Ibu Ajaklah Aku Bersamamu

Ibu Ajaklah Aku Bersamamu
PART 27


__ADS_3

Aku dengan para sepupu pun berbain game. Untuk anggota kita tetap sama seperti sebelum-sebelumnya, menang kalah kita tetap sama.


"Kenapa kamu nggak angkat telpon dari Ibu, Dek?" tanya Kak Julio di tengah-tengah kita bermain. "Dari tadi hand phone Kakak bunyi terus," sambungnya lagi.


"Vio lagi ngambek sama mereka, mereka kumpul bareng tapi nggak ajak-ajak, Vio," jawabku sambil bersandar di dinding samping tempat tidur.


"Maksud kamu, Papa Malik di Shanghai sekarang?" saut Kak Farhan yang aku balas dengan deheman.


Kita pun fokus main kembali. Meskipun permainan yang kita mainkan ini hanya mendapat koin, tapi dengan koin itu bisa kita jadikan uang. Semakin banyak koin yang kita dapat semakin banyak pula nominal uang yang kita dapat. Untuk poin bisa kita tukarkan untuk mendapatkan pulsa atau kuota internetan, soal nominal tergantung kita mau tukar berapa. Untuk nama aplikasinya hanya Author yang tau.


"Tadi aku pulang dari kerja lihat kejadian menyeramkan di rumahku," ujarku disaat semua asik ngasih arahan untuk melawan musuh.


"Kejadian apa, Vi? Kamu habis lihat hantu, ya?" ternyata hanya Kak Fito yang kepo.


"Aku habis lihat orang ciuman, Kak ... katanya dia mau nikah minggu depan," jawabku sambil asik membunuh musuh.

__ADS_1


"Kamu nggak sedih, La?" ucap Kak Juan yang baru ikut nimbrung.


"Ngapain harus sedih, malah bagus kalau mereka nikah. Dari pada buat zina terus lebih baik mah nikah aja, toh Ibuku sama Hans udah sah bercerai," jawabku dengan enteng bak mengangkat angin.


"Lo mah aneh, Vi ... Ayah lo mau nikah malah cuek aja," ucap Kak Fito, mungkin dia heran dengan sikap aku.


"Siapa juga yang punya Ayah kek si Hans ... aku mah anaknya Papa Malik," jawabku dengan ketus.


"Oh iya ... lupa gue," jawabnya dengan tertawa di sebrang sana.


"Aku lagi kumpul sama Kakak Kamu ...," semua orang tengah asik berkumpul dan aku sendiri di rumah.


"Kalian mah tega sama aku ...," aku pun langsung keluar dari permainan, kalah ya sudah dari pada iri liat mereka kumpul bareng dan ketawa-ketawa, padahal disini aku sendirian nggak ada yang menemani.


Aku langsung beranjak tidur selepas berwudlu, hand phoneku pun aku matikan biar tidurku nyenyak tanpa gangguan orang-orang. Marah sih enggak, tapi cuman kecewa aja. Aku disini sendirian, harus denger desahan yang tiada hentinya sedari tadi. Di kamar ada peredam suara juga, tapi nggak di nyalain. Mereka punya otak apa nggak sih, heran deh.

__ADS_1


Kalau di biarkan aku nggak bisa tidur. Aku pun langsung keluar kamar dan menuju kamar sebelah. Aku ketuk pintu kamar, tapi nggak ada yang buka terpaksa deh aku buka sendiri dan ternyata si Hans dan Selinya lagi, ahem, ahem.


"Kalau mau ahem, ahem tuh peredam suaranya di nyalain, biar orang luar nggak denger suara zina kalian," ucapku di ambang pintu dengan menatap tajam dua insan yang hanya berbalut selimut itu.


"Kamu kok nggak ada sopan santunnya sama orang tua ....masuk kamar orang nggak pakai izin dulu," ucap si Seli dengan sinis.


"Terserah aku lah, rumah juga rumah aku. Harusnya Anda tuh yang nggak punya sopan santun. Di rumah orang kok tidur sama laki-laki yang bukan suaminya. Tamu mah tamu, tapi nggak usah kek pel*** yang berkedok tamu." Jawabku dengan ketus dan menatap tajam Hans.


"Emangnya si Hans udah nggak punya uang, sampai-sampai harus tidur di rumah orang. Apa udah habis uang Ibuku buat biaya hidu Anda," sambungku. Aku langsung keluar kamar setelah memencet tombol on di pengaturan peredam suara. Aku pun tak lupa membanting pintu dengan sekencang mungkin.


Kesal banget aku hari ini. Di Caffe ada yang ngajak ribut, di rumah juga ada. Akunya yang terlalu jahat atau mereka yang keterlaluan cari gara-gara. Heran deh, perasaan aku diam, aku manis, aku baik, tapi kok masih aja ada yang ngajak ribut.


Tidur aja lah dari pada stress sendiri mikirin orang-orang. Belum tentu juga orang-orang mikirin aku. Aku pun membaca sholawat dan do'a-do'a yang biasa aku baca sebelum tidur. Tak lupa aku baca sahadat sebanyak tujuh kali tanpa bernapas. Aku baca dengan cara tersebut agar aku sedikit merasakan ketika roh ini di cabut dari tubuh.


Tak ada maksud lain aku baca seperti itu. Hanya saja aku ingin merasakan betapa sakitnya saat tubuh ini tak bisa bernapas, sedangkan jantung masih bisa berdetak. Bukan aku mengajarkan kalian untuk berbuat sesuatu yang tidak dengan syari'at islam, tapi aku hanya ingin merasakan rasanya tidak bisa bernapas tapi bisa membaca sahadat.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2