
Setelah selesai mata kuliahku yang kedua kini aku berada di Kantin untuk makan siang. Jam ketiga sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan bahwa Kak Farhan yang akan mebimbing mata kuliahku. Aku kuliah mengambil Jurusan Matematika Statistika. Entah, kenapa aku sangat suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan angka. Herannya semua sepupu aku juga tertarik dengan angka-angka.
Kita semua mengambil Jurusan Statistika saat kuliah S1. Kedepannya aku akan cari beasiswa lagi untuk kuliah. Aku ingin mengambil Jurusan Ekonomi saat S2 nanti. Aku ingin kuliah di luar negeri tapi aku juga tak mau berjauhan dengan Ibuku.
Karena berjauhan dengan Ibu hidupku terasa hampa. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang berharga dari hidupku. Menyakitkan tapi tak terlihat. Bukankah Ibu pernah berkata ilmu bisa kita dapat dimana saja. Dari situlah aku mendapat jawaban, tidak harus keluar negeri untuk mencari ilmu.
Di negaraku juga ada, kenapa harus cari yang jauh jika yang dekat ada? Entahlah, semua orang punya jawabannya masing-masing. Tentunya denganku juga. Alasanku ya karena tak mau berjauhan dengan Ibuku. Karena aku tak sanggup melihat Ibuku hidup sendiri bila tidak ada aku. Mungkin ada Ayah, tapi Ayah akan pulang hanya seminggu dua kali. Sedangkan Ibu tidak mau mengambil ART untuk membantunya membersihkan rumah.
Ku lihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku sudah menunjukkan pukul satu siang, setengah jam lagi jadwal pelajaran yang di bimbing Kak Farhan akan di mulai. Aku pun beranjak dari Kantin setelah membayar makanan dan minumanku. Menurut orang lain kuliah itu enak, enaknya dimana coba? menurut aku sama aja seperti sekolah cuman bedanya kalau kuliah hanya disatu mata pelajaran aja, tetapi belajarnya lebih mendalami, sedangkan sekolah semua pelajaran didapat.
Aku pun langsung duduk ketika sudah sampai di dalam kelas. Cowok sombong masih setia tak mau mengenal kita semua. Menjawab pertanyaan dari anak lain pun tidak, apakah dia tuna wicara alis nggak bisa bicara? soalnya di tanya diem-diem bae. Sudahlah biarkan dia menikamati kebisuannya.
Kak Farhan pun masuk ke kelas ku dan langsung mulai mengajar ilmu yang dia punya untuk berbagi kepada kita. Aku juga heran aku ambil Jurusan Statistika karena kepengen punya Perusahaan sendiri dan itu juga yang di inginkan oleh Kak Juan dan Kak Julio, tapi kenapa Kak Farhan sendiri yang pengen jadi Dosen. Entahlah apa yang membuat dia berbeda dengan kita bertiga.
"Pak masih ada jam mengajar lagi?" tanyaku setelah jam pelajaran kita selesai.
"Masih, ada apa?" jawabnya datar banget.
"Terus aku pulangnya gimana Pak?" ujarku, meskipun di kelas, tapi aku tak malu untuk bertanya.
"Tungguin dua jam lagi, nanti bareng sama saya." Jawabnya dengan bahasa formal.
"Enggak usah deh kalau gitu, biar aku naik ojek aja sekalian cari kerjaan," seruku dan berjalan menghampiri Kak Farhan. "Lala naik ojek aja ya!" ucapku sambil menyodorkan tanganku.
"Tapi, La ...." jawabnya ingin melarangku, meskipun begitu dia juga menyodorkan tangannya juga. Aku pun menerima dan mencium tangannya, tapi aku masih menyodorkan tanganku.
__ADS_1
"Apalagi, kan udah salim?" tanyanya bingung dengan maksudku.
"Minta uang ...," ujarku dengan jujur.
"Kamu nggak punya uang?" tanyanya dengan wajah penasaran.
"Ya elah Kak ... Lala dapat uang dari mana coba? kerja aja kagak." Jawabku dengan memutar bola mataku dengan jengah.
"Nih ...," ucap Kak Farhan dengan menyodorkan uang berwarna hijau. Ini orang kaya, tapi seperti nggak punya uang. Aku langsung ambil dompet di tangan kirinya dan mengambil sepuluh uang merah.
"Makasih ya Kak!" seruku dengan mengembalikan dompetnya.
"Haaah ...," dia kaget pasalnya uangnya tinggal warna biru itu juga cuman satu.
"Dek ...," ucapnya dengan wajah memelas.
"Nanti minta ganti ke Kak Juan ya Kak! sekali lagi terima kasih. Aku pergi dulu, Assalamualaikum ...," kataku dan tak lupa mencium pipi Kak Farhan. Terasa dunia seakan milik berdua yang lain mah ngekost.
"Mulutnya di tutup temen-temen, nanti kalau kemasukan serangga jangan lupa di telen yak!" ujarku dan berlalu keluar kelas.
Aku pun langsung keluar dari Kampus. Masa bodo anak-anak di kelas ngatain aku apa. Karena dalam kamusku jangan memikirkan kata-kata orang lain kalau menyakitkan hati. Terkadang boleh juga kita percaya kata-kata mereka tentang kita, sebab menurut mereka kita seperti itu. Setiap orang kan memiliki cara pandangan berbeda-beda, so jangan hiraukan kata-kata mereka karena kita hidup dengan cara kita sendiri. Boleh percaya tapi jangan di hiraukan kalau kata-katanya tidak bermanfaat, tapi kalau untuk kebaikan kita ya kita terapkan. Sudahlah dijalani aja, kalau aku mah yang penting happy, betul tidak.
Aku memutuskan untuk cari pekerjaan di Caffe, siapa tau bisa di bagi dengan jadwal kuliahku. Aku pun memasuki Lan's Caffe karena di depan ada tulisan DI BUTUHKAN KARYAWAN ATAU KARYAWATI sebab itulah aku masuk. Aku pun di bimbing masuk ke ruangan sang pemimpin Caffe ini. Aku hanya di wawancarai saja, sebab tak bawa berkas-berkas untuk melamar pekerjaan karena mendadak.
"Kamu bisa masak Vio?" tanya Pak Darta yang memimpin Caffe ini.
__ADS_1
"Bisa Pak, saya juga bisa membuat aneka Cake." jawabku memang sesuai kenyataan.
"Baiklah saya terima kamu ... saya taruh kamu di bagian dapur biar bisa bantu Reno masak," aku kek kompor aja di taruh di dapur, bahasa yang tak baik di ucapkan oleh pemimpin.
"Baik, Pak. Saya siap di taruh dimana saja asal jangan di kuburan karena belum siap." Jawabku asal.
"Kalau saya taruh di kamar mau?" tanya Pak Darta menggoda.
"Ngapain ditaruh di kamar Pak, kek bantal aja di taruh di kamar!" jawabku agak ketus, aku kok nggak ada takut-takutnya yak sama pimpinan.
"Hahahaha ... sudah kamu bisa langsung kerja hari ini. Kamu nanti pergi ke kasir terus minta antar Lena ke dapur, nanti kamu tanya aja tugas kamu ke Reno." Ujarnya dengan masih tertawa padahal nggak ada yang lucu.
"Laksanakan, Pak. Saya permisi," jawabku langsung keluar tanpa tunggu balasan. Entah mengapa aku rasanya pernah ketemu Pak Darta sebelumnya tapi entah dimana.
Aku pun langsung pergi ke Mbak Lena sesuai intruksi dari Pak Darta. Mbak Lena orangnya cantik, baik dan kalem juga, jadi nggak sungkan aku sama dia kalau orangnya baik. Aku pun di bawa Mbk Lena ke dapur dan di perkenalkan sama Mas Reno.
"Hallo, saya Reno. Nama kamu siapa?" ujar Mas Reno. Mas Reno juga baik ternyata.
"Saya Viola Mas ... panggil Vio aja." Jawabku dengan tersenyum.
"Baikkah Vio, mari saya kasih tau tugas kamu apa aja," ucapnya. Aku pun ikut dengan Mas Reno dan mendengarkan apa aja tugas aku di dapur. Aku pun langsung memasak karena memang masakan di Caffe ini sudah jadi andalanku.
BERSAMBUNG
TERIMA KASIH TERUNTUK YANG SUDAH MEMBACA NOVEL UANG KOIN INI. JANGAN LUPA DI LIKE, DI COMENT DAN DI VOTE. ITUNG-ITUNG BUAT SEDEKAH DI AKHERAT. TERIMA KASIH SEMUANYA!
__ADS_1