
Malam hari pun tiba, kini aku sedang istirahat di kamar tidurku. Dari kemarin malam hand phoneku, aku matikan. Kekecewaanku pada Papa Malik kini sudah hilang, entah mengapa saat melihat Anak-anak tadi siang rasanya aku kurang bersyukur bila mendiamkan orang tuaku gara-gara di tinggal sendirian.
Disini aku masih bisa melihat dan mendapat kasih sayang orang tuaku. Tapi Anak-anak hanya orang yang punya hati tulus yang menyayangi mereka. bukankah kehidupanku jauh lebih bahagia di bandingkan dengan mereka.
Aku buka isi pesan di what*app, banyak sekali pesan yang masuk. Terutama pesan dari Ibu dan Kak Julio. Mereka berkali-kali meminta maaf kepadaku. Aku pun membalas pesan mereka satu persatu. Aku juga meminta maaf karena telah mengabaikan pesan mereka.
Aku lihat pesan dari Papa Malik dan ternyata beliau sudah pulang tadi siang. Sungguh sangat berdosa sekali diriku ini, hanya karena aku ingin kumpul bersama keluargaku aku rela membuat orang tuaku repot seperti itu. "Papa maafkan Vio, karena buat Papa harus pulang ke Indonesia," ketikku dalam pesan what*app.
Ternyata beliau langsung meneleponku. "Assalamu'alaikum ...," salamnya di sebrang sana.
"Wa'alaikumussalam ... Papa maafkan Vio, ya," jawabku. "Maafkan Vio kalau buat Papa harus repot-repot pulang ke Indonesia," sambungku dengan nada bersalah.
"Nggak papa, Sayang ...Papa sama sekali nggak merasa di repotkan kok, besok kamu siap-siap ya, lusa kita pergi ke Shanghai. Papa ada kerjaan yang harus Papa tangani di sana, jadi sekalian ajak kamu biar bisa ketemu Ibu kamu," ucapnya dengan nada lembut.
"Papa nggak marah sama, Vio kan? gara-gara Vio, Papa harus menunda pekerjaan Papa yang ada disana," ucapku yang masih tidak enak hati.
"Enggak kok, Nak. Ngapain Papa harus marah sama kamu, kamu kan nggak punya salah sama Papa," jawabnya.
__ADS_1
"Serius Pa?" tanya memastikan tentang perkataan beliau.
"Iya,.Sayang ... jadi kamu besok siap-siap, ya. Lusa pagi kita berangkat. Nanti kamu ke rumah Papa dulu, soalnya Papa nggak bisa jemput kamu," jawabnya yang memberi tau jadwal kita berangkat ke Shanghai.
Aku pun menutup sambungan teleponku ketika pembicaraan kita sudah selesai. Nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan. Bukankah kebaikan akan selalu mengiringi setiap perbuatan baik kita kepada orang lain. Jika kita berbuat baik, niscaya kebaikan akan kita peroleh dari kebaikan orang lain. Jika kejahatan yang kita perbuat, niscaya kita akan mendapat kejahatan pula dari orang lain.
Tak usah memikirkan kejahatan orang lain kepada kita, tapi pikirkanlah kejahatan kita kepada orang lain. Tak perlu memikirkan orang lain untuk membuat mereka baik kepada kita, tapi pikirkan bagaimana caranya kita bisa berbuat baik kepada mereka. Sebelum menilai orang lebih baik bercermin untuk diri sendiri lebih baik.
Aku pun membukan pesan lain, dan ternyata yang menghubungi aku adalah Kakek Samsudin. Entah ada apa beliau menghubungiku. DAku pun buka pesan beliau, di pesannya tertulis bahwa dia menanyakan apa betul tadi pagi bertemu dengan Cucunya. Duh, kalau inget kata-katanya pengen aku buang kelaut aja tuh manusia.
"Wa'alaikumussalam ... betul Kek, tadi pagi Vio nggak sengaja ketemu Mas Lindra di Taman Kota." Jawabku ketika mengingat nama Cucunya Kakek Samsudin.
"Sangat betul, Kek. Vio minta tolong kasih tau ke, Mas Lindra, jadi laki tuh yang kuat kalau nggak bisa lawan Vio jangan cari gara-gara mulu. Dan kalau punya mulut tuh di kondisikan jangan di buat pajangan aja," ketikku dalam what*app.
Tak ada balasan dari Kakek Samsudin. Mungkin beliau sedang memarahi Cucunya itu, atau tersinggung karena ketikanku. Masa bodoh, asal aku tak salah ngapain harus minta maaf karena nampar tuh laki-laki.
Aku pun kembali merebahkan tubuhku di kasur king zise milikku. Aku buka aplikasi tubtube untuk mendengarkan kajiannya Ustadz Abdul Somad. Dari kajian-kajian Ustadzlah aku bisa belajar ilmu agama lebih mendalam. Tentang perintah ini dan perintah itu, tentang larangan ini dan larangan itu.
__ADS_1
Aku di lahirkan bukan dari kalangan keluarga yang fasih dengan agama. Tapi setidaknya keluargaku masih mentaati tentang norma-norma agama. Tak terlalu punya ilmu agama bukan berarti tak taat kepada sang pencipta bukan.
Pernah aku bertanya kepada Bapak-bapak yang mungkin usianya enam puluh tahun. Beliau berkata tak pernah sholat, agamanya pun hanya agama Islam di KTP. Aku pun bertanya kepada beliau, "apa Bapak mau uang banyak, tapi dengan syarat Bapak pindah agama." Mungkin pertanyaanku sangatlah berdosa, tapi tak masalah bagiku bila harus mendengarkan jawaban Bapak tersebut.
Beliau pun menjawab "Saya memang tak pernah sholat, Neng. Tapi Bapak tak pernah berpikir untuk pindah agama. Mungkin orang di luar sana berpikir Bapak akan masuk neraka. Bukankah setiap pribadi akan masuk neraka lebih dulu sebelum ke surga untuk menghapus dosa-dosa yang pernah di perbuat. Bapak tidaklah taat kepada Allah, tapi Bapak sangat percaya dan yakin bahwa Allah itu ada. Untuk apa uang banyak jika Bapak harus berdusta kepada yang menciptakan Bapak. Bapak sudah sangat berdosa karena tidak pernah sholat dan Bapak tidak mau tambah berdosa karena berdusta pada pencipta Bapak." Sungguh jawaban beliau sangat mengispiraskku.
Menginspirasi bukan tidak untuk tidak sholat. Tapi iman kepada Allah, dari beliaulah aku tau makna iman kepada Allah sesungguhnya. Beriman bukan hanya kita yang selalu beribadah kepada Allah, terkadang yang ibadahnya rajin, tapi dalam hati meragukan kebesaran Allah sama saja tidak beriman, bukan.
Iman kepada Allah mempunyai arti memercayai dan meyakini bahwa Allah itu ada dengan semua kebesarannya. Untuk apa kita beribadah? coba tanyakan pada hati kita masing-masing. Kita beribadah lillahi ta'ala atau lillahi riya'. Atau kita beribadah lillahi kewajiban bukan keimanan.
Tak masalah karena apa kita beribadah, setidaknya kita sudah berusaha untuk beribadah. Meskipun awalnya terpaksa, tapi bukankah pada akhirnya kita akan takut meniggalkan meskipun awalnya terpaksa. Seperti kisah cinta di novel-novel yang di paksa untuk menikah. Bukankah seiringnya berjalannya waktu keterpaksaan menjadi keterbiasaan.
Seperti pepatah Jawa mengatakan 'Witing tresno jalaran saka kulino'. Begitupun dengan sholat, mereka yang beribadah terkadang ada yang karena terbiasa. Tak harus paham tentang agama orang beribadah, tapi ada juga karena terbiasa. Karena terbiasalah orang takut untuk meninggalkan sholat.
BERSAMBUNG
TERIMA KASIH UNTUK YANG SUDAH MAU MEMBACA NOVEL UANG KOIN INI. JANGAN LUPA DI LIKE, DI COMEN DAN DI VOTE GUYS. SEKALI LAGI TERIMA KASIH.
__ADS_1
LOVE YOU ALL.