
Hening, gelap, dan panas, Liu Ying mendapati dirinya di tempat yang kosong-melompong. Rasanya tak pernah ada tempat seperti ini di manapun di belahan dunia ini, sangat hampa bagai tak ada udara sama sekali.
Liu Ying berjalan mengitari tempat itu, sepertinya tempat yang dipijakinya itu memanglah tak berujung.
"Ada orang di sini?!"
'Ada orang di sini?!'
Liu Ying mencoba berteriak mencari tanda-tanda kehidupan, namun hanya disahuti oleh gema suaranya sendiri.
Liu Ying mengelilingi empat itu, tidak ada cahaya maupun udara yang berhembus. Kepanikan Liu Ying semakin medesaki ruang hampa itu semakin mempertipis oksigen yang dihirupnya.
"Seseorang, jawab aku!" coba Liu Ying entah yang ke sekian kalinya.
'Seseorang, jawab aku!'
"Tolong!"
'Tolong!'
"Siapapun, dengar aku!!!"
'Siapapun, dengar aku!!!'
Tak satupun makhluk dan suara yang menyahuti lolongannya kecuali gema suaranya sendiri, Liu Ying tidak mendapati jalan keluar maupun kembali.
Suasana menjadi gerah, seperti ada puluhan pasang mata sedang mengelilingi Liu Ying ia menjadi bingung, kepalanya terasa sakit.
Rasa bingung, marah, benci, sedih, semuanya berkumpul menjadi satu dan terhirup ke paru-paru. Liu Ying bagaikan terkurung ke ruang ilusi yang buntu dan menyesatkan.
"Huo Ying," lirih sebuah suara membuat Liu Ying kaget dan membuyar.
Suara itu lantang, namun lembut menenangkan, "Huo Ying, kemarilah."
Liu Ying mengedarkan pandangannya, sesuatu yang kemerahan dan terang tiba-tiba muncul dalam kegelapan.
Awalnya terlihat redup dan kecil, kemudian membesar perlahan hingga seukuran tubuh Liu Ying.
Api.
Api itu, ada seseorang di dalamnya.
"Huo Ying... " ucap seseorang di sana.
Liu Ying beringsut mendekat, tak ada rasa panas, melainkan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Wajah seseorang itu tidak jelas.
__ADS_1
Namun saat Liu Ying hampir meraihnya, Liu Ying seperti tertarik ke belakang. Rasanya ia jatuh dari jurang tak berujung, Liu Ying tersadar saat menyentuh dasar jurang.
***
Liu Ying menunggu rasa sakit itu datang menjalari tubuhnya, namun tak kunjung tiba. Akhirnya Liu Ying memberanikan diri untuk membuka mata.
"Kau sudah bangun anak muda?" ucap suara asing yang serak dan terdengar berat.
Liu Ying menyesuaikan matanya dengan cahaya yang masuk, samar melihat pria tua sedang duduk membelakanginya.
Di mana dia?
"Kalau sudah bangun, segera bangkit dari sana. Aku benci orang pemalas," sarkas orang itu masih belum mau berbalik.
Liu Ying kemudian duduk dari baringnya, "Dimana ini?"
"Di neraka," Liu Ying mengerutkan kening, sementara pria itu tertawa lepas.
"Tentu saja di kediamanku, anak bodoh."
Liu Ying ingin sekali memukul kepala orang itu, bagaimana ia bisa bercanda saat Liu Ying sedang sangat-sangat serius.
Orang itu kemudian berdiri dan menghampiri Liu Ying, tampaklah wajah tua yang dipenuhi keriput serta kumis dan janggut yang separuhnya memutih. Pria itu botak, tapi Liu Ying tak yakin dia seorang Biksu mengingat cara bicaranya yang menyebalkan.
Pria tua itu meraih pergelangan tangan Liu Ying, menempelkan dua jarinya dengan tangan yang lain, memeriksa denyut nadi gadis itu.
Liu Ying menarik kasar tangannya, "Apa maksudmu?!"
"Aiyoo, sangat tidak sopan. Begini perilakumu terhadap orang tua?"
"Kau bukan orang tuaku." Liu Ying me desis kesal, kenapa ia selalu bertemu dengan orang-orang seperti ini?
Pria tua itu menggosok-gosok hidungnya dengan telunjuk, "Biar bagaimana pun, aku tetaplah seorang pria yang sudah tua, apakah masih belum pantas disebut orang tua?"
"Begini, Bocah. Aku sangat tertarik dengan kondisi tubuhmu, jadi aku membawamu ke mari untuk dijadikan bahan eksperimen."
Pria tua itu berbicara sangat santai, seolah tak ada beban maupun rasa bersalah.
"Kau salah orang, Kura-kura Tua. Aku bisa mengirimmu sepuluh tahun lebih cepat menuju tuhan," lantang Liu Ying menaikkan dagunya.
Namun pria itu malah terkekeh mengejek, "Jika dihitung dari generasi, kau adalah cucuku. Dan meskipun dihitung dari kehebatan, kau seharusnya memanggilku leluhur."
"Cihh! Omong kosong. Kau sudah bau tanah, kenapa masih sombong?"
"Ohh, biar aku tunjukkan siapa yang akan mencium tanah duluan," pria tua itu menarik sebuah Palu dari belakang punggungnya.
__ADS_1
Melihat itu, Liu Ying refleks menarik pedangnya dan mengarahkannya ke pria tua itu. Seperti tak kenal gentar, orang itu malah membusungkan dadanya sombong.
"Namaku Zheng Tian, penguasa gunung Paku Bumi. Tak ada yang tidak tunduk di hadapan Palu Pemecah Langit."
Liu Ying menatap lekat orang di hadapannya. Rasanya ia pernah mendengar kata-kata itu, tapi entah di mana.
Masa bodoh, Liu Ying langsung menohokkan pedangnya mengarah tepat ke jantung pria itu, namun hal mengejutkan terjadi. Pedang itu memanglah menyentuh kulit si pria tua, tapi sama sekali tidak menggores kulitnya.
"Hahaha, aku lupa mengatakan bahwa besi murahan seperti itu tidak akan bisa menembus kulitku."
Pria itu balik menghantamkan palunya ke pedang Liu Ying, membuatnya patah menjadi dua bagian.
Sekarang Liu Ying tidak punya senjata, kedua pedang dari Feng Yao dan Zhuo Li tertinggal di rumah makan. Kini Liu Ying hanya bisa mengandalkan kemampuan bertarung dengan tangan kosong.
Liu Ying menyatukan buku-buku jarinya, melompat ke belakang, dengan gerakan memutar hingga ia sampai di belakang pria itu.
Dengan cekatan, Liu Ying memberikan pukulan bertubi-tubi tepat di kepala botak pria itu. Pada pukulan ke tujuh, Liu Ying tidak bisa menggerakkan tubuhnya lagi.
"Eits, aku selangkah lebih cepat." pria itu ternyata telah menekan titik akupunktur Liu Ying sehingga membuatnya tak bisa bergerak layaknya patung.
"Apa yang kau lakukan, Monyet Tua. Lepaskan aku!!"
"Aiyyo, aiyyo. Seharusnya anak gadis memiliki mulut yang manis, tapi sepertinya tidak berlaku padamu." ucap pria yang mengaku Zheng Tian itu.
"Kau seharusnya bersyukur aku tidak jadi mengirimkanmu menuju tuhan, aku menghargai usia mudamu. Katakan padaku, darimana kau berasal?"
Liu Ying membuang muka, "Apa urusanmu?"
"Lupakan, aku tahu kau bahkan awam tentang itu." pandangan Liu Ying memancar seolah berkata 'Maksudmu?'
Tapi Zheng Tian langsung paham dan berujar lirih, "Kau sendiri tidak tahu dari mana kau berasal."
Liu Ying ingin protes, tapi didahului oleh Zheng Tian yang kemudian melepaskan totokan Liu Ying.
"Akalmu tidak akan menerima, tapi jauh di lubuk hatimu, kau membenarkan kata-kataku. Anak muda, apa aku benar?"
Benar!
Liu Ying menyadari sesuatu, entah itu ingatan di suatu tempat yang sangat berbeda, merasa bahwa ia bukan benar-benar orang dari lembah teratai. Sebagian dari Liu Ying menolak, namun sebagian lagi mengakui sesuatu yang lain.
"Apakah kau membutuhkan aku untuk menyingkap tabir? Contohnya saja, kau pasti tidak mengetahui tentang masa lalumu. Atau... Orangtua-mu?" lanjut Zheng Tian sembari menyeringai.
"Kau--!! Bagaimana kau tahu itu?"
Zheng Tian menepuk bahu Liu Ying, "Mudah saja. Kau punya ilmu bela diri yang umum, tapi jiwa dan tenaga dalammu tidaklah umum."
__ADS_1
...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh. ...