
Xi Guan tertawa lantang saat mendengar pernyataan dari dua bocah di hadapannya, ia bahkan sempat mengusap sudut matanya yang sedikit berair.
"Bocah Tengik, kau berpikir untuk menantangku?"
"Lupakan saja, aku terlalu sibuk untuk meladeni permainan anak-anak dengan kalian," desis Xi Guan dengan malas.
Fang Yao terlihat tidak senang saat Xi Guan meremehkan mereka. Ia menarik Jia Li untuk mundur dan menyerah saja, namun gadis itu malah semakin bersemangat.
Jia Li tersenyum miring menanggapi jawaban pedas dari ketua sektenya itu. "Ketua Cheng, apa kau takut kalah? Ayolah, lagipula bermain satu atau dua putaran tidak akan banyak memakan waktumu."
Xi Guan langsung kentara dibuatnya, Jia Li ini meskipun payah dalam bela diri, tapi kemampuan berbicaranya lumayan bagus. Xi Guan sampai menggeram dibuatnya.
"Jika kami menang, kau harus mengikutsertakan kami dalam ujian YuTong. Sebaliknya jika kau yang menang, kau boleh mengeluarkan kami dari sekte," lantang Jia Li dengan penuh percaya diri.
Selain pandai berbicara, kemampuan Jia Li dalam bermain Weiqi juga tidak perlu diragukan. Ia cukup mahir karena sering berlatih tanding dan menemani Pak Tua Jiang Shuai di saat-saat santainya.
Xi Guan terkekeh getir, panah sindiran itu menancap tepat di ulu hatinya. "Cih, lidahmu lihai juga. Kau mencoba mengambil keuntungan dari kerugian, licik."
"Xiao Li, bukankah tujuanmu mengikuti ujian ini adalah untuk keluar sekte?" tanya Xi Guan retorik.
Jia Li dan Fang Yao saling bertatapan, memberi kode satu sama lain selama beberapa waktu.
"Begini, Ketua Cheng. Kau bisa menetukan sendiri konsekuensinya, kami akan menerima tanpa syarat." kali ini Fang Yao yang angkat bicara.
Xi Guan hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, dua bocah di hadapannya mulai terlihat antusias.
"Bisa saja, tapi aku tidak punya waktu."
Wajah Jia Li yang tadinya bersemangat, kini kembali berubah datar. Xi Guan hendak beranjak dari tempat itu, ia sepertinya tidak akan pernah memberikan kesempatan.
Entah ada masalah apa dengan lelaki tua di hadapan mereka ini. Jika saja tua bangka itu bukanlah ketua sekte, Jia Li pasti sudah memakinya.
Sementara itu, ekspresi Fang Yao tidak dapat diartikan. Tidak tahu dari kapan wajah itu selalu dingin saat menatap Xi Guan, ia terlihat menarik diri dan rasa tidak suka yang terlihat kentara.
"Ketua sangat berhati dingin, pantas saja Liu'er tidak pernah mengakuimu." Jia Li menggerutu pada dirinya sendiri, ia mengecilkan volume suaranya agar Xi Guan tidak dapat mendengar apa yang dia katakan.
Namun ia salah besar, Xi Guan memberhentikan langkahnya. Seketika itu Jia Li mematung di tempat, Xi Guan menatap Jia Li dalam.
Meski tidak terlihat, mereka dapat merasakan ada aura intimidasi dari Xi Guan. Lama mereka saling terpaku, akhirnya pembicaraan kembali dibuka.
__ADS_1
"Kesempatan hanya ada sekali," desis Xi Guan kembali melangkahkan kakinya, tapi kali ini menuju ke arah gazebo yang dikelilingi kolam teratai.
Di sana ada sebuah meja kayu bundar dan empat buah kursi senada, dengan tambahan sebuah papan Weiqi beserta dua mangkuk yang berisikan bidak berlainan warna.
Dengan raut tanda tanya, Jia Li dan Fang Yao mengikuti Xi Guan dari belakang. Sudut bibir gadis itu terangkat naik dengan tipis.
Xi Guan segera duduk, diikuti dengan Jia Li di kursi yang berlawanan dengannya. Sementara itu Fang Yao berada di sisi tengah yang menjadi antara mereka.
"Jangan mengecewakanku."
Xi Guan mengambil mangkuk yang berisi bidak hitam, memasukkan tangannya ke dalam meraih benda bundar nan kecil itu.
Kini Jia Li menjadi serius, ia melakukan hal yang sama dengan mangkuk bidak berwarna putihnya. Dengan begitu, Xi Guan langsung membuka permainan dengan meletakkan satu bidaknya tepat di tengah papan.
Tak mau kalah, Jia Li meluncurkan serangan dengan menghadang bidak hitam untuk menandai wilayahnya. Xi Guan mengelus jenggot sambil berpikir beberapa saat sebelum kembali melempar bidak.
Mereka akhirnya saling bertukar serangan. Bisa dibilang kemampuan mereka hampir berimbang, namun Xi Guan sedikit lebih unggul.
"Boleh juga kau, Xiao Li" Xi Guan terkekeh pelan tanpa mengalihkan matanya dari papan Weiqi.
Tak bisa disembunyikan, jelas sekali bahwa pria tua itu lumayan kewalahan menghadapinya. Tapi demi melindungi harga diri atas usia yang tak lagi muda, Xi Guan membuat ekspresi sedatar mungkin.
Jia Li melirik Fang Yao memberi isyarat ketika Xi Guan sibuk mengamati susunan bidak yang sudah saling mengunci, pemuda itu tersenyum seolah paham dengan maksudnya.
'Celaka,' batin Xi Guan saat bidaknya sudah tidak bisa lagi berjalan.
Jia Li tersenyum kemenangan, ternyata setiap langkah Xi Guan sudah menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Saat itu terjadi, Jia Li sudah meletakkan bidak untuk memblokir susunan bidak hitam.
"Tampaknya, Ketua sudah tidak punya jalan keluar," tukas Fang Yao menyiratkan kemenangan.
Pria tua itu memandang mereka secara bergantian dengan ekspresi tidak terima. "Tidak mungkin, ini pasti karena aku terlalu lengah. Kita ulangi lagi!"
"Ketua, ini keterlaluan sekali. Jelas-jelas aku sudah memenangkan permainan," Jia Li langsung berdiri sangkin kesalnya.
Fang Yao juga merasa heran dengan sikap Ketuanya yang selalu bersikap adil kini tiba-tiba tidak mau mengakui kesalahan.
"Ketua Cheng, ini benar-benar tidak adil. Kau tidak boleh curang." Fang Yao balik menatap Xi Guan.
Apapun ceritanya, yang jelas Xi Guan sebagai kepala sekte yang mempunyai hobi bermain catur tetap tidak boleh kalah dengan anak muda bau kencur di hadapannya.
__ADS_1
Xi Guan benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi, ia berpikir bahwa Jia Li hanya beruntung saja.
Jia Li meremas bidak di telapak tangannya kuat-kuat. "Kau harus menepati perjanjian, kau harus memperbolehkan kami mengikuti ujian YuTong."
"Ini bukan masalah ujian, tapi menyangkut harga diriku-!" Xi Guan menggebrak meja dan menimbulkan suara berisik.
Alhasil percekcokan itu menarik perhatian para penghuni sekte, murid-murid dan para tetua mulai berkumpul untuk mencari tahu apa yang terjadi.
"Kali ini lagi, kita bermain satu putaran lagi. Jika aku kalah, maka aku akan mengakui dan mengabulkan keinginan kalian," amuk Xi Guan membuat semakin banyak orang berdatangan.
Jia Li mengangguk kepada Fang Yao sebagai isyarat, Fang Yao pun membalas hal yang sama.
"Baiklah." Jia Li kembali duduk dengan tenang, "Satu putaran ini ditonton banyak saksi, mengalahkanmu sekali lagi bukanlah sebuah masalah besar."
Kini para penonton bersorak ria saat permainan kembali dimulai, giliran Jia Li yang memegang bidak hitam. Gadis itu melempar banyak serangan mematikan, membuat lawan mainnya mengerutkan kening.
Dengan percaya diri lagi-lagi Jia Li memblokir semua bidak putih yang ada hingga tidak dapat bergerak lagi.
"Ulangi, ulangi sekali lagi!!"
"LAGI-!"
.
.
.
Dajia hao!
Setelah sekian lama saya menghilang dari dunia kepenulisan, akhirnya come back dengan membawa chapter baru. Saya minta maaf juga karena menghilang tiba-tiba, sebab saya sedang sibuk mengurusi studi yang merepotkan.
Saya sekarang sedang fokus mengejar PTN, ditambah lagi UTBK akan segera tiba. Jadi mohon dimaklumi jika pola update tidak menentu, sebab saya menulis cuma di kala ada waktu.
Doakan Cici, semoga lulus PTN di jurusan impian. Dan doakan Author ini sehat selalu, agar bisa memproduksi chapter-chapter selanjutnya.
♡ ♡ and ♡
.
__ADS_1
.
...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh....