
Sekitar pukul delapan malam aku baru sampai rumah. Terdegar suara ikan masuk ke dalam wajan, busyet kasian tuh ikan salah masuk air. Niatnya pengen napas di air eh salah masuk ke minyak goreng, kasian amat lo kan-ikan.
"Assalamualaikum ... surgaku ...," ucapku sambil menghampiri Ibuku yang lagi menyelamatkan ikan.
"Wa'alaikumussalam ... buah cintaku ...," duh punya Ibu yang seperti ini, anak mana yang tidak bahagia.
"Duh, jadi merona nih pipi buah cintanya, Ibu ...," ucapku sambil menepuk kedua pipiku yang merona.
"Hahaha ... aja-aja ada kamu, Vi," Ibuku juga bisa ngelawak tau. Hanya Suami gila yang tega cariin Istrinya musuh.
"Ada-ada aja kali, Bu," ucapku sambil ketawa.
"Hehehehe ...," dih ketawa, gimana aku nggak cantik coba kalau Ibunya aja sudah seperti bidadari gini.
"Bu, ada sesuatu yang pengen Vio tanyain ke, Ibu ... nanti kita bahas kalau si pensil warna nggak pulang," ucapku yang teringat dengan Bapak Malik.
"Maksud kamu apa, Vi?" duh, lupa kalau Ibu nggak tau panggilan baruku ke tuh laki-laki.
"Nanti aja kalau Ayah nggak pulang," jawabku dengan tersenyum.
"Baiklah, kamu ganti baju dulu gih" titah sang ratu.
"Laksanakan, surgaku ...," jawabku sambil hormat.
Ibu ku hanya menggelengkan kepala dengan tersenyum. Senyumnya seperti tidak ada luka di dalam hatinya, padahal kalau anak indigo tau, pasti mereka kasian sama Ibu. Vio, janji akan usahakan buat Ibu ketawa meski gak setiap saat.
__ADS_1
Aku pun pergi ke kamarku untuk mengganti bajuku. Kalau mandi mah aku sudah mandi di Caffe tadi sore. Aku tak pernah mandi malam karena badan jadi sakit semua kalau harus kena air malam. Kalau aku lebih baik cuci muka, kaki, dan tangan dari pada harus mandi. Entah aku sendiri yang merasakan seperti itu atau kalian juga sama. Kata Bi Tati juga nggak baik kalau mandi malem-malem katanya bisa menyebabkan sakit pegel linu atau asam urat.
Setelah selesai ganti baju, aku pun kembali ke dapur untuk membantu Ibu menyelamatkan ikan yang masuk wajan. Setelah sampai ke dapur aku kaget ternyata ikannya sudah di tolongin sama Ibu, tapi ikannya sudah kering dan bisa di makan. Duh kan, kasian amat dirimu kan.
"Vio bantuin apa, Bu?" tanyaku setelah berdiri di samping beliau.
"Bantuin buat sambal bawang aja," jawabnya tanpa melirikku sama sekali.
"Siap laksanakan, surgaku ...," ucapku dengan semangat empat lima.
"Hari ini Ayah pulang nggak, Bu?" tanyaku sambil meracik bumbu sambal bawang.
"Enggak katanya ada meeting di luar kota," jawabnya dengan acuh tak acuh.
"Kalau dia jujur sama Ibu, pasti dia akan rugi sendiri, Vio," jawabnya sambil mengangkat tempe dari penggorengan.
"Ya bagus dong, kan kalau gitu mereka bisa bersatu," ucapku tanpa tau sebab mereka selingkuh.
"Kalau mereka bersatu dengan jalur Ibu menggugat Ayah, Ibu akan kehilangan semua harta yang Ibu punya, Nak. Tapi kalau Ayah menceraikan Ibu, Ayah tidak akan dapat sepeser pun harta dari Ibu. Kehilangan semua harta ini tak masalah untuk Ibu, tapi Ibu dapat amanat untuk harus menjaga semua harta ini, amanat itu adalah semua harta harus untuk kamu dan jangan sampai jatuh ke tangan orang lain, dan itulah yang menyebabkan Ibu harus tetap bertahan demi amanat," terangnya.
"Kalau harta mah bisa di cari, Vi. Tapi kepercayaan orang apa bisa kita cari bila janji kita tidak bisa tepati. Kita harus sabar sampai waktunya tiba, Ibu yakin Papa kamu akan usahakan kebahagiaan kita berdua," sambungnya sambil meletakkan ikan di meja makan.
"Oh ya, Bu ... Ibu dapat salam dari Papa Malik," ujarku memancing agar beliau lebih jujur lagi, dan dugaanku benar Ibu kaget setelah mendengar ucapanku tantang Pak Malik.
"Ka-kamu ... kamu ketemu dimana denganya?" tanyanya dengan gugup.
__ADS_1
"Biasa aja kali, Bu ... Vio nggak akan desak buat Ibu jawab kalau Ibu belum siap," jawabku dengan tersenyum.
"Kamu bicara apa aja dengan dia, Vi?" tanyanya kembali.
"Ya bicara tentang keluarga kita dan bicara tentang Kak Alshad," jawabku dengan tersenyum kecut.
"Oh ...," hanya suara itu yang keluar dari mulut Ibuku.
"Ibu nggak mau cerita kah? dari pada nanti Vio denger dari orang lain," ucapku sambil menatap wajah cantik Ibu.
"Ibu akan cerita kalau waktunya sudah tepat, Nak ... sekarang belum waktunya kamu tau. Kamu fokus aja sama kuliah kamu, jangan sampai gara-gara kerja dan banyak pikiran, nilai kuliah kamu turun dan Ibu nggak mau kalau sampai beasiswa kamu di cabut!" serunya dengan menatap tajam kepadaku.
Baiklah, mau bagaimana lagi kalau sang penguasa surgaku sudah bertitah. Mau tidak mau harus di jalani dengan ikhlas. Keikhlasaan adalah kunci kebahagiaan nomor dua setelah bersyukur. Di situ ada rasa bersyukur sudah pasti disitu juga ada rasa ikhlas. Aku pun ikhlas menjalani takdir seperti ini. Meskipun berat untuk di jalani, akan tetapi tetap aku jalani. Karena hidup tak selamanya mendapat duka, masih ada suka yang menanti kita.
kaki pun jalan ke depan bukan jalan ke belakang untuk menggapai sesuatu yang terlihat di depan, begitu pun dengan hidup yang terus berjalan kedepan. Karena masa depan lebih menjanjikan dari pada masa lalu. Duka pun sama tak selamanya terus di depan kita, pasti ada masanya duka akan kebelakang dengan sendirinya. Yang perlu kita lakukan adalah jalani dengan rasa syukur dan ikhlas, teguhkan iman, dan cari jalan keluar.
carilah masa sukamu dengan cara cari jalan keluar dari duka. Meskipun duka akan ke belakang dengan sendirinya, tapi kita masih tetap di posisi tengah-tengah. antara memilih duka atau suka, kalau kita memilih suka maka carilah jalan menuju ke takdir yang membuat kehidupan kita penuh dengan suka cita. Jika memilih duka, tetaplah dalam posisimu saat tersakiti. Jalan keluar pun masing-masing caranya, karena semua masalah tidaklah sama.
Hal yang paling ku syukuri saat ini adalah tau tentang kebusukan si laki-laki pensil warna, dan hal yang paling aku ikhlaskan adalah akan kepergian laki-laki dari hidupku dan hidup Ibuku, dan itu hal yang aku tunggu-tunggu.
Meskipun Ibuku ikhlas menderita demi amanat orang, tapi aku sebagai anak sangatlah tidak tega bila melihat Ibunya menderita. Setiap anak pasti mempunyai cita-cita untuk membahagian orang tuanya, aku pun sama seperti itu. Aku pun masih berusaha untuk membahagiakan beliau meskipun tak setiap detik, setidaknya aku masih punya rasa untuk membahagiakan orang tuaku. Tidaklah seperti anak lain di luar sana yang tega memberi kepedihan kepada orang tuanya demi kebahagiaannya sendiri. Tidak aku tidak akan seperti itu karena aku tak mau akan dibalas jahat oleh anaku nanti karena tingkahku yang menyakiti orang tuaku dulu.
BERSAMBUNG
TERIMA KASIH UNTUK YANG SUDAH MAU MEMBACA NOVEL UANG KOIN INI ALIAS RECEH. JANGAN LUPA DI LIKE, COMENT DAN DI VOTE. SEKALI LAGI THANK YOU ALL.
__ADS_1