
Liu Ying terombang-ambing di dalam kereta yang jalannya tidak stabil, sepertinya lintasan mereka dipenuhi bebatuan dengan jalanan yang tidak rata.
Hal itu membuat tubuh Liu Ying terpental ke mana-mana, kepala gadis itu sudah dipenuhi benjolan akibat terbentur di dinding kayu kereta.
"Ya, Tuhan. Apakah mereka tidak bisa berjalan perlahan?" rutuk Liu Ying pada dirinya sendiri.
Liu Ying melirik kain bungkusan kainnya, ia tersenyum sembari mencoba meraih buntalan itu.
Gadis itu menyembunyikan pedang pemberian Feng Yao di sana, siapa tau bisa memotong rantai besi yang mengekang tubuh Liu Ying.
Akhirnya Liu Ying mendapatkannya, ia mencoba membebaskan diri dengan menghantamkan mata pedangnya beberapa kali ke rantai itu.
Nihil, besinya terlalu tebal untuk dipotong dengan pedang yang kualitasnya standar dan biasa-biasa saja.
"Sialan-! Rantai ini dilapisi dengan tenaga dalam."
Liu Ying akhirnya menyerah, tangannya sudah membengkak akibat terlalu keras tergesek di rantai.
Lama Liu Ying termenung, kereta itu berhenti tiba-tiba. Kepala Liu Ying menabrak sisi kereta lumayan keras, membuat gadis itu meringis sambil mengutuk kusirnya.
Namun ia tersentak kaget saat mendengar suara pertarungan dari luar kereta, suara desingan pedang yang memekik lirih.
Liu Ying tidak dapat melakukan apapun. Lagipula ia dirantai, hal itu tidak akan membantu sama sekali. Namun Liu Ying tetap siaga, ia menggenggam erat pedangnya.
Gadis itu meringkuk selama beberapa menit sampai seseorang membuka pintu kereta secara paksa. Orang itu mengenakan pakaian serba hitam serta kain menutup wajah, Liu Ying tidak dapat mengenalinya.
Orang itu memotong semua rantai kekangan Liu Ying, menarik gadis itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Tampaknya orang itu memiliki Wu Gong dan Qinggong yang tinggi, dapat dilihat dari kecepatan larinya yang lebih cepat daripada kilat. Untung saja Liu Ying sempat mendekap buntalan kainnya.
Setelah dirasa cukup jauh dari jangkauan pasukan sekte tadi, orang misterius itu menghentikan larinya.
"Tunggu-!" teriak Liu Ying sambil menarik tangannya dari genggaman orang itu.
"Kau siapa, kenapa kau membebaskanku?"
Orang itu kemudian menyentil kepala Liu Ying lalu membuka penutup wajahnya, hal itu membuat Liu Ying kaget.
"Nenek Zhou-!"
Seorang wanita tua yang bukan tak asing lagi, kini dia berdiri sambil berkacak pinggang di hadapan Liu Ying.
"Aku pikir, Nenek Zhou sudah menelantarkan aku." raut wajah Liu Ying berubah murung.
__ADS_1
"Omong kosong-! Menurutmu, siapa orang yang selalu melindungimu selama ini di dalam sekte?"
Liu Ying segera memeluk Zhou Li dengan terharu, Zhou Li adalah satu-satunya orang yang mampu menggantikan kasih sayang kedua orang tuanya.
Sekarang, di saat-saat terakhir ketika tidak seorang pun dapat menyelamatkannya, Zhou Li tetap ada untuk membantunya.
"Xie-xie, aku tidak akan melupakanmu." Liu Ying segera memeluk Zhou Li erat.
"Aiyyo, kita tidak akan terpisah lama. Jagalah dirimu," ucap Zhou Li sambil mengusap kepala Liu Ying.
Meskipun Zhuo Li sering berkata kasar kepada Liu Ying, tapi perasaan kasih sayang tidak dapat dipungkiri oleh mereka.
Zhou Li menyerahkan sebuah pedang berwarna putih dengan kolaborasi warna biru di gagang dan sarungnya kepada Liu Ying.
"Namanya, Bing Lian. Pedang ini dulunya milik ayahmu, kau pantas mewarisinya."
Liu Ying berbinar, "Wah, ini ketiga kalinya aku mendapat pedang. Hebat sekali,"
"Tiga?" Tanya Zhou Li kebingungan.
"Iya, tiga. Dari Fang Yao, darimu dan ..." Qiu Ying teringat dengan pedang merah di ruang bawah tanah.
"... Dan pedangku sendiri."
"Satu lagi, kau minum obat ini saat berhadapan dengan orang yang mencurigakan. Khasiatnya hanya bertahan selama dua belas jam, ini akan meredam auramu selama beberapa waktu," ucap Zhou Li menyerahkan sebuah botol keramik sebesar kepalan tangan kepada Liu Ying.
Liu Ying mengangguk dan menyimpan benda itu di kantung pinggangnya.
Setelah saling berpamitan, Liu Ying melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki. Zhou Li menatap kepergian gadis itu, kemudian kembali ke sekte untuk menyampaikan informasi.
Liu Ying telah mengganti bajunya dengan stelan baju pria. Ia juga mengenakan kumis palsu, kemudian sebuah topi jerami sebagai pelengkap.
Ia menggunakan ilmu Qinggong-nya yang pas-pasan agar dapat berjalan lebih cepat dan tidak kelelahan. Akhirnya Liu Ying mengerti, kenapa ilmu Qinggong itu penting seperti yang dikatakan guru-guru sekolahnya.
Sesekali Liu Ying berjalan di antara semak belukar agar tidak terlihat mencurigakan, pasalnya banyak rombongan Karavan yang lewat di sepanjang hutan itu.
"Huh, hampir sore. Apakah sebaiknya aku istirahat saja?" dialog Liu Ying pada dirinya sendiri.
Menurut yang dikatakan Zhou Li, ada sekitar lima kilometer menuju desa terdekat. Tapi sepertinya hari sudah mulai gelap, tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan di malam hari.
Liu Ying melangkahkan kakinya gontai, sepertinya ia benar-benar harus bermalam di hutan itu. Lagipula kereta yang lewat sudah terlalu sepi, bahkan tidak ada sama sekali.
Liu Ying menghentikan langkahnya saat mendengar suara kereta yang agak ramai dari arah belakang, gadis itu segera menepi ke balik pohon.
__ADS_1
Kereta itu cukup mewah dan besar, sepertinya pemiliknya adalah seorang bangsawan. Di belakangnya terdapat beberapa pengawal yang menunggangi kuda sekitar lima atau enam orang.
Apakah Liu Ying harusnya menumpang saja? Mungkin saja tidak terlalu berbahaya. Jujur saja, ini pertama kalinya untuk Liu Ying. Ia sedikit takut, kalau-kalau orang asing akan mencelakainya.
Tapi apa gunanya takut, bukankah Liu Ying memiliki Wu Gong yang lumayan bagus? Liu Ying tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.
Liu Ying segera berjalan ke tengah jalur, menghentikan laju kereta. Sontak kusir menghentikan keretanya tiba-tiba. Untung saja ada lentera redup di kereta, jika tidak Liu Ying pasti akan tertabrak.
"Hei-! Kenapa kau menghadang jalan?"
Liu Ying terdiam. Kusir itu menjadi kesal dan kembali berteriak kepadanya, "Wei, Tuan-! Kau tidak dengar?"
Mendengar keributan, orang yang berada di dalam kereta itu sedikit penasaran.
"Siapa?" Tanya pemilik kereta itu sambil menjulurkan kepalanya melalui jendela, matanya menerawang jauh mencoba melihat sosok itu dengan jelas.
"Ada seorang gembel, apakah seharusnya diberi pelajaran?" ucap salah seorang pengawal.
Penumpang itu merengut, "Tidakkah sebaiknya kita bertanya dulu?"
Liu Ying berjalan mendekati kereta, "Siapa pemilik kereta ini?"
"Tuan Muda. Apa masalah anda?" Tanya kusir.
"Tidak ada. Aku hanya ingin kalian memberikan tumpangan, bagaimana?" ucap Liu Ying berkacak pinggang.
Seorang pengawal menghampiri Liu Ying, "Tidak bisa-! Ini bukan kereta tumpangan."
"Sombong sekali, aku sedang mengajak kalian bernegosiasi baik-baik. Aku tidak suka kasar." Liu Ying terkekeh renyah.
"BERANINYA KA-"
"Jangan kasar kepada tamu. Mari kita bicarakan lagi, Tuan," potong sebuah suara dari dalam kereta.
Liu Ying tersenyum miring kepada kurir dan para pengawal, "Lihat, kan?"
Sontak yang ditatap itu menunduk malu, sepertinya mereka juga agak kesal
Setelah dicerna baik-baik, Liu Ying merasa pernah mendengar suara itu sebelumnya. Tak mau repot, Liu Ying segera memasuki kereta itu.
----~----~----~----
*Qinggong : Ilmu meringankan tubuh.
__ADS_1
...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh....