Ibu Ajaklah Aku Bersamamu

Ibu Ajaklah Aku Bersamamu
PART 13


__ADS_3

Ku masih setia menunggu Dokter keluar dari ruangan UGD di depanku. Mulutku tak bergerak sama sekali, tapi hati ini selalu berdo'a kepada sang illahi. Semoga tak terjadi apa-apa dengan Bi Tati, kalimat itu seakan memberiku harapan tetang kondisi Bi Tati sekarang ini.


"Kenapa Dokternya lama sekali!" seruku, "Semoga tak terjadi sesuatu kepada Bi Tati," imbuhku. Aku pun langsung beranjak berdiri dan kembali kekanan dan kekiri bagai orang senam.


"Sabar, Nak Vio ... Bu Nur, yakin Mbak Tati baik-baik aja ...," Ucap Bu Nur menenangkanku.


"Semoga aja, Bu," jawabku dengan lirih.


Aku pun kembali mondar-mandir. Duduk dan berdiri itulah kegiatanku saat ini. Badan lemah, hati kacau dan pikiran ling-lung itulah yang sedang terjadi padaku saat ini.


Setelah menunggu empat puluh lima menit akhirnya Dokter pun keluar. Aku yang melihat Dokter tersebut pun langsung beranjak berdiri dan mengahampiri sang Dokter.


"Bagaimana keadaan Ibu saya, Dok?" tanyaku.


"Maaf Nona, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan telah berkehendak lain," jawab Dokter tersebut dengan lirih.


"Maksud, Dokter ... Ibu saya ...," ujarku dengan terbata dan tak lupa air mata mengalir dengan begitu saja.


"Maaf, Nona ... kami tidak bisa menyelamatkan Ibu, Nona," jawab Dokter dengan sendu.


"Enggak ... ini nggak mungkin. Dokter bohongkan, jawab saya, Dok!" seruku dengan mengunjang tubuh Dokter. Emang nggak punya akhlak nih Vio.


"Maaf, Nona ... ini ada titipan dari beliau untuk, Nona Vio." Ujar Dokter tersebut dan mengulurkan sebuah kunci rumah.


"Beliau bilang itu untuk Nona Vio ... apa di sini ada yang bernama Viola?" terang Dokter.


"Saya, Dok ...," jawab ku dengan memandang kunci yang di ulurkan Dokter tadi.


"Baiklah kalau begitu ... saya permisi dulu untuk memeriksa pasien yang lain dan saya ucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Ibu Anda Nona," ujar Dokter.


"Baik, Dok ... terima kasih," jawabku dengan suara serak menahan tangis.


Aku pun langsung masuk ke dalam ruang UGD selepas mempersilahkan Dokter menjalankan tugasnya kembali. Ku lihat seoran Ibu paruh baya tengah baring di ranjang Rumah Sakit dengan tak bernyawa. Ku hampiri beliau Ibu keduaku, wanita yang ikut merawatku waktu kecil.

__ADS_1


"Kenapa, Bi Tati ninggalin, Vio?" ucapku dengan lirih. "Apa selama ini Vio nakal ke, Bi Tati?" sambungku dan tak lupa air mata ikut menetes.


"Terima kasih untuk kasih sayang Bi Tati ke Vio selama ini. Vio, akan selalu kenang Bi Tati sepanjang masa. Vio, akan selalu do'akan Bi Tati untuk meringankan balasan bi Tati semasa hidup," bisikku di telinga Bi Tati. "Bi Tati orang yang sangatlah baik jadi jangan takut bila malaikat bertanya kepada Bi Tati karena kita sama-sama makhluk ciptaan Robb. Terima kasih atas tempat tinggal, Bi Tati untuk, Vio," sambungku.


Aku pun meminta tolong kepada Bu Nur dan Pak Hasan untuk mengurus pemakaman Bi Tati, meskipun malam tiba. Sedangkan aku mengurus perlengkapan untuk membawa Bi Tati pulang.


Maha baik sang pencipta bila kita menanam kebaikan, pasti kebaikan akan kita panen juga. Di saat uang yang ku pinjam dari Kak Farhan tinggal tujuh ratus ribu, dan itu hanya bisa untuk bayar biaya obat yang masuk ke tubuh Bi Tati tadi. Seperti yang ku ucapkan bila kita menanam kebaikan, kita juga akan panen kebaikan juga, bukan?.


Di saat aku tak punya uang datanglah seorang laki-laki bisa di bilang seumuran Grandny dan Oppa yang bernama Kakek Samsudin. Ya, Kakek yang pernah ku temui di depan Kampus waktu lalu.


"Kamu ngapain disini malem-malem, Vio?" beliau bertanya saat aku hendak menuju meja kasir Rumah Sakit.


"Emmm ... Ibu Vio meninggal, Kek ...," jawabku dengan sendu.


"Innalillahi wa innaillaihi roji'un ... yang sabar ya Nak ...," ucap Kakek Samsudin.


"Iya, Kek ... minta do'anya juga buat ibu Vio ya, Kek!" ujarku dengan tersenyum tipis.


"Makasih, Kek ... kalau begitu Vio tinggal ngurus administrasi dulu, Kek ...," ucapku meminta izin untuk mengurus biaya perawatan Bi Tati.


"Iya, Nak ... silahkan ...," jawab Kakek Samsudin.


Aku pun menuju kasir di Rumah Sakit milik keluargaku tersebut. Ternyata biaya untuk perawatan Bi Tati tidaklah sedikit yang aku bayangkan.


Bagaimana ini aku harus bayar pakai apa? tak mungkinkan aku bilang cucu pemilik Rumah Sakit ini, yang ada malah aku di bawa ke Rumah Sakit Jiwa. Ya Tuhan, berilah hambamu pertolongan. Ujarku dalam hati waktu itu.


"Vio ...," tiba-tiba Kakek Samsudin panggil aku.


"Iya, Kek ... ada yang bisa Vio bantu?" tanyaku.


"Oh, nggak ada ... kamu kenapa?" tanyanya. "Apa uang yang kamu punya kurang buat biaya perawatan Ibu kamu?" sambunya seakan tau apa yang telah terjadi dengan ku.


"Emmmm ... iya, Kek." Jawabku dengan lirih dan menundukkan kepala.

__ADS_1


"Baiklah biar Kakek yang bayar semua biaya perawatan Ibu kamu. Kamu nggak perlu memikirkan untuk mengembalikannya," ucap Kakek Samsudin.


"Tapi, Kek ...," ucapku belum selesai sudah di potong oleh Kakek Samsudin.


"Nggak usah tapi-tapian ... sekarang kamu siap-siap buat urus kepulangan Ibu kamu," selanya.


"Terima kasih ya Kek ... Vio, janji akan kembalikan uang Kakek meskipun tidak secara langsung dan harus nyicil," ucapku dengan mencium tangen Kakek Samsudin.


"Iya, Nak ... nggak usah kamu pikirkan kalau kamu belum ada uang," ujar Kakek Samsudin dengan mengelus kepalaku yang berbalut dengan hijab.


"Sekali lagi terima kasih ya, Kek ... Vio boleh minta nomor posel, Kakek?" ucapku dengan tersenyum.


"Iya, sama-sama, Nak ... tentu saja boleh, Nak. Kalau Vio nggak sibuk Vio juga boleh ke rumah, Kakek," jawabnya dengan memberikan aku kartu nama beserta nomor ponselnya.


"Terima kasih, Kek. Kapan-kapan Vio akan ke rumah Kakek kalau ada waktu," ucapku.


"Kakek tunggu kedatanganmu, Nak," jawabnya.


"Siap, Kek ... Vio, urus Ibu Vio dulu ya Kek ... sekali lagi terima kasih ... Assalamualaikum, Kek," ujarku.


Aku pun langsung beranjak kembali ke ruangan UGD untuk membereskan barang yang sengaja aku bawa tadi. Maha baik sang pencipta karena tau apa yang di butuhkan hambanya.


Setelah selesai aku pun menuju kamar jenazah untuk membawa Bi Tati untuk di bawa pulang. setelah semua urusan selesai aku pun naik mobil Ambulance menemani jenazah Bi Tati.


Lafal Takbir pun selalu ku ucapkan mengiringi jalannya Ambulance yang membawa Bi Tati pulang untuk di semayamkan. Air mataku pun tak menyurut, bukan ku meratapi kepergian Bi Tati untuk menuju alam barzah. Tapi ini adalah bentuk rasa sayangku pada beliau.


Karena aku yakin kita semua akan sama seperti Bi Tati saat ini. Ruh telah pergi dari tubuh dan menuju ke alam barzah. Tak akan ada lagi ruh yang pulang kerumah karena semua ruh manusia telah memiliki tempat tersendiri dan hanya do'a-do'a kita yang mereka butuhkan. Bukan bunga dan air yang kita bawa ke pemakaman.


Flas Back Off


BERSAMBUNG


TERIMA KASIH TERUNTUK YANG SUDAH MAU MEMBACA NOVEL UANG KOIN INI ALIAS RECEH. MAAF BILA ADA KATA-KATA AUT YANG MENGANDUNG AJARAN SESAT MENURUT KALIAN, TAPI MENURUT AUT ITU TIDAKLAH SESAT. SEKALI LAGI TERIMA KASIH. LOVE YOU ALL.

__ADS_1


__ADS_2