Ibu Ajaklah Aku Bersamamu

Ibu Ajaklah Aku Bersamamu
PART 3


__ADS_3

Malam harinya Ibuku datang ke Rumah peninggalan mendiang Kakek buyutkuku ini. Beliau di jemput oleh Om Rian dan Tante Vidya sendiri. Ketika beliau sudah sampai disini, beliau langsung mencari dimana keberadaanku. Ibu langsung memelukku dengan erat, matanya pun tampak sembah. Apakah yang terjadi dengan Ibuku, kenapa beliau menangis.


"Ibu kenapa menangis? siapa yang buat Ibu menangis seperti ini?" tanyaku dengan membalas pelukan erat darinya.


"Nggak ... siapa bilang Ibu nangis?" ujar Ibu berkilah. Padahal jelas-jelas beliau habis menangis.


"Nggak ada hal yang Ibu sembunyikan dari Vio kan Bu?" tanyaku dengan menatap lekat-lekat mata Ibuku yang terlihat sembab.


"Nggak ada sayang, ya udah kita makan malam dulu ya, kasian Grandny kamu sudah nunggu Ibu untuk makan dari tadi." Ujarnya mengalihkan topik. ya sudahlah kalau begitu.


Kita pun makan malam bersama dengan diiringi obrolan ringan. Ku lihat Ibuku nampaknya jauh lebih baik dari pada tadi. Selesai makan malam kita semua menuju ruang keluarga. Aku dan para sepupuku sibuk Mabar, sedangkan Ibu mengobrol dengan Om Rian, Tante Vidya dan Grandny. Entah apa yang mereka bicarakan hingga membuat mereka tertawa bahagia. Ya syukurlah bila Ibu sudah bisa tertawa bahagia tanpa di paksa.

__ADS_1


Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa jam pun sudah menujukkan pukul sepuluh malam. Kita pun pergi ke kamar kita masing-masing yang berada di Rumah ini. Rumah yang sangat besar ini biasa di sebut Mansion oleh orang-orang. Dulunya Ibuku tinggal di Mansion ini ketika masih anak-anak. Sedangkan saat remajanya beliau tinggal di desa terpencil yang berada di Provinsi Jawa Tengah. Dari situlah Ibuku mengenal Ayahku. Ayahku adalah anak dari juragan terkaya di desa tersebut tetapi harta kekayaan keluarga Ayah tak sebanding dengan harta keluarga Ibuku.


Ibu dulu tidaklah mencintai Ayahku. Ibu terpaksa menikah dengan Ayah karena sesuatu, entah apa itu. Tidak ada yang mau membahas pertemuan antara Ibu dan Ayahku, kepadaku. Dari situlah aku memaksa Grandny untuk menceritakan kisah pertemuan Ibu dan Ayahku. Dari Grandny lah aku tau bahwa mereka menikah karena ada kejadian sesuatu, entah kejadian sesuatu apa, Grandny pun tak mau menjawab ketika aku tanya kejadian apa itu.


Aku pun tidur dipelukan Ibuku. Tak ada tempat yang nyaman selain dekapan seorang Ibu. Meskipun usiaku sudah sembilan belas tahun tak membuatku menentang apa yang di ucapkan kedua orang tuaku. Aku tak pernah membantah apa yang mereka ucapkan. Aku sangat menghargai mereka sebagai orang tua tak seperti ABG jaman sekarang. Kuntilanak berpakaian jauh lebih sopan dari pada ABG jaman sekarang. Bagaimana tidak, mereka berpakaian baju yang belum usai di buat. nggak takut masuk angin kah mereka.


Ibu adalah wanita yang menjadi idolaku, meskipun kadang beliau sering di bentak Ayah, tetapi beliau selalu sabar menghadapi sikap Ayahku yang semena-mena itu. Terkadang aku kasihan melihat Ibu selalu di bentak Ayah padahal Ibu tak pernah berbuat salah. Sungguh mulia sikapnya, Ibu selalu mengajarkanku bahwa setiap perempuan muslim wajib mengunggunakan hijab untuk menutup Aurat. Beliau berkata 'Bahwa bila kita membuka Aurat, maka kita akan menyeret empat orang laki-laki, yaitu Ayah, Suami, Kakak dan Adek laki-laki kita ke Neraka. Jika kamu ingin berbakti kepada Ayah dan Suamimu maka tutuplah Auratmu, jika kau menyayangi saudara laki-lakimu maka tutuplah Auratmu' begitulah kata-kata Ibu yang selalu ku ingat.


Begitulah kata-kata yang selalu ku ingat. Sungguh sangat bijaksana jawaban dari Ibuku. Seharusnya beruntunglah Ayah mempunya seorang Istri seperti Ibuku, tapi apa? Ayah selalu kasar kepada Ibuku.


Ku pandang wajah Ibu, dahinya ku cium, air mataku pun ikut mengalir ketika mengingat perlakuan Ayah kepada Ibu. Ku elus pipi halusnya yang kerap mendapat tamparan dari Ayah. Ku kecup kedua bola mata Ibu, matanya yang begitu sembab. Apa yang sebenarnya terjadi padanya sehingga beliau menangis. Meskipun Ibu kerap sekali di pukuli Ayah, Ibu tak pernah menangis di depanku. Mungkin beliau ingin menutupi kesedihannya di depanku, agar aku tidak ikut bersedih.

__ADS_1


Ibu betapa aku sungguh sangat sangat sangat mencintai dan menyayangimu. Wanita yang rela menaruhkan nyawanya demi untuk melahirkanku ke dunia. Wanita yang selalu menyayangiku setiap detiknya. Wanita cantik nan manis yang mirip sekali denganku. Wanita yang rela tak makan sebelum perut anaknya kenyang. Wanita yang selalu menjadi tempat curhatku. Wanita yang mengajarkanku bagaimana caranya berjalan, caranya berbicara, caranya makan, caranya minum. Wanita yang membimbingku untuk selalu berada di jalan Sang Pencipta. Wanita yang mengajarkanku untuk selalu beribadah kepada Sang Pencipta Alam Semesta beserta isinya. Wanita yang tak pernah marah bila ku berbuat salah. Wanita yang selalu membacakan dongeng untuku ketika masih kecil yang hendak tidur.


Dengan apa anakmu ini harus membayar jasa-jasamu Ibu. Kau adalah Malaikat pelindungku yang berwujud manusia. Kau di kirimkan Tuhan untuk menemani setiap langkahku. Kau adalah pelita dalam hidupku untuk selamanya. Bila engkau pergi dari sisiku aku harus bagaimana. Haruskah ku diam di tempat atau mengejar kepergianmu. Haruskah aku bertahan disisi Ayah bila pelitaku telah padam. Bagaimana caraku untuk menjalani hidup bila cahaya pelitaku tak lagi mengeluarkan cahaya. Ibu bila engkau pergi ajaklah aku bersamamu karena engkau pelita dalam kegelapan hidupku.


Aku lebih dekat dengan Ibu dari pada Ayah, karena Ayah selama ini jarang di Rumah. Entahlah beliau pergi kemana bila saat Ibu dan aku membutuhkannya. Pernahku berkata kepada Ibu 'kenapa tidak pisah saja dengan Ayah, bila Ibu selalu di siksa lahir dan batin' ibu hanya menjawab 'Belum waktunya untuk berpisah Nak ....'


Kadang aku juga heran, kenapa semua keluarga Ibu selalu berkata belum waktunya. Kalau menunggu waktunya tiba, sampai kapan kita harus menderita. Sudahlah, kita tunggu sampai kapan waktunya itu tiba. Tak terasa mataku mulai mengantuk. Ku pejamkan mata ini, semoga esok hari aku hidup dengan penuh kebahagiaan.


BERSAMBUNG


TERIMA KASIH UNTUK YANG SUDAH MAU MEMBACA NOVEL KOIN INI. SEMOGA KITA DAPAT PELAJARANNYA. JANGAN LUPA DI LIKE, DI COMENT DAN DI VOTE YA GUYS. ITUNG-ITUNG SEDEKAH BUAT AUTHOR. SEKALI LAGI TERIMA KASIH GUYS.

__ADS_1


__ADS_2