
"Nona, apa kau tak pernah dengar mengenai Setan Api? Sayang sekali, kalaupun kau pernah dengar, hidupmu juga sudah tak akan lama lagi." An Lang tertawa lantang memekakkan telinga.
Tentu saja para bawahannya langsung menunduk takut bak mendengar erangan singa yang sedang lapar, namun Liu Ying tetap datar.
Gadis itu meliuk dengan bebas dan menatap pria itu balik. "Paman, apa kau juga tak pernah dengar mengenai Setan Kecil? Sayang sekali Paman, siapapun yang pernah mengangkat senjata kepadanya akan kehilangan kepala."
An Lang langsung melotot mendapati serangan balasan oleh kata-kata singkat nan pedas dari Liu Ying, ia merasa diremehkan.
Sebuah kapak besar muncul tiba-tiba di tangan kiri pria itu, seketika itu dilayangkan ke wajah Liu Ying.
Sontak Liu Ying menarik kepalanya ke belakang, dengan posisi itu langsung meraup pedang dari sarungnya. Ia segera menempatkan serangan balasan, menghindar dengan gesitnya sehingga membuat serangan An Lang menjadi pukulan udara semata.
"Menyebalkan. Berhenti berlari seperti tikus dan lawan aku dengan berani-!" teriak pria itu semakin murka.
Liu Ying tersenyum samar dengan masih terus menghindari serangan, kakinya cukup fleksibel untuk menahan tangkai kapak yang besar serta kokoh itu.
Sekuat tenaga Liu Ying menendang kapak itu sehingga menimbulkan retakan yang lumayan bagus, Liu Ying tidak terlalu malu jika menyebutkan nama sekte kalau kemampuannya seperti ini.
Sepertinya An Lang telah mengeluarkan jurusnya secara totalitas, ia tidak akan mengira bahwa sedari tadi Liu Ying menghindar hanya untuk mempelajari semua gerakannya. Sudah saatnya Liu Ying memperlihatkan kemampuan yang patut dibanggakan itu.
Ia langsung membukanya dengan tarian Teratai Beku, tarian yang mengalir dan tak bersekat. An Lang terpukul mundur saat Liu Ying berputar dengan tangan yang direntangkan bagai bunga teratai, pedangnya bagaikan duri yang siap menusuk siapapun jika berani mendekatinya.
An Lang mendapatkan luka di kedua lengannya karena berusaha menepis serangan Liu Ying, gadis itu kini menyerang dengan jurus yang lebih ganas lagi.
"Teratai Berdarah, mekarlah!!"
Sekarang alunan pedangnya menjadi lebih cepat dan menjadi tak terbaca, An Lang sampai tak sempat memberikan serangan balasan. Sekali pukul, akhirnya pria paruh baya itu terhempas dua meter jauhnya dan menghantam tanah.
"Sial-! Suruhan siapa kau sebenarnya?" tanya An Lang dengan panik dan dibarengi rasa frustasi.
Liu Ying tersenyum kemenangan dan menodongkan pedangnya kepada An Lang yang kini terbaring di tanah. "Suruhan? Apakah orang sehebat aku bisa disebut suruhan? Aku paham dengan keterkejutanmu, Paman. Tapi alangkah baiknya kau menutup mulutmu yang beraroma tidak sedap itu, agar aku bisa mempertimbangkan cara yang paling lembut untuk mengirimmu kepada Tuhan."
__ADS_1
"Kau-!!"
Semua penjaga yang menyaksikan pertarungan tadi beringsut mundur saat Liu Ying menatap bergantian kepada mereka, di mata mereka Liu Ying adalah ancaman yang amat berbahaya dan dapat menerkam kapan saja.
Sebuah jarum setipis benang tiba-tiba melesat dari kejauhan membuat Liu Ying refleks menghindar, bakat lain yang patut diapresiasi dari Liu Ying salah satunya adalah penglihatan yang tajam dan telinga yang peka. Gerakan sekecil apapun akan terasa jelas untuknya.
Sontak Liu Ying mengalihkan atensinya ke asal-muasal jarum perak itu, sedikit kaget dengan apa yang dijumpainya.
"Nenek Tua?!"
Bak tidak mendengar apapun, wanita sepuh itu justru tersenyum bangga dengan dirinya sendiri. Matanya menyorot tajam tempat Liu Ying berdiri tegak, membuat orang yang dimaksud menjadi kurang nyaman atas posisinya.
"Nenek Tua, Tunggu... Bukankah kita satu pihak?" tanya Liu Ying yang masih belum mengerti dengan yang terjadi.
"Satu pihak?" dia tertawa lagi⚊wanita tua itu. "Kenapa kau berpikir begitu? Apakah aku pernah mengatakan bahwa kita sepihak?"
Liu Ying menggeretakkan giginya, tidak ada yang lebih menyebalkan dibandingkan dengan saat kau ditipu oleh tua bangka yang bahkan sudah bau tanah.
Mungkin Liu Ying sedikit memaklumi kebisingannya jika mereka berada di satu pihak yang sama, tapi tidak jika orang itu berdiri bersebelahan sisi dengannya, itu menyebalkan.
"Aku tidak tanya namamu, aku hanya ingin tahu motif sebenarnya sehingga kau berlagak menjadi tawanan," pungkas Liu Ying dengan emosi rendah.
"Aku?" kini dia tertawa lagi dengan suara yang lebih menjengkelkan dari sebelumnya. "Aku adalah pimpinan mereka, bukankah sedari tadi kau terus mencariku?"
Saat itu juga Liu Ying membelalak kaget, dia kira orang itu hanyalah nenek yang suka ikut campur, ternyata dia telah salah menilai.
Dari ekor matanya, Liu Ying dapat melihat bahwa Hu Xian dan Wei Ziyou telah kembali. Ia tahu melalui kode mereka bahwa seluruh tawanan telah berhasil dievakuasi.
Suara ringisan An Lang membuat kewaspadaan Liu Ying kembali naik, pria itu dengan sisa-sisa kekuatannya hendak menyerang lagi.
Namun berhasil ditepis tepat waktu oleh Hu Xian yang maju tiba-tiba. "Ini bagianku Ying, kau urus nenek rendahan itu."
__ADS_1
Sebenarnya bukan karena lawannya lebih mudah ditangani sehingga Hu Xian memilih bertarung dengan An Lang, namun ini lebih ke sikap menghormati Liu Ying.
Gadis itu tersenyum dan mengedipkan matanya riang. "Bagus juga. Begini, kau semakin terlihat seperti pria."
"Baiklah! Mari kita lakukan saja ritualnya nenek tua," lanjut Liu Ying kembali memasang kuda-kuda.
Sepuluh jurus awal Liu Ying unggul di permainan pedang. Namun lama kelamaan, nenek tua yang mengaku sebagai Mao Shen itu mulai menggunakan cara-cara licik yang tidak biasa.
Dimulai dari melempar jarum secara diam-diam, sampai menggunakan racun di senjata agar dapat melumpuhkan Liu Ying.
"Curang, kau tidak bermain dengan sportif!"
Senyum Mao Shen memudar dengan cepat. "Persetan dengan segala aturan, aku hanya ingin menghancurkanmu sampai ke tulang."
Liu Ying menarik senjata lain berupa pisau lipat dari lipatan bajunya, ia menyempatkan diri untuk menyelipkan benda itu di bawah telapak tangannya dengan posisi terbuka.
Gadis itu memutari Mao Shen tanpa melonggarkan serangan sehingga lawannya menjadi kalah cepat, darah memuncrat ke wajah Liu Ying saat ia berhasil merobek punggung wanita tua itu.
"Argghhh!!"
Panas.
Entah kenapa sesaat setelah terkena percikan darah Itu memberikan sensasi yang sangat tidak nyaman, ia mulai tidak karuan.
Dengan tertatih, Liu Ying mencoba menyadarkan dirinya bahwa ia tengah dalam pertarungan. Namun lagi-lagi dunia terlihat berputar dan seperti teraduk-aduk, tetapi tak satupun dari orang di sekelilingnya mendapatkan efek apapun.
Apa ini sensasi yang sama dengan saat melawan perampok di jalur rahasia? Mungkin saat awal Liu Ying tidak terlalu merasakannya, tapi kali ini cukup jelas.
Mao Shen segera mengambil kesempatan melihat Liu Ying yang linglung tiba-tiba, ia kali ini melemparkan sebuah piringan besi dengan keseluruhan sisi yang tajam dan berigi.
"YING, AWAS!!!"
__ADS_1
...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh. ...