Immortal Fire

Immortal Fire
Chapter 54 : Jejak Kasar


__ADS_3

Gu Hao melesat menuju gazebo, Xi Guan yang tengah duduk bersantai langsung menoleh ke arah murid pribadinya yang tiba-tiba terlihat tergesa-gesa menghadapnya.


"Lapor, *Shifu. Jejak adik seperguruan telah ditemukan."


Xi Guan menoleh kaget. Ia kemudian bertanya, "Jelaskan dengan perlahan, apa yang kalian temukan?"


Nafas Gu Hao yang tidak beraturan karena berlarian tadi, kini dia mencoba menstabilkannya dengan perlahan.


"Ada kabar yang beredar di kota Liang, bahwa seorang pendekar hebat menghajar sekelompok orang aliran hitam dan menyelamatkan utusan Biro Heise yang melewati pinggiran kota saat malam hari. Murid bersama Adik Fu menyelidiki lebih jauh, menemukan bahwa pendekar itu adalah pengembara. Ciri-ciri tubuhnya juga dikabarkan sangat mirip dengan adik seperguruan."


Gu Hao menjeda sesaat sebelum kembali melanjutkan penjelasannya. "Kami sangat yakin bahwa pendekar yang digambarkan itu adalah adik seperguruan. Meskipun para saksi mata mengatakan bahwa pendekar itu adalah seorang pria muda, mengingat bahwa..."


"Baiklah."


Xi Guan mengangkat tangan kanannya dan menggangguk paham. Dia pastinya sudah mendapatkan gambaran pasti mengenai penjelasan Gu Hao, Xi Guan tidak meragukan hal itu.


"Di mana kalian bisa menemukannya?" tanya Xi Guan lebih santai dari sebelumnya.


"Shifu, berdasarkan jejak kasar yang ditinggalkan, seharusnya adik seperguruan sudah tidak jauh dari ibukota. Kami tidak dapat menemukan lokasi pasti, tapi kebakaran di Rumah Penjualan Manusia kota Nanping jelas berhubungan dengannya."


Xi Guan menopang dagu sembari bergumam pelan, "Baru satu bulan keluar dari sarang, sudah bisa membuat masalah dan menarik perhatian banyak pihak. Aku akui bocah itu cukup hebat, tapi..." pria tua itu menyunggingkan senyum miring.


"Dia sudah melampaui batas."


Gu Hao menundukkan kepala sambil menunggu perintah sang guru, akhirnya Xi Guan menoleh ke arahnya lagi.


"Anak itu memang sedikit semberono saat mengambil tindakan. Awasi dia selagi tidak mengancam identitasnya untuk saat ini, jangan terburu-buru," tukas Xi Guan.


Gu Hao mengangguk atas perintah gurunya, ia segera beranjak dari sana setelah berpamitan.


Sementara itu, di kediaman Zhou Li, dua orang murid sedang berlatih dengan serius. Awalnya memang serius, tapi setelah beberapa lama, dua murid pembawa masalah itu kembali membuat masalah. Zhou Li mengawasi sambil sesekali membetulkan posisi mereka menggunakan tongkat kayu.


"Xiao Li, perhatikan tanganmu." Zhou Li memukul siku bagian bawah Jia Li.


Dengan malas Jia Li mengulang kembali gerakan yang salah tadi, namun tetap saja Zhou Li memukul tangannya. Wajahnya menjadi merah karena berjemur di bawah terik, juga menguras banyak energinya.

__ADS_1


"Aiyyo, Tetua Zhou. Mari beristirahat sebentar, aku sangat lelah," rengek Jia Li untuk yang kesekian kalinya.


Fang Yao sudah mulai jengah dengan keluhan yang sejak tadi terlontar dari mulut Jia Li, dia kemudian menyahut, "Tidak masalah, kau boleh beristirahat semaumu. Tapi jangan pernah bermimpi untuk keluar sekte lagi, dunia luar tidak menerima orang lemah."


Mendengar itu, mata Jia Li mendelik tajam. "Fang Yao! Kau mau cari mati?"


"Memangnya, dengan tangan bengkokmu itu, aku bisa mati?" balas Fang Yao menyulut api.


"Bengkok, katamu?!"


Perang akan kembali dimulai. Sebelum itu benar-benar pecah, Zhou Li melayangkan tongkat untuk memukul kaki Fang Yao. "Bocah Fang, kau lebih baik tutup mulut. Sementara kau, Xiao Li, jika tidak mau tanganmu benar-benar bengkok, maka lakukan gerakanmu dengan benar."


"Kalian berlatihlah dengan benar, aku punya sesuatu yang harus diurus. Aku akan kembali beberapa menit lagi," ucap Zhou Li kemudian setelah melihat Gu Hao keluar dari gazebo Xi Guan.


Zhou Li langsung berjalan mengejarnya, mengikuti Gu Hao ke kediaman Bei dan menghilang di balik belukar bunga mawar yang sangat rimbun.


Suasana kembali menjadi bosan, menjadi patuh sangatlah tidak menyenangkan.


Jia Li merapatkan bibirnya dengan kesal, dia mengulang kembali gerakannya dengan lesu. Namun Fang Yao sepertinya masih belum puas mengusilinya, pemuda itu menjulurkan lidah sebagai ledekan kepada Jia Li.


"Jia Li!" teriaknya dengan marah.


Sementara itu, Jia Li yang menyadari bahwa dia telah berlebihan langsung menundukkan kepalanya. "Aku minta maaf. A-aku... Sungguh menyesal."


Fang Yao langsung memelototinya dengan tajam. "Kau sudah sangat keterlaluan, Jia Li. Bagaimana jadinya jika aku tidak menghindar, kau mau membuatku kehilangan kepala?!"


Jia Li menggigit bibir bawahnya. Gadis itu menghampiri Fang Yao dan mulai memeriksa kepalanya.


"Lagi pula, kepalamu tidak benar-benar terbentur. Kenapa kau harus membesar-besarkannya?" ucap Jia Li cemberut.


Namun Fang Yao benar-benar tidak setuju dengan perkataannya, Jia Li ini memang tidak tahu di mana letak kesalahannya sendiri.


"Oh, jadi kau tidak menyesal?" geram Fang Yao.


Jia Li mencebikkan bibirnya, "Kau ini senang sekali membesar-besarkan masalah kecil. Aku kan sudah minta maaf, kenapa kau masih membahasnya?!"

__ADS_1


"Masalah kecil?" ulang Fang Yao tidak terima. "Kau bahkan tidak merasa bersalah. Jia Li gadis bau, aku tidak mau berteman denganmu lagi. Kau menyebalkan."


"Kau pikir aku mau berteman denganmu? Jika saja Liu'er ada di sini, dia pasti akan memukul kepalamu karena menggangguku," balas Jia Li tidak kalah sengit.


Fang Yao menjentik kepala Jia Li dengan keras, kemudian berbalik mendatangi kursi untuk duduk di atasnya. Rasa kesalnya menggebu-gebu, tapi dia adalah pria dan Jia Li hanyalah seorang gadis. Bagaimana dia akan melawan? Itu akan melukai harga dirinya.


Saat Zhou Li kembali, suasana sudah menjadi hening. Dia menghampiri Jia Li untuk bertanya, ia dapat melihat masalah dari wajah mereka.


"Xiao Li, apa yang terjadi?"


Namun Jia Li hanya menggeleng murung dengan mata yang berkaca-kaca, hal itu membuat Zhou Li menjadi kebingungan.


"Bocah Fang, apakah ada masalah? Aku baru pergi sebentar, kenapa kalian sudah tidak berbicara?" Zhou Li memberikan tatapan bertanya kepada Fang Yao, pemuda itu mengalihkan pandangannya.


Jia Li mendekatinya kemudian memeluk Zhou Li dengan sedih. "Tetua Zhou, aku merindukan Liu'er. Fang Yao semakin menyebalkan, dia berani menggertakku saat Liu'er tidak di sini."


Tanpa melepaskan pelukannya, Jia Li menangis dengan cengeng. Zhou Li yang merasa kasihan pun membelai kepala gadis itu agar dia berhenti menangis.


"Fang Yao, apa yang telah terjadi?" tanya Zhou Li lagi, namun Fang Yao tidak bergeming. "Kalian bertengkar?"


Pertanyaan Zhou Li selalu dijawab oleh keheningan, seolah pertanyaan itu hanyalah angin yang lewat saja.


Menyerah dengan ego, Fang Yao mendekati Zhou Li dengan Jia Li di pelukannya, pemuda itu mengusap kepala Jia Li. Dia sedikit menyesal memarahinya setelah melihat gadis itu menangis tersedu-sedu, tidak tega melihatnya sesedih itu.


"Sudahlah, Jia Li, jangan menangis lagi. Aku minta maaf sudah membentakmu, lain kali tidak akan kuulangi," bujuk Fang Yao.


Namun Jia Li malah merengek kesal, dia melepaskan pelukannya pada Zhou Li sebelum tinjunya menghantam bahu Fang Yao.


"Saat bertemu Liu'er, aku akan mengadukan semua kelakuanmu."


Fang Yao tersenyum miring, dia pun berkata, "Aku juga akan mengadukanmu karena tidak mau berlatih dengan benar. Kita akan melihat, Liu'er akan marah pada hal apa."


"Fang Yao, kau bajingan!" kutuk Jia Li sekali lagi.


----~----~----~----

__ADS_1


*Shifu : Guru


__ADS_2