
Suara ayam di pagi hari saling bersautan. Aku terbangun ketika jam di kamarku menunjukkan pukul 03.00 pagi. Aku pun bergegas ke kamar mandi untuk mensucikan diri sebelum mengadu kepada Illahi.
Aku pun melaksanakan sholat lail malam dengan hati yang penuh keikhlasan. Aku mengadu kepadanya atas semua yang aku lakukan hari kemaren, dan memohon ampunan atas dosa-dosa yang aku perbuat masa dulu dan untuk masa depan. Aku meminta kepada-Nya untuk selalu menjaga hatiku agar tak mencintai manusia melebihi cintaku pada cinta-Nya. Pasalnya manusia yang kita cintai belum tentu bisa mencintai kita seperti Tuhanku mencintaiku.
Setelah beribadah sunnat maupun wajib, aku langsung turun untuk membuat sarapan. Kalau ada yang nanya di mana Hans, jawabannya lagi nginap di Hotel. Masa bodohlah sama dia, toh lebih baik dia pergi dari rumah ini.
Aku masak masakan lebih untuk Anak-anak Panti. Ya, hari ini aku mau membantu kepindahan mereka ke rumah Bi Tati. Kemarin aku sudah izin kepada Pak Rt dan Rw disana. Katanya mereka akan lapor ke Balaidesa sehingga bisa di urus sampai ke Kantor Kabupaten, dan segera di tanganni oleh PemKot atau Pemerintah Kota.
Aku pun membungkus semua masakanku. Setelah semua sudah ada dalam rantang, aku bergantian membereskan dapur. Untuk siapa yang membersihkan rumah ini, ada Pelayan rumah Papa Malik yang di tugasakn ke rumah ini. Tapi mereka akan datang ketika aku sudah tidak ada di rumah, jadi rumah ini tak kosong bila aku tinggalkan.
Setelah beres semuanya aku kembali lagi ke kamar untuk bersih-bersih dan ganti baju. Sekarang aku sudah cantik maksimal, waktunya berangkat ke Kontrakan Anak-anak. Mobil kesayanganku pun melaju membelah jalan, sebelumnya sudah aku atur mesin pengemudinya, jadi tinggal mengawasi pergerakannya. Sungguh mobil yang sangat jenius, tapi lebih jenius yang membuat mobil ini.
Untung saja Papa Malik punya Pabrik mobil di Jepang, China, dan Italia jadi Papaku bisa menghasilkan mobil yang canggih seperti ini. Apalagi tak ada yang punya di dunia ini kecuali aku. Untuk mobilnya sudah di akui oleh semua negara, jadi tak masalah bila aku mengemudikannya, asal punya SIM.
__ADS_1
Kini aku pun sampai di Kontrakan, disana sudah ada yang membawa semua barang-barang Anak-anak. Jadi aku tinggal bawa Anak-anak ke rumahku.
"Anak-anak ayo makan dulu ...," ucapku menghampiri Anak-anak yang kumpul di ruang tamu. "Bapak-bapaknya ayo makan sekalian," sambungku mengajak Bapak-bapak yang mengangkat barang untuk makan bersama.
Tanpa menunggu ajakan kedua kali mereka pergi ke meja makan dan mengambil makanan sesuai dengan selera mereka. Mereka semua terlihat lahap makan makanan masakanku. "Masakan Kakak enak banget. Masakannya nggak pernah berubah tetap enak," puji Bayu. Anak Laki-laki yang kini usianya empat belas tahun. Dia anak yatim piatu sejak usia satu tahun. Dia di besarkan oleh Paman dan Bibinya, tapi setelah dia berusia tujuh tahun Paman dan Bibinya dengan tega menyuruh dia untuk bekerja.
Pertama kali kita bertemu di lampu merah dan dia berusia sepuluh tahun waktu itu, dia mengamen di sana bermodal tutup minuman dan kayu, yang di jadikan alat musik. Sungguh malang sekali Anak ini. Aku pun membawa dia ke kontrakan yang di tinggali oleh Renata, ya Renata Anak pertama yang aku rawat dan Bayu yang kedua. Jadi mereka memanggilku Kakak, karena aku adalah Kakak mereka dan usia kita tak terpaut jauh di bandingkan dengan yang lainnya.
"Kalau gitu kamu makan yang banyak, lihat tubuh kamu tambah kurus karena telat makan. Kalau sampai Kakak dengar kalau kamu telat makan lagi, Kakak akan usir kamu dari sini." Ancamku dengan menatap tajam dia.
"Kamu bukan nggak bisa, tapi malas buat pergi ke dapur. Apa susahnya sih pergi ke dapur, makan tinggal makan, nggak usah masak, nggak usah susah-susah cari seperti dulu lagi. Kalau sampai Kakak dengar kamu telat makan, Kakak akan kembalikan kamu kepada Paman dan Bibi kamu. Biar kamu tau susahnya cari uang seperti dulu." Ceramahku dengan nada marah.
"Untuk yang lainnya juga, kalau waktunya makan tuh ya makan. Pekerjaan bisa di kejakan nanti setelah makan. Enak nggak enak tetap harus di makan, karena itu rezeki. Kalau sampai Bunda dengar dari Mbak-mbak kalau kalian telat makan, dengan terpaksa kalian nggak akan Bunda kasih makan selama satu bulan." Terangku dengan menatap mereka satu persatu.
__ADS_1
"Bunda cuman nggak mau kalian sakit, kalau kalian sakit terus siapa yang repot. Mbak-mbak kan yang repot, tubuh mereka juga butuh istirahat setelah seharian ngerawat kalian. Jangan pernah membantah omongan Mbak-mbak semasih perkataan mereka benar, kalau sampai Bunda dengar kalian ngejawab perkataan Mbak-mbak lihat aja apa yang akan Bunda lakukan ke kalian," sambungku.
"Baik Bunda ...," jawab mereka bebarengan.
"Lanjutkan makan kalian lagi," ujarku. Mereka pun makan kembali dengan lahap.
Entah mengapa mereka sama sekali tak suka masakan Mbak-mbak di Panti. Mungkin karena mereka asal masak atau masakan mereka tak sesuai dengan lidah Anak-anak. Baiklah akan aku carikan orang khusu untuk memasak makanan mereka. Jadi Mbak-mbaknya bisa fokus untuk memantau perkembangan mereka.
Beruntung juga aku sudah tau Papa kandungku, jadi aku tak perlu repot-repot untuk tiap hari bekerja seperti dulu. Mungkin kalian bertanya dari mana aku bisa membayar Mbak-mbak yang ada di Panti, sedangkan dulu aku sendiri tidak kerja. Aku tidak mengambil tuyul, melainkan uang dari penjualan Olshop yang aku buka setelah mengontrakkan Renata.
Tapi Olshop yang aku miliki sekarang sudah aku serahkan ke pegawaiku, jadi aku tinggal menghitung laba yang aku peroleh. Untuk gaji mereka tetap dari tanganku langsung, karena aku yang punya. Kalau para pengusaha lain, mereka akan terjun langsung ke usahanya, tapi tidak denganku. Mungkin aku di bilang bos, tapi aku nggak pernah jadi pimpinan mereka. Aku mah lebih baik jadi bawahan dari pada bos besar, dulu otakku terlalu capek untuk memikirkan pekerjaan dan tugas sekolah. Apalagi sekarang kuliah yang tugasnya jauh lebih sulit.
Usahaku tidaklah besar, hanya rumah kecil yang aku jadikan tempat penyimpaann barang yang akan dijual. Aku tidaklah memiliki Butik, Konveksi, apalagi Distro. Hanya punya rumah yang sangat kecil untuk di jadikan penyimpanan barang-barang dan tempat tinggal pegawaiku yang dari luar kota. Mungkin pegawaiku yang tinggal disana membatin bahwa dia tinggal di gudang, tapi gudangnya berisi barang-barang baru, tak seperti gudang yang seperti aslinya.
__ADS_1
Untuk pemasukan dan pengeluaran itu tugas bagian pemesanan. Aku tak ikut campus soal itu, intinya aku tiap bulan dapat cuan sudah cukup. Sisanya mau mereka korupsi atau apa terserah mereka, dosa yang tanggung mereka, asal tidak membawa dampak buruk bagi usahaku.
BERSAMBUNG