
"的水面,也荡漾着涟漪。 沉睡的龙,也醒了。Píngjìng de shuǐmiàn, yě dàngyàngzhe liányī. Chénshuì de lóng, yě xǐngle." ucap pria muda yang tengah duduk sambil menyenderkan tangannya di sisi kursi.
*Artinya : Air yang tenang, beriak juga. Naga yang tertidur, terbangun juga.
Pria itu adalah Yu Qiao, pemilik kedai arak sekaligus Rumah Bordil di kota Chun Meng. Terkenal sebagai seorang seniman sastra yang berkelana dalam puisi, memiliki wajah yang tampan, berwawasan luas, serta memiliki ilmu bela diri yang cukup diperhitungkan di kekaisaran Wei.
Ia memiliki wajah yang tampan dan menawan. Dengan aura memikat yang kuat, cukup untuk membuat seorang gadis tergila-gila dalam sekali pandang.
Seorang gadis pelayan kemudian berlutut dan menuangkan segelas arak untuk pria itu, "Tuan Muda, apa maksudnya perkatanmu itu?"
Pria itu tertawa sambil menerima gelas arak tadi, beberapa orang gadis pelayan juga tengah memijiti tangan dan punggung pria itu.
"Yang harusnya terjadi, akan terjadi. Tidak ada yang bisa menghentikannya meskipun itu dewa sekalipun."
"Kami sungguh tidak puitis seperti Tuan, tapi siapakah orang yang anda maksud, Gong Zi?" ucap pelayan yang lainnya.
Namun pria itu malah menutup matanya sambil tersenyum nakal seolah tak ingin menjawab pertanyaan dari para gadisnya, "Kudengar, ada gejolak dari Ibukota. Marga Tang dari Han cukup terpandang untuk ditaklukkan oleh Kaisar."
"Jadi ... Menurutmu Kaisar tidak dapat melakukan hal yang lebih jauh untuk beberapa waktu ini?" Tanya gadis satunya sambil terus-terusan mengisi gelas Arak majikannya.
"Konflik tak dapat dihindari, tinggal memilih dua jalur antara hitam dan putih. Kita cukup menyaksikan saja sambil menunggu, bidak siapa yang menyingkirkan bidak siapa."
"Pemikiran Tuan Muda Yu memang setajam pedang Zen, seperti yang dirumorkan. Tak heran kau dijuluki sebagai Pedang Zen dari Surga." sebuah suara lantang dari depan teras membuat Yu Qiao membuka matanya.
Yu Qiao tersenyum dan segera membenahi posisi duduknya, "Tuan sungguh pintar bersilat lidah, sampai-sampai saya sulit membedakan antara pujian dan sindiran. Silahkan duduk, Saudara Xue."
__ADS_1
*Pedang Zen adalah pusaka legenda yang tidak terkalahkan ketajamannya. Sedangkan 'Surga' yang dimaksud di sini adalah kesenangan duniawi yang menjurus pada hubungan pria dan wanita.
"Jarang sekali Tuan Yu berada di kediaman, saya merasa tersanjung," ucap pria yang konon bermarga Xue itu.
Namanya adalah Xue Hongli, pemegang bisnis kerajaan sekaligus seorang pejudi besar. Ia bertugas mengatur dan bernegosiasi lagusung dengan beberapa cabang usaha dan biro yang diinginkan Kaisar sebagai kerjasama.
Namun, jangan sampai kalian membayangkannya serupa dengan pria tua yang gemuk dan berkumis lebat serta angkuh. Kutegaskan, kalian sudah salah menilai.
Xue Hongli adalah seorang pemuda berusia 20 tahun yang memiliki rupa bak Giok Salju, bibir semerah bunga persik, senyuman bagai bulan sabit, dan tatapannya teduh seperti embun. Ia memancarkan aura kewibawaan yang besar sehingga membuatnya terlihat seperti pangeran dari langit.
Sayangnya, sikap tak dilihat dari rupa. Xue Hongli adalah orang yang suka bertaruh, ia bahkan bisa mempertaruhkan apapun hanya demi mencapai tujuannya. Jika kalian mengira bahwa ia tergila-gila dengan uang, itu juga merupakan salah besar.
Ia sudah memegang banyak saham dari puluhan perseroan, melakukan kerjasama dengan banyak organisasi. Namun tujuannya hanyalah satu, yaitu Dekrit Tuhan.
"Ah, Yu Xiong. Jangan terlalu formal, aku datang untuk membahas beberapa hal penting. Bisa kuminta waktu luangnya?" ucap Xue Hongli sambil melirik kepada pelayan wanita milik Yu Qiao.
"Ini terkait dengan Operasi Rahasia kita. Beberapa pihak mungkin telah mengetahui hal ini, ada yang membocorkan rencana awal dan membuat skenario kita menjadi kacau."
Yu Qiao mengerutkan alis, pasalnya rencana mereka hanya diketahui oleh orang dalam. "Bagaimana bisa, bukankah orang-orang kita dapat dipercaya?"
"Kemungkinan pihak sekutu memiliki beberapa orang mata-mata yang tanpa disadari telah menjangkit ke dalam organisasi, kita harus mengubah rencana dan memastikan tak ada seorangpun yang tahu kecuali kelompok inti," sambung Xue Hongli.
Yu Qiao memerintah pelayannya untuk mengambilkan kertas dan pena, ia mulai menulis sesuatu di kertas tanpa berbicara sedikitpun.
Setelah selesai, ia langsung mengikat kertas itu dengan pita dan menyerahkannya kepada Xue Hongli. "Sampaikan surat ini kepada Sekte Pagoda Ungu, pastikan pesanku sampai di tangan Ketua Luo."
__ADS_1
Xue Hongli mengangguk dan menerima surat itu dengan cepat, memasukkan benda itu ke dalam jubahnya.
"Satu lagi, bagaimana kondisi Distrik Jiangnan dan apa tanggapan Kaisar tentang pemberontak Tang?"
Xue Hongli tersenyum kecut, "Iming-iming pemberontak Tang menjalar bagai penyakit menular, kemungkinan besar Kaisar akan memulai perang dengan kekaisaran Han. Ini membuat akumulasi waktu kita semakin terdesak dan memaksa kita agar bergerak lebih cepat."
"Maksudmu masalah ini akan masuk ke fase Peperangan?" Xue Hongli mengangguk sebagai jawabannya. "Lalu bagaimana dengan pengaruh yang menjangkit di masyarakat, bukankah posisi Kaisar saat ini sedang goyah?"
Posisi Kaisar memang sedang tidak menguntungkan saat ini, pasalnya beberapa daerah telah murni menyatakan pemberontakan secara terang-terangan. Sebagian besar sekte aliran hitam juga masuk ke dalam kelompok pemberontakan, sebagiannya lagi memilih untuk tetap berada di zona aman dan tidak ikut-ikutan.
"Aku juga belum mengetahui kelanjutan dari pasal itu, mungkin dalam beberapa bulan kedepan aku akan kembali ke Jiangnan untuk mengambil informasi. Pangeran Ke-Empat juga belum kembali dari liburannya, terlebih aku harus menemuinya dan menjemputnya pulang."
Yu Qiao berdecih saat mendengar kalimat terakhir. "Entah memang naif atau bodoh, pangeran Wang Yan ini malah liburan di saat krisis kerajaan sedang meningkat parah."
Meski tak menjawab, Xue Hongli mengiyakan pernyataan pedas Yu Qiao mengenai putra bungsu Kaisar itu.
"Ah sudahlah, jangan terlalu memikirkan kata-kataku barusan. Kau mungkin memiliki banyak hal untuk di urus, aku hanya ingin menyarankanmu untuk memilih seorang gadis agar dapat mengobati rasa lelahmu."
Wajah pemuda itu langsung datar saat mendengar saran yang satu itu dari mulut Yu Qiao, telinganya menjadi merah karena menahan rasa malu.
Yu Qiao yang melihat itu malah tertawa dengan keras. "Xue Xiong, ucapanku tidak salah. Apa kau tidak bosan menjadi bujangan? Kalau kau mau, aku bisa memberikan beberapa wanita terbaik dari rumah bordilku untuk kau bawa pulang, aku akan memberikannya secara gratis."
"Tidak perlu repot-repot, Yu Xiong. Aku pamit," ucap Xue Hongli langsung berbalik dan meninggalkan Yu Qiao dalam tawanya.
Mungkin Yu Qiao ada benarnya, tapi bagi Xue Hongli itu selalu salah. Bisa dibilang Xue Hongli ini hampir tak menyukai perempuan, hidup yang kaku dan monoton, juga sangat mencintai misi dan pekerjaannya.
__ADS_1
...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh....