Ibu Ajaklah Aku Bersamamu

Ibu Ajaklah Aku Bersamamu
PART 23


__ADS_3

Kini aku pun dalam perjalanan pulang ke rumah setelah satu jam berada di rumah Papa Malik. Seperti halnya berangkat tadi, aku masih duduk di samping Mama Vidya. Sampai di rumah pun aku harus pura-pura sedih lagi, biar si Hans enggak curiga.


Aku pun sudah sampai di depan rumah dan di depan rumah aku melihat mobil bernomor polisi asing. Mungkin itu mobil tamu yang ta'ziah. Aku langsung masuk ingin tau siapa yang datang, dan ternyata eh ternyata tamu itu adalah Tante Seli. Cih, manusia ciptaan siapa sih mereka, nggak punya malu di rumah orang malah ciuman. Aku pun langsung berniat menghentikan perbuatan zina mereka.


"Assalamu'alaikum ...," ucapku dengan keras yang mengagetkan mereka berdua.


"Wa'alaikumussalam ...," jawab mereka dengan tersenyum kikuk.


"Sayang, kenalin dia teman Papa namanya, Tante Mona," di bibirmu masih ada lipstik itu loh Hans.


Aku pun hanya menganggukkan kepala. "Kalau mau ciuman tuh dikamar Hotel jangan di rumah orang ... tuh bibir masih ada lipstik, di hapus dulu baru ke Hotel ...," ucapku dengan ketus. Aku lihat sekilas mereka menahan amarahnya. Mau lawan saya silahkan, aku juga enggak takut.


Di depan pintu pun masih ada Papa Rian dan Mama Vidya. Mereka juga lihat adegan perbuatan zina tadi. Tapi mereka kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tau. Mereka pun ikut masuk aku ke kamar. Papa Rian dan Mama Vidya yang memang dari dulu tidak suka dengan Hans, ya cuek aja lihat Hans berbuat zina seperti tadi. Di sapa pun mereka tidak menjawab dan hanya menganggukan kepala.


Kalau mereka mau usir Papa Rian dan Mama Vidya sekarang, di jamin mereka yang akan keluar dari rumah ini terlebih dahulu. Karena rumah ini pemberian dari Papa Malik untuk di tinggali Ibuku. Mereka taunya rumah ini masih atas nama Ibu. Mungkin di pikiran Hans hal pertama yang harus dia ubah adalah nama pemilik rumah ini. Biar dia puas mau lakuin apa aja di rumah ini. Tapi jangan harap kalau sampai itu terjadi, akan terjadi hanya di dalam mimpi mereka.


"Rasanya pengen aku masukan mereka ke gorong-gorong semut," ucapku ketika sudah sampai di kamarku.


"Sabar nanti mereka juga akan mati dengan sendirinya ... yang penting rencana kita sudah berhasil menyelamatkan Ibu kamu." Ucap Papa Rian dengan mengelus rambutku. Ya, aku tidak pakai hijab, toh Papa Rian masih mukhrim.


"Ya, Pa ... harus sabar semasih sabar nggak ada batasnya ...," jawabku dengan lirih.


"Kalau ada waktu pasti Papa usahakan antar kamu ke Shanghai, biar kamu tau wajah tampan Kakak kamu," hibur Papa Rian.


"Vio maunya sekarang, Pa ...," jawabku dengan wajah cemberut. "Vio kangen sama Ibu, Pa ...," sambungku dengan nada sedih.


"Belum ditinggal sehari aja udah ngeluh kek gitu," ucap Mama Vidya dengan ketawa.

__ADS_1


"Iiiihh ... Mama ...," ucapku dengan cemberut.


Mereka berdua pun tertawa karena terus menggodaku. Bahagia itu sederhana, kumpul bersama keluarga dengan suka cita, meskipun duka sering melanda. Meskipun mereka hanya Paman dan Bibiku, tapi mereka sudah aku anggap orang tua kandungku. Aku sangat menyayangi mereka seperti mereka menyayangiku. Bersyukurlah aku karena memiliki Paman dan Bibiku yang senantiasa menjagaku.


Di luaran sana mungkin ada Paman dan Bibi yang tidak suka kepada keponakannya. Dengan tak sengaja aku pernah melihat seorang Paman memper***a keponakannya sendiri. Padahal seorang keponakan itu ibarat anak kandung kita sendiri, tapi mengapa ada manusia beja* seperti itu. Ya sudahlah, toh dosa yang nanggung mereka sendiri.


Aku turun untuk menemui tiga sepupuku. Mereka bertiga mah nggak bisa di ajak akting. Masa mereka main game online di ruang keluarga. Untung nggak ada tetangga yang lihat, kalau ada sudah jadi bahan perbincangan.


"Geser ...," ucapku menggeser tubuh Kak Farhan. "Kalian mah nggak bisa di ajak akting ... masa Ibuku baru aja pergi, tapi kalian langsung main game," sambungku sesudah duduk di tengah-tengah Kak Farhan dan Kak Julio.


"Ngapain akting, disini juga nggak ada siapa-siapa cuman kita berempat," jawab Kak Farhan tanpa melirikku sama sekali. "Maju, Kak ...," teriaknya yang mengagetkan aku.


"Elo yang maju ... cemen banget si lo," jawab Kak Julio. "Maju Han ... maju woy ...," sambungnya dengan teriak histeris.


Braaak


Suara meja kayu di ruang keluarga yang aku gebrak. Mereka bertiga pun langsung berdiri dari duduknya karena kaget. mereka pun langsung menatapku dengan tajam setajam omongan tetangga. "Apa?" tantangku dengan menatap tajam balik. Mereka kembali duduk kembali untuk melanjutkan main. "Aku gebrak mejanya lagi atau kalian berhenti bermain," ancamku dengan siap-siap mengebrak meja kembali.


"Ikut main ...," jawabku dengan senyuman manis.


"Aku kira ada apa, main mah main aja nggak usah ngagetin orang juga," jawab Kak Juan. "Kamu udah aku undang ... cepetan masuknya," sambungnya dan kembali menatap layar ponselnya.


Aku pun ikut bermain dengan mereka. Meskipun kita jarang kumpul, tapi kita rajin main game online bareng tiap malam. Setidaknya dengan main game kita bisa berkomunikasi. Kita berempat tak pernah mengucap kata-kata kasar saat main. Hanya Kak Fito yang sering bicara dengan kata-kata kasar. Kalau Kak Fito akrab dengan kita ya wajar saja, karena kita sering main game bareng.


"Si Hans kemana?" tanyaku disela-sela main bareng.


"Nganterin Seli ke Hotel katanya ...," jawab Kak Farhan. Kami berempat tetap fokus pada layar ponsel. "Mungkin, sekalian main bareng. Kan tadi nggak jadi main gara-gara kamu ganggu ...," sambungnya.

__ADS_1


"Oh ... biarkan mereka berdua bahagia terlebih dahulu ...," jawabku dengan terus mengusap layar ponselku. "Kajul maju woy ...," teriakku.


"Bentar napa, ini masih ada masa lalu di belakang, sialnya aku terjebak ...," jawabnya yang nyeleneh. Akan tetapi kata-katanya itu mengingatkan aku dengan seseorang.


"Minggu kemaren aku ketemu sama mantan kamu, Kak ...," ucaku memberi informasi.


"Kapan?" tanya dengan lantang.


"Telinga kamu minta di bawa ke Dokter THT, Dek," jawab Kak Juan yang membuatku ketawa.


"Betul Kak, soalnya udah parah tuh telinga," sautku dengan ketawa.


"Yaudah aku ganti pertanyaannya, dimana kamu ketemu sama dia, La?" tanyanya diganti. Kek ban mobil aja yang bisa di ganti.


"Di rumah Kakek Samsudin ... dari dulu memang dia nggak punya etika ya, Kak. Masa Kakek Samsudin di bilang kakek hidung permen blester, ngatain aku cewek pel**** pula," ucapku dengan nada agak sedikit marah.


"Ngapain dia disana?" tanya Kak Juan dengan kepo.


"Nguras harta cucunya Kakek Samsudin," jawab Kak Julio dengan cepat.


"Kok kamu tau," ujarku kompak dengan Kak Juan dan Kak Farhan, jangan lupa Kak Fito yang ada di sebrang juga nanya. Padahal dari tadi cuman bicara kata-kata kasar.


"Lah kan aku pernah di porotin juga ...," jawabnya dengan sinis.


Sontak kami berempat pun tertawa dengan terbahak-bahak. Moment seperti inilah yang akan kita rindukan bila salah satu di antara kita pergi. Kehilangan seseorang untuk selamanya itu sangat menyakitkan. Hanya tinggal kenangan dan cerita tentang mereka yang selalu kita simpan dan kenang.


Kita saling mengingatkan apa yang buruk dan baik, saling mengingatkan bahwa hidup hanya sesaat dan akherat yang kekal. Kita manusia tak punya kuasa untuk menolak yang namanya maut. Maut akan datang tanpa kita undang, membawa kita meskipun kita tak siap. Kami berlima selalu mengingatkan dan mengukir sejarah seperti Pahlawan Perjuangan agar cerita kita selalu di kenang untuk masa depan, meskipun kita sudah tiada. Begitupun dengan Pahlawan negara kita, yang harus kita simpan dan kenang, karena tanpa mereka mungkin kita akan seperti ini damai dan tentram.

__ADS_1


BERSAMBUNG


TERIMA KASIH UNTUK YANG SUDAH MAU MEMBACA NOVEL INI. JANGAN LUPA DI LIKE, DI COMENT DAN DI VOTE. LOVE YOU ALL.


__ADS_2