
Liu Ying merasa gusar malam itu, ia sama sekali tidak bisa mengistirahatkan matanya barang sedetikpun. Ia akhirnya bangkit dari ranjang kayu tanpa alas itu dan mengendap-endap keluar.
Rasanya angin malam membawa suatu kerinduan yang amat sangat ke hati Liu Ying, membuatnya terus melangkah di sekitaran kota yang mulai sepi itu.
Orang yang berlalu lalang mulai berkurang karena malam semakin larut. Meski begitu, Liu Ying tetap merasa sunyi dan hampa.
Liu Ying menaiki salah satu atap dari bangunan yang ada di sana kemudian duduk di kayu penopang paling atas atap itu. Gadis itu mengeluarkan sebungkus kacang yang disangkut di pinggangnya.
Ia mulai memutar ulang semua hal yang ia rindukan, tak dapat terbiasa dengan keheningan yang membuatnya kesulitan bernapas.
Tidak ada kebisingan Jia Li dan Fang Yao saat bertengkar, tidak ada teriakan maut dari pak tua Xi Guan, tidak ada gosipan panas yang dibawa oleh Zhou Li dari luar sekte, tidak ada lagi kelas berpedang dan adu mulut dengan Gu Xiulei.
Malam itu Liu Ying lewati dengan kesepian dan nostalgia, melempar kulit kacang ke sembarang arah dan sesekali menutup matanya.
Liu Ying berpikir mengenai apa tujuan sesungguhnya? Kenapa ia lari dari Sekte dan meninggalkan segalanya hanya untuk lari tak tentu arah.
Rasa menyesal juga meliputi dan membuatnya terdistorsi oleh pemikirannya sendiri, kenapa?
Kenapa dia begitu beraninya melangkahkan kaki ke dunia yang bahkan tidak dia kenali sama sekali?
Apakah ini satu-satunya cara terbaik yang tak ada cara lain untuk mengatasinya?
Bahkan Liu Ying sendiri tidak mengetahui kemana langkah kaki membawanya, berandai jika akumulasi waktu melambat agar ia dapat lebih lama merasakan kehangatan itu.
Apa itu kehidupan dan bagaimana cara mencapai tujuan hidup, adalah hal sederhana yang tidak dapat dipahami sedikitpun oleh akalnya.
Apakah menjadi pendekar berbakat yang terkenal, atau menguasai seluruh dunia seperti ambisi kebanyakan orang?
Entahlah, saat ini Liu Ying hanya membutuhkan kehangatan dan tempat bersandar sampai ia benar-benar siap untuk menghadapi kehidupan yang sebenar-benarnya.
Siliran angin malam sangatlah membuai mata, Liu Ying tidak punya air mata untuk membuat situasi menjadi sedramatis mungkin.
__ADS_1
Yang jelas, ia harus mencari apa sebenarnya arti kehidupan ini.
Lama kelamaan, Liu Ying mulai merasa udara semakin dingin. Ia memutuskan untuk segera kembali dan beristirahat untuk menambah energi bekerjanya hari esok.
Namun, sebelum sempat turun dari atap rumah itu, Liu Ying mendengar suara pertempuran di dalam radarnya. Sepertinya pertarungan itu tak jauh dari lokasi Liu Ying saat ini, terdengar jelas suara beberapa orang tengah beradu pedang.
Liu Ying segera mengedarkan pandangan dan berjalan mencari sumber kebisingan itu, namun keadaan gelap membuatnya kesulitan untuk menemukannya.
Dengan cekatan gadis itu melompati satu demi satu atap perumahan yang ada di sana agar dapat melihat dengan jelas.
Dalam keremangan malam, Liu Ying dapat melihat sekelompok orang tengah bertarung melawan satu sama lain. Sekelompok orang berpakaian merah darah itu menyerang sekelompok orang berpakaian putih.
Liu Ying dapat melihat bahwa orang-orang berbaju merah itu hendak merebut suatu benda dari orang-orang berbaju putih, tampak kelompok perpakaian putih itu mati-matian mempertahankan benda yang ada pada mereka.
Kelompok merah itu terlihat memiliki keahlian yang lebih tinggi dibandingkan lawannya. Bagaimana tidak, dalam waktu sepuluh menit saja, sekitar empat orang berbaju putih itu telah tumbang ke tanah dan kehilangan nyawa.
Melihat itu, Liu Ying tidak mampu menahan tangannya untuk menarik pedang dari sarungnya. Liu Ying segera menghambur maju ke tengah-tengah dua kubu manusia itu.
Netranya mengedar dan menangkap beberapa sosok yang kini menatapnya kaget, namun orang-orang berbaju merah memiliki pertahanan yang cukup kukuh.
Mereka tidak menunggu lebih lama melainkan langsung menyerang Liu Ying tanpa menanyakan kemana ia berpihak, langsung saja sekitar enam mata pedang itu mengarah kepada Liu Ying.
Karena cepat tanggap, Liu Ying masih dapat menghindari serangan kelompok itu meski dengan sangat tipis. Patut diberi apresiasi, kekompakan mereka benar-benar mengagumkan.
Liu Ying melakukan gerakan menusuk pada bagian perut salah satu dari mereka, namun orang itu memiringkan badannya ke kanan sehingga membuat serangan Liu Ying meleset.
Orang itu berusaha memiting Liu Ying, tapi malah berakhir dengan tangannya diputar ke arah berlawanan.
Liu Ying berusaha mempersempit jarak mereka agar memudahkannya menebak serangan. Mendapat sebuah ide, Liu Ying menedang tanah berpasir di bawahnya ke arah lawan, fokus mereka kacau seketika.
Liu Ying tidak mau buang-buang waktu, langsung saja ia megaksikan pedangnya dibawah kendali, menebas dengan pola berurutan seperti yang pernah diajarkan Zhou Li kepadanya.
__ADS_1
Dua orang dari formasi mereka langsung jatuh mencium tanah dengan luka yang lumayan parah. Orang-orang berbaju putih menatap kagum melihat performa Liu Ying.
Tampak salah seorang yang sepertinya menjadi pimpinan dari kelompok tersebut menggeram marah, ia tidak terima kelompoknya dikalahkan begitu saja.
Gelagat orang itu terlihat mencurigakan, ia menyembunyikan tangan kirinya di belakang badan. Setelah beberapa saat, ia langsung menerobos menyerang Liu Ying sendiri, sehingga membuat formasi yang baru mereka susun kembali terpecah.
Seperti sebelumnya, Liu Ying selalu siaga. Liu Ying tersenyum bangga saat melihat gerakan kelompok itu tak lagi seirama.
Namun semua itu tidak berlangsung lama, pimpinan kelompok itu melayangkan tangan kirinya ke arah Liu Ying. Sesegera itu energi Yang-- yang cukup besar menyengat dada Liu Ying.
Orang itu terus menekan tangannya di sana dan menyalurkan energi yang lebih besar lagi.
Awalnya Liu Ying merasa seperti dihantam batu besar sehingga membuatnya mengerang kesakitan. Namun lama-kelamaan, energi itu malah seperti terserap masuk dan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Sang lawan yang tadinya sudah merasa menang malah kaget dibuatnya.
"Bagaimana bisa!?" orang itu menarik tangannya kasar dan mundur ke belakang.
Ditilik dari suaranya, sepertinya orang itu adalah seorang gadis yang masih remaja. Hanya saja wajahnya tidak terlihat karena ditutup oleh kain hitam.
Liu Ying menatap kedua tangannya karena merasa tubuhnya seperti penuh tenaga, namun tenaga itu berangsur menghilang dalam waktu yang tidak terlalu lama.
"Trik apa yang kau gunakan?!" teriak orang itu marah.
Ia tidak dapat mempercayai bahwa energi besar yang dia kumpulkan tidak berefek dan malah lenyap begitu saja. Meskipun lawannya tangguh, seharusnya energi panas sebesar itu memental, bukannya terserap ke tubuh lawan.
Selama ini yang dapat menyerap energi Yang dalam jumlah besar hanyalah orang yang memiliki spiritual jiwa berjenis api, dan orang-orang seperti itu hanyalah keturunan suku Phoenix yang memilikinya.
Bahkan jika seseorang memiliki jurus andalan berelemen api sekalipun, hal itu sama sekali tidak berhubungan dengan spiritualnya.
Umumnya keturunan suku Phoenix hanya memiliki energi Yang sepenuhnya, sehingga serangan api apapun hanya akan tersedot ke dalam meridiannya. Sedangkan orang normal memiliki energi Yin dan Yang dengan kadar seimbang, karena bila berlebih, hal itu memengaruhi kesehatan tubuh pemiliknya.
__ADS_1
Lalu, jika orang normal dapat menyerap energi Yang sebesar itu tentunya akan mati karena meridiannya akan terbakar dan tidak mampu menampung energinya.
...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh. ...