
Tak mau repot, Liu Ying langsung masuk ke dalam kereta itu. Mata Liu Ying membola kaget saat menemukan seseorang yang pernah dilihatnya beberapa waktu lalu.
Liu Ying berusaha terlihat biasa saja, mengingat bahwa sekarang ia tengah menyamar sebagai orang lain.
"Ekhem-!" Dehem Liu Ying dengan suara yang diberat-beratkan.
Tidak salah lagi, pemilik kereta itu adalah Wang Yan. Liu Ying mengutuk di dalam hati, kenapa harus bertemu untuk yang ke tiga kalinya.
Wang Yan tersenyum sembari menatap Liu Ying, "Tuan ingin bepergian ke mana?"
"Aku akan turun saat perhentian desa di depan, aku harap Tuan tidak keberatan memberikan tumpangan."
Liu Ying membuat duduknya semirip mungkin layaknya seorang pria, di kursi yang bersebrangan dengan Wang Yan.
Wang Yan memerintahkan kusir untuk menjalankan kereta, "Tentu. Kita sudah pernah bertemu beberapa kali sebelumnya, hatiku tidaklah keras."
"Sialan, Kau. Brengsek-!" maki Liu Ying.
Wang Yan terbahak melihat reaksi Liu Ying, gadis itu sangat lucu saat kesal.
"Maafkan aku, maafkan aku. Sejujurnya, ku sama sekali tidak cocok menjadi pria," ucap Wang Yan sambil diselingi tawa.
Liu Ying menendang tulang kering Wang Yan, membuat pemuda yang tadinya tertawa lepas itu memekik kesakitan.
"Jika aku tidak menumpang, aku pasti akan melemparmu keluar dari kereta ini. Enyahlah,"
Wang Yan mengelus kakinya, "Kau gadis yang kejam, liar."
"Tentu, aku bahkan bisa mematahkan lehermu dengan tangan kosong." Liu Ying memainkan jemarinya di udara.
Hal itu membuat Wang Yan meneguk salivanya, "Bu gan, bu gan. Aku sudah salah."
*bu gan : tidak berani/saya tidak berani.
Liu Ying tersenyum miring, membuat Wang Yan terpana. Ini pertama kalinya gadis itu tersenyum untuknya.
"Apakah tidak sebaiknya kau melepaskan kumis palsu itu?" Tanya Wang Yan takut-takut.
Liu Ying menyadarkan tubuhnya dan memejamkan mata, "Tidak-!"
Wang Yan tersenyum kecut. Ia juga ikut menyenderkan kepalanya, mencoba beristirahat.
...***...
Liu Ying terbangun dari tidurnya, ia merasakan bahwa kereta sudah tak lagi berjalan.
"Kemana Cucunguk itu?" gumam Liu Ying saat menyadari bahwa Wang Yan sudah tidak ada di tempatnya.
__ADS_1
Sambil menguap, Liu Ying meluruskan seluruh tubuhnya yang terasa kaku. Tidur di kereta sangatlah berefek buruk, Liu Ying bahkan hampir tidak bisa menggerakkan lehernya sendiri.
Liu Ying mengintip ke luar jendela, tidak ada kusir ataupun pengawal pribadi Wang Yan. Hari sudah pagi, sepertinya Liu Ying ketiduran terlalu lama.
Dengan gusar, Liu Ying melangkahkan kaki ke luar kereta. Tampak banyak orang berlalu-lalang.
"Menunggu hanya akan menyia-nyiakan waktu."
Dengan sigap, Liu Ying meraih buntalan kainnya. Liu Ying berjalan menjauh dan tenggelam di kerumunan manusia.
Di sisi lain, Wang Yan baru saja tiba di keretanya sambil menenteng sebungkus kacang dan beberapa bungkus kue.
"Tuan tadi, pergi ke mana?" Tanya Wang Yan kepada kusir yang juga baru saja tiba.
Kusir itu mengernyit, "Aku baru saja kembali dari membersihkan diri, mungkin sudah pergi."
Wang Yan kecewa untuk yang ke tiga kalinya, gadis itu selalu pergi tanpa berpamitan. Bahkan ia belum sempat menanyakan namanya.
Pagi mulai terlewat dengan mentari yang kian menyengat kulit. Liu Ying menghela nafas, ia mulai merasa lelah berjalan kaki.
Liu Ying tidak dapat meredam suara gemerutuk dari dalam perutnya yang kian meronta minta diisi.
"Mungkin aku harus mencari makanan dulu," gumam gadis itu sambil menyentuh kantong uangnya.
Sebenarnya Zhou Li sempat menyelipkan sekantong uang untuk Liu Ying sebagai biaya perjalanan, tapi yakinlah bahwa uang segitu tidak akan cukup.
Namun setidaknya, Liu Ying masih bisa mengganjal perutnya untuk saat ini. Selanjutnya bisa dipikirkan nanti, mungkin Liu Ying akan banyak menumpang agar lebih menghemat biaya.
Secara kebetulan Liu Ying melihat sebuah rumah makan di sekitar tempatnya berdiri, dengan gontai ia melajukan kakinya.
'Rumah Makan Liang'
Tulisan itu terpampang jelas di papan besar yang terletak tepat di atas rumah makan itu.
Aroma berbagai makanan menyeruak bersama asap dan uap panas yang mengepul, membuat Liu Ying meneteskan air liur.
Rumah makan itu sangatlah ramai akan pembeli, menu makanannya juga sangat banyak. Bahkan ada beberapa makanan yang tak pernah dilihat oleh Liu Ying seumur hidupnya.
"Tuan, anda ingin memesan apa?" tanya salah seorang pelayan menghampiri Liu Ying.
Liu Ying mengerut bingung, "Makanan apa yang kalian punya?"
Mendengar penuturan Liu Ying, pelayan itu tersenyum lebar.
"Mari, Tuan duduklah dulu. Kami akan menyiapkan hidangan paling spesial di rumah makan kami."
"Paling spesial?" tanya Liu Ying bersemangat.
__ADS_1
"Tentu, aku pastikan Tuan keluar dengan perut yang kenyang dan hati yang senang," ucap pelayan itu kemudian meninggalkan meja Liu Ying.
Tak berapa lama, pelayanan itu membawa banyak makanan di nampannya, meletakkan hidangan itu hingga memenuhi meja.
Liu Ying segera mengambil sumpitnya dan memegang salah satu mangkok yang ada di sana, "Apa ini?"
"Ini adalah Sup Iga Daging Babi, hidangan paling populer yang dapat kami sediakan." jelas pelayan itu antusias.
Liu Ying mengendus aroma makanan itu kemudian melahapnya. Mata Liu Ying membola saat lidahnya menyentuh potongan daging yang empuk dengan rasa pedas dan gurih, hidangan ini sangat memanjakan lidah.
Liu Ying kemudian beralih ke makanan yang lain. Dalam hitungan menit, semua piring yang ada dia atas mejanya ludes tak bersisa.
Pelayan yang melihat kejadian itu menahan napasnya, baru kali ini dia melihat orang makan dengan lahapnya.
Setelah meneguk segelas air, Liu Ying bersender di kursi sambil menaikkan sebelah kakinya.
"Bagus sekali. Aku akan menilai rumah makan kalian sebanyak delapan bintang," tukas Liu Ying terengah-engah.
Senyuman pelayanan itu melebar, "Jadi ... Total harganya adalah, dua keping emas."
"UHUK-!!"
Liu Ying terbatuk kaget dengan total harga makanan yang ia makan, "Du-dua keping, emas?!"
Melihat kekagetan Liu Ying, senyum pelayan itu sontak memudar.
"Tuan, jangan bilang kau tidak punya uang." perubahan pada raut wajah pelayan itu kian kentara.
Liu Ying melirik kantong uangnya kemudian tertawa renyah, "Bukan begitu, hehehe. Sa-saya hanya sedikit terkejut."
"Jika begitu, mana uangnya-!"
Liu Ying mencoba menetralkan air mukanya, berusaha terlihat tenang dan sesekali tersenyum.
"Aku bisa saja membayar, tapi bukankah kau yang menghidangkan makanan ini kepadaku? Kau bahkan tidak bertanya dulu, jadi aku menganggapnya gratis." Liu Ying menyeringai.
"Bagaimana bisa begitu-!"
Pelayan itu kian emosi, "Aku menilai pakaianmu, aku pikir kau orang yang kaya-!"
"Siapa yang menyuruhmu menilaiku dari pakaian, HAH-?!" balas Liu Ying sembari menaikkan suaranya satu oktaf.
"Kau-! Tangkap pencuri ini-!!"
Tiba-tiba sekitar lima orang pria yang muncul entah darimana menghadang di depan Liu Ying, mereka masing-masing membawa pedang sebagai senjata.
Menurut perkiraan Liu Ying, ilmu bela diri mereka masih berada di bawahnya. Liu Ying tersenyum miring sambil menatap tajam kepada si pelayan.
__ADS_1
"Aku ingin mempermudah, tapi sepertinya kalian lebih memilih kesulitan."
...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh. ...