Ibu Ajaklah Aku Bersamamu

Ibu Ajaklah Aku Bersamamu
PART 24


__ADS_3

Kini sudah seminggu dari kepergian Ibuku. Aku hanya di rumah sendirian selama seminggu ini. Tak ada teman yang menemani, untung aku pemberani. Hans entah kapan pulang aku pun tak tau. Biarkan saja dia sesuka hatinya.


Aku berniat berangkat kerja lagi nanti siang. Dari pada di rumah sendirian lebih baik bekerja, Dapat uang untuk beli kuota internetan. Apalagi disana juga ada Wi-Fi, kan hemat uang juga. Ya sudahlah, mari kita berangkat ke Kampus dulu.


Aku pun membawa mobil pemberian Papa Malik untuk berangkat ke Kampus. Aku jalankan mobilku dengan kecepatan sedang. Tak lupa aku menyalakan murotal surah Ar-Rahman yang di baca Muhammad Toha Al Junaid. Hati terasa tentram bila mendengar ayat-ayat Al-Qur'an.


Tak sengaja aku melihat Kakek Samsudin lari di tepi jalan. Entah siapa yang mengejar beliau, sampai ketakutan seperti itu. Aku pun menepikan mobilku untuk membantu beliau. "Kakek, cepetan masuk!" seruku ketika mobilku disisi kanan beliau.


Kakek Samsudin pun masuk ke dalam mobil. "Makasih ya, Vi. Kakek, nggak bisa bayangkan apa yang akan terjadi jika nggak ada kamu," ucapnya ketika sudah bisa mengatur napasnya. "Sudah dua kali kamu menyelamatkan nyawa, Kakek." Sambungnya dengan tersenyum.


"Berterima kasihlah kepada yang maha melindungi dan maha menyelamatkan, Vio hanya perantara untuk menyelamatkan Kakek," jawabku dengan tersenyum.


"Manusia tidak bisa melindungi dan menyelamatkan, Kek. Manusia hanya sebagai perantara, tapi terkadang manusia lupa bagaimana kodratnya sebagai ciptaan sang pencipta." Sambungku, dengan sedikit pemikiranku.


Kakek Samsudin pun tersenyum dengan melihatku. "Yang kamu katakan memang benar, terkadang manusia juga menganggap dia yang memiliki alam semesta, padahal mereka hanya dititipkan," ucapnya.


"Mereka lupa dari apa mereka di ciptakan dan akan kemana pula mereka di kebumikan, kita juga tak tau dari tanah apa kita di ciptakan. Bila ada orang yang sifatnya beda dari manusia biasanya, jangan salahkan dia karena memang dia di ciptakan dari tanah yang tak biasa."Ucapku dengan memandang lurus ke depan.


"Vio, juga tidak tau dari tanah mana Vio di ciptakan, dan entah jenis tanah apa pula, tapi Vio berharap semoga di ciptakan dari tanah di kota Mekkah atau Madinah, sehingga Vio bisa di semayamkan disana," sambungku.


"Ternyata ilmu agama kamu kuat ya, Vi," ucapan Kakek Samsudin yang membuatku terbahak.

__ADS_1


"Ha ha ha ha ... Vio, mah apa atuh ... cuman manusia akhir zaman, yang pasti masuk neraka duluan ... gini-gini di hati Vio masih besaran cinta dunia dari pada akherat, Kek ... Vio, mah berusaha biar masuk surga meskipun harus di cuci di neraka duluan," jawabku dengan tertawa.


"Sama kalau gitu, Vi ...," ucapnya dengan ikut ketawa.


"Namanya juga manusia, Kek," tuturku dengan tersenyum. "Kakek, mau di antar kemana?" sambungku menanyakan tujuan beliau.


"Ke Kampus kamu aja. Kakek ada urusan disana," jawab Kakek Samsudin. Okelah kalau begitu mari kita ke Kampus mencari ilmu, bukan mencari kesenangan apalagi ketenaran.


Kami berdua pun bercerita kesana kemari tanpa membawa alamat, karena tanpa alamat kita sudah sampai ke arah pembicaraan selanjutnya. Aku tak menanyakan kenapa Kakek Samsudin lari bak di kejar anjing, karena itu urusan pribadi beliau, jadi aku tak mau ikut campur.


Tak ku sangka dan tak ku duga, ternyata eh ternyata Kakek Samsudin adalah pemilik Kampus tempatku menimba Ilmu. Tak lupa aku ucapkan banyak terima kasih kepada beliau karena telah membuka jalur beasiswa untuk remaja-remaja yang tidak mampu kuliah dan remaja-remaja yang berprestasi.


"Ceritanya panjang, Kek ... kalau Vio ceritain pasti bakal panjang ngelebihi panjangnya rel Pesawat. Intinya sekarang beban hidup Vio sudah berkurang semenjak Papa kandung Vio bawa Ibuku pergi," jawabku yang entah bisa di cerna atau tidak.


"Bukannya Ibu kamu sudah meninggal, Vi?" tanyanya. Aku lupa cerita kali ya soal Bi Tati.


"Sebenarnya Ibuku yang meninggal itu bukan Ibu kandung Vio, Kek. Beliau dulu kerja untuk merawat Vio, tapi semenjak Ayah tiriku ketauan selingkuh, Ayah tiriku mecat beliau karena takut tindakannya di aduin ke Ibuku," terangku tentang Bi Tati. "Tapi sepandai-pandainya daging sapi di sembunyikan pasti akan tercium baunya, apalagi kalau tidak di masak dan di taruh di kulkas, kan bakal kecium bau busuknya," sambungku.


"Sekarang Ibu kandung kamu dimana?" tanyanya, masih kepo dia.


"Ibuku di Shanghai, Kek ... beliau di sembunyikan sama Papa kandung aku. Mungkin kalau sampai aku dan Papa telat tau rencana Ayah tiriku pasti Ibuku sudah tidak ada karena ulah dari tangan Ayah tiriku dan Tante Seli," jawabku dengan tersenyum kecut.

__ADS_1


"Siapa itu, Tante Seli?" jiwa kepo Kakek-kakek meronta.


"Tante Seli itu singkatan, Kek ... yang artinya Tante Selingkuhan," jawabku dengan ketawa.


"Kok ada ya manusia seperti mereka?" tanyanya dengan bingung padahal dari awal sudah aku jelaskan sifat manusia.


"Ada lah, Kek ... namanya juga manusia. Tak semua manusia sama seperti hati kita, Kek. Jadi, jangan pernah bandingkan manusia satu dengan manusia lain, karena kita sama-sama manusia. Tak pantas manusia memanusiakan lain." tutur dengan menerangkan cara pandangku.


"Maksud kamu bagaimana, manusia memanusiakan?" tanyanya dengan jika ke kepoan yang meningkat.


"Maksudnya, kita tak boleh menghina manusia lain seakan-akan kita ini Tuhan. contoh kata-katanya seperti ini 'Dasar manusia jahat dan sering berbuat dosa' kata-kata itu tak pantas kita ucapkan kepada orang lain karena kita juga manusia. Manusia tak pernah luput dari yang namanya kejahat dan berbuat dosa, kita pandang diri kita selayaknya air jernih tapi kita tak tau cara orang lain melihat kita, entah mereka melihat kita seperti air jernih atau air keruh." Tausiahku kepada Kakek Samsudin.


Kakek Samsudin pun hanya menganggukan kepala sebagai jawaban kalau beliau paham dengan tausiahku. Entah paham beneran atau tidak, semoga saja paham beneran agar aku juga dapat pahala. Beliau pun tak sungkan-sungkan menanyakan ini dan itu, sana dan sini. Semua aku jawab dengan pemikiranku tanpa menggunakan kata orang.


Aku tak percaya kata orang, karena mulut orang bisa berbuat kejahatan. Aku tak terlalu percaya pada orang bila hatiku tak akan suka perkataan orang yang mereka lontarkan. entah mengapa hatiku menjadi tempat untuk melindungiku dari kemungkiran perkataan orang. Mungkin karena selalu di bohongi dengan cara janji palsu mengakibatkan aku tak bisa akrab dengan orang lain sebelum hatiku menilai mereka.


Di bohongi dengan janji itu suatu hal yang menyakitkan. Seperti dia hutang saat di tagih, dia janji akan bayar tanggal sekian, tapi saat tepat di tanggal janjian dia telah berdusta dengan janjinya. Aku ikhlas bila tak di bayar di dunia, tapi akan aku tagih dia di akherat. Aku akan tagih satu janji dan uang yang ia pinjam. Salah siapa di dunia tak di bayar. Sebab itulah jangan hutang bila tak mampu bayar, karena kita tak tau kapan ajal menjeput kita. Kalau ajal menjemput kita saat hutang lunas ya alhamdulillah, tapi kalau belum ya salah sendiri kenapa nggak di lunasi. Yuklah bayar hutang sebelum pulang, pulang kemana? ke kuburan.


BERSAMBUNG


TERIMA KASIH UNTUK YANG SUDAH MAU MEMBACA NOVEL INI. JANGAN LUPA DI LIKE, DI COMENT DAN DI VOTE YA GUYS. LOVE YOU ALL.

__ADS_1


__ADS_2