
Liu Ying mulai merasa udara menjadi panas dan rasa panas itu menjalar ke kepala, leher serta yang terparah adalah jantung.
Pimpinan orang berpakaian merah itu kebingungan saat melihat reaksi Liu Ying, ia kembali membuka serangan dengan memanfaatkan keadaan yang ada.
Orang itu menghidupkan kembali formasi, kemudian menyerang bagian leher yang merupakan pembulu arteri Liu Ying.
Tanpa mengurangi kelincahan, Liu Ying menggenggam lengan orang itu dan membanting tubuhnya ke tanah.
Panas, orang itu kaget saat menyentuh kulit Liu Ying yang suhunya sangat panas. Bahkan sangking panasnya, Liu Ying dapat disamakan dengan suhu besi yang disepuh.
Namun setelah menjatuhkan lawan, Liu Ying justru terduduk lemah dan merasa seluruh tubuhnya berdenyut nyeri. Liu Ying meringkuk memegang dadanya kesakitan, tubuhnya dipenuhi keringat yang bercucuran tiada hentinya.
Orang-orang berbaju putih hendak menghampiri Liu Ying, mencoba menolongnya. Namun keadaan mereka tak lebih baik dari Liu Ying.
Mata orang itu menyipit memandangi keadaan Liu Ying yang berubah drastis, ia dapat mengetahui dengan sekali pandang bahwa Liu Ying adalah seorang yang menyamar. Tapi ia tetap bertanya-tanya di hatinya mengenai orang misterius di hadapannya.
Orang itu mengibaskan tangannya memberi isyarat mundur kepada kelompoknya, kemudian mereka segera meninggalkan tempat itu meski tak mendapatkan benda yang mereka inginkan.
Akhirnya salah seorang dari kelompok orang berpakaian putih itu memberanikan diri untuk mendekati Liu Ying.
"Tuan, kamu sangat berterima kasih atas bantuan anda, kami akan berusaha membalas budi anda."
Liu Ying menggeleng, masih dengan dahi yang mengerut menahan sakit, "Tidak perlu ..."
Merasa Liu Ying terlalu sungkan, mereka memutuskan untuk memapah dan membantu Liu Ying berdiri. Namun Liu Ying segera menepisnya, mengisyaratkan mereka untuk pergi saja.
Liu Ying berusaha untuk berdiri sendiri, menotok satu titik di dadanya untuk menahan agar energi panas itu tidak menyebar terlalu jauh.
"Tu-tuan, kau baik-baik saja?" ucap salah seorang mereka ragu.
Liu Ying mengangguk sembari menetralkan kondisi wajahnya, "Katakan, benda apa yang kalian punya sampai-sampai diintai kelompok tadi?
Orang itu tampak ragu untuk membagi rahasia mereka. Liu Ying dapat menyadari itu, kemudian seolah bersikap tenang.
"Jangan khawatir, aku sama sekali tidak tertarik untuk mengambil benda kecil yang tidak berharga itu, aku hanya penasaran. Lagipula aku tidak terikat dengan sekte atau kelompok manapun, kau bisa memegang kata-kataku."
__ADS_1
Orang-orang itu saling berpandangan menuntut pendapat satu sama lain, akhirnya pimpinan mereka mengangguk pasrah. Lagipula Liu Ying sudah menyelamatkan nyawa mereka, sedikit bocoran tidak akan memberikan masalah.
"Sudahlah, tidak bisa ditutupi lagi."
Pria itu berdehem beberapa kali sebagai permulaan, "Sebenarnya kami adalah utusan dari Biro Heise, kamu ditugaskan untuk menjemput informasi rahasia oleh salah seorang bangsawan kota Jiangnan."
Liu Ying menyimak dengan sangat seksama, "Lalu, informasi apa itu? Kenapa begitu rahasia?"
"Informasi ini, berisi tentang penyelidikan mengenai operasi rahasia pencarian Dekrit Tuhan da-"
"Dan senjata Surgawi?" sambung Liu Ying kemudian mengulas senyuman.
Orang itu mengangguk membenarkan. Sebenarnya Liu Ying masih merasakan denyutan dan aura panas di tubuhnya, namun ia menahannya agar dapat memuaskan rasa penasaran yang sedari tadi menggelayuti.
Liu Ying membungkuk dan mendesah lelah, "Beritahu, apakah hal ini berhubungan dengan pendekar misterius bernama Huo Yang?"
Orang itu mengangguk lagi, namun kali ini dengan pandangan yang menyiratkan keterkejutan, "Tu-tuan, apakah mungkin kau menanyakan sesuatu yang lebih kau ketahui dibanding kami?"
Liu Ying tidak berniat menjawab dan malah balik bertanya, "Katakan padaku, apa isi benda kecil itu?"
Sejenak mereka menjadi hening, Liu Ying mungkin telah salah menanyakan.
Liu Ying tenggelam dalam pikirannya selama beberapa saat, semua hal yang didapatnya baru-baru ini sangatlah fantastis. Liu Ying harus mengetahui lebih dari ini.
"Baiklah," balas, Liu Ying santai.
"Oh, Iya. Dari mana asal kalian tadi?"
Sekelompok orang itu memperlihatkan tanda pengenal mereka.
"Kami berasal dari Biro Heise. Kami berhutang kepada Tuan. Jika Tuan berkenan, kami dapat membantu mencari informasi yang kau butuhkan selain ini."
Pimpinan kelompok itu memberikan tanda pengenalnya kepada Liu Ying, "Jika butuh bantuan, Tuan bisa mendatangi kantor pusat Biro Heise. Kami akan selalu siap membantu anda kapanpun itu."
Liu Ying menimbang-nimbang tanda pengenal Giok seukuran jempol itu, dengan warna keseluruhan putih dan tercetak satu kata berwarna hitam tepat di atasnya.
__ADS_1
"Heise? Menarik. Sekelompok orang berpakaian putih bersih, berasal dari Heise. Sepertinya, aku perlu berkenalan dengan Pen-desain pakaian kalian ini."
Orang-orang itu hanya mengulum senyum mendengar pendapat yang dilontarkan Liu Ying. Memang benar, terdengar sedikit aneh.
"Malam sudah terlalu larut. Kalau begitu, kami pamit undur diri."
Sekelompok orang itu menautkan kedua tangan dan membungkuk memberi hormat, Liu Ying juga melakukan hal yang sama.
Lamat-lamat Liu Ying memandangi kepergian orang-orang itu. Liu Ying terkekeh mengingat sebuah istilah yang sering didengarnya di pelajaran sastra.
'Awal melihat wajah, akhir melihat punggung'
Setiap pertemuan pasti menemui perpisahan. Orang-orang akan saling berpapasan seumur hidupnya, hanya menyisakan budi dan dendam yang senantiasa terkenang.
Lama tenggelam berdialog dengan dirinya sendiri, Liu Ying kemudian menyadari bahwa ia terluka saat rasa panas yang sejenak hilang itu kembali menjalar.
Sial! Bukankah aku sudah menekannya?
Rasa panas itu kini serasa membakar, Liu Ying mulai merasa kerongkongannya menjadi kering.
Dengan sempoyongan ia mencoba kembali ke rumah makan, tempatnya bermalam selama beberapa hari itu. Namun seseorang di keremangan cahaya bulan menghentikan langkah Liu Ying.
Sebuah suara berat dan serak seperti pipa tersumbat menyapa pendengaran Liu Ying, "Gadis bodoh, apa mau kubantu?"
Liu Ying menyipitkan matanya mencoba mendeteksi wajah orang yang tengah berdiri bersedekap di hadapannya, berjaga-jaga akan sesuatu yang akan terjadi.
Bukannya terlihat jelas, pandangan Liu Ying malah mengabur. Semua yang dilihatnya sudah tak lagi jelas dan menjadi buram.
Rasa panas yang sedari tadi ia tahan kini seperti ingin mendesak keluar dari tubuhnya, tetapi energi itu seperti terkurung dan tidak punya jalan keluar.
Liu Ying merasakan tubuhnya terhuyung ke belakang, namun sepertinya ditangkap oleh seseorang. Liu Ying ingin memberontak, tapi tubuhnya seperti tidak memiliki daya.
Samar-samar, Liu Ying mendengar sebuah kekehan seorang tua yang sepertinya tak lagi muda. Kemudian semuanya menjadi gelap, Liu Ying merasa tubuhnya diangkat.
Perlahan kesadarannya menjauh, masuk ke dalam lubang hitam yang kini menariknya. Liu Ying jatuh tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Pria tua itu mengangkat tubuh Liu Ying layaknya sekarung beras, kemudian mereka lenyap ditelan kegelapan malam.
...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh....