
Setelah semua beres aku kembali pulang. Aku harus mengemas pakaianku untuk di bawa ke Shanghai. Entah berapa hari aku harus disana, mungkin seminggu lebih. Syukurlah kalau aku pergi saat Hans menikah sama Selinya. Aku muak jika harus pura-pura bahagia di depan orang lain.
Kini aku sudah sampai ke rumah, setelah melewati kemacetan Ibukota yang tiada hentinya. Semakin hari semakin banyak orang yang membeli kendaraan. Lama-lama aku beli pesawat kalau jalanan semakin padat pengendara. Kan enak naik pesawat, nggak kena macet seperti di jalan raya.
"Assalamu'alaikum ...," ucapku ketika memasuki rumah.
"Wa'alaikumussalam ... dari mana aja kamu, Vi?" dih kepo nih orang, terserah akulah mah dari mana kemana.
"Vio, habis ngerjain tugas kuliah di rumah temen, Yah," dih najis, aku panggil dia Ayah.
"Oh ... lain kali pulangnya jangan terlalu malam, kamu itu anak perempuan nggak baik pulang ke rumah di atas pukul delapan," sok perhatian sekali Anda, Pak.
"Iya, Yah ...," jawabku dengan tersenyum kecut. "Yah, besok ada kegiatan kampus seminggu lebih, jadi Vio nggak bisa pulang untuk seminggu ke depan. Maaf, jika Vio nggak bisa hadir di pernikahan, Ayah." Ucapku dengan muka sok menyesal.
"Iya gak papa ... Ayah, do'ain semoga kamu sehat-sehat aja disana," aku yang kejam apa dia yang terlalu baik memainkan peran.
"Makasih, Yah ... kalau gitu, Vio, ke kamar dulu buat nyiapin barang-barang yang harus di bawa," ucapku izin pergi dari hadapan dia.
Aku pun pergi ke kamarku, tempat ternyaman setelah pelukan kedua orang tuaku. Disini aku biasa menghabiskan waktuku bersama sang Ibu, tapi mungkin suatu saat nanti tempat ini tak berpenghuni lagi. Semoga saja aku tak diusir dari sini setelah Hans nikah dengan Tante Seli. Ya, kita lihat saja kedepannya seperti apa, ikuti saja alur cerita sesuai hati Authornya.
Aku pun memasukan baju-baju yang menurutku cocok bila di gunakan ke Shanghai. Tak lupa sepatu dan sandal yang melindungi kakiku dari tajamnya duri, seperti tajamnya mulut tetangga. Mulutku juga pedas dan tajam ngapain juga ngatain mulut tengga, oh dasar Viola tetangga tak ada akhlak.
Setelah semua beres aku rebahkan tubuhku di tempat ternyamanku selama ini. Ku buka ponsel genggamku untuk menghubungi Papa Malik. "Assalamu'alaikum, Pa. Besok kita jadi berangkat ke Shanghai, kan?" ketikku untuk memastikan akan kepergianku ke Shanghai.
Tak lama pesanku pun di balas oleh Papa. "Wa'alaikumussalam ... jadi, Nak. Ini Papa sudah selesai beres-beres barang-barang Papa yang di butuhkan disana," jawabnya lewat what*app.
"Vio, berangkat ke rumah Papa pukul berapa?" tanyaku kembali.
__ADS_1
"Terserah kamu mau pukul berapa, asal jangan kesiangan," dih, dikira naik pesawatnya sendiri apa berangkat naik pesawat sesuka hati.
"Kita terbangnya pukul berapa?" lama-lama aku jadi tukang kepo.
"Terserah kamu asal jangan siang, kalau siang nanti sampai disananya malam, jadi kamu nggak bisa bicara banyak sama Ibu kamu," duh pengertian banget si Papa ini.
"Kita naik pesawat apa, Pa?" tanyaku sampai ke akar-akarnya.
"Kamu seperti Polisi aja, Vi. Nanyanya sampai tuntas banget. Kita naik Jet pribadi, jadi jangan takut terlabat asal jangan kesiangan. Kalau sampai kamu kesiangan kesininya kita ganti lusa berangkatnya. Begitupun dengan seterusnya kalau kamu kesiangan ke rumah, Papa." Ternyata Papa Malik cerewet juga, ya. Aku kira beliau itu pendiam dan tegas, tapi nggak taunya cerewet banget. Atau beliau hanya cerewet kepada orang-orang tertetu, entahlah aku juga tak tau.
Aku pun mengakhiri panggilanku dengan Papa Malik setelah menanyakan semua keingintahuanku. Sekarang waktunya main game bareng gengsku.
"Bro ... undang aku main," pesanku lewat chat.
Aku pun di undang oleh Kak Farhan. Memang main game kalau nggak sama aku tuh pasti mereka kalah. "Butuh aku juga kan buat menang," ucapku.
"Dih Kakak kek anak perempuan PMS, di tanya baik-baik malah di jawab ketus," protesku kepada Kak Julio.
"Udah main yang bener, masa dari tadi kita kalah melulu," Kak Juan menengahi adu mulutku dengan Kak Julio.
"Salah sendiri nggak ngajak, Vio. Jadi kalian kalah terus kan?" ujarku dengan ketawa.
"Dari tadi udah di undang, kamunya aja yang nggak masuk-masuk," kini giliran Kak Farhan dengan nada ketus.
"Ya sorry dorry worry ... tadi aku lagi kemas-kemas mau pergi ke Shanghai," jawabku. "Kalian mau di bawakan oleh-oleh apa dari Shanghai?" sambungku dengan bertanya keinginan mereka.
"Hah ... serius lo mau ke Shanghai, kapan berangkatnya?" tanya Kak Farhan dengan nada syok.
__ADS_1
"Ho'oh ... besok aku berangkat bareng Papa Malik," jawabku dengan jujur. "Oh ya, Kak. Gimana kabarnya Oppa dan Grandny? salam ya buat mereka!" sambungku menanyakan kabar Nenek dan Kakekku.
"Alhamdulillah mereka sehat. Nanti aku salamin ke mereka kalau inget," dih nih orang lagi PMS beneran kali, ya.
"Kak Julio kenapa sih, dari tadi ketus mulu jawabannya," tanyaku dengan heran.
"Dia habis putus sama pacarnya. Pacarnya selingkuh sama temen dia sendiri," jawab Kak Juan dengan ketawa mengejek.
Sontak aku pun tertawa terpikal-pikal. "Ha ha ha ... nasib Kak Julio sadis amat ya, amat aja nggak sadis. Lagian punya pacar di kenalin ke temennya, apalagi temennya suka cewek yang bohay, ya nggak salah yang selingkuh kalau mereka sama-sama melengkapi. Yang satu tubuhnya bohay, yang satunya lagi suka tubuh cewek bohay. Kan sayang tubuh bohaynya di anggurin, ya mendingan di kasih aja ke yang membutuhkan dari pada Kakak anggurin, nggak sekalian di melonin tuh cewek," ujarku dengan ketawa.
"Diem lo ...," dih, ngebentak dia.
"Di kasih tau juga malah marah-marah. Di bilangin cari pacar tuh yang menutup auratnya kalau bisa mah sekalian bercadar. Jadi kalian sendiri yang bisa melihat wajah istri kalian kelak. Bukankah wanita berhijab juga menyelamatkan kalian dari api neraka wahai kaum laki-laki. Carilah istri yang berhijab kalau kalian tidak ingin dihakimi di akherat karena tidak bisa mendidik istri dan anak kalian." Sambungku dengan ceramah.
"Dengerin tuh Kak. Adik kesayangan aku satu-satunya yang biasa ceramahin kita." Jawab Kak Farhan dengan mengejek Kak Julio, tapi juga sedikit mengejekku.
"Kak Farhan mau cabein Kak Julio apa aku, kok kata-katanya kek gitu?" tanya dengan nada ketus.
"Dua-duanya ... Ha ha ha ...," jawabnya dengan ketawa ngakak so hard.
Aku pun hanya bisa menggelengkan kepala. Bukankah yang ku katakan memang benar apa adanya bahwa wanita berhijab telah menyelamatkan empat laki-laki yang muhrimnya. Seperti Ayah kandungnya, Saudara laki-laki kandungnya, Suami sahnya dan Anak laki-laki kandungnya. Meskipun tak sepenuhnya menyelamatkan, tapi setidaknya kan kita sebagai kaum perempuan sudah menyelamatkan mereka dari apa neraka.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA DI LIKE, COMEN DAN DI VOTE GUYS. TERIMA KASIH SUDAH MAU MEMBACA NOVEL UANG KOIN INI.
SEKALI LAGI TERIMA KASIH.
__ADS_1
LOVE YOU ALL.