
Pagi harinya, setelah selesai sarapan aku pun masuk kuliah. Maunya sih aku punya Mobil sendiri gitu, tapi apa daya Ibuku melarang untuk meminta ke Ayah. Dengan alasan kalau Ayah sudah punya Mobil, tapi itu mobil Ayah bukan mobil aku. Aku tuh maunya punya Mobil sendiri, tapi ya sudahlah tak punya juga tak masalah. Lagian kalau aku punya Mobil pasti sering keluar rumah. Ya kali punya Mobil cuman buat masuk kuliah doang kan percuma.
Aku berangkat kuliah bareng Kak Farhan. Hari ini dia ngajar di kelasku juga di jam ke tiga. Baru masuk kuliah dah banyak masuknya ya, tapi nggak masalah sih, ilmunya juga berguna buatku. Ibu selalu berpesan 'carilah ilmu selagi kamu bisa mencarinya. Ilmu bisa kita cari tanpa di sekolahan saja, dimana pun tempat ilmu itu ada. Tapi ingat semakin orang berilmu semakin rendah kesombongannya, bila ada orang yang berilmu tapi sombong berarti orang itu belum sepenuhnya berilmu.'
Menurutku percuma juga punya ilmu tinggi kalau orang tua di telantarkan. Percuma rumah gedongan tapi kalau orang tuanya tinggal di rumah gubuk. Semuanya percuma kalau durhaka sama orang tua. Selalu lah kita ingat orang tua dimana pun kita berada, karena kalau tidak ada orang tua, kita juga tidak bisa berada dimana pun.
Satu jam berlalu Mobil Kak Farhan pun masuk ke Kampus. Banyak mata yang memandang kita, entah yang di pandang kita atau Mobilnya. Iya tau kalau nih Mobil keluaran terbaru, tapi ya nggak gitu juga kali ngelihatnya, kek orang Desa. Orang Desa sekarang mah nggak norak-norak amat kek kalian. Begitulah ucapku dalam hati, ya kali langsung ngomong gitu di depan mereka semua, bisa di jadiin Rendang akunya kalau sampai kata-kata itu ku ucap.
"Makasih, Kak. Lala langsung ke kelas ya," ujarku setelah keluar Mobil.
"Sama-sama. Silahkan kalau mau langsung ke kelas." Jawab Kak Farhan sambil menyodorkan tangannya.
"Kakak minta imbalan?" tanyaku bingung, ya mana aku paham, kenapa dia nyodorin tangannya.
"Uangku dah banyak kali emangnya lo ... salim dulu sama yang lebih tua biar berkah," jawabnya masih setia menyodorkan tangannya.
"Sombong amat ...." ujarku dan menerima uluran tangan Kak Farhan, jangan lupa di cium siapa tau dapat ilmu bermanfaat dari dia. Di cium tuh tangannya di kecup dan di hirup aroma tangannya pakai hidung bukan mulut, itu cara yang di ajarkan Ibu untukku, bukan di tempelin di dahi tapi di kecup dan di hirup.
"Kenyataan kali, kalau iri mah bilang jangan di pendam." Jawabnya dengan tersenyum mengejek.
"Terserahlah, hamba hanya anak ingusan Tuan jadi ya nggak punya uang." Ujarku dengan membukungkan badan. Kak Farhan malah ngakak lihat tingkahku.
"Mangkanya kerja kalau pengen punya uang." Ucapnya masih dengan tertawa, bahagianya dia melihatku yang hanya punya uang Hijau lima lembar, itu aja sisa dari kemaren. Mungkin aku aja di dunia ini, anak pemimpin Perusahaan yang nggak punya uang Merah.
__ADS_1
"Nggak buruk juga idenya ... makasih Kak atas sarannya, nanti kalau Lala sudah selesai ngampus, Lala langsung cari kerjaan." Ucapku, bener juga kan apa yang di ucapkan Kak Farhan, kalau pengen uang ya kerja jangan ngandelin uang orang tua.
"Kakak, cuma bercanda, La. Awas aja kalau kamu kerja tak aduin ke Grandny!" weeits nih orang tadi nyuruh kerja sekarang nggak boleh'in aku kerja.
"Silahkan ... nanti aku juga ngadu ke Grandny kalau Kakak yang nyuruh ... Lala, ke kelas dulu ya Kak ... Bye-bye, terima kasih atas sarannya." Ucapku dengan mengecup pipinya Kak Farhan tanpa malu. Inilah alasan kenapa Kak Farhan nggak punya pacar, soalnya aku yang buat dia nggak mau punya pacar lagi. Kak Farhan putus sama mantanya gara-gara lihat aku cium pipinya. Wkakak, entah dia trauma punya pacar lagi atau nungguin aku nikah baru punya pacar.
Sebenernya aku tuh kasian sama dia pas di tampar pacarnya di tengah-tengah Pasar Malam, apalagi banyak orang yang lihat kejadian waktu itu. Ada yang ngatain aku pelakor, ya malah ngakak akunya. Orang kita saudaraan malah di bilang selingkuh. Malah aku panasin lagi tuh orang yang bilang aku pelakor. Tapi yang bikin aku kesel tuh Mbaknya main tangan. Tuh orang dorong aku dari belakang, untung Kak Farhan langsung nangkap aku, kalau nggak bibirku yang aduhai ini nyium tanah atuh.
Karena saking emosinya aku tampar dia, terus tak maki-maki sampai dia malu karena salah sangka nuduh aku pelakor. Mbaknya juga nggak mikir masih pacaran di bilang lakinya kan heran, nikah aja belum udah di bilang lakinya kan aneh.
********
Aku berlari untuk ke kelas, tapi saat hampir mau masuk kelas, aku di hadang sama seniorku. Ada apalagi sih, aku tuh mau belajar bukan cari pacar. Di lihat dari gelagatnya ini pasti soal cowok deh, tapi cowok siapa? disini aja aku nggak kenal sama yang lain.
"Maksud kamu apa hah ... nyium Pak Farhan kek tadi?" oohh, rupanya ada yang cembukur. Aku kerjain aja, sekalian manfaatin juga bagus.
"Mbaknya pacarnya kah?" nadaku lembut banget, kek rambutnya Syahrini.
"Iya, dan asal lo tau gue bukan cuman pacarnya tapi juga calon Istrinya!" sumpah aku langsung ngakak.
"Hahahahaha ... kapan Pak Farhan ngelamar Mbaknya, kok akunya nggak tau ya!" ujarku dan nggak berhenti tertawa.
"Itu buka urusan lo ... dengerin kata-kata gue dengan baik-baik, jauhi Pak Farhan atau lo akan celaka di tangan gue!" ujarnya sambil narik rambut aku. Ini yang paling aku nggak suka, prinsipku silahkan maki-maki saya tapi jangan sekali-kali main tangan. Laa Mbaknya ini enggak udah nggak tau siapa aku sebenernya malah narik rambutku, kenceng lagi nariknya.
__ADS_1
"Lepasin tangan Mbak atau aku patahin tangan Mbaknya!" masih sabar nih, bahasanya masih aku kamu.
"Nggak takut gue sama ancaman lo, apalagi sama ancaman cewek murahan kek lo." Bentaknya tepat di telingaku. Nggak pakai aba-aba langsung ku pegang tangan satunya dan ku putar tanpa ku jilat apalagi di celupin ke susu.
"Lepasin woi ... sakit nih tangan gue!" teriaknya keras banget.
"Kan tadi gue sudah bilang sama lo, pilih di lepasin atau di patahin? situ minta di patahin ya gue akan patahin lah!" ujarku dengan nada dan kata-kata kasar.
"Ada apa ini?" tiba-tiba terdengar suara laki-laki, otomatis aku nengok ke belakang dan ternyata eh ternyata Pak Justin yang punya suara.
"Pak, tolongin saya, tangan saya sakit banget, Pak." Ohh nih orang nggak cuman ngincer Kak Farhan doang.
"Sakit ya Mbak, tadi rambut aku juga sakit lo pas Mbaknya tarik barusan." Nggak terima dong akunya, bukan dia doang kali yang sakit aku juga.
"Sebaiknya kalian ikut ke ruangan saya sekarang," ucap Pak Justin, lagaknya dia mau nyelesain masalah kita.
"Tapi sebentar lagi jam kuliah saya masuk, Pak. Pak Justin, juga yang ngebimbing!" ujarku sesuai fakta dan kenyataan.
"Ikut saja jangan ngebantah," ucapnya dengan naik satu oktaf suaranya. Ya suahlah ikut aja dari pada makin panjang urusannya.
BERSAMBUNG
TERIMA KASIH UNTUK YANG SUDAH MAU MEMBACA NOVEL UANG KOIN INI. JANGAN LUPA DI LIKE, DI COMENT DAN DI VOTE ITUNG-ITUNG SEDEKAH BUAT AUTHOR.
__ADS_1