Immortal Fire

Immortal Fire
Chapter 48 : Perencanaan


__ADS_3

Xue Hongli masuk ke dalam ruangannya sambil menenteng gulungan kertas, kemudian meletakkan benda itu secara asal di atas meja kerjanya.


"Shi Xia!" panggilnya dengan sedikit berteriak.


Orang yang dimaksud adalah pengawal pribadinya kini tengah berlari tergopoh-gopoh ke hadapan Xue Hongli, ia langsung membungkuk di hadapan pemuda itu penuh hormat. "Gong Zi."


Xue Hongli meraih salah satu gulungan yang tadi dibawanya dan menyerahkan benda itu kepada Shi Xia, ia tampak gusar dan sedikit tertekan.


"Cari dan selidiki orang yang ada di lukisan itu. Dia adalah satu-satunya saksi mata kasus pembunuhan Perdana Menteri Huang," perintah Xue Hongli tanpa mengalihkan pandangan.


Dengan cepat Shi Xia membuka gulungan itu dan memerhatikan lukisan yang tercetak di atas dengan seksama. "Seorang pelayan?" tanyanya pada diri sendiri.


Xue Hongli mengangguk. "Pelayan ini merupakan pelayan kediaman Perdana Menteri Huang Shen. Sebelum kematian beliau, pelayan ini terlihat mencurigakan yang kemudian akhirnya meminta izin untuk kembali ke desanya setelah acara pemakaman selesai."


"Gong Zi, maksudmu... Pelayan ini ada hubungannya dengan kematian Perdana Menteri Huang?" tanya Shi Xia memastikan.


"Ini belum pasti, karena itu kita harus menyelidikinya sebelum petunjuk dan saksi mata itu menghilang." Xue Hongli menggeleng singkat dan beralih menuju kursi di balik meja kerjanya itu.


Shi Xia tersenyum sambil menatap nanar mata tuannya itu. "Sesekali bersantailah, Gong Zi. Kau tampak kelelahan."


Xue Hongli menepuk pundak Shi Xia pelan sambil terkekeh pelan. "Bagaimana aku bisa bersantai saat negeri ini sedang dalam masalah? Belum lagi misi yang diberikan oleh Penatua Agung tak kunjung menemukan akhir, kita tidak punya banyak waktu."


"Mengenai Dekrit Tuhan dan Senjata Surgawi, beberapa hari terakhir mulai ada perkembangan. Kemungkinan besar keberadaan harta berharga itu berkaitan dengan hilangnya Suku Phoenix dari dunia persilatan bertahun-tahun lalu," jelas Shi Xia yang mulai serius membahas topik mereka.


Xue Hongli mengangkat alis. "Dari pada itu, aku lebih mengkhawatirkan aliansi kelompok Tang yang ingin menggulingkan rezim, keadaan sekarang ini benar-benar darurat. Terlebih terhadap perang yang akan segera pecah dalam waktu dekat ini."


"Jadi apa yang akan kau lakukan, Gong Zi?"


Xue Hongli merenung sejenak, matanya menerawang jauh dan melanglang buana.

__ADS_1


"Menjemput Pangeran Ke-empat."


...***...


"Tetua Zhou-! Kami berhasil mendapatkannya!!"


Zhou Li yang saat itu tengah bermeditasi tersentak saat mendengar suara teriakan dari depan pintu kamarnya, para bocah itu benar-benar tidak bisa membuatnya tenang barang sedetikpun.


Wanita paruh baya itu langsung bangkit untuk membukakan pintu pada tamu-tamu kecilnya yang sudah menunggu di luar sana.


Tanpa dipersilahkan, Jia Li dan Fang Yao langsung melesat memasuki ruangan itu. Zhou Li sudah tahu kebiasaan mereka, jadi ia tidak terlalu mempermasalahkannya dan segera menyusul dua bocah itu setelah menutup kembali pintu kamarnya.


"Bagaimana Ketua egois itu ditaklukkan?" tanya Zhou Li membuka percakapan.


Jia Li tersenyum sangat lebar sehingga memperlihatkan deretan giginya. "Dia akhirnya menyerah setelah tujuh putaran, untungnya begitu banyak saksi membuat kelicikannya tidak bisa bergerak leluasa."


Zhou Li terbahak mendengarnya. Ia kemudian menyajikan sepoci teh beserta gelasnya, tak lupa dengan kue kering kesukaan mereka.


Jia Li menyeruput tehnya dengan semangat, ia tampak puas dengan kemenangannya. "Itu berarti, kita bisa menyusul Liu'er dan bebas keluar sekte."


"Bodoh-!" rutuk Fang Yao angkat bicara. "Kau pikir semua ini sudah selesai? Kita perlu latihan berat dalam waktu yang tidak seberapa lama ini, aku bahkan tidak yakin kau akan bisa menembus tingkat berikutnya."


Jia Li menyikut Fang Yao dengan kesal, ia tidak suka dengan kata-kata pemuda itu yang seolah menguliahinya.


Zhou Li mengeluarkan beberapa kotak berisi pil dari dalam lemari kecilnya, kemudian menatap mereka secara bergantian. "Bocah Fang, kau kelihatannya tidak terlalu senang. Aku pikir ini adalah pencapaian yang lumayan bagus, kenapa kau tidak terlihat antusias?"


Fang Yao terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku hanya merasa tidak lebih hebat dari Long Feiye, juga sedikit ragu akan lolos dalam ujian ini."


Zhou Li tertawa renyah mendengar penuturan pemuda itu, tampaknya dia mulai kehilangan kepercayaan dirinya. Zhou Li membuka salah satu kotak pil berwarna kehijauan dan meletakkannya di hadapan mereka.

__ADS_1


"Ujian YuTong dibagi menjadi dua cabang bela diri, yaitu Sanda dan Taolu. Sanda adalah nomor pertarungan dalam Wushu, mengandalkan kekuatan dan melakukan pertarungan secara langsung berdasarkan peraturan kompetisi. Sedangkan Taolu adalah cabang lomba yang mempertandingkan gaya atau putaran jurus tanpa adanya pertarungan atau kontak fisik dengan lawan, biasanya tergantung ketangkasan dan kefasihan disertai dengan nilai-nilai estetika. Senjata apa yang kalian pilih?" tanya Zhou Li setelah menguraikan penjelasannya secara panjang lebar.


Jia Li mengangguk paham. "Jadi kompetisinya tidak harus bertarung sampai mati?"


"Bodoh."


Fang Yao menjentik kepala Jia Li sehingga menjadi awal percekcokan di antara mereka, gadis itu bahkan membalasnya berkali-kali lipat.


"Jika dilihat dari keadaan sekarang, Xiao Li benar-benar buruk dalam bermain pedang. Ia juga tidak cocok dalam cabang Sanda, kemampuannya di bawah rata-rata," pungkas Fang Yao hingga membuat Jia Li cemberut kesal.


Gadis itu menatap Fang Yao tidak terima. "Bicara saja tentang dirimu sendiri, tidak usah merendahkanku dan memandang seolah-olah aku ini orang yang lemah."


"Tapi kau memang lemah."


"Hei, kau-!"


Zhou Li mulai jengah dengan perdebatan ini, ia menyodorkan pil itu untuk ke sekian kalinya, namun tidak ada yang merespon. "Pil ini mungkin dapat membantu beberapa persen dalam peningkatan kalian, tidak ada yang tertarik?"


Fokus mereka beralih. Jia Li langsung menyambar kotak seukuran telapak tangan itu sebelum Fang Yao dapat meraihnya, mereka hampir mengibarkan bendera perang lagi.


Namun Zhou Li cepat-cepat menengahi, ia memukul meja dengan sedikit keras dan bergumam, "Aku tidak berharap kalian menjadi pemenang utama, lolos dalam sepuluh besar seharusnya cukup."


Senyumnya tergelincir, ia tentu tidak terlalu mempermasalahkan batas kemampuan mereka, tapi setidaknya lolos ujian saja cukup untuk memiliki akses keluar masuk sekte.


Jia Li menyipitkan matanya melihat Zhou Li tersenyum mencurigakan, wanita yang hampir tua itu memang selalu tidak bisa ditebak.


"Di pertandingan Sanda, setiap peserta akan menggantungkan sebuah lonceng kecil di pinggangnya. Menurut peraturan, pemenangnya adalah siapa yang dapat merebut lonceng itu dari lawannya di pertarungan. Jadi menurutku kemenangan tidak selalu ada pada kekuatan melainkan kepintaran, menggunakan sedikit trik agar kau memenangkan pertandingan. Sedangkan Taolu, gerakan lembut tidak akan sulit untukmu Xiao Li."


Fang Yao menyimak dengan seksama, matanya menerawang jauh seolah-olah dia masuk ke dalam khayalannya sendiri. "Berapa lama waktu kita?"

__ADS_1


"Jika dihitung padat, maka dua bulan adalah waktu kalian untuk latihan penuh secara totalitas," jawab Zhou Li dengan sudut bibir yang terangkat naik.


...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh. ...


__ADS_2