
Setelah menempuh enam jam perjalanan kini aku dan Papa Malik mendarat dengan selamat di Shanghai. Shanghai adalah Kota terbesar di Republik Rakyat Tiongkok atau China. Shanghai sendiri terletak di tepi Delta Changjiang.
Perkembangan di Kota Shanghai ini dalam dekade terakhir telah menjadikan kota ini menjadi Pusat Ekonomi, Perdagangan, Finansial dan Komunitas terpenting di Tiongkok. Sebab dari itulah Papa Malik mendirikan salah satu perusahaannya disini.
Shanghai juga termasuk Kota yang memiliki Pelabuhan yang sibuk. Selain pemandangannya yang indah, Kota Shanghai ini juga sangatlah bersih. Tidak ada satu pun Pedagang Kaki Lima atau PKL liar yang berjualan di pinggir jalan. Semuanya tertata dengan sangat rapi.
Pantas saja Kak Alshad betah tinggal disini. Di Kota Shanghai ini lingkungannya yang bersih, apalagi Negaranya pun Negara Maju. Meskipun negara ini sudah di cabut dari Negara Berkembang oleh Amerika Serikat, tapi China masih menyebut Negara ini Negara Berkembang. Mungkin karena dampaknya yang akan mengurangi fasilitas dari Negara-negara Berkembang. Ya sudahlah, seperti Presiden aja pakai bahas Negara Maju dan Negara berkembang.
Tak makan waktu lama kini mobil yang membawaku dan Papa Malik pun sudah tiba di rumah yang katanya di tinggali oleh Ibuku dan Kak Alshad. Aku pun keluar dari mobil dan memandangi seluruh penjuru di depan rumah ini. Sungguh rumah ini sangat indah, apalagi suasananya yang sangat asri.
"Ayo masuk ...," ajak Papa Malik yang mengalihkan pandanganku dari kondisi rumah ini.
Aku pun mengikuti beliau dari belakang. Hanya tas kesukaanku yang aku bawa saat ini. Sedangkan koper yang berisi perlengkapanku di bawa oleh pelayan rumah ini. "Assalamu'alaikum ...," salamku dan Papa Malik bersamaan ketika memasuki rumah.
"Wa'alaikumussalam ...," terdengar jawaban salam dari dalam dan suara itu adalah suara Ibuku.
"Ibu ...," aku pun langsung menghapiri beliau dan memeluknya dengan erat. Ku cium seluruh permukaan wajahnya. Sungguh wanita yang selalu menjagaku kini ada dalam pelukanku, yang seminggu lalu pergi meninggalkanku untuk menyelamatkan nyawanya. Aku sungguh bahagia sekali, karena bisa melihat dan merasakan kembali dekapan hangat dari beliau.
"Sungguh Vio rindu bin kangen sama, Ibu," ucapku dan semakin memeluknya.
__ADS_1
"Apalagi Ibu, Nak ...," jawabnya dengan menangis.
"Ibu jangan nangis, Vio baik-baik aja kok disana. Sekarang kan Vio ada disini jadi Ibu nggak usah khawatir sama keadaan, Vio," ujarku dengan menghapus air mata yang keluar dari mata indahnya itu, apalagi matanya mirip dengan yang aku miliki.
"Ayo duduk dulu pasti kamu capek," beliau pun menuntunku untuk duduk.
Aku pun langsung merebahkan tubuhku dan pangkuannya yang aku jadikan bantal. Aku benamkan wajahku di perutnya. Perut yang dulunya menjadi tempat tinggalku sebelum di lahirkan di dunia ini. Sungguh hati ini sakit bila Ibuku di hina perempuan murahan saat mengandungku.
"Ibu maafkan Vio, ya," ujarku dengan memandang wajah cantiknya ini. "Sekali lagi maafkan Vio ya, Bu," sambungku mengulangi perminta maafanku.
"Loh, kok Vio minta maaf. Memang Vio salah apa sama Ibu?" tanyanya dengan heran saat mendengar permintamaafanku.
"Karena Ibu mengandung Vio, Ibu harus rela di hina perempuan murahan. Sekali lagi maafkan Vio ya, Bu. Seandainya dulu Vio nggak ada, mungkin Ibu nggak akan di hina seperti itu," ujarku memberi alasan kenapa aku minta maaf.
"Selama ini Vio sudah cukup bahagia kok berada disisi Ibu. Kebahagiaan Ibu juga kebahagiaan Vio juga begitupun dengan kesedihan yang tiap kali melanda Ibu. Sungguh Vio sangat mencintai Ibu lebih besar dari apapun kecuali Tuhan yang kita sembah." Ucapku dengan tersenyum.
"Ibu juga sangat mencintai kamu lebih dari apa pun kecuali Tuhan kita," jawabnya dengan tersenyum pula.
Papa Malik yang melihat dan mendengar kita berdua pun ikut menangis. Mungkin beliau merasa bersalah karena dulu tak bisa memperjuangkan aku dan Ibu. Ya sudahlah, toh sekarang kita bisa bersama.
__ADS_1
"Kakak ada dimana, Bu?" tanyaku ketika tidak melihat yang namanya Kak Alshad.
"Dia masih di ruang kerjanya, tunggu sebentar biar Ibu panggilkan," jawabnya dan hendak berdiri tapi, di cegah oleh Papa Malik.
"Biar aku aja yang panggil, Alshad ... kamu tunggu disini saja sama, Viola ...," Papa Malik pun beranjak menuju ruang kerja Kak Alshad.
aku dan Ibu kembali melanjutkan pembicaraan kita sembari menunggu Kak Alshad kemari. Kita bicara dari A sampai Z tak ada yang terlewatkan. Entah sudah berapa menit akhirnya Kak Alshad dan Papa Malik keluar dari ruang kerjanya itu.
Aku pun terpesona melihat wajah Kak Alshad. Sungguh titisan dari Nabi Yusuf meskipun tak ada seujung kuku hitam Nabi Yusuf. Kak Alshad saja begini tampannya apalagi Nabi Muhammad dan Nabi Yusuf. Ternyata wajahnya perpaduan dari Ibu dan Papa, meskipun wajah Ibu yang lebih dominan.
"Titisan Nabi Yusuf yang ke berapa ini?" tanyaku yang tak mendapat jawaban dari orang-orang.
"Ibu serius dia Kakak, Vio?" tanyaku memastikan bahwa aku tak salah lihat. Ibuku pun menganggukan kepala sebagai jawaban bahwa yang aku lihat saat ini adalah wajah Kakak kandungku. Badan yang berdiri kokoh seperti tiang rumah Oppa. Hidung yang mancung seperti prosotan TK. Kulit yang bersih putih bagai susu. Alis mata yang tebal seperti Ibuku, mata yang tajam seperti Mata Papa Malik. Bibirnya yang sangat mirip dengan Ibu. Sungguh laki-laki yang sangat sempurna di depanku ini.
"Kakak ...," ucapku dengan lirih. Satu tetes air mataku pun luruh, tak percaya bahwa aku tidaklah anak tunggal melainkan punya saudara yang begitu sangat tampan.
"Jangan nangis girl ...," ucapnya dan langsung memelukku dengan erat. "Salam kenal ya, sist," sambungnya sambil menghapus air mataku.
Aku pun mengangguk dan langsung memeluk kembali tubuh kekar Kak Alshad. "Salam kenal kembali, Bro ...," ucapku di sela-sela tangisanku.
__ADS_1
Sungguh aku sangat bahagia sekali saat ini. Tak bisa aku jabarkan dengan kata-kata kebahagian yang aku rasakan saat ini. Kakak yang baru aku ketahui saat usiaku beranjak 21 tahun. Keinginanku untuk memiliki saudara sekarang terwujud dengan nyata. Lakai-laki yang tampan rupawan ini adalah Kakakku yang baru saja aku temui.
Terima kasih Tuhanku. Engkau telah merubah jalan takdir hidupku dan hidup Ibuku. Terima kasih sudah mempertemukan kami yang dulunya tak pernah bertemu sama sekali. Sungguh, sangat sungguh aku bersyukur atas semua kebahagian yang telah Engkau berikan kepada kami. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.