
Azan subuh berkumandang dengan merdu dari Masjid. Aku pun menutup Al-Qur'an yang aku baca selepas sholat lail malam. Aku jawab setiap mua'zin mengumandangkan seruan untuk sholat.
Setelah selesai azan, aku pun melaksanakan dua rakaat sholat sunnat fajar atau sholat sebelum sholat subuh. Pahala dari sholat tersebut adalah lebih baik dari alam semesta dan seisinya. Jadi menurutku orang yang paling kaya di dunia adalah orang yang melaksanakan dua rakaat sebelum sholat subuh.
Setelah selesai sholat aku pun pergi olah raga pagi. Dari pada bosen di rumah lebih baik mah busing-busing makan angin kata si Upin dan Ipin. Mumpung hari ini nggak ada jadwal kuliah, jadi rencananya aku mau ke Kontrakan Anak-anak. Aku mau ajak mereka untuk belanja kebutuhan pribadi mereka. Kalau untuk beli rumah sepertinya aku harus izin dulu sama Ibu dan Papa. Tapi kan aku masih dalam akting ngambek, ya kali tiba-tiba baikan gara-gara minta rumah.
Ya sudahlah nanti di pikirkan gimana caranya aku bisa beli rumah untuk Anak-anak. Untuk sekarang sabar dulu kalau tinggal di Kontrakan. Aaaaha, aku ingat kalau aku punya rumah. Baiklah, baiklah, aku akan manfaatkan rumah peninggalan Bi Tati. Mari Anak-anak kita akan pindah ke rumah baru kalian.
Aku berlari memutari Taman Kota, yaa sekarang aku berada disana. Pengunjungnya cukup lumayan banyak, mungkin karena hari Sabtu, jadi banyak yang olah raga disini. Aku lari sendirian memutari lapangan ini. Seandainya aku punya pacar pasti enak di ajak olah raga bareng. Kapan ya pacar halalku datang. Abang aku tunggu kedatanganmu.
Entah karena sangking asiknya aku berlari atau sedang melamun, aku tak sengajak menabrak orang. "Aduh ... maaf ya Mas," ucapku meminta maaf dengan nada sungkan.
"Mata lo tuh di taruh di mana sih, orang segede gini nggak lo lihat," jawab laki-laki yang aku tabrak dengan membentak aku.
__ADS_1
"Kan saya sudah minta maaf, Mas. Kalau Mas nanya mata saya ada dimana berarti Mas yang harus ngaca, di mana mata Masnya sampai-sampai nggak bisa lihat mata saya ada di mana," ucapku dengan nada ketus.
"Lo berani sama gue ...," geramnya dengan menunjuk mukaku. "Eh tunggu, bukannya lo simpanannya Kakek Samsudin," sambungnya dengan menuduhku.
Aku pun langsung menampar wajahnya. Tampan mah tampan, tapi mulutnya tak setampan wajahnya. "Pertama saya berani sama Anda, karena Anda bukan Tuhan saya. Kedua kalau punya mulut tuh dijaga, jangan asal ucap. Kalau ucapapnnya sesuai fakta tak masalah, tapi kalau tak bener kek Mas yang bilang tadi itu timbul fitnah. Mas tau kalau fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan. Pasti Masnya nggak tau kan. Kalau bicara tuh di jaga, sekali lagi Masnya ngatain saya kek gitu, siap-siap aja tinggal di bui." Sambungku dengan menggebu-gebu. Aku pun meninggal dia, entah siapa namanya. Yang pasti dia Cucunya Kakek Samsudin, emang pasangan serasi kalau dia pacaran sama si Mbak Siska. Sama-sama punya mulut cabe, pedesnya minta maaf.
Aku pun langsung pergi ke parkiran. Niatnya cari suasana tentram, eh dapatnya mulut pedas orang. Harus sabar pakai ekstra manis kalau tiap waktu harus dapat omongan yang bikin nangis. Tanganku masih terasa panas, aku yang nampar malah aku yang kesakitan. Ya nasib, ya nasib.
Aku pun pulang kerumah untuk ganti baju. Di dalam mobil pun aku banyakin istighfar biar nggak emosi terus. Aku putar murotal surat Al-A'raf yang di lantunkan oleh Muzamil Hasbullah. Sungguh suaranya merdu sekali, kapan ya aku punya suami yang mirip Muzamil Hasbullah. Apalagi punya anak yang selucu Haura, duh jadi iri sama istrinya Muzamil Hasbulah. Astaghfirullah, laki orang aku kagumi, kalau sampai jatuh cinta terus gimana nasibnya Mbak Sonia.
Kalau di terusin makin parah nih halunya. Tak terasa aku sampai di rumah, mungkin karena terlalu fokus menghalu jadi tidak sadar kalau mobil yang membawaku ke rumah sendiri. Jika kalian bertanya apa mobil ini berhantu seperti mobil di kartu India jawabannya tidak, mobil ini otomatis mengantarkan kita pergi kamana saja yang kita inginkan. Kita tinggal masukan alamat yang ingin kita kunjungi dan secara otomatis mobil ini akan berjalan ke tepat tujuan kita dengan sendiri. Untuk mobil itu, apa namanya hanya Authorlah yang tau.
Selepas berganti pakaian aku langsung pergi lagi. Tujuanku sekarang adalah ke Panti, tempat di mana aku bisa berkumpul dengan orang lain. Tempat yang membuatku bisa hidup bersosial selayaknya manusia lainnya. Mobilku berjalan dengan kecepatan sedang sesuai perintahku. Tak salah jika mobil i i jadi keinginanku dari dulu, gimana nggak jatuh cinta. Tanpa Supir pun mobil ini bisa berjalan dengan sendirinya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum ... Anak-anak Bunda ...," salamku sambil merentangkan tangan.
"Wa'alaikumussalam ... Bundaaaa ...," teriak mereka dengan memelukku. Sungguh bahagia rasanya bila kita di anggap pelindung oleh anak yang tak punya orang tua.
"Kaka kalian sudah pulang?" tanyaku dengan berjalan beriringan bersama mereka.
"Belum, Bunda ...," jawab mereka bersamaan. Aku pun mengangguk dan tersenyum sangat tulus kepada mereka.
"Baiklah kita tunggu Kakak kalian sebentar, habis itu kita belanja apa yang ini kalian beli nanti," ucapku dengan tersenyum. Mereka pun sontak tersenyum bahagia setelah mendengar ucapanku.
Tetaplah tersenyum seperti mentari di kartun Teletubies ya anak-anak. Kalian adalah semangatku untuk mencari uang. Aku sangat sayang pada kalian seperti kalian sayang kepadaku. Aku tak butuh imbalan yang aku butuhkan do'a dan kasih sayang kalian. Do'akan lah aku ketika sudah tiada di dunia ini. Hanya do'a kalian yang membantuku untuk masuk jannahnya.
Bunda akan selalu jaga kalian seperti Tuhan selalu menjaga Bunda. Terima kasih sudah mau memberi kebahagiaan untuk Bundamu ini. Kalianlah tempat Bunda menghilangkan kepenatan duka dalam hidup. Setiap melihat wajah ceria kalian rasa lelah dalam badanku hilang tanpa tersisa.
__ADS_1
Aku pun membicarakan soal pindah tempat tinggal, beliau juga siap tinggal di rumah Bi Tati. Disini ada tiga orang yang merawat mereka. Mereka juga aku gaji sesuai kesepakatan. Makan dan minum sudah jadi tanggung jawabku. Aku sama sekali tak menerima donasi dari orang lain. Aku tak mau ikut campur soal donasi karena aku tak mau makan harta anak yatim piatu. Apalagi sampai menghardik mereka. Semua itu tidaklah ada dapan kamusku.