Ibu Ajaklah Aku Bersamamu

Ibu Ajaklah Aku Bersamamu
PART 22


__ADS_3

Lima belas menit kemudian keluarga dari Ibuku datang. Kenapa harus lima belas menit coba, kan aku tidurnya cuman sebentar. Harusnya tuh setengah jam atau satu jam gitu.Ya, sudahlah udah terlanjur juga.


Di luar terdengar suara Ambulance. Sudah sampai juga ternyata Ambulance yang di sewa Papa Malik. Aku pun pura-pura sadar dari pingsanku. aku kerjapkan mataku perlahan, aktingku sudah bagus soal untuk pingsan. Oke, mari kita akting untuk kehilangan seseorang yang kita cintai dan sayangi.


Kak Julio orang pertama yang menghampiriku setelah bangun dari pingsan. Dia memelukku dengan mengelus bahuku seakan memberi kekuatan untuk bersabar. "Akting kamu sangat bagus, La," sontak aku ingin ketawa, tapi mulutku sudah di bekap oleh Kak Julio terlebih dahulu. "Baru di puji sudah mau ketawa, gimana kalau tau wajah sok sedihnya Hans," sumpah aku pengen ngakak, tapi nggak bisa.


"Jangan sampai ucapan Kakak buat aktingku gagal!" bisikku di sela-sela akting teletubies kita, yaitu berpelukaaaan.


"Vio ...," panggil Papa Rian alias Kakak dari Ibuku.


"Papa ... huhuhu ...," aku pun berdiri dan langsung memeluk Om Rian atau Papa Rian. "Aktingku menjiwai bukan?" tanyaku dengan berbisik. Papa Rian pun hanya mengangguk dan menahan tawa. Semua pemain pada nahan tawa biar drama ini lancar jaya.


"Yang sabar ya, Nak. Masih ada Papa yang akan menjaga kamu," ucapnya ketika ada salah satu tetanggaku lewat tanpa berkedip. Mungkin dia terpesona dengan ketampanan Papa Rian. Duh Buk, matamu minta di servis biar kagak belok terus kek gitu.


"Mari, Pak ...," ucap tetanggaku yang bernama Mbak Sari, janda anak enam, beda suami setiap punya anak. Orang paling hebat di kompleks perumahaan ku, soal cara buat anak beranak tanya saja sama dia, di jamin akan puas dengan hasilnya.


Papa Rian pun masih memelukku biar akting kita lebih menjiwai bila di tonton orang. Sedangkan Mama Vidya menahan tawanya di samping Kak Farhan. Bahagia baget lah tuh Mamaku, lihat Suaminya akting bagai dapat permata yang tak ada duanya di dunia. Bagaimana tidak, Laki-laki yang biasanya tegas dan disiplin dalam ucapan mau tindakan kini berakting seperti ini.


Jenazah pun di bawa masuk ke ruang tamu. Aku pun di tuntun kesana dengan Papa Rian. Aku lihat wajah Hans, sok kehilangan banget. Duh, rusanya pengen tak tampar tuh muka sok polosnya.


"Ibu ...," ucapku dengan bersimpuh disisi kanan jenazah yang masih hidup ini. "Ibu ... kenapa Ibu ninggalin, Vio ... bangun, Bu ... bangun ...," ucapku dengan menggoyangkan badan jenazah ini.

__ADS_1


"Sayang ...," panggil Mama Vidya. Kini giliran beliau yang akting menghiburku. "Yang sabar ya, Nak ...," ucapnya dengan memelukku.


"Vio, pengen ketawa, Ma ...," ucapku lirih dengan menutup mulutku agar tidak ketawa. "Ibu ninggalin Vio sendirian, Ma ... sekarang Vio hanya tinggal sendirian ...," ucapku agak keras biar di dengar oleh Hans.


"Masih ada Mama dan Papa yang akan selalu jaga kamu, Nak," ucap Mama Vidya dengan mengahapus air mataku. "Sekarang kita antar Ibu kamu ke Pemakaman, ya," sambungnya dengan mengelus bahuku. Aku pun hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.


Bapak-bapak pun mengangkat jenazah yang masih bernapas ini ke dalam mobil yang juga sudah di sediakan oleh Papa Malik. Jangan tanya, apa yang di lakukan Hans. Dia hanya pura-pura sedih saja. Cih, rasanya pengen tak masukin ke gorong-gorong semut tuh manusia.


"Terima kasih yang sudah mau hadir disini, saya Rian Putra Brawijaya sebagai Kakak Mala Ahsania Brawijaya meminta maaf sebesar-besarnya bila Mala sengaja ataupun tidak sengaja, telah menyakiti hati kalian yang ada disini, bila ada utang piutang mohon beri tau kami, agar kami bisa melunasi utang beliau," ucap Papa Rian.


"Beliau akan kami semayamkan di Pemakaman keluar kami, tapi mohon maaf bila hanya keluarga kami saja yang bisa masuk kesana, meskipun Hans adalah suami Mala, tapi ia tak di perbolehkan masuk ke sana karena dia tidak ada aliran darah dari keluarga kita. Untuk itu saya mohon maaf untuk Hans, maaf bila Anda tidak bisa melihat Istri tercinta Anda disemayamkan. Sekian dan terima kasih." Ujar Papa Rian dengan nada tegasnya.


Sebenarnya sih nggak ada aturan kek gitu, tapi demi menyelamatkan jenazah yang bisa bernapas itu, kami pura-pura buat aturan gitu. Hans mah seneng-seneng aja nggak bisa ikut, ngapain juga dia ikut, kan semua sudah di Sutradarai dia.


Aku pun ikut ke dalam mobil untuk ke Pemakaman. Mama Vidya pun duduk disampingku, untung saja beliau masih keturunan Brawijaya, jadi beliau di izinkan ikut mengantar. Aku pun masih menampilkan wajah sedih karena masih banyak orang-orang yang melihatku.


Papa Rian duduk di depan bersama Kak Juan sedangkan Kak Julio dan Kak Farhan duduk di bangku belakang. Kalau nanya mobil apa yang kita naiki, jawabannya mobil yang rata-rata dimiliki oleh Publik Figur. Aku tidak mau menyebutkan brand apa karena Authornya tidak di endors.


Kami pun sudah tiba di tempat tujuan yaitu rumah Papa Malik. Di depan pintu sudah ada Papa Malik yang berdiri menunggu kita. Jenazah yang masih bernapas itu tiba-tiba bangun. Mungkin dia membatin 'Orang masih hidup kok mau di makamin'.


"Kalau bukan demi lo, ogah gue di sholatin ... orang masih bisa sholat malah di sholatin ...," ucap jenazah hidup tersebut, kalau nggak salah namanya Kak Fito sahabatnya Kak Farhan.

__ADS_1


"Itung-itung ngingetin elo, Fit ... biar sholat sebelum di sholatin kek tadi," jawab Kak Farhan dengan senyum mengejek.


"Makasih atas bantuannya ya, Kak Fit ...," ucapku dengan tersenyum.


"Sama-sama, Neng Cantik. Apapun akan Abang lakukan demi calon Makmum, Abang," jawabnya dengan menggodaku.


"Jadi Makmum yang bener dulu, Kak ... baru jadi Imam ...," jawabku yang dapat gelak tawa dari semua orang.


"Dengerin tuh jadi Makmum aja masih bolong-bolong, ini sok-sok'an mau jadi Imam," ucap Kak Julio dengan memberi hadiah pukulan maut untuk tangan Kak Fito.


"Sakit Kak ... Kakak mah tega sama, Adek Ipar," ucapnya dengan wajah sedih.


"Aktingnya dah selesai, Fit ... kamu juga nggak dapat peran buat sedih, jadi nggak usah sok sedih gitu ...," Ucap Kak Juan, otomatis ngakak dong akunya.


"Kak Fito, udah cocok jadi jenazah beneran, mungkin karena saking menghayati peran," ucapku dengan ketawa.


"Adek mah tega sama, Abang," ucapnya dengan wajah cemberut.


"Ayo masuk ... Vio, mau minta minum sama, Papa," ucapku dan berlalu untuk menghampiri Papa Malik.


Papa Malik pun tersenyum saat aku menghampiri beliau. Beliau pun memelukku dengan erat. Seperti inikah rasanya di sayangi Ayah kandung yang sebenarnya. Rasa yang tak pernah aku rasakan saat di peluk oleh Hans.

__ADS_1


BERSAMBUNG


TERIMA KASIH UNTUK YANG SUDAH MAU BACA NOVEL INI. JANGAN LUPA DI LIKE, DI COMENT DAN DI VOTE, YA. LOVE YOU ALL.


__ADS_2