
Pagi ini terasa sejuk. Liu Ying menggeliat dalam selimutnya, berusaha mengusir rasa dingin yang mulai menjamahnya.
Rasanya ia tak ingin bangun dari kubangan yang diisinya itu, semalam ia tertidur sangat pulas, bahkan tidak bermimpi sama sekali.
Liu Ying ingat betul dua hari lalu, ia bahkan tidak bisa memejamkan mata sekejap pun dikarenakan batuk parah yang menyiksa.
Luka Liu Ying pun berangsur-angsur membaik, terlebih perawatan yang diterimanya begitu efektif dan benar-benar efisien.
Lampu di kediaman sudah mulai dipadamkan. Liu Ying langsung melirik Qin Yueyin yang datang dari arah pintu sambil menenteng kotak kayu di salah satu tangannya, dan lilin di tangan yang lainnya.
Wajahnya tidak dapat menyembunyikan rasa kantuk yang tergurat jelas, gadis itu nampak kelelahan.
"Nona, kau sudah bangun?" tanya Qin Yueyin serak.
Liu Ying bangkit dan berusaha menyegarkan wajahnya, Qin Yueyin terkekeh dan duduk di tepi ranjang. Tangannya dengan lihai mengeluarkan isi kotak kayu yang dibawanya.
"Sepagi ini, kenapa kau begitu rela meninggalkan tempat tidur hangatmu dan mengunjungi kamarku?"
Liu Ying mengusap matanya, berjaga-jaga agar tidak ada kotoran yang menempel di sana.
"Aku baru saja memasak sup jahe untukmu, ini akan mempercepat pemulihan dan dapat meredakan batuk," jawab Qin Yueyin mengulas sebuah senyuman.
Liu Ying membalas senyumannya, "A'Yue, kau itu gadis muda. Kenapa begitu merepotkan diri dengan pekerjaan yang harusnya dilakukan oleh orang-orang tua?"
"Nenek Guru-ku pernah berkata, kita seharusnya memperbanyak latihan bela diri agar tidak muda ditindas oleh para laki-laki brengsek," kilah Liu Ying membuat Qin Yueyin tertawa kecil.
"Untuk gadis dari keluarga tabib sepertiku, belajar ilmu bela diri bukanlah hal yang bisa dilakukan. Berbeda denganmu yang dibesarkan dengan dasar-dasar ilmu bela diri yang ditanamkan sejak dini, kami justru dilatih untuk mengenali berbagai macam tumbuhan serta mempelajari cara meracik obat," terang Qin Yueyin menimpali.
Ia menjelaskan bahwa setiap orang memiliki leluhur yang berbeda-beda. Liu Ying berasal dari sekte bela diri, menandakan bahwa keturunannya wajib mempelajari jurus legendaris yang merupakan warisan dari leluhurnya.
Sedangkan Qin Yueyin dilahirkan di keluarga tabib, sehingga para keturunannya akan menganut ajaran itu dan mewarisi ilmu leluhurnya.
Liu Ying hanya mengangguk paham mendengar penuturan gadis itu. "Tidak bisakah kau mempelajari keduanya, bukankah kau akan tetap melaksanakan kewajiban dan mendapatkan keuntungan?"
Qin Yueyin tertegun sesaat sebelum ia menoleh ragu ke arah Liu Ying. "Tidak semua orang bisa seperti kamu, terkadang beberapa gelintir orang memiliki kesulitan sendiri."
__ADS_1
"Cepat habiskan sup jahenya sebelum dingin," lanjut Qin Yueyin kemudian menyerahkan mangkuk sebuah gerabah kepada Liu Ying.
Dengan cepat Liu Ying menenggak sup itu, ia tiba-tiba teringat sesuatu yang sudah mengganggu fikirannya sejak tadi.
"Di mana kakek tua Zheng? Aku tidak melihatnya dalam beberapa waktu terakhir," tanya Liu Ying membuat gadis di hadapannya mematung.
"Pendekar Zheng, ya? Emm... Dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sendirian." Qin Yueyin tampak gugup, "Pendekar Zheng memintaku untuk tidak memberi tahumu lebih awal, dia khawatir kau akan terlalu memaksakan diri. Jadi... Semalam dia sudah berangkat dan meninggalkan Xu Nan."
Mendengar itu, Liu Ying hampir saja menjatuhkan sup jahenya. Gadis itu terlonjak dan mendesah frutasi, ia menjambak rambutnya kasar.
Qin Yueyin hampir saja berteriak saat sup yang masih setengah panas itu memercik ke mana-mana, ia menjadi ngeri mendapati respon Liu Ying yang penuh amarah.
Liu Ying kemudian bangkit dan berlari ke luar kediaman. Cahaya mentari sudah mulai terasa hangat, sementara Liu Ying berdiri di bawahnya seolah mencari sesuatu yang tidak ada.
Qin Yueyin berhasil menyusul Liu Ying langsung menghampirinya, "A'Yue minta maaf karena tidak memberitahumu."
Mata coklat kemerahan Liu Ying tertimpa bias cahaya, menyorotkan sedikit kekecewaan.
Padahal kakek tua itu sudah berjanji untuk membantunya menguak rahasia masa lalunya, membantunya melepas Segel yang mengekang di tubuhnya. Tapi Zheng Tian malah melanggar kata-katanya dan meninggalkan Liu Ying sendirian di dunia yang penuh keserakahan ini.
Munafik.
Bagi Liu Ying, tindakan itu tidak ubahnya bagai seorang pecundang. Liu Ying bersumpah tidak akan menganut sifat-sifat tersebut sepanjang hidupnya.
"Gu Niang?" lirih Qin Yueyin mencoba menyadarkan Liu Ying.
"Kakek tua itu, Bedebah! Dia tidak ada bedanya dengan Xi Guan si pemarah, mereka tidak peduli pada pendapatku, mereka selalu bertindak sesukanya."
Qin Yueyin menepuk-nepuk pelan bahu Liu Ying. "Gu Niang?!"
"Sekarang aku tahu, kenapa Nenek Zhou selalu memperingati tentang jangan mudah mempercayai orang asing. A'Yue, dunia memang munafik." Liu Ying mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Qin Yueyin yang tidak paham pun hanya mengangguk saja. Sementara itu, Liu Ying sudah menghilang ke balik pintu mengembuskan kekesalannya.
Gadis itu merasa bersalah karena tidak memberitahu lebih awal tentang keberangkatan Zheng Tian, ia tidak menyangka bahwa Liu Ying akan bereaksi semarah itu.
__ADS_1
***
"Apa?!"
"Iya, kami harus ikut ujian YuTong," tegas Fang Yao sekali lagi.
Zhou Li terperanjat kaget. "Memangnya kalian mampu? Aku sudah bertanya kepada Tetua Du tentang semua persyaratannya, jikalau kalian mampu tidak akan menutup kenyataan bahwa kalian tidak layak."
"Jangan meremehkan kami. Aku tahu kalau waktu latihan sempit, aku juga tahu bahwa kami tidak pernah menggapai prestasi selama ini. Tapi kami akan berusaha," bujuk Fang Yao.
"Bukan begitu. Maksudku jika kami memberikan pengecualian, bukankah tidak adil untuk murid lain?"
"Ayo lah, Tetua Zhou. Aku mohon, sambung Jia Li sambil menempel manja.
Zhou Li menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Begini. Karena lebih sering memperhatikan kalian, aku jadi sering dicap pilih kasih oleh beberapa Tetua. Terlebih aku masih dicurigai mengenai kasus Liu Ying, usulanku kemungkinan tidak akan ditanggapi."
"Meskipun ingin, aku sama sekali tidak bisa membantu kalian."
"Aiyya, Tetua Zhou! Kau ini sangat tidak setia kawan," desah Jia Li putus asa.
Dua bocah itu langsung bermuka masam, Zhou Li hanya tersenyum kecut menanggapinya.
Setelah beberapa saat memandangi kedua muridnya itu, Zhou Li sedikit merasa kasihan. "Kalian seharusnya mendatangi Ketua secara langsung, menantangnya dan mengadakan taruhan."
"Maksudmu?" alis Fang Yao mengerut karena bingung.
"A'Li, kau pintar bermain Weiqi kan?" tanya Zhou Li sedikit antusias, tanpa menjawab pertanyaan Fang Yao.
Gadis itu mengangguk kuat-kuat, sedikit mengerti maksud dari Tetua-nya itu.
"Tetua Zhou, apa kau sedang mengolok-olok kami dengan bermain Weiqi?" protes Fang Yao sesegera.
"Benar!"
"Tetua Zhou, kau--"
__ADS_1
"Bermain satu putaran dengan Ketua, adakan taruhan untuk mengikuti ujian YuTong. Sisanya tergantung kemampuan kalian, aku tidak bisa campur tangan lagi."
...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh. ...