
Mbak Lestari pun masih kepo tetang jati diriku sebenarnya. Kalau aku bocorin pasti tuh mulut nggak akan bisa di rem. Bisa-bisa banyak orang yang pengen celakai aku. Aku anak orang yang berkecukupan aja banyak yang nggak suka, apalagi kalau tau aku keturunan orang terkaya nomor tiga, bisa-bisa melayang nih nyawa, Naudzubillah.
Soal harta luar biasa untuk merubah tingkah laku manusia. Padahal dengan harta, kita semua proses masuk surganya lebih lama. Akan tetapi masih aja ada manusia yang tak memikirkan kesana. Harta yang paling berharga adalah keluarga, tetapi zaman sekarang, harta yang paling berharga adalah uang. Bahkan ada yang rela menjual anaknya demi melunasi hutang. Aku pernah lihat itu dengan mata kepalaku sendiri. Seorang anak laki-laki menikah dengan tante-tante yang umurnya seumuran dengan Ibunya. Ya, menurutku tak masalah sebab mereka yang jalani, bukan?
Tambah pusing aja nih kepala kalau memikirkan harta melulu. Ingat harta nggak bisa kita bawa mati, tapi kalau nggak ada harta kita juga susah buat di kain kafani sebab nggak ada yang di buat beli. Harta bisa di bawa mati kalau kita infakakan, tapi kalau nggak ya nikmati aja harta tersebut di dunia aja.
"Cie ... Bu Bos ...," tiba-tiba Pak Darta masuk dapur dan bilang kek gitu.
"Hah ...," aku pun menganga sama Mas Reno.
"Maksud Pak Darta apa?" tanyaku biar lebih jelas.
"Ah, Bu Bos kok jadi kura-kura sih," jawabnya dengan ambigu.
"Kura-kura apa? Kura-Kura Ninja apa kura-kuranya Irfan Hakim?" tanyaku dengan tersenyum, "oh atau kura-kura yang di kartun Pada Zaman Dahulu, Pak?" sambungku. Padahal sebenarnya aku tau apa yang di maksud sama Pak Darta.
"Kura-kura dalam perahu, Viola Putri Fernaldi!" jawabnya dengan ketus.
"Biasa aja kali Pak, jawabnya. Nggak usah ngegas, napa?" ucapku dengan agak sinis, belum sinis sepenuhnya.
"Eh, kamu pilih yang mana di antara mereka bertiga, Vi?" eh di kira sepupu aku calon pacar kali ya.
"Emang mereka nyalon jadi DPR ya, Pak? ... kok saya di suruh milih!" tanyaku memancing emosinya.
"Lama-lama lo tak sleding baru tau rasa," jawabnya semakin ketus.
__ADS_1
"Duh Gusti Pengeran kang paring rahmat, sadarne Bos kula engkang badhe tindak kejahatan," ucapku dengan bahasa jawa. Kan emang aku dulu tinggal di Kota S jadi ya bisalah bahasa jawa.
"Haaah ... kalian berdua sebenarnya bahas apa sih?" eh ada yang nimbrung padahal dari tadi cuma nyimak.
"Kepo ...," jawabku dan Pak Darta bersamaan.
"Serius kenapa, Vi. Kamu pilih yang mana?" nih orang masih kukuh aja sama pertanyaannya.
"Nggak ada yang Vio pilih, Pak ... mereka sama-sama Vio sayangi, kalau di suruh pilih Vio pilih semuanya," jawabku sambil memontong brownis kukus.
"Emang kamu sayang semua sama mereka?" duh nih orang kok kepo banget sih.
"Iya, Pak. Gimana nggak sayang kita berempat pernah tinggal bersama," jawabku dengan ambigu.
"Hah ... serius kamu, Vi?" masukkan ke jebakan Viogirl.
Tuh kan kaget-kaget dah tuh. Lagian kepo amat jadi orang, Amat aja nggak kepo. Kenapa harus urusin hidup orang kalau hidup Anda sendiri tak terurus Pak. Orang di luaran sana juga sama, kenapa harus ngurusin hidup orang kalau hidup mereka tak terurus.
"Sejak kapan kalian tinggal bareng?" tanyanya masih penasaran.
"Duh, Pak ... Pak Darta kok keponya minta maaf sih, mereka bertiga tuh Kakak saya semua. Zaman semakin maju laki-laki semakin rempong kek Ibu-ibu penjual terong di pasar serpong," jawabku dengan nada ketus.
"Serius, Vi?" kenapa sih semua orang nggak percaya sama aku. Padahal aku tuh orangnya nggak pernah bohong, kecuali dalam keadaan darurat. Entah akunya yang terlalu jujur atau mungkin karena nggak pernah bohong, jadi orang ngira setiap ucapanku tuh bohong.
"Nggak Pak, aku tuh tukang bohong jadi ya, nggak ada yang percaya sama ucapanku Pak, kecuali Ibuku," jawabku dengan tersenyum miris, ya nasib, ya nasib.
__ADS_1
"Maaf, Vi ...," eh nih orang tiba-tiba minta maaf.
"Sudahlah, Pak. Jangan sampai ada yang tau kalau aku adik dari pemilik nih Caffe. Termasuk Mas Reno juga, jangan sampai ada yang tau identitas aku, kalau sampai ada yang tau ... kalian berdua yang akan tanggung akibatnya," ucapku mengajukan pengancaman.
"Siap laksanakan ...," jawab Pak Darta dan Mas Reno bersamaan kek paduan suara.
Aku pun hanya menganggukan kepala sebagai tanda jawaban. Aku kembali pada pekerjaanku. Setelah selesai memotong brownis, kini giliran membuat adonan chese cake. Kue tersebut adalah kesukaan Ibuku dan dari beliaulah aku tau cara membuatnya. Hasil terakhirnya kue tersebut rasanya sama seperti buatan Ibuku. Duh, bahagianya aku.
Memasak adalah hobiku dan Disigner atau Desainer adalah cita-cita ku. Aku pengen punya butik dan distro kalau bisa mah sekalian konveksi, tapi harus ngumpulin piti dulu buat buka usaha tersebut. Keinginan akan tercapai kalau kita berniat menggapai keinginan tersebut. Bohong bila keinginan tercapai kalau tak ada niat. Disana niat disana pula ada keinginan, akan tetapi disini ada keinginan belum tentu ada niat.
Begitu pun dengan usaha dan do'a. Di setiap usaha pasti ada do'a, akan tetapi di setiap do'a belum tentu ada usaha. Pepatah mengatakan Usaha tanpa do'a sombong dan do'a tanpa usaha bohong. Selagi kita masih dalam proses usaha dalam menggapai8k keinginan jangan lupa berdo'a, karena do'a obat segala sesuatu dari sang pencipta. Berdo'a dan bertawakallah kepada sang pencipta.
"Vi, ada yang nyariin lo tuh!" tiba-tiba Mbak Lestari ngagetin aku pas lagi ngelamun.
"Siapa yang nyariin, Mbak?" tanyaku dengan acuh.
"Nggak tau, katanya beliau mau bertemu sama yang buat kue chese cake!" jawabnya. "Samperin tuh, sebelum Mbak Laura yang nyuruh!" sambungnya, dia pun kembali dengan tugasnya.
"Nih orang siapa lagi sih, berasa kek presiden aja pakek di cariin," gerutuku sambil melepas apron.
"Mas Reno, titip cakenya yang masih di oven," ucapku sambil menatap Mas Reno.
"Siap Bu Bos!" jawabnya dengan tersenyum dan mendapat hadia tatapan tidak suka dariku.
Aku pun keluar dari dapur, siapa yang pengen ketemu, kok aku nggak di kasih tau sih namanya dan dimana letak orangnya. Ku kira barang kali tuh orang pakai nanya letak bukan tempat. Duh Vio, makin hari otakmu minta di cuci, kebanyakan mikir jadi ya gini. Tanya sama Mbak Laura aja kalau gitu, biar kagak salah nyapa orangan. Ya kali, aku samperin orang yang salah bisa-bisa jadi lawak dadakan dong disini. Dapat bayaran kagak, dapat malu iya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
TERIMA KASIH UNTUK SEMUANYA. LOVE YOU ALL.