Immortal Fire

Immortal Fire
Chapter 56 : Hutan Kematian


__ADS_3

Song Jun menggaruk kepalanya dengan cemas setelah mendengar bisikan dari Liu Ying. Gadis ini tidak bisa ditolak, Song Jun sudah terjebak di dalam rencananya.


"Liu-liu, tidakkah kau merasa bahwa ini... Cara ini terlalu buruk, bagaimana kita bisa mengatasinya?"


Liu Ying tersenyum miring. "Jangan takut begitu. Aku berjanji tidak akan melibatkan dirimu dalam hal ini, aku akan pergi sendiri. Kau hanya perlu melakukan apa yang telah kukatakan tadi, akan kubayar berapapun harganya."


"Ini bukan tentang harga," tukas Song Jun tidak setuju. "Aku bisa menjamin bahwa semua sumber daya yang kau butuhkan akan kuberikan secara cuma-cuma, Liu-liu. Hanya saja, kau terlalu suka mengambil resiko."


Song Jun tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk menghentikan Liu Ying, dia adalah gadis liar yang tidak bisa dikendalikan.


Liu Ying berbalik. "Aku tidak mau berhutang kepada siapapun. Adapun mengenai itu, aku punya rencana sendiri. Aku pasti akan membayarnya."


Mereka berdua terdiam sejenak, pemuda itu kembali berpikir untuk beberapa saat.


"Sudah begini, tidak ada hak bagiku untuk menghalangimu. Aku hanya bisa meminta agar kau berhati-hati, bisakah?" tanya Song Jun dengan berat hati.


Liu Ying mengangguk yakin. Dia berbalik untuk berjalan menuju trotoar di samping asosiasi menuju halaman depan.


Saat Liu Ying akan pergi, Song Jun kembali berbicara dan menghentikannya. "Tunggu sebentar," ucapnya kemudian memanggil salah seorang pelayan untuk mengambilkannya sebuah benda.


Saat sudah memegang benda itu, ia kemudian menyerahkannya kepada Liu Ying. "Ambil ini. Kau butuh pedang yang bagus untuk menjatuhkan beberapa siluman, dan... Kau tidak perlu membayar untuk yang satu ini."


Song Jun paham betul dengan maksud dari perkataan Liu Ying sebelumnya, Liu Ying tidak mau menjatuhkan harga diri dengan mendapatkan barang secara cuma-cuma. Namun untuk sekali saja, Song Jun berharap agar Liu Ying menerima pemberiannya.


Liu Ying menimbang-nimbang pedang itu di tangannya sambil tersenyum tipis. "Bukankah katamu, pedang ini tidak dijual?"


"Ya, memang tidak dijual. Aku memberikannya untukmu. Karena ini koleksi terbaik, maka kau harus merawatnya dengan baik, sekaligus sebagai kenang-kenangan."

__ADS_1


"Konyol. Kenang-kenangan hanya diberikan ketika akan berpisah, aku akan kembali lagi untuk membayar barangmu," seloroh Liu Ying sambil terkekeh. "Kalau begitu, aku pamit dulu. Jangan lupakan janjimu."


Liu Ying melenggang pergi dari tempat itu. Song Jun hanya tersenyum menatap kepergiannya, padahal Song Jun tidak pernah membuat janji, Liu Ying memaksanya.


Setelah sekitar dua puluh menit berjalan kaki, Liu Ying memelankan langkah saat posisinya sudah berada tepat di depan pintu masuk hutan. Hutan itu merupakan salah satu hutan spiritual dari sekian banyak hutan spiritual di dunia. Berisikan makhluk-makhluk dan tumbuhan spiritual.


Jaraknya sekitar satu kilometer dari Xiliang Jing. Pada gerbangnya dan setiap sisi hutan dikelilingi oleh tirai spiritual yang menutupi hutan itu, agar makhluk-makhluk di dalamnya tidak merangkak keluar dan mengacaukan tempat tinggal penduduk.


Namun, itu bukan berarti makhluk seperti siluman tidak bisa menembusnya. Siluman yang sudah berumur ribuan tahun dapat menjebol tirai itu, dan beberapa dari mereka menyerang mukim penduduk yang tidak jauh dari hutan. Tapi biasanya, siluman dengan spiritualitas tinggi, tinggal di bagian paling dalam hutan yang memiliki lapisan qi tinggi daripada bagian hutan lainnya.


Liu Ying sudah membeli token masuk sebelum mencapai hutan. Dia segera mengacungkan token untuk membuka gerbang tirai, kemudian menyimpan kembali tokennya di kantung pinggang.


Matanya menelisik setiap pepohonan, sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam sambil meningkatkan kewaspadaannya. Liu Ying adalah seorang yang mempelajari ilmu bela diri dan merupakan seorang praktisi spiritual. Karena itu, energi yang dia keluarkan akan cukup menarik perhatian makhluk-makhluk spiritual yang menunggui hutan itu.


Tidak perlu terlalu masuk ke dalam hutan, kehadiran Liu Ying bahkan sudah menarik perhatian beberapa siluman setingkat pendekar perunggu. Tiga ekor kambing bermata merah yang dihiasi sepasang sayap di punggungnya, kini menatap nyalang dari balik rimbunnya tumbuhan liar, mengintai masa yang tepat untuk menerkam Liu Ying.


Batu roh memiliki berbagai macam warna sesuai jenis dan tingkat spiritualitasnya. Kepekatan warna juga memengaruhi tinggi rendahnya spiritualitas seekor siluman, serta sebagai ukuran usia yang berbeda pada siluman. Semakin pekat warna pada batu roh, maka semakin tua dan semakin tinggi spiritualitas yang dimiliki seekor siluman.


Adapun pada jenis warna yang ada pada batu roh, maka tergantung pada jenis energi spiritual yang dimiliki spesies siluman. Kambing bermata merah yang sedang bersembunyi di balik belukar memiliki warna merah pada batu rohnya yang berarti elemen spiritualnya adalah api. Berdasarkan kepekatan warna, diperkirakan bahwa kambing bermata merah itu berusia sekitar seratus tahun lebih.


Meskipun ini pertama kalinya Liu Ying melihat secara langsung wujud siluman, namun Liu Ying pernah membaca beberapa buku terkait dan melihat beberapa jenis batu siluman yang dibawa pulang oleh Tetua Mu Yi selepas bepergian. Sektenya juga memberikan sedikit pengajaran dasar tentang karakteristik siluman dan jenis-jenisnya.


Jadi, pada hari ini. Liu Ying akan mencoba mempraktikkan apa yang telah dipelajari, ini adalah percobaan pertamanya.


Setelah mengambil kuda-kuda, Liu Ying menarik pedangnya dari sarung. Ia tidak buru-buru dengan melakukan gerakan tiba-tiba, menunggu tiga makhluk itu memulai terlebih dahulu.


Setelah kurang lebih satu sepuluh detik bersembunyi, akhirnya ketiga makhluk itu melompat keluar dan mengelilingi Liu Ying. Liu Ying mengikuti gerakan dengan menjaga gerakan tetap stabil sambil berputar mengacungkan pedangnya.

__ADS_1


Siluman kambing bermata merah berukuran lebih besar dari kambing biasa, paling dewasanya mereka dapat lebih besar dari seekor kerbau gemuk. Tanduk yang menempel di kepala mereka juga berbeda, lebih tajam dan bercabang seperti tanduk rusa.


Saat salah satunya menerjang, Liu Ying menghempasnya dengan tangan kiri. Makhluk-makhluk itu cukup pintar dalam menggunakan trik pengalihan.


Liu Ying melompat menginjak salah satu kepala siluman itu, lalu berputar dan menduduki punggung yang lainnya. Tanpa buang-buang waktu, Liu Ying menghentak dan menarik tanduk siluman yang ditungganginya dengan keras sehingga membuatnya memekik dan berlari membabi buta. Dua siluman lainnya mengejar dari belakang.


"Hahh!"


Liu Ying menusukkan pedangnya ke pinggul siluman, makhluk itu kembali memekik dan menaikkan kaki depannya ke atas. Liu Ying menggunakan kesempatan itu untuk meraih batu roh dan menariknya keluar.


Liu Ying melompat turun sebelum kambing bermata merah itu jatuh berdebum di atas tanah. Belum berhenti di sana, dua ekor siluman kambing lainnya kembali menerjang dari arah belakang, membuat Liu Ying terjungkal dan menopang tubuhnya dengan pedang.


Liu Ying diam tidak bergerak, sehingga dua makhluk yang kini sudah berpindah di depannya ikut terdiam mengamati situasi.


Liu Ying melirik ke arah pinggangnya yang ditetesi oleh darah, tanduk siluman itu telah melukainya meski tidak mengenai bagian vital, Liu Ying menggeram pelan.


Pengalaman bertarung Liu Ying belum begitu baik, sehingga membuatnya sering kali gegabah dan menciptakan banyak celah. Lagi, Liu Ying mengayunkan pedang dan kembali menyerang, melompat mundur lalu kembali menerjang.


Liu Ying berdiri di antara dua makhluk itu memancing mereka agar kembali menabraknya, namun saat mereka sudah hampir mencapainya, Liu Ying melompat ke arah lain sehingga dua siluman itu saling menabrak satu sama lain.


Dampak tabrakan itu lumayan parah karena disebabkan oleh tanduk mereka yang tajam sehingga melukai bagian kepala dan mata, Liu Ying langsung memberikan dua tikaman pada masing-masing mereka sehingga tidak tersisa pergerakan di menit selanjutnya pada dua makhluk itu.


Liu Ying menghela nafas lega. Ia mengambil sebuah pisau kecil yang terselip di ikat pinggangnya, lalu merobek dada dua siluman tadi untuk mengeluarkan batu rohnya.


"Makhluk malang. Aku ingin sekali mengasihanimu, tapi uang terlalu indah untuk dilewatkan," gumam Liu Ying pada bangkai-bangkai siluman kambing yang telah dibunuhnya.


Liu Ying bersorak ria setelah berhasil mendapatkan tiga batu roh sekaligus, namun Liu Ying tidak menyadari bahwa sesuatu yang lebih berbahaya sedang mengintainya dari belakang.

__ADS_1


...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh....


__ADS_2