
Hari ini aku tidak masuk kerja lagi, baru masuk sehari terus nggak kerja lagi. Seperti yang punya Caffe aja masuk kerja seenak jidatnya. La emang tuh Caffe bukan punyaku. Apa salahnya kalau nggak masuk, lagian kemaren aku udah buat stok cake lebih. Ya sudahlah, yang lain mau iri ya silahkan, toh aku tidak melarang.
Aku tidak kerja hari ini karena beres-beres rumah peninggalan Bi Tati. Besok Anak-anak akan pindah langsung kesini, jadi hari ini kita semua membersihkan rumah ini sebelum di tinggali. Kita saling gotong royong membersihkan rumah ini. Pindah sana, pindah sini kita lakukan bersama-sama.
Setidaknya rumah ini bisa jadi perantara amal ibadah untuk Almarhumah Bi Tati dan keluarga. Rumah ini meskipun tidak terlalu besar setidaknya cukuplah untuk menampung Anak-anak dari panasnya matahari dan dinginnya angin malam. Tak perlu mewah yang penting bisa di pakai sudah cukup, kata-kata Renata yang terngiang di telingaku. Renata seorang Anak yang berusia enam belas tahun. Empat tahun lalu aku menjumpai dia sedang berjualan koran di lampu merah. Anak yang harusnya bersekolah, tapi dia gunakan waktunya untuk mencari nafkah.
Perbedaan usia kita tidaklah jauh, hanya terpaut empat tahun. Ketika aku berusia enam belas tahun aku mengajak dia untuk bersekolah. Untuk biaya dia sekolah pun hasil tabunganku dari kecil. Di pikiranku saat itu adalah bagaimana caranya Renata bisa sekolah seperti aku. Aku pun memecahkan celengan Harimauku. Dari situ aku bisa menyekolahkan dia dan memberi rumah untuk dia berteduh.
kalau di tanya dimana orang tua dia, aku pun tak tau. Dia juga tidak mau bercerita denganku. Tapi ya sudahlah, disini aku sudah menganggap dia sebagai Adiku sudah cukup bahagia untuknya. Untung saja dia punya kecerdasaan di bandingkan dengan Anak-anak yang lain, sehingga dia bisa masuk sekolah sesuai dengan usianya. Meskipun dia hanya sekolah SD satu semester, tapi dia bisa mendapat nilai tertinggi di sekolahnya. Sungguh kecerdasan yang langka untuk anak seusianya.
Dari situ aku bisa lihat bahwa penampilan luar tak bisa menilai kecerdasan dalam diri seseorang. Belum tentu Anak orang kaya raya bisa seperti Renata. Dia hanya anak penjual koran, tak sekolah sama sekali sebelumnya, tapi dia bisa mendapat nilai paling tertinggi di antara yang lain. Ada kebanggan tersendiri dalam diri ini bisa mengenal Renata.
"Kak, terima kasih untuk semuanya. Kakak, sudah baik banget sama Nata, jasa Kakak akan Nata ingat sampai akhir hayat," ucapnya ketika kami berdua di dalam kamar yang akan aku tempati ketika menginap di rumah ini.
__ADS_1
"Sama-sama, Sayang. Belajar yang rajin ya, jangan pernah kecewain, Kakak. Kamu anak pertama yang Kakak rawat. Terima kasih sudah mau menemani Kakak selama empat tahun ini," jawabku dengan memeluk erat tubuh gadis remaja ini.
"Terima kasih ya, Kak. Disaat semua orang merendahkan Nata, karena Nata adalah penjual koran. Tapi Kakak orang pertama yang menjunjung tinggi harga diri Nata. Kakak orang pertama yang menunjukan kepada dunia bahwa Renata si anak penjual koran tak sebodoh orang lain pikirkan." ucapnya dengan memeluk tubuhku lebih erat.
"Belajar yang rajin ya, Dek. Jangan buat Kakak kecewa atas apa yang Kakak korbankan untuk membantu Nata. Kak Vio sama sekali tidak meminta imbalan sepeser pun dari kamu, tapi Kak Vio hanya minta jangan pernah kecewain Kakak atas pengorbanan yang Kakak lakukan untuk kamu." Ucapku dengan menangis tersedu-sedu.
"Pasti, Kak. Nata akan selalu berusaha untuk membanggakan untuk Kakak. Nata akan menjunjung tinggi nama Kakak seperti Kakak menjunjung tinggi harga diri Nata di depan Guru-guru Nata dulu," jawabnya yang masih memelukku.
Dia Renata Faradita, anak yang aku perjuangkan untuk dapat beasiswa, tapi tak ada sama sekali Sekolah yang menerima dia. Sampai akhirnya aku harus mengeluarkan uang yang cukup besar nominalnya untuk biaya sekolah dia setengah semester. Aku sama sekali tak menyesal melakukan itu, karena hasil yang aku lakukan sungguh membuat aku bangga padanya.
Ada salah satu Guru yang mengancamku bahwa dia akan mengeluarkan Renata dari sekolah, karena Renata tak pantas untuk sekolah. Dia terang-terangan bicara seperti itu di depanku. Dulunya dia belum menjadi Pegawai Negri, dia ramah dan rajin masuk ke Sekolahan, tapi saat dia sudah di angkat sebagai Pegawai Negri dia memanfaatkan jabatannya untuk mengancam wali murid yang tidak dia sukai, seperti aku salah satunya.
Dulu Guru mengajar tanpa tanda jasa, tapi sekarang para Guru berbondong-bondong melakukan segala cara untuk mendapat tanda jasa, yaitu berupa gaji setiap bulannya. Bukan ku menjelek-jelekan Guru, aku juga masih sekolah dan butuh bimbingan dari Guru yang tentunya sudah berilmu lebih tinggi dariku. Tapi disini aku berbicara sesuai fakta apa yang Author katakan. Pantaskan seorang Guru mengancam wali murid dengan dalil Anaknya tak pantas untuk sekolah. Bukankah itu sungguh keterlaluan, apalagi Guru tersebut hanya makan gaji buta saja. Ya sudahlah itu urusan dia sama sang pencipta, Bukankah semua akan dapat balasan. Tidak dapat balasan di dunia, masih ada akherat yang kekal akan dengan kehidupan yang adil.
__ADS_1
Setelah selesai membereskan rumah peninggalan Bi Tati ini, aku dan Anak-anak kembali ke Kontrakan untuk menyiapkan pindahan mereka besok. Aku mengendarai mobilu sendiri dengan Anak-anak yang jadi penumpang. Meskipun mereka saling berpangkuan, tapi mereka terlihat bahagia dari pada naik Taxi bersama Mbak-mbak yang merawat mereka.
"Aku tidur dulu ya .. nanti kalau sudah sampai bangunin Bunda ...," ujarku dengan menyender di jok mobil.
"Terus mobilnya siapa yang nyetir Bunda?" tanya mereka dengan raut wajah ketakutan.
"Mobil Bunda otomatis, Sayang. Jadi kalian tenang saja, mobil ini in syaa allah akan membawa kita sampai ke tujuan dengan selamat," jawabku. Aku pun memejamkan mata, mungkin karena lelah jadi tubuh ini sangatlah mengantuk.
Untung saja Papa Malik sangat pengertian kepadaku. Dia menciptakan mobil ini khusus untukku. Jadi sangat memudahkanku untuk berpergian. Tak perlu Sopir untuk menyetir, tak perlu pengawal untuk melindungiku. Mobil ini sunggu tempat berlindung yang aman. Mobil ini anti peluru dan bom. Sungguh sangat di idam-idamkan oleh orang lain bukan. Dan mobil ini hanya aku yang punya di dunia ini.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE, COMENT DAN VOTE. TERIMA KASIH SEMUA
__ADS_1
LOVE YOU ALL