Ibu Ajaklah Aku Bersamamu

Ibu Ajaklah Aku Bersamamu
PART 25


__ADS_3

Aku dan Kakek Samsudin akhirnya sampai di Kampus dengan selamat. Aku dan beliau berpisah saat di parkiran, karena tujuan kita berbeda. Aku ke kelasku, sedangkan beliau ke ruangan Dekan. Entah apa urusannya aku tak tau, karena itu bukan urusanku.


Sampai di kelas pun aku duduk sendirian. Bukannya aku tak punya teman memang aku tidak mau berteman. Tapi ada salah satu Mahasiswi yang menurut hatiku baik. Di katakan dekat iya, di katakan jauh pun iya. Ya sudahlah, kalau dia baik dan mau berteman, ya silahkan.


Memang baik kalau kita suka bersilaturahmi, tapi untuk apa bersilaturahmi kalau ujung-ujungnya saling membuka aib masing-masing. Lebih baik mah hidup bersosial dengan baik, baik sama orang sudah cukup untukku meskipun tanpa berteman. Hidup rukun dengan tetangga, tak membandingkan tetangga satu dengan tetangga lain. Baik dengan orang lain tanpa membandingkan status mereka, itu sudah cukup bagiku untuk hidup bersosial, tanpa harus memihak di pihak yang salah dan yang benar.


Tak berselang lama Kak Farhan pun masuk ke kelasku. Hari ini dia yang ngebimbing mata kuliahku. Tak banyak basa basi dia langsung mulai membimbing kita semua yang masuk kelas. Di dalam kelas dia sangatlah killer, tak ada yang berani mengeluh soal tugas yang ia kasih, kalau sampai ngeluh di depan dia, bisa di pastikan dia akan nambah tugas tiga kali lipat.


Aku hanya masuk kuliah pagi aja, nanti pukul sepuluh aku berangkat ke Caffe. Sudah seminggu aku nggak masuk, kan sayang nggak dapat uang. Meskipun aku punya kartu ATM yang nggak ada batasnya, tapi aku tetep pengen kerja. Kartu pemberian Papa Malik cuman aku belanjakan untuk kebutuhan panti yang aku dirikan empat tahun lalu. Meskipun cuman sepuluh anak yatim piatu, tapi aku sudah bahagia bisa membatu biaya mereka sekolah dan punya tempat tinggal. Meskipun mereka aku kontrakkan, setidaknya aku bisa melindungi mereka dari teriknya matahari dan dinginnya air hujan.


Uang saku yang biasa Ibu kasih ke aku, aku gunakan untuk biaya sekolah dan makan mereka. Hanya tiga anak yang sekolah karena sisanya masih balita. Semoga saja aku bisa membuat rumah yang layak untuk mereka huni. Aku pasti akan sekolahkan mereka sampai kuliah, agar mereka tak direndahkan kerena tinggal di panti asuhan. Semoga Tuhanku mempermudah segala keinginanku.


Aku tak pernah muluk soal harta, karena harta hanya titipan. Untuk apa hidup penuh harta, kalau tak peduli dengan orang yang membutuhkan. Bukankah sebagian rezeki yang kita peroleh adalah milik orang lain. Aku selalu ingat kata-kata itu, karena aku tak mau memakan rezeki orang lain.


Dua jam sudah aku mengikuti mata kuliah Kak Farhan. Dia sudah ke luar kelas lima menit yang lalu. Kini aku bersiap-siap untuk pergi bekerja. Aku hanya tersenyum saat ada teman yang menyapaku, entah siapa namanya aku tak tau. Tapi mereka tau namaku, entah dari mana mereka tau padahal kita tidaklah sekelas. Ya sudahlah, mungkin aku terkenal di Kampus ini.


"Kamu langsung pulang apa kerja, La?" tanya Kak Farhan dari belakangku, yang otomatis aku kaget.


"Kakak, selain jadi Bang Toyib dan Haji Muhidin ternyata juga jadi Jin, ya. Nongol tiba-tiba bikin orang kaget aja." cerocosku yang ngelebihi mulutnya Atika binti Sobari.


"Di tanya dengan baik-baik malah ngatain orang," memang ngajak ribut nih orang.


"Iya ... niatnya baik, tapi caranya yang salah ...," jawabku dengan nada kalem. "Seperti halnya Kak Farhan, niatnya ingin menyapa, tapi dengan cara mengagetkan. Untung saja adekmu yang paling cantik di antara saudaranya ini nggak punya riwayat jantung, kalau sampai punya terus Kakak kagetin di jamin Kakak di kirim ke Afrika sama Papa," sambungku dengan agak ceramah sedikit.


"Ya iyalah, paling cantik sendiri ... kan semua saudara kamu laki-laki semua ...," tuh kan, nih orang nggak akan dengerin ceramahku.


"Enggak tuh, Kakak juga cantik aslinya. Sayangnya Kakak jadi laki-laki, coba aja jadi perempuan pasti bakalan cantik. Jadi laki-laki aja cantik apalagi jadi perempuan," jawabku dengan senyum menghina.

__ADS_1


"Enak aja, wajah genteng kek gini di bilang cantik," ternyata dia tidak terima.


"Cantik, Kak ... kalau Kakak nggak percaya, coba Kakak pakai hijab terus ngaca di cermin. Tapi jangan di pakai terus kalau Kakak nggak pengen di kirim ke Selandia Baru sama Oppa," ujarku dengan tersenyum manis bagai kopi.


"Apa kamu bilang?" tanya dengan nada marah.


"Sudahlah Pak ... Mahasiswi Anda ini mau berangkat kerja, jangan di ganggu kenapa, Pak," ucapku menggunakan bahasa formal, karena Kakek Samsudin ada di belakang Kak Farhan.


"Kapan aku nikah sama Ibu lo, kok lo panggil gue Bapak," kepancing juga emosinya.


"Pak Farhan kok bicara seperti itu sama Mahasiswinya," ucapan Kakek Samsudin ternyata mampu mengagetkan Kak Farhan.


"Eh, Pak Samsudin ...," jawab Kak Farhan dengan menatapku tajam, yang aku balas dengan senyuman mengejek.


"Kamu masih ada urusan sama Viola?" tanya Kakek Samsudin.


"Lho Pak Sam kenal sama Lala?" nih orang ditanya malah balik nanya, kebiasaan.


"Si Anak Tengil ini ...," tenyata bisa jawab juga dia, tak lupa dengan menunjuk aku.


"Bukankah panggilannya Vio?" mungkin dulunya si Kakek satu ini salah satu Oknum Polisi deh, soalnya kalau nanya sampai ke akar-akarnya.


"Vio hanya di panggil Lala sama Kakak Vio, Kek ... jadi kalau ada yang panggil Vio dengan nama Lala berarti dia, Kakak Vio ...," jawabku mewakili Kak Farhan.


"Berarti kalian berdua saudara?" tanya Kakek Samsudin.


"Iya, Kek ... Pak Farhan ini saudara sepupu Vio ... kalau saudara kandung Vio sama Ibu di Shanghai," jawabku dengan lirih. Aku juga ingin tau wajah saudara kandung aku, aku ingin tau dia tampan mirip dengan siapa. Tak ada yang mau kasih lihat ke aku foto Kak Alshad seperti apa.

__ADS_1


"Jangan nangis ... besok kalau sudah libur semester kita kesana," hibur Kak Farhan dengan memelukku.


"Lala pengen tau wajah Kak Alshad, Kak ...," jawabku dengan menangis di pelukan Kak Farhan. "Lala pengen ngerasain gimana rasanya di pelukan Kakak kandung Lala sendiri, Lala kesepian kalau harus tinggal sendirian di rumah," sambungku. Jujur saja aku kesepian tinggal di rumah sendirian, yang biasanya ada Ibu sekarang beliau pergi.


"Kalau si Hans nggak pulang kamu telpon Kakak dong ... nanti kita main game bareng di rumah kamu, jadi nggak usah di rumah masing-masing," jawab Kak Farhan yang sontak membuat aku bahagia.


"Serius, Kak?" tanyaku memastikan. Dan di balas dengan anggukan oleh Kak Farhan. Aku pun mengahadiahkan ciuman bertubi-tubi di wajahnya, kecuali bibir tentunya.


"Ekhem ...," deheman Kakek Samsudin menghentikan ciumanku. Aku pun melihat ke arah beliau, dan ternyata bukan hanya beliau yang melihatku tapi ada lumayan banyak Mahasiswa dan Mahasiswi yang melihat.


"Maaf kalau buat kalian semua iri ... kalau pengen nyium Kak Farhan juga silahkan ... aku nggak apa-apa kok ...," ucapku yang mendapat tonyoron dari Kak Farhan.


"Serasa dunia milik berdua ya, Vi?" tanya salah satu Mahasiswa yang aku nggak kenal.


"Nggak kok ... aku merasa dunia membuatku buta akan cinta," jawabku dengan tersenyum. Semua pun menyoraki aku dan Kak Farhan dengan kata cie ciiie. "Padahal dunia hanya tipu daya belaka dan akherat yang fakta akan nyatanya," sambungku yang membuat mereka diam mematung.


"Kalian sama kan dengan aku ... jelas sama karena kita manusia," ucapku dan pergi menuju mobilku. "Kakek Samsudin minta di antar sama Kak Farhan aja, Vio pamit ... Assalamu'alaikum ...," aku pun pergi dari hadapan mereka semua.


Kalau kalian berkata 'pakai hijab kok tingkahnya seperti itu'. Kalian jangan salahkan hijabnya, hijab untuk menutupi aurat bukan untuk menutupi tingkah manusia. Aku memang berhijab, tapi bukan berarti aku ini suci bagaikan air zam-zam. Aku hanya menjalankan perintah tuhan untuk menutup aurat. Kalau soal berpegang tangan dengan yang bukan makhrom, aku belum siap untuk tidak berjabat tangan. Mungkin kalau aku sudah bercadar, aku pasti akan menjauhi tingkahku yang pecicilan seperti sekarang.


Aku bukanlah anak lulusan pondok'an. Lulusan pondok'an juga belum tentu ada yang siap untuk tidak berjabat tangan dengan yang tidak makhrom. Masih banyak di luaran sana yang lulusan Pondok Pesantren tingkahnya sama sepertiku. Bukan aku menyalahkan cara belajar mereka tentang agama. Karena aku menyamakan diri aku dengan diri mereka. Aku masih menghormati budaya Indonesia yang setiap bertemu orang yang di kenal selalu berjabat tangan tanpa memedulikan makhrom atau tidak. Begitu juga anak-anak lulusan Pondok Pesantren, memang mereka belajar agama Islam, tapi bukan berarti mereka harus seperi orang-orang negara Arab, bukan. Mereka belajar agama, bukan budaya. Meskipun budaya yang ini termasuk perintah dan larangan agama.


Jangan samakan budaya dan perintah apalagi larangan. Memang hal-hal tersebut hampir sama, tetapi mereka sangat jauh berbeda. Jadi untuk kita semua janganlah mencemooh orang yang berhijab, tapi perilakunya buruk. Ingat kata-kataku, berhijab menutup aurat, bukan menutup perilaku manusia dan salahkan perilakunya jangan salahkan hijabnya. Karena hijab di zaman sekarang di pergunakan untuk menutupi tingkah kebejatan perempuan.


BERSAMBUNG


TERIMA KASIH UNTUK YANG SUDAH MAU MEMBACA.

__ADS_1


Jangan lupa di LIKE, COMENT DAN DIVOTE. ITUNG-ITUNG SEDEKAH BUAT VIOLA DAN AUTHORNYA.


Sekali lagi TERIMA KASIH DAN LOVE YOU ALL.


__ADS_2