Ibu Ajaklah Aku Bersamamu

Ibu Ajaklah Aku Bersamamu
PART 21


__ADS_3

Sesuai dengan rencana kemaren, kita semua akan mengikuti alur cerita yang di Sutradarai oleh Hans. Tetapi di alam drama ini ada campur tangan Sutradara lain, jadi ending yang menyakitan untuk Ibuku akan terbanding terbalik dengan alur. Kita lihat saja, Sutradara yang kita pilih atau Sutradara yang hanya tau alur luarnya tanpa tau alur yang ada didalam drama yang dia buat.


Kini sudah seminggu dari rencana yang akan aku dan Ibuku jalankan. Sesuai yang di katakan Hans, Ibuku sudah di telpon oleh Hans untuk mengirim berkas yang ada di kamar. Untuk menyebutkan namanya saja mulut ini ingin muntah apalagi harus akting memanggil dia Ayah.


Dia sudah mengirim anak buahnya untuk merusak rem mobil ibuku. Untung saja tiga hari yang lalu saat si Hans tak di rumah, Papa Malik memasang CCTV di rumah, jadi semua akan terekam dengan jelas kejahatan Hans yang akan ia lakukan. Termasuk suruhan dia yang merusak rem mobil Ibu, semua terekam jelas dengan suaranya.


Ibuku pun melajukan mobilnya yang di rusak remnya oleh suruhan Hans. Tapi mobil itu sudah di perbaiki oleh montir yang di pesan oleh Papa Malik. Meskipun mobil sudah di perbaiki tapi kita tetap menjalakan alur yang dipikirkan oleh Hans. Agar dia bahagia terlebih dahulu sebelum jeruji penjara di huninya.


Kami tidaklah balas dendam, kami ingin dia bahagia sebelum mendapat keadilan. Mungkin keadilan tak sebanding dengan perbuatannya tapi mau bagaimana lagi negaraku kan memang seperti itu. Seorang Nenek hanya mencuri satu pohon singkong mendekam di penjara selama lima belas tahun, sedangkan wakil rakyat yang korupsi ratusan juta hanya mendekam di penjara sepuluh tahun, tidaklah adil bukan. Tapi menurut kami biarkan saja mereka seperti itu, suatu saat mereka juga akan dapat keadilan di akherat, bukan? karena tak ada manusia yang bisa adil kecuali Nabi dan Rosul.


"Ibu sudah sampai dimana?" tanyaku lewat telepon.


"Sebentar lagi sampai di tempat yang di rencanakan, kamu tunggu disana saja," ucap Ibu yang menjawab dimana lokasinya.


"Kami tunggu Ibu disini," ucapku. Aku pun mematikan panggilan kita berdua. Baiklah demi Ibu aku harus rela akting menyedihkan di hadapan Hans dan Tante Seli.


Lima belas menit berlalu kini Ibu sudah sampai di tempat yang kita janjikan. Ibu pun keluar dari mobil dan di gantikan Pembalap mobil yang Papa Malik sewa. " Masnya hati-hati ya!" seruku kepada Pembalap tersebut.


"Baik, Non ...," jawabnya. Dia pun masuk ke mobil yang tadi di kendarai Ibuku. Dia pun mengarah ke jalan menuju Perusahaan Ibuku yang di kuasai oleh Hans.


"Keluar dari mobil sekarang!" perintah dari orang yang mengatur kecelaan tersebut. Sebelumnya kita sudah latihan terlebih dahulu sebelum memainkan drama ini. Di tempat kecelakaan tersebut pun sudah di pasang CCTV untuk memantau keselamatan sang Pembalap.

__ADS_1


"Yes, berhasil ...," ucap sutradara yang mengatur kecelakaan. Di laptop merekam adegan mobil yang masuk kejurang dan meledak begitu dahsyat. Tak bisa aku bayangkan bagaimana jika Ibu ada didalam sana. Untung saja aku tau semua rencana si Hans. Bila tidak, mungkin aku akan kehilangan Ibuku untuk selamanya.


"Ayo kita antar Ibu ke Bandara, sayang," ujar Papa Malik sambil mengelus kepalaku.


"Iya, Pa ...," jawabku dengan tersenyum. Kita pun berangkat menuju Bandara untuk mengantarkan Ibu ke Shanghai. Ibu akan tinggal di Shanghai sementara dengan Kak Alshad. Tak masalah bila harus di tinggal Ibu untuk pergi ke Shanghai, setidaknya aku dan Ibu masih di atas bumi ya sama. Semua demi kebaikan Ibu untuk hidup bahagia.


Aku pun terus memeluk Ibu semasa mobil melaju untuk ke Bandara. Berat rasanya untuk berpisah dengan Ibu, tapi mau bagaimana lagi. Ini cara yang sangat baik untuk melindungi keselamatan Ibu. Kami pun sampai di Bandara dengan selamat. Aku masih saja menggenggam tangan Ibuku.


"Jangan sedih gitu dong, Vi ... Ibu malah nggak tega ninggalin kamu kalau kamu seperti ini," ujar Ibuku dengan merangkul bahuku.


"maafin Vio, Bu. Ini kan pertama kalinya kita pisah," jawabku dengan lirih. "Tapi tak apalah demi keselamatan Ibu. Ibu jaga diri disana ya, jangan lupa hubungi, Vio," sambungku dengan memeluk Ibu.


"Sudah jangan nangis, masih ada Papa disini untuk menjaga kamu," ucap Papa Malik dengan mengusap air mataku. "Ayo kita lanjutkan drama selanjutnya," ujarnya dengan tersenyum.


Aku hanya menganggukan kepala sebagai jawab. Aku dan Papa Malik pun pulang ke rumah untuk melanjutkan drama selanjutnya. Kita lihat siapa yang akan hancur disini, pihak Ibu atau pihak Hans. Aku harus akting semaksimal mungkin untuk mengecoh bahwa aku benar-benar kehilangan Ibu untuk selamanya. Kalau sampai aktingku berhasil aku wajib daftar jadi aktris untuk sebuah film. Tapi itu bukan cita-citaku, karena banyak drama settingan untuk menjunjung nama seorang Publik Figur. Cukup jadi Viola apa adanya aku sudah mendapat semua yang aku inginkan tanpa harus melakukan drama setingan.


Aku pun sudah sampai di rumah, disana sudah banyak orang yang untuk ta'ziah. Maafkan kami ya Pak, Bu. Kalian semua harus ikut drama yang kita mainkan, tapi semua ini demi kebaikan Ibuku.


"Vio, masuk dulu ya, Pa ...," ucapku pamitan kepada Papa Malik.


"Iya sayang, jaga diri kamu baik-baik ya ... Papa akan awasi kamu selalu. Semua surat rumah dan Perusahaan sudah atas nama kamu, jika sewaktu-waktu kamu di usir jual saja rumah itu," nasehat Papa Malik.

__ADS_1


Aku pun hanya menganggukan kepala dan tersenyum. Kalau sampai si Hans mengusirku dari rumah itu, akan aku pastikan dia akan rugi kalau sampai itu terjadi.


"Ada apa ini?" tanyaku kura-kura dalam perahu.


"Ibu kamu kecelakaan, Vi," jawab Bu Idah tetangga sebelah kanan rumahku.


"Hah ...," aku pun pura-pura kaget.


"Terus Ibu Vio gimana keadaannya, Bu?" tanya dengan wajah panik.


"Ibu kamu nggak bisa diselamatkan, Nak, karena mobilnya masuk ke jurang, sabar ya, Nak." Jawabnya dengan memelukku.


Ahay supaya aktingku lebih menghayati lagi pura-pura pingsan ah. "Ibu ...," ucapku dan akting pingsan pun aku mulai.


"Vio ... Yaa Allah, Vio ... tolong angkat Vio ke dalam rumah," suara Bu Idah meminta bantuan untuk mengangkat aku.


Sabar Vio, sabar ya, jangan ketawa nanti aktingmu gagal. Aku pun dibawa ke sofa ruang keluarga, mungkin sofa-sofa yang di ruang tamu sudah pada di pindah untuk jasad orang yang pura-pura meninggal itu. Aku pun tidur ajalah sampai semua keluargaku ke rumah.


BERSAMBUNG


TERIMA KASIH UNTUK YANG SUDAH MAU MEMBACA JANGAN LUPA DI LIKE, COMENT DAN DI VOTE YA. LOVE YOU ALL.

__ADS_1


__ADS_2