
Pukul sembilan malam aku pulang dari bekerja. Ku lihat Ibuku tertidur di sofa ruang tamu. Air mata ku mengalir membasahi pipi ini. Yaa Tuhanku kenapa kau tega memberi cobaan ini kepada Ibuku. Wanita yang sangat taat kepadamu.
Ku kecup dahinya, air mataku pun tak menyurut seakan tak mau berhenti untuk keluar. Semulia apakah hatimu Ibu, apa aku akan sanggup bila di posisimu, kau wanita yang sangatlah tangguh untuk memertahankan rumah tangga yang tak seharusnya kau pertahankan. Tak kan ku biarkan mereka terus menyakiti hati dan ragamu Bu. Sungguh aku sangatlah mencintai dan menyayangimu tiada banding.
"Kamu sudah pulang dari tadi, Vio?" Ibuku pun langsung terbangun karena merasakan air mataku yang menetes di pipinya.
"Baru aja pulang, Bu." Ucapku menjawab pertanyaannya.
"Kenapa kamu nangis, Nak. Siapa yang buat kamu nangis seperti ini?" tanyanya panik yang melihatku terus meneteskan air mata.
"Kenapa Ibu pendam semua derita ini sendiri? kenapa Ibu merahasiakan semuanya dari Vio?" tanyaku dengan masih menangis.
"Maksud kamu apa, Vio?" Ibuku seakan tak tau apa yang aku maksud. Aku pun duduk di depannya dan menyembunyikan wajahku di pahanya. Ku peluk erat kakinya, kaki yang selalu setia untuk menompang tubuhnya. Kaki yang selalu setia menjalankan tugasnya.
"Siapa yang buat kamu seperti ini, Vio?" tanyanya yang tak kunjung dapat jawaban dariku.
"Jawab pertanyaan Ibu, Vio!" ujarnya dengan mengelus kepalaku yang tertutup hijab.
"A ... Ayah, Bu." jawanku dengan terbata. Aku pun semakin menangis. Ibu langsung memelukku erat seakan tak mau hatiku ikut terluka.
"Maafkan Ibu, Nak ...," ucapnya dengan memeluk erat tubuhku, beliau pun ikut menangis.
"Kenapa Ibu sembunyikan ini semua dari Vio, Bu?" tanyaku di sela-sela tangisanku.
"Ibu tak mau membuat kamu sedih, Vio!" sunggu sangat mulia hatimu Bu.
__ADS_1
"Tapi kenapa Ibu rela di sakiti? Vio lebih sedih bila Ibu disakiti sama laki-laki itu, Bu!" ujarku dengan memukul dadaku yang terasa sesak ini.
"Sabar ya sayang, kita tunggu waktunya tiba untuk mengakhiri semua ini. Jadi bertahanlah disisi Ibu sebentar saja," pintanya dengan menghapus air mataku.
"Tapi kapan waktunya, Bu?" tanya dengan menggenggam tangannya.
"Sebentar lagi sayang, kita tunggu Papa mu kesini jemput kita," jawabnya begitu lembut dan mengelus kedua pipiku dengan jari-jari lentiknya.
"Baiklah, Bu ... Vio akan selalu di samping Ibu sampai Papa datang," ujarku dengan tersenyum tipis. Aku akan tetap disisimu Bu, sunggu aku memilihmu dari pada kekayaan ini. Kekayaan yang tak pernah ku sentuh sama sekali. Vio akan tunggu sampai Papa dan Mama datang menjemput kita.
"Sekarang kamu istirahatlah di kamar," serunya dengan tersenyum.
"Baik Bu, tapi kita tidur bersama di kamar ya Bu!" pintaku dengan wajah memohon. Ibu pun menganggukan kepalanya sebagai jawaban permintaanku.
Kita pun menuju kamarku yang berada di lantai atas. Ku rebahkan badanku di sisi kanan Ibu setelah membersihkan diriku. Ku pandang wajah yang begitu cantik meski tak muda lagi. Wanita yang patut ku contoh untuk hidup kedepannya.
************
Aku terbangun dari tidur lelapku karena mendengar alunan sholawat dari ponselku. Ku buka ponselku ternyata dering alarm yang berbunyi untuk membangunkanku dari lelapnya tidur. Jam di ponsel menunjukkan pukul tiga pagi. Aku pun membangunkan Ibu untuk sholat malam.
"Bu, sudah pukul tiga!" ucapku dengan mengelus pipi halus Ibuku. Ibuku pun terbangun dari tidurnya.
"Ayo kita sholat kalau gitu," serunya dan langsung duduk. Aku pun langsung ke kamar mandi untuk mensucikan diri. Setelah selesai aku pun keluar dan giliran Ibu yang masuk ke dalam.
"Kita sholat berjamaah aja, Bu," ucapku ketika Ibu selesai berwudlu. Ibu hanya menganggukan kepala dan tersenyum.
__ADS_1
Kita pun memulai sholat dengan aku sebagai imam. Biasanya Ibu yang selalu mengimami setiap kita berdua sholat. Entah mengapa Ibu ingin aku yang jadi imam. Ku lafazkan ayat-ayat suci kitab agamaku dengan penuh renungan. Ku berdo'a dalam hati dengan memohon pengampunan setelah selesai sholat.
Ku bersujud menghadapmu Yaa Robb karena engkau wajib untuk di sembah. Yaa Robbi kasihi lah hamba seperti engkau mengasihi setiap ciptaanmu dan sayangilah hamba seperti engkau menyayangi setiap manusia yang taat kepadamu dan ajaranmu.
Tunjukanlah hamba jalan yang lurus, jalan yang engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang sesat ataupun engkau murkai. Yaa Robbi kuatkanlah hati ini untuk selalu bersabar seperti ajaran sang Nabi. Kuatkanlah imanku seperti engkau mengutkan iman Nabiku.
Terima kasih atas rezeki yang engkau berikan kepada kami. Terima kasih atas nafas yang senantiasa ku hembuskan. Terima kasih engkau telah menjaga diri ini dari kekufuran dan kekafiran.
Yaa Robbi hamba memohon kepadamu, hilangkanlah kesedihan di hidup Ibuku. Maafkanlah semua dosa-dosa yang telah beliau perbuat. Terimalah amal ibadahnya. Yaa Tuhanku hamba mohon kepadamu, datangkanlah malaikat berwujud manusia untuk menyelamatkan Ibuku dari kesedihan yang selalu beliau peroleh. Hilangkanlah kesedihan yang beliau peroleh dari Ayahku. Sudah cukup Ibuku menderita dari dulu karena perilaku Ayahku.
Yaa Robbi panjangkanlah umur hamba dan Ibu hamba agar bisa terus beribadah kepadamu. Bukakanlah hati Ayahku agar beliau sadar atas apa yang beliau perbuat selama ini. Jika memang beliau bukan jodoh Ibuku pisahkanlah mereka dan gantikanlah mereka pasangan yang selalu setia bersama mereka dikala suka dan duka, sedih maupun senang. Persatukanlah Ayahku dan wanita itu bila memang mereka berjodoh, agar mereka tak terus menerus melakukan zina dan menyakiti hati Ibuku.
Yaa Robbi hanya kepada engkau kami menyembah dan hanya kepada engkaulah kami meminta pertolongan.
Aku pun mengakhiri do'a-do'aku dan tangisanku. Ku balikkan badanku menghadap wanita yang telah melahirkan diriku. Ku kecium tanganya sembari menangis. Semoga ilmu yang beliau punya bisa mengalir di tubuhku lewat tarikan nafasku.
"Ibu, maafkan Vio! maafkan semua kesalahan Vio terhadap Ibu. Vio, sungguh sangat menyayangimu Bu," ucapku disela-sela tangisanku saat mencuim tangannya.
"Maafkan Ibu juga ya Nak, bila selama ini Ibu belum bisa membahagiakan, Vio. Maafkan Ibu juga bila Vio ikut merasakan penderitaan yang Ibu alami." Ujarnya dengan memeluk tubuhku. Di kecupnya puncak kepalaku yang berbalut mukena.
"Ibu tak pernah buat Vio sedih. Ibu selalu membahagiakan, Vio. Terima kasih Bu atas semua yang Ibu lakukan untuk Vio. Senantiasalah hidup disisi Vio ya, Bu," jawabku dan ikut memeluk erat tubuh yang telah membesarkanku.
Ibuku hanya menganggukan kepala dan mengusap kepalaku. Sebulir air mata yang keluar menjadi saksi bahwa hatinya sangatlah rapuh. Kita sama-sama berjuang Bu, agar kita mendapat kebahagian dan kebebasan dari belenggu laki-laki itu.
Aku seakan jijik memanggil nama laki-laki itu dengan sebutan Ayah, setelah apa yang beliau lakukan selama ini. Biarkan beliau hidup dengan penyesalah suatu saat nanti bila aku dan Ibu sudah tiada disisnya lagi. Akan ku ucapkan selamat tinggal dan melupakannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
TERIMA KASIH TERUNTUK YANG SUDAH MAU MEMBACA NOVEL UANG KOIN INI. JANGAN LUPA DI LIKE, DI KOMEN DAN DI VOTE ATAU DI BERI TIP. YA ITUNG-ITUNG UNTUK SEDEKAH. SEKALI LAGI TERIMA KASIH