yang hidup serba kekurangan.


"Bunda, Aina boleh minta es krim?" ucap Aina, anak yang berusia empat tahun. Dia di buang oleh orang tuanya di pinggir pohon mangga depan kontrakan.


"Boleh ... tapi nggak boleh banyak-banyak, ya," jawabku dengan tersenyum. Aina pun menganggukan kepala dengan tersenyum yang terlihat bahagia.


"Les't go ... we buy ice cream ...," ucapku sambil menggendong Aina. Aku juga sering mengajarkan dia bahasa Inggris, Arab dan Perancis. Meskipun aku juga tak fasih dalam tiga bahasa tersebut, tapi setidaknya masih ada hand phone yang membimbingku.


" Ma alayis karim aldhy turiduh?" tanyaku menggunakan bahasa Arab, yang artinya 'kamu mau es krim rasa apa'.


"Ayis karim alfanilia walfurawila," jawabnya dengan fasih menggunakan bahasa Arab. Artinya es krim vanila da stroberi.


Aku pun membelikan es krim sesuai yang dia mau. Bukanku pamer soal aku bisa bahasa asing kepada orang lain, apalagi di depan Anak-anak. Tapi setiap apa yang kita ucapkan bukankah akan di tirukan oleh orang lain terutama Anak-anak.

__ADS_1


Setidaknya aku punya niat baik untuk mengajari mereka bahasa asing. Biar kelak mereka tak di rendahkan oleh orang lain. Mereka juga punya otak seperti yang lain, tapi kenapa masih aja ada yang bandingkan mereka dengan Anak-anak di luaran sana. Mereka juga di didik dengan agama, tapi mengapa masih aja ada yang bandingkan tingkat ilmu agama mereka. Meskipun mereka tak di didik oleh orang tua kandung mereka, tapi mereka juga di didik oleh Ibu Panti, bukan.


"Kalian sudah selesai belanjanya atau ada yang mau di beli lagi?" tanyaku menghampiri Anak-anak yang lain dan Mbak-mbak yang menjaga mereka.


"Sudah Bunda ...," jawab mereka kompak.


"Kalau gitu ... ma va manger maintenant," ujarku yang mengajak mereka makan.


Mereka pun bersorak gembira. Mungkin ini moment pertama kali untuk mereka makan di Restorant. Ku harap suatu saat kalian bisa makan disini tanpa bantuanku, kalau bisa mah buka Restorant sekalian. Semoga cita-cita kalian terwujud, hingga kalian bisa membantu Anak-anak di luar sana yang membutuhkan kehidupan yang layak. Semoga aku bisa menjadi motivasi untuk mereka di masa depan.


Kita pun makan dengan di iringi dengan canda dan tawa. Ternyata aku kurang bersyukur kepada sang pencipta. Kenapa di hati ini masih iri dengan kehidupan orang lain padahal diriku jauh lebih beruntung dari pada Anak-anak yang sedang bersenda gurau di hadapanku ini.


"Reina, pengen ketemu sama orang tua Reina, Bunda ...," jawabnya dengan lirih.


Aku pun berjongkok di hadapannya dan menggengam tangan mungilnya. "Sayang, lihat Bunda. Bunda ada disini sama, Rei, Kakak dan Adik-adik Rei. Bunda akan selalu jaga dan sayangi Reina. Jadi jangan sedih ya Sayang! nanti Bunda ikut sedih kalau Reina sedih seperti ini," tuturku merayunya.


"Reina sayang sama Bunda ... jangan tinggalkan Reina sendirian seperti orang tua kandung Reina, ya Bunda," ucapnya dengan memelukku.

__ADS_1


Aku pun meneteskan air mata. Kata-kata Reina sungguh menyayat hatiku. "Bunda juga sayaaaang banget sama, Reina. Bunda janji akan selalu menyayangi Reina, Kakak-kakak dan Adiknya Reina. Maafkan Bunda yang jarang ke rumah ya, Sayang. Bunda harus kerja untuk kebutuhan kalian. Jadi Reina harus rajin belajar sama Mbak, biar Reina jadi wanita sukses di masa depan, biar bisa bantu Bunda kerja buat biaya sekolah Adik Rei," ucapku dengan memeluk tubuh mungil Reina.


Dia aku temukan di jalanan ketika aku menuju panti. Empat tahun lalu, dia seorang Anak balita berusia satu tahun, menangis di pinggir jalan. Tak ada orang yang simpati dengannya, dia terus menangis dan berjalan mencari orang tuanya. Sebelumnya aku melihat dia di turunkan oleh seorang perempuan yang menurutku masih muda, mungkin umurnya sembilan belas tahun ke atas. Dia tinggalkan anak ini di pinggir jalan sendirian, tanpa meninggalkan sepeserpun barang untuknya. Inginku bawa dia ke orang tuanya, tapi di mobil yang perempuan itu tumpangi tidak menggunakan nomor polisi. Jadi pupus sudah harapanku untuk mengembalikannya.


Sungguh sangatlah kejam orang tua Anak ini. Bayi yang tak punya dosa atas kesalahan orang tuanya harus jadi korban. Dia juga tak bisa menolak ketika dia harus di lahirkan dengan status Anak haram. Dia tak punya salah, tapi orang tuanyalah yang salah.


Kenapa orang tua seperti itu ada di dunia ini. Bukankah dulunya dia juga seorang Anak-anak. Coba saja dia berpikir jika di posisi Anaknya ini, apa dia tak sakit hati seperti Reina. Sungguh orang tua tak punya hati.


Jika suatu hari kamu bertemu dengan orang tua kandung kamu, Bunda berharap kamu tak balas dendam. Sejatinya perbuatan tak pernah terlupakan di ingatan. Bunda berharap semoga kamu bisa memaafkan perbuatan mereka, meskipun tidak bisa melupakan kesalahan mereka.


Bunda akan selalu jaga kalian, meskipun nyawa bunda yang jadi taruhan. Bunda menyayangi kalian karena Allah, dan in syaa allah tak akan pernah pudar sayang Bunda ke kalian. Bunda akan selalu perjuangkan kebahagian kalian meskipun harus mengorbankan kebahagian Bunda.


Bukankah kebahagian diri sendiri bisa di cari, tapi mencari untu kebahagian orang lain sungguh sangat sulit. Karena kita harus berhadapan dengan hati. Yang tak setiap hati sama memilik perasaan.


BERSAMBUNG


TERIMA KASIH YANG SUDAH MAU BACA. DI LIKE ATUH, BIAR AUTNYA SEMAKIN SEMANGAT UP DATENYA.

__ADS_1


LOVE YOU ALL


__ADS_2