
"Xiao You, awas!!"
Pria itu menghambur maju menahan cakar panjang nan tajam itu dengan tubuhnya, memeluk gadis di bawahnya dengan erat dan mencoba melindunginya dari apapun.
Ia sampai melupakan bahwa cakar itu telah menhantamnya dan mencabik-cabik kulit punggungnya.
"Xian Gege!?"
Tanpa kenal takut ia kembali mengambil tombaknya dan kembali menyerang makhluk itu dengan bertubi-tubi.
GHOARRR!!!
Suara auman itu membuat burung burung di atas dahan pohon tertinggi sekalipun menjadi takut dan terbang menjauh. Pemuda yang dipanggil Xian itu adalah pendekar yang cukup tangguh, ia melawan makhluk yang tiga kali lebih besar dari tubuhnya sendirian.
Sementara itu, si gadis juga tidak tinggal diam. Ia mengeluarkan jimat kertas, mengalirinya dengan tenaga dalam, lalu membidikkan benda itu pada makhluk serupa macan yang tengah mengamuk membabi-buta.
Makhluk itu adalah siluman macan hitam yang sepertinya berusia di atas enam ratus tahun tahun, masih cukup muda di antara kelompoknya. Jika dibandingkan, setidaknya kultivasinya melampaui pendekar bumi tingkat dua.
Pemuda yang masih di level pendekar Perak tingkat tiga itu, bisa dibilang cukup nihil dapat memenangkan pertarungan dengan luka-luka parah yang semakin mempersulitnya.
Sudah cukup, dia tidak bisa menahannya lagi. Tombak dengan kualitas terbaiknya saja sudah mulai mengalami retakan kecil, pemuda itu kesulitan bergerak.
"Xiao You, sebelum hitungan ke lima kau sudah harus lari."
Gadis itu menggeleng kuat-kuat seakan tidak ingin mendengarnya. "Aku tidak bisa, Xian Ge--"
"Yi... !
Pemuda itu melompat maju menerjang siluman itu, ia meraih dahan pohon di dekatnya sementara tangan satunya lagi menarik tombaknya dalam waktu yang bersamaan.
"Er... !"
Melompat dari satu pohon ke pohon lain. "San!" teriaknya semakin gila.
Ia menarik dedaunan dan mengalirkannya dengan tenaga dalam, siluman macan itu terkaget saat dedaunan itu melaju kencang menuju ke arahnya, menggores bulu dan kulitnya yang tebal.
Sementara gadis tadi seperti tidak bisa menggerakkan kakinya, namun teriakan pemuda itu seperti perintah baginya. Ia mundur perlahan-lahan dengan mata yang terus menyaksikan pertarungan itu.
"Si... !"
Sesegera saja pemuda itu mengarahkan tombaknya dan melompat ke hadapan siluman itu, memanfaatkan kelengahannya. Dalam sekali lompatan, tombak itu berhasil menikam mata siluman itu hingga tembus ke belakang kepala.
"Wu-!" siluman macan hitam itu seketika ambruk bersamaan dengan si pemuda setelah berhasil mengalahkannya.
__ADS_1
...***...
"A'Yue, harus kuapakan tumbuhan berlendir ini?" Liu Ying menatap kedua tangannya yang terlihat lengket dengan pandangan jijik.
Qin Yueyin hanya tertawa saja kemudian mengambil sapu tangan untuk menyekanya.
"Nona ini padahal sudah diberikan pengobatan secara cuma-cuma, tapi kenapa masih bersikeras untuk bekerja?" lenguh Qin Yueyin.
"Hanya bosan!"
Liu Ying menatap Qin Yueyin malas. "Sudah kubilang, jangan memanggilku Nona. A'Ying, namaku adalah A'Ying. Kau tidak perlu terlalu formal untuk menyatakan bahwa kita adalah tabib dan pasien."
"Maaf, aku tidak terlalu terbiasa."
"Eh, iya. Di mana Nyonya Qin? Aku sepertinya tidak melihat dia sejak pagi." Liu Ying membasuh kedua tangannya dengan air dan beralih pada alat penggiling.
Qin Yueyin sigap mengambil pekerjaan Liu Ying yang baru saja dilepasnya. "Ibu pergi ke gunung Kunlun untuk mencari tanaman obat, pastinya dia akan singgah di desa Nan Ping untuk membeli sumber daya sehingga membuatnya agak terlambat untuk pulang."
Liu Ying ber-oh ria sembari tanganya menggiling tanaman obat yang telah dibersihkan oleh Qin Yueyin.
Liu Ying memutuskan untuk menetap selama beberapa hari untuk mempersiapkan perbekalan, baik itu obat-obatan maupun makanan. Qin Baoyu pun memerimanya dengan senang hati, wanita itu bahkan menyarankannya untuk ikut dalam mencari sumber daya.
Namun Liu Ying lebih memilih untuk tetap berada di kediaman dan membantu Qin Yueyin bekerja, ia merasa tidak enak bila mengharapkan sesuatu yang lebih.
"Ada pasien yang harus segera ditangani," bisiknya di telinga Qin Yueyin, namun Liu Ying mendengarnya dengan jelas.
"A'Ying, aku pergi dulu. Kau siapkan saja pekerjaan ini dan segera istirahat."
Mendengar itu Liu Ying nampak tidak terima, ia merasa ingin terjun langsung meski hanya bisa mengamati saja. "Aku ikut denganmu."
"Ini... A'Ying, ini adalah tugasku. Kau mungkin akan merasa tidak nyaman jika saja pasien memiliki luka parah yang mengerikan, terlebih jika ia punya penyakit yang menular."
"Aku pernah memenggal orang. Jadi tidak ada luka yang akan membuatku tidak nyaman," ucap Liu Ying menyeringai.
"Dan kau bisa menjamin agar aku tidak tertular."
Qin Yueyin bergidik ngeri saat mendengar ucapannya yang keluar tanpa beban dan santai itu, tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, ia langsung berjalan melewati Liu Ying membiarkan gadis itu mengikutinya.
Tentu saja Liu Ying sangat senang, ia langsung mengekori Qin Yueyin menuju tempat pasien itu berada. Saat memasuki pintu tampaklah dua orang remaja perempuan dan laki-laki sebayanya yang diyakini Liu Ying adalah kultivator.
Remaja pria itu terbaring tak berdaya dengan luka-luka yang sangat parah, sementara si gadis tampak panik dengan luka yang tidak terlalu.
"Tabib, tolonglah kakakku!" pinta gadis itu dengan lesu.
__ADS_1
Pakaian yang melekat di tubuhnya sudah lusuh dan kotor, terlebih ada beberapa bagian yang tersobek sehingga memperlihatkan kulit putihnya yang penuh luka.
Qin Yueyin langsung bersikap profesional, mengeluarkan alat-alat pengobatan dari lemari.
"Karena kau sudah terlanjur ada di sini, tolong kau bantu aku bawa gadis itu ke ruangan lain." ucapan Qin Yueyin itu jelas ditujukan kepada Liu Ying.
Ia segera merangkul gadis yang terluka itu berdiri dan meninggalkan ruangan itu.
"Kakakku, dia akan selamat kan?"
Liu Ying meliriknya dan mengangguk pasti. "Apa kau percaya, jika jenius bela diri sepertinya akan mati semudah itu?"
Gadis itu melongo, beberapa saat berikutnya ia mengikuti Liu Ying memasuki ruang yang lain.
Ruangan itu terlihat hampir mirip dengan ruangan tempat pemuda tadi ditangani, kita bisa menyebutnya bangsal. Tampaklah sebuah ranjang kayu yang terlihat bersih dan sebuah meja yang sedikit besar diisi oleh berbagai alat-alat pengobatan.
Liu Ying membawa gadis itu untuk duduk di tepi ranjang, menyuruhnya melepaskan pakaian.
"Kau... Seorang Tabib?" tanya gadis itu mengisi keheningan.
Liu Ying yang sibuk membongkar alat-alat di meja pun berhenti, ia mengusap rambutnya ke belakang kemudian melipat tangannya di depan dada. "Terlihat seperti Tabib?"
Gadis itu memonyongkan bibirnya, "Kau lebih terlihat sebagai perampok."
"Apa?!"
"Ah, sudahlah." Liu Ying menetralkan ekspresinya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Kau ini pendekar, kan?" kali ini hanya pertanyaan retorik saja.
Liu Ying tersenyum miring mendengarnya. "Lalu kenapa, bukankah kau juga sama?"
.
.
.
Hari ini bonus Update. Toh biasa update dua hari sekali, sehari nulis dan sehari Update +istirahat.
Jangan bosan untuk menetap, meski kenyataannya kita hanyalah rasa yang tak dianggap. Eyaaaaakk, galau bet dah, awokawok 😹
...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh....
__ADS_1