
Aku pun masih menangis di pelukan Kak Julio. Tangan Kak Julio pun tiada hentinya mengusap punggungku. Kak Juan yang melihatku menangis pun penasaran akan apa yang sudah terjadi dengan ku dan Bi Tati. Mungkin Kak Juan tidak tau tentang kematian Bi Tati, karena aku selalu bersembunyi ketika menemui Bi Tati. Semua itu aku lakukan untuk menjaga Bi Tati dari ancaman Ayah.
Entah apa yang terjadi antara Ayah dan Bi Tati, sampai-sampai Ayah melarang aku dan Ibu untuk bertemu. Apa mungkin Bi Tati tau tentang perselingkuhan Ayah dan Tante Seli? entahlah hanya Authorlah yang tau.
"Maksud kamu gimana, Dek?" Kak Juan menarikku dari pelukan Kak Julio.
"Bi Tati ... Bi Tati ... hiks hiks ...," sungguh kesedihan yang paling mendalam adalah di tinggal orang yang kita sayangi untuk selamanya.
"Iya, Bi Tati kenapa?" Kak Juan pun menggoyakan bahuku.
"Bi Tati sudah meninggal Kak ... hiks hiks ...," jawabku. Kak Juan pun langsung memelukku.
"Innalillahi wa innaillaihi roji'un ... kamu serius kan, Dek?" tanyannya memastikan perkataanku. Aku pun menganggukkan kepala sebagai jawaban .
"Kapan Bi Tati meninggalnya?" Kak Farhan pun menghampiri aku.
"Waktu Lala pinjam uang ke Kak Farhan ... hiks hiks ... ini semua salah Lala, adai saja Lala langsung beli obat tanpa cari kerja dulu pasti Bi Tati nggak akan ninggalin Lala," ucapku dengan memukul dadaku.
Seandainya saja waktu itu aku langsung ke rumah Bi Tati, pasti Bi Tati masih hidup. Andai saja aku tak memedulikan untuk kembalikan uang Kak Farhan mungkin Bi Tati masih di dunia. Tuhan inikah jalan takdirnya. Jika memang kau lebih menyayangi beliau dari padaku, ku mohon tempatkanlah beliau di tempat yang sangat mulia disisimu. Persatukanlah beliau dengan Anak dan Suaminya. Masukkanlah mereka ke surga Firdausmu.
"Kenapa kamu nggak jujur sama, Kakak?" tanya Kak Farhan dan langsung memelukku.
__ADS_1
"Jika aku katakan sejujurnya, apa kalian mau mengizinkanku pulang pergi ke rumah Bi Tati? enggak kan!" ujarku dengan jujur apa adanya.
Memang itulah kenyataannya mereka pasti melarangku untuk bertemu dengan Bi Tati, mereka sudah seperti Ayah saja. Entah apa alasan yang mereka punya karena melarangku bertemu dengan orang yang sudah ku anggap Ibu sendiri. Entah karena Bi Tati menyembunyikan masalah Ayah atau entah yang lain, mereka tak ada yang mau jujur kepadaku.
"Gimana ceritanya Bi Tati bisa tiada, La?" tanya Kak Juan. Baiklah mari kita ceritakan kejadian satu minggu yang lalu.
Flash back on
Waktu itu setelah aku keluar dari Kampus aku langsung menuju ke Apotik untuk membeli obat buat Bi Tati. Selepas obat yang ku beli sudah berada di tanganku. Aku langsung melanjutkan kaki ini untuk berjalan.
Pikiranku terbagi menjadi dua, mencari kerjaan dulu atau ngasih obat kepada Bi Tati terlebih dahulu. Ku ikuti kakiku melangkah menyusuri trotoar jalanan. Entah akan kemana, kaki ini membawaku. Ku edarkan pandanganku dan aku pun menangkap satu kalimat yang bertulis DI BUTUHKAN KARYAWAN DAN KARYAWATI. Dari situlah kaki ini melangkah memasuki bangunan yang tak lain itu adalah bangunan Caffe di mana tempatku sekarang bekerja.
Di saat aku pulang kerja, aku langsung menuju rumah Bi Tati. Jam pun menunjukkan sudah pukul tujuh malam. Masih sorelah untuk anak seusiaku untuk pulang pukul segitu, entar di ketawain pintu masuk rumah lagi. Tapi tidaklah dengan aku, menurutku pukul segitu sudah sangtlah malam, karena aku tak terbiasa pulang melebihi pukul lima sore. Bisa lebih pukul lima sore itu pun aku pergi dengan keluargaku.
Sampai di depan rumah Bi Tati pun aku langsung mengetuk pintu. Ku panggil berulang kali nama beliau tapi tidak ada jawaban dari dalam sama sekali. Ku coba buka pintunya dan ternyata pintunya tidak terkunci, aneh sekali. Bi Tati tidaklah seceroboh ini, mengingat beliau hanya tinggal sendirian di sini.
Aku pun masuk dan masih mengucapkan salam dan memanggil nama beliau tapi tak ada jawaban sama sekali. Semakin masuk rumah ini semakin kosong seperti tiada penghuninya, ku coba masuk kedapur tetap kosong. Kemana Bi Tati pergi begitulah isi pikiranku saat itu.
Ku edarkan pandanganku menyusuri setiap sudut rumah ini. Tiba-tiba pandanganku terhenti ketika melihat wanita paruh baya yang tengah tak sadarkan diri di dekat meja dapur. Ku langkahkan kaki ini menghampiri orang tersebut.
"Bi Tati ... bangun, Bi ...," ujaru dengan menepuk pelan pipi Bi Tati. Ya, orang yang tak sadarkan diri adalah Bi Tati.
__ADS_1
"Bi ... bangun ...," aku pun semakin cemas karena Bi Tati tak kunjung sadar.
Aku pun keluar rumah meminta bantuan tetanga untuk mengangkat tubuh Bi Tati. Aku harus bawa Bi Tati ke Rumah Sakit secepatnya, begitulah isi pikiranku saat itu.
Setelah meminta bantuan para tetangga, aku pun langsung memesan Ojek online untuk membawa Bi Tati ke Rumah Sakit dan tak lupa menyiapkan keperluan untuk mendaftarkan Bi Tati. Tak berselang lama mobil yang akan membawa Bi Tati pun datang. Bi Tati pun di masukkan ke dalam mobil tersebut dan ku pangku kepala beliau.
"Pak Hasan dan Bu Nur, tolong ikut saya ke Rumah Sakit," ujarku kepada Bapak RT berserta istrinya.
"Baik, Mbak Vio." Jawab mereka, mereka berdua pun masuk ke dalam mobil.
Untung saja aku sering kesini hingga aku bisa kenal orang-orang disini. Bi Tati juga cukup terkenal di kalangan tetangganya karena beliau baik dan ramah. Tak salah jika sifat baik dan ramah banyak manfaatnya bagi kehidupan.
Tak berselang lama mobil yang kita tumpangi sampai di Rumah Sakit dengan selamat. Bi Tati langsung di bawa ke UGD. Aku pun langsung mengurus pendaftaran Bi Tati. Jika saja Dokter dan petugas yang lain di sini tau bahwa aku adalah cucu sang pemilik Rumah Sakit, pasti aku tak perlu repot-repot mengurus pendaftaran terlebih dahulu.
Aku pun kembali ke depan ruang UGD setelah selesai mengurus pendaftaran Bi Tati. Hati ini sangat sesak sekali untuk bernapas. Bayangkan saja orang yang sudah kita anggap sebagai keluarga mengalami musibah seperti itu, pasti kita ikutan sedih bukan. Ya, kalau kita punya perasaan pasti juga ikutan sedih.
Aku pun duduk di samping Bu Nur. Entah apa yang di ucapkan Bu Nur dengan sang Suami. Aku tak mau tau sama sekali. Fokusku hanya kepada keadaan Bi Tati. Kenapa Dokter tak kunjung keluar? apa terjadi sesuatu dengan Bi Tati? seperti itulah pertanyaan dalam hatiku.
BERSAMBUNG
TERIMA KASIH UNTUK YANG SUDAH MAU MEMBACA NOVEL UANG KOIN INI. JANGAN LUPA DI LIKE, DI COMENT DAN DI VOTE YAAA. ITUNG-ITUNG SEDEKAH BUAT AUT. SEKALI LAGI TERIMA KASIH. LOVE YOU ALL.
__ADS_1