Ibu Ajaklah Aku Bersamamu

Ibu Ajaklah Aku Bersamamu
PART 11


__ADS_3

Jam yang tenang melingkar di perelangan tangan aku ini sudah menunjukkan pukul sebelas. Selepas Pak Justin mengakhiri mengajarnya aku pun bergegas membereskan buku-buku yang menampung ilmu-ilmu untuk masa depanku. Setelah ku pastikan tak ada barang yang tertinggal aku pun keluar dari kelas untuk pergi mengais rezeki. Karena semakin pagi kita kerja semakin awal kita pulang bekerja. Entahlah kadang aku juga bingung sama aturan tuh Caffe yang aturannya datang semaumu pulang pun semaumu, tapi jangan salahkan gajimu bila tak sesuai dengan keinganmu.


Kita bekerja di bayar sesuai jam kerja kita dan ramai tidaknya tuh Caffe. Kalau banyak pengunjung, gaji kita juga lumayan apalagi kalau jam kerja kita lama jadi gaji kita double lumayan. Kalau Caffe tak ada pengunjung dan kerja kita cuman sebentar ya jadi hilanglah gaji double lumayan tersebut.


Bisa kita sebut dengan gaji tidak tetap. Jadi setiap hari tuh ada yang absen kita kerja berapa jam, ramai tidaknya Caffe. Untung saja Caffe itu ramai setiap waktu kalau tidak bisa-bisa cuman dapat dua puluh ribu kita sehari. Ya meskipun cukuplah buat beli kuota internet dan permen anak dua negara yaitu permen Bles**r. Tapi kita malah betah kerja disana. Bos yang tidak memandang status, teman yang saling membantu, gaji yang amazing kalau lagi ramai-ramainya. Soal kapan waktu gajiannya tergantung kita minta di gaji kapan, enak nggak tuh. Mau kita ambil sebulan sekali, seminggu sekali bahkan sehari sekali pun terserah kita.


*******


Tak perlu memerlukan waktu yang lama akhirnya aku pun sampai di tempat mengais rezeki dengan selamat dan panjang umur seperti lagu anak-anak ulang tahun.


"Assalamu'alaikum ... yuhuuuu I am coming." Ujarku saat memasuki dapar yang pasti sudah ganti baju terlebih dahulu untuk kerja ya.


"Wa'alaikummusalam ... untung nih jantung normal, kalau nggak normal pasti dah deg deg serrr kek lihat gebetan nih jantung." Jawab Bang Tio yang orangnya kocak abis karena nggak ada stoknya.


"Emang kenapa Bang kok sampai deg deg serrr?" tanyaku dengan heran dan menatap mantan komedi yang nggak laku.


"Karena teriakkan lo yang ngagetin hantu depan rumah!" jawabnya dengan kesal.


"Ooh ... kirain abis di kejar anjing kok sampai deg deg serrr ...," jawabku dengan tersenyum sangat manis pakai banget.


"Kagak nyambung lo!" ucapnya yang tambah kesal.


"Ya iyalah kan aku nggak listrik, ngapain nyambung coba?" ujarku dengan nada yang menjengkelkan.


"Terserah lo dah," jawabnya yang semakin kesal dan hendak berjalan keluar dari dapur.


"Eh, Bang ... kalau Abang di kejar sama anjing, Abang ajak goyang aja anjingnya biar nggak jadi deg deg serr tapi jadi goyang serrr ...," ucapku dengan cengingisan.


"Terseraaaaah!" busyet dah tuh toa masjid apa suara Bang Tio.

__ADS_1


"Kamu tuh suka banget ngerjain Tio, Vi." Ucap Mas Reno dengan tersenyum.


"Soalnya dia tuh gemesin kalau pasang muka cemberut, Mas," jawabku dengan tersenyum.


"Terserah dirimu saja, Vi. Asal kau bahagia!" serunya dengan nada yang mendramatisir.


"Nggak usah ikutan lebay deh, Mas. Jijay akunya," ucapku dengan bergidik ngeri. Maklum orang banyak cobaan tapi tetap stay cool ya kek gini.


"Hehehe ...," ketawa lagi nih orang.


Hari ini hari apasih, kenapa semua orang aneh banget kelakuannya. Apalagi Pak Darta yang menggoda aku katanya pacarnya bos. Bos siapa coba, bukankah dia disini yang bosnya malah ngeledekin aku. Kalau aku pacar bos berarti pacar dia dong. Nggak-nggak, aku nggak mau jadi pelakor, ya kali jadi pacar Pak Darta bisa di tumis sama buncis aku sama Istrinya yang cantik dan bahenol karena hamil.


"Hei Tukiyem tuh di panggil sama Pak Darta," nih siapa yang di maksud Tukiyem. Masuk ke dapur cuman teriak-teriak.


"Siapa yang Anda panggil Bapak Prastio yang terhormat?" tanyaku dengan suara lemah lembut kek tanah di kasih air.


"Baiklah Pak Sartio, saya akan segera kesana," ucapku dengan ramah tamah bak sampah yang di daur ulang.


"Terseraaaah ...," busyet nih orang teriak lagi. Tuh di mulutnya ada mix Masjid kali yak, soalnya kalau teriak ngelebihin suara DPR kampanye.


Aku pun langsung menuju ruangan Pak Darta. Entah apa yang akan beliau bahas, karena biasanya kalau ada masalah beliau yang nyamperin aku. Aku langsung mengetuk pintu ruangannya. Setelah mendapat jawaban dari dalam, ku buka pelan-pelan pintu dan pandanganku tertuju pada tiga sosok lelaki yang duduk membelakangiku. Sepertinya aku mengenal mereka bertiga, tapi siapa? entahlah.


"Permisi ...," ujarku dan masuk ke ruangan Pak Darta.


"Saya tinggal dulu kalau gitu, Bos," pamit Pak Darta. Pak Darta pun keluar setelah mendapat anggukan dari salah satu tiga orang tersebut .


"Lala ...," aku terkejut Kak Julio memanggil namaku. Ya tiga manusia itu ternyata Kakakku.


"Kajuuuul ...," teriakku dan langsung memeluk Kak Julio tanpa memedulikan yang lain.

__ADS_1


"Lala kangen banget sama, Kak Julio!" seruku dengan memeluk erat tubuhnya.


"Lebay banget sih, Adeknya Kakak yang satu ini padahal beberapa hari yang lalu baru bertemu," ujarnya dengan membalas pelukanku.


"Seorang Viola kalau nggak lebay, nggak akan hidup tenang dia. Ketenangan yang kita ciptakan bakal ruwet bila kelebay'an Viola yang sedang beraksi." Dih mulut Haji Muhidin keluar.


"Kak Farhan masih marah sama Lala?" tanyaku dengan tatapan sendu dan melepas pelukanku dengan Kak Julio.


"Enggak tuh!" jawabnya dengan memalingkan wajahnya.


"Lala bakal ganti Kak, kalau udah gajian. Lala pasti langsung kasih uangnya ke Kak Farhan. Lala butuh uang itu untuk beli obat, hiks ... hiks ...," air mataku pun tak bisa ku tahan untuk keluar. Aku tak sanggup bila melihat orang marah hanya karena uang.


Uang itu tidak akan di bawa mati tapi kalau mati tak dengan uang nggak bakal ada yang mau biayain kita untuk di makamkan. Memang aku tau soal itu, tapi salahkah kita membantu orang-orang yang membutuhkan kita.


"Siapa yang sakit, La?" tanya Kak Julio yang memelukku kembali.


"Bi Tati, Kak ...," jawabku dengan menangis. "Bi Tati ninggalin Lala lagi, Kak. Apa salah Lala, Kak? kenapa Bi Tati ninggalin Lala untuk selamanya? hiks ... hiks ...," sambungku dengan memukul dadaku yang terasa sesak.


Bi Tati adalah Ibu kedua bagiku. Beliau yang dulu merawatku ketika masih balita. Beliau menyayangiku seperti anaknya sendiri begitu juga denganku. Pernah ku memanggil namanya dengan sebutan Ibu, beliau langsung berkata kepadaku bahwa Ibuku hanya satu yaitu, Ibu Mala. Beliau tak mau aku panggil Ibu karena beliau tak mau kalau aku lebih menyayanginya dari pada Ibuku.


Ketika pertama bekerja aku sangat senang bahwa aku juga akan membantu membeli obat untuk Bi Tati. Saat aku pulang kerja pun aku akan mampir terlebih dahulu di rumah Bi Tati. Beliau hanya tinggal sendirian karena Suaminya sudah lama meninggal begitu juga dengan anaknya.


Suami beliau meninggal karena kecelakaan pada saat usia empat puluh lima tahun, sedangkan anaknya meninggal karena sakit dan itu pun anaknya masih berusia sembilan tahun. Aku masih ingat wajah Kak Belva yang begitu cantik saat bermain denganku. Selisih umur kita hanya terpaut tiga tahun. Jadi aku masih ingat wajah cantiknya. Mungkin bila Kak Belva masih hidup dia juga akan tumbuh cantik sepertiku, tapi apalah daya takdir sudah berkehendak lain.


Aku pun mengisi kecerianku di dalam hidup Bi Tati agar beliau tak larut-larut bersedih mengingat Kak Belva.


BERSAMBUNG


TERIMA KASIH TERUNTUK YANG SUDAH MAU MEMBACA NOVEL UANG KOIN INI. JANGAN LUPA DI LIKE, COMEN DAN DI VOTE ITUNG-ITUNG SEDEKAH. SEKALI LAGI TERIMA KASIH, LOVE YOU ALL.

__ADS_1


__ADS_2