Ibu Ajaklah Aku Bersamamu

Ibu Ajaklah Aku Bersamamu
PART 38


__ADS_3

Tak butuh waktu lama ternyata kita sampai di tempat wisata yang pertama. Kini tempat wisata pertama kita adalah Shanghai Pearl Tower. Oriental Pearl Tower atau biasa di kenal sebagai Oriental Pearl Radio TV Tower. Arsitek bangunan ini sangatlah unik, karena menerapkan desain yang berbentuk bola di bangunannya sebagai ciri khasnya, dan bolanya itu ada dua, sungguh sangat cantik sekali. Kalau nggak salah bangunan yang berbentuk bola itu terletak di ketinggian 120 meter dan 300 meter.


Aku pun meminta untuk memfotoku yang menjadikan bangunan tersebut untuk latar belakang. Aku dan Ibu terlihat sangat serasi sekali, kita berdua lebuh pantas menjadi Kakak dan Adik dari pada Ibu dan Anak. Sungguh hari ini aku sangat bahagia sekali. Aku bisa berfoto dengan orang tua kandungku dan Kakakku. Kita sudah membuat orang iri atas keharmonisan keluarga ini. Tak sampai di harmonisnya keluarga, tapi juga wajah rupawan kita. Bagaimana tidak kita di ciptakan begitu sangat sempurna.


Setelah dari Oriental Pearl Tower, kita lanjutkan ke tempat wisata berikutnya yaitu Yuyuan Garden.Yuyuan Garden sendiri bisa kita sebut Taman Klasik yang di bangun pada tahun 1959, dan waktu itu di jaman dinasti Ming. Sebelum masuk ke taman kita harus melewati jembatan yang bentuknya berlika-liku, seperti kehidupan. Di bawah jembatan ini kita juga bisa melihat Gondala-Gondala yang terpakir dengan rapi di Danau bahwah jembatan ini. Kalau kalian tidak tau apa itu Gondala akan aku jelaskan. Gondala adalah sebuah perahu dayung tradisionak yang bersal Venisia, Italia.


Di sekitar jembata ini juga terdapat bangunan-bangunan yang klasik China pula. Bangunan tersebut memiliki dua lantai yang terlihat sangat elegan. Taman Klasik ini di bagi beberapa bagian dan setiap bagian memiliki pemandangan yang berbeda-beda tentunya. Aku pun tak membuang waktu untuk mengabadikan pemandangan surga dunia ini.


Aku tak menanggapi sang Fotografer yang menggerutu karena macam-macam keinginanku untuk berfoto. Tapi aku sama sekali tak menggubris gerutunya, hanya aku balas dengan tatapan tajam saja dia sudah diam, kenapa harus susah bicara kalau tatapanku saja sudah membuat sang Fotografer diam. Siapa lagi kalau bukan Kak Alshad sang Fotografer handal yang aku miliki.


"Jangan menggerutu, kalau Kakak ngelakuin sesuatu dengan ikhlas pasti akan dapat balasan yang Kakak inginkan. Apalagi menyenangkan hati Saudara itu suatu kebaikan yang patut di lakukan," ceramahku ketika melihat hasil foto yang Kak Alshad ambil lewat kamera yang dia bawa.


"Tapi kan Kakak capek, La!" serunya dengan wajah cemberut.


Aku pun langsung menatapnya dengan tatapan tajam. "Itu hukuman buat Kakak, udah tau punya Adik, tapi kenapa nggak pernah di hubungi, sekedar tanya kabar kek misalnya. Ini mah kagak, boro-boro nanya kabar ngakuin aku Adeknya aja kagak," jawabku dengan kesal. Aku pun langsung mengembalikan kamera yang ia bawa tadi ke tangannya, dan berlalu dari hadapannya.

__ADS_1


"Aduh La ... jangan marah dong ...," ujarnya dengan mengejarku. "Lala jangan marah atuh ... Iya, iya Kakak nggak akan marah lagi ...," sambungnya dengan menarik tubuhku kedalam pelukannya.


"Kakak sih nggak marah, tapi ngegerutu terus jadinya kan aku kesel," ucapku dengan nada merajuk.


"Iya, ya ... Kakak janji nggak akan ngegerutu lagi," ucapnya dengan mengelus kepalu jang berbalut jilbab pashmina.


Baiklah aku pun luluh dengan ucapan janjinya. Tapi awas saja kalau janjinya tidak di tempati. Kita berdua pun melanjutkan perjalanan karena kami tertinggal jauh dari Papa dan Ibu. Mereka burdua kalau sudah bersama terasa dunia milik mereka berdua, yang lain mah numpang.


"Papa sama Ibu kalau sudah berdua lupa sama Anaknya," ujarku setelah berada di belakang mereka.


"Ya, maaf ... kalau mau ikut foto ya bilang atuh biar jadi kenangan kalau kita pernah kesini bersama." Ucapku dengan tersenyum manis semanis cintamu padanya, terus apa hubungannya. Tenyata Anda aneh sekali Viola.


Kita pun melanjutkan perjalanan kita. Canda dan tawa menghiasi wajah kita berempat. Kebahagian yang telah di nantikan kedua orang tuaku akhirnya tercapai juga. Tuhan biarkan mereka berdua bahagia seperti ini untuk selamanya. Sudah cukup Engkau membuat Ibu dan Papa ku saling berdosa karena mencintai tanpa ikatan yang terjalin dengan pasti. Tapi aku percaya bahwa do'a tiada usaha itu sama saja bohong, dan usaha tanpa do'a itu sombong.


Ibuku yang berdo'a dan berusaha agar terlepas dari Hans. Sedangkan Papaku berdo'a dan berusaha agar kekayaannya bertambah, dan pada akhirnya uangnya yang bertindak dan sebagai jalan menuju kebahagian.

__ADS_1


Kita pun melanjutkan perjalan ke tempat wisata selanjutnya, yaitu di People's Square. Dulunya daerah ini adalah tempan pacuan kuda. Pada tahun 1949 People's Avenue di bangun melintasi pusat area yang di bagian utaranya terdapat People's Park, sedangkan di bagian selatan terdapat People' Square dan Kantor Pemerintah Kota berada di sebelah utara People's Square.


Kami pun kembali ke rumah karena malam pun sudah tiba. Hari ini hanya tiga tempat itu yang kami kunjungi. Papa sudah berjanji besoknakan libur kerja meskipun hari Senin. Beliau akan mengajakku dan Ibu kembali berlibur kembali. Aku pun memaksa Kak Alshad untuk ikut besama kita. Awalnya dia menolak karena ada pekerjaan penting lain. Tapi karena paksaanku akhirnya dia setuju untuk jalan-jalan bersama kita kembali.


Aku pun mengirimkan fotoku dan Kak alshad kepada Papa Rian dan Mama Vidya. Mereka berdua orang tua kedua bagiku. Tanpa mereka pula aku tak akan bisa bahagia seperti ini. Jasa mereka juga besar untuk kebahagiaanku. Tanpa akting mereka aku juga tak bisa bahagia seperti sekarang ini. Mereka berdua ada setiap saat untukku dari waktuku masih kecil.


Mereka juga telah menghadirkan tiga laki-laki yang selalu menyayangi dan melindungiku. Laki-laki yang selalu menemaniku main game online. Mungkin tanpa mereka aku akan kesepian setiap hari.


"Papa terima kasih atas semua kasih sayang yang Papa berikan kepada, Vio. Vio akan selalu mengingat kebaikan Papa sampai akhir hayat. Sekali lagi terima kasih sudah menyayangi Vio seperti anak kandung Papa sendiri. Vio, juga berterima kasih telah menjaga Vio dan Ibu Vio selama ini. LOVE YOU PAPA RIAN❤❤❤." Pesanku dalam what*app dan tak lupa fotoku dengan Papa, Ibu dan Kak Ashad yang aku kirimkan kepada beliau.


"Mama Vidya terima kasih atas kasih sayang Mama selama ini untuk, Vio. Vio sangat menyayangi Mama seperti Vio menyayangi Ibu. Terima kasih sudah ada setiap Vio membutuhkan bantuan Mama. Jangan bosan untuk selalu menyayangi Vio ya, Mama. LOVE YOU SO MUCH, MY MOM💗💗💗." Ketikku untuk Mama Vidya. Yang aku kirimkan dengan aplikasi yang sama seperti Papa Rian.


"My Bro terlove, terima kasih untuk kasih sayang kalian selama ini. Maafkan adik kalian yang paling cantik sendiri ini. Maaf bila Lala dengan sengaja atau tidak telah menyakiti hati kalian. Sungguh Lala sangat menyayangi kalian seperti saudara kandung Lala sendiri. Vio akan selalu menyayangi kalian untuk selamanya. Terima kasih karena kalian sudah ada untuk Lala saat masa-masa terendah Lala. Kebaikan kalianlah yang membuat Lala kuat seperti sekarang ini. LOVE YOU MY BRO. JANGAN LUPA MINGGU DEPAN KITA PERGI JALAM-JALAN KE PARIS, AKU DAN KAK ALSHAD TUNGGU KALIAN DI RUMAH OPPA," tulisku dalam group yang bermember ketiga sepupuku dan aku. Ternyata aku belum memasukan Kak Alshad dalam group kita berempat, dengan nama group 'Saudara Sableng'.


BERSAMBUNG

__ADS_1


LOVE YOU ALL


__ADS_2