
"Sebenarnya aku pernah belajar di sekte yang sama dengan Hu Xian, dia adalah murid paling berbakat dan kukagumi di sekte. Namun dia tidak terlalu senang saat pertama kali aku memasuki Sekte Tombak Bersiul, dia selalu bersikap dingin saat aku sesekali menyapanya. Awalnya aku tidak tahu apa penyebab dia begitu, di akhir aku tahu ternyata adalah karena Guru Besar Mo sangat baik kepadaku. Bukan tanpa sebab, dari latar belakangku yang tidak biasa serta hutang budi yang dimilikinya dengan ayahku sehingga Guru Besar Mo sering melatihku secara khusus di kediaman pribadinya. Tampaknya itu membuat Hu Xian menganggapku sebagai saingannya," jelas Song Jun tanpa henti, Liu Ying sampai terperangah dibuatnya.
Liu Ying mengangguk paham mendengar penjelasan Song Jun yang panjang kali lebar, selebar tanah Huanlin.
Ia berkesimpulan bahwa antara Song Jun dan Hu Xian adalah rival, alasan itu cukup masuk akal. Guru Besar Mo patut disalahkan, tanpa sadar dia telah menabur perselisihan dan kecemburuan sosial antara sesama murid.
"Jadi, Tuan Muda Song, bisakah aku mendapatkan Pil Persik Biru itu?"
Song Jun ragu-ragu berucap, "Aku tidak yakin. Aku memang masih menyimpan satu botol lagi, tapi seseorang telah memesannya jauh sebelum itu."
Liu Ying menghela napas kecewa, jadi ternyata Hu Xian salah paham? Di mungkin mengira bahwa Song Jun berniat mempersulitnya karena hubungan mereka yang tidak baik, padahal Song Jun punya alasan lain.
"Ah, begini saja. Aku akan mengajakmu berkeliling untuk mencari beberapa Pil yang memiliki fungsi hampir mirip dengan Pil Persik Biru, hanya saja khasiatnya tidak sesempurna Pil itu. Jika kau berkenan..."
"Baiklah! Ayo pergi," potong Liu Ying sebelum Song Jun menyelesaikan kalimatnya.
Dengan cepat Liu Ying menarik lengan Song Jun seolah-olah ia adalah tuan rumahnya, pemuda itu terhuyung beberapa kali sebelum akhirnya mendapatkan keseimbangannya.
Song Jun menyamakan langkahnya dengan Liu Ying, tersenyum samar mengingat bahwa Liu Ying tidak tahu di mana tempat yang dimaksud.
Seolah tersadar, Liu Ying melepaskan pegangannya pada lengan Song Jun, sedikit memelan agar Song Jun berjalan di depannya.
"Ada apa Liu-Liu, kau melupakan sesuatu?"
Liu Ying menggaruk tengkuknya dan mengulum senyum. Orang yang melihatnya akan berpikir bahwa dia tersipu, namun sebenarnya Liu Ying sedang mengutuk berbagai sumpah serapah di kepalanya.
Dia menggeleng, "*mei you, kau jalan duluan saja."
Song Jun tertawa menanggapinya. Biar bagaimanapun, pertanyaannya tadi adalah retorik. Liu Ying pastinya sedikit kesal karena malu. Song Jun kemudian mempersilahkan Liu Ying untuk masuk ke sebuah ruangan yang sangat besar, ruangan itu dipenuhi oleh rak-rak yang berisikan benda-benda berharga di dalamnya.
__ADS_1
Liu Ying sempat terpanah pada beberapa pedang yang dipajang di dekat pintu masuk, 'benar-benar menakjubkan' pikirnya.
"Silahkan," ujar Song Jun.
Tanpa sadar bahwa ia sedang diperhatikan, Liu Ying tersenyum takjub. Namun ucapan Song Jun membuatnya kaget seolah tersadar akan kenyataan. Liu Ying mendekati rak pedang yang sedikit mencolok, menyentuh pelan salah satu dari pedang yang terpajang di sana.
"Wah, hebat sekali. Berapa kau menjual pedang ini?" tanya Liu Ying tanpa mengalihkan pandangannya.
Song Jun menghampirinya. "Sepertinya kau sangat tertarik dengan benda ini, kau sangat pintar menilai suatu barang. Nama pedang ini Mo Dexing, pedang terbaik yang pernah dikoleksi oleh Asosiasi ini. Namun sayangnya, itu tidak dijual."
Segera Liu Ying menarik kembali tangannya, sedikit kecewa dengan itu. "Baiklah. Mari, kita langsung saja mencari Pil yang kau maksud."
Saat hendak kembali berjalan, tiba-tiba seorang pengawal menghampiri mereka. Ia memberi hormat kemudian memberi isyarat agar Song Jun mendekatkan telinganya. Pelayan itu berbisik beberapa patah kata yang tidak jelas dan disambut oleh anggukan kecil dari Song Jun, Liu Ying tidak tahu apa yang dia coba sampaikan karena tidak mendengarnya dengan jelas.
"Kau berkelilinglah dulu, aku memiliki sedikit urusan yang penting. Aku akan kembali dalam dua puluh menit. Jika butuh sesuatu, kau bisa memanggil pelayan." Song Jun menoleh kepada Liu Ying dan merapatkan bibirnya, kemudian pamit undur diri. Pelayan yang tadi juga ikut mengekori di belakangnya.
Aula besar itu memang terlihat sangat sepi sehingga Liu Ying bisa bergerak leluasa semaunya. Namun di tengah-tengah kegiatannya tersebut, Liu Ying tidak sengaja menjatuhkan sebuah cincin giok ke lantai dan memental sedikit jauh dari tempatnya jatuh.
Liu Ying yang kalap langsung mencari keberadaan benda itu, ia mengitari lantai di sekitarnya tanpa mengalihkan pandang dari lantai di bawahnya.
Kilatan kecil muncul di balik rak sebelahnya, itu benda yang dia cari. Liu Ying langsung berjalan sedikit terburu-buru untuk mengambilnya. Sialnya dia malah menabrak sesuatu karena tidak terlalu memerhatikan jalan.
Liu Ying memental ke arah belakang setelah membentur sesuatu yang keras itu, ia terhuyung dan hendak jatuh menimpa lantai di belakangnya.
Sepersekian detik sebelum hal itu terjadi, sebuah tangan menangkap pinggang Liu Ying dan menariknya agar tidak membentur lantai.
Liu Ying mematung saat matanya berserobok dengan sepasang mata almond berwarna hitam pekat yang berada tepat di depan wajahnya, rahang yang tegas, bibir yang tipis. Sejenak Liu Ying tidak bisa mengalihkan matanya dari wajah itu.
Setelah lama saling bersitatap, Liu Ying terkejut saat tubuhnya kembali terhuyung ke belakang. Tapi kali ini dia tidak selamat, pinggulnya terlebih dahulu mendarat di tanah dan mengeluarkan bunyi 'Krak' membuatnya sontak mengeluh.
__ADS_1
"Hei-!" teriak Liu Ying dengan marah. Liu Ying berusaha bangkit dari posisinya dengan susah payah, ia kemudian berdiri di hadapan pria tadi sambil mengelus pinggangnya yang hampir patah itu.
Saat sudah berdiri sempurna, dia menemukan seorang berperawakan agung di hadapannya membuatnya terpaku untuk kedua kalinya. Anggun sekali, pikirnya.
Pria di hadapannya melakukan gerakan menepuk debu dari bajunya dengan ekspresi tidak merasa bersalah sama sekali. Liu Ying menepis pikiran buruknya tiba-tiba dan menghampiri orang itu.
Wajahnya memerah padam. "Kau...! Kurang ajar sekali, kau hampir mematahkan pinggangku menjadi dua!"
Orang yang dimaksud malah menatap Liu Ying dengan pandangan bingung, dia mengernyit sebentar lalu hendak berjalan melewati Liu Ying.
"Aku sudah menolongmu. Karena menabrakku dan mengotori bajuku, apa yang akan kau lakukan untuk membayarnya?"
Entah kenapa suara berat itu membuat darah Liu Ying berdesir kuat, kemudian memperbaiki ekspresinya untuk kembali normal. Pria itu telah membalikkan kata-kata, Liu Ying yang tidak terima langsung menghentikannya. Tentu saja Liu Ying tidak akan membiarkan dirinya ditindas dengan semena-mena.
"Kau menolongku? Lebih tepatnya mendorongku ke lantai." Liu Ying mengelilingi pria itu sambil memerhatikan bajunya sampai ke bawah. "Kau berasal dari keluarga bangsawan rupanya. Lalu, dari mana sifat kurang ajarmu itu datang?"
"Bagian mana yang kurang ajar?" Pria itu menoleh ke arahnya, mendekatkan wajahnya dengan tatapan dingin. "Aku sudah menangkapmu, memberimu waktu untuk berdiri dan menghindarkan tubuhmu dari bencana. Kau tidak memanfaatkan hal itu, jadi aku menganggap kau memang berniat untuk jatuh."
Liu Ying menegang dan menarik wajahnya ke belakang. Saat wajah pria itu tak kunjung menjauh, Liu Ying mulai terbata, "K-kau... I-ni sangat..."
Situasi mereka saat ini sangat canggung dan memalukan. Ditengah-tengah itu, suara seseorang mengagetkan mereka. Pria itu menghempaskan dirinya ke belakang, sementara Liu Ying juga langsung melompat mundur.
"Tuan Muda Xue, Liu-Liu!! Kalian..."
----~----~----~----
*mei you : tidak ada (tidak ada apa-apa)
...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh. ...
__ADS_1