
Hari menjelang tengah malam, Liu Ying mendekatkan tangannya dengan perapian untuk mengusir rasa dingin yang kian menusuk tulang.
"Kakek Tian, apa yang dimaksud dengan Elemen Jiwa?" tanya Liu Ying menghentikan aktivitas membacanya.
Ia meminjam beberapa buku-buku milik Zheng Tian untuk sekedar mengisi waktu luang, namun kegiatan itu menjadi asyik saat ia menemukan beberapa pengetahuan yang sebelumnya belum pernah ia ketahui.
Zheng Tian yang tengah berbaring itu menoleh ke arah Liu Ying tanpa mengubah posisinya. "Elemen Spiritual, ya? Baiklah, simak baik-baik."
Liu Ying langsung memfokuskan mata dan pendengarannya, menurunkan buku ke pangkuannya.
"Saat anak sepasang atau salah satu dari sepasang kultivator dilahirkan, mereka akan memiliki Elemen Spiritual. Jenisnya beragam dan cenderung disesuaikan dengan ilmu dan jurus yang akan diambil, karena akan saling berkaitan dan mendukung untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi."
Zheng Tian memiringkan badannya dan terlihat lebih serius, "Contohnya aku, aku memiliki elemen berjenis tanah. Aku menggunakan senjata Palu Penghancur bumi dan sebagian dari jurusku berhubungan dengan tanah."
"Di tingkat ini, kau setidaknya sudah melampaui enam puluh lingkaran Qi. Kau mulai bisa menentukan beberapa ilmu yang cocok untuk mendukung elemenmu."
"Kalau seseorang memiliki ilmu berbeda dengan elemennya, apa yang akan terjadi?" tanya Liu Ying penasaran.
Ia belum pernah membaca buku yang membahas tentang ini di Sekte, juga tak ada tetua yang pernah membicarakannya.
"Tidak akan terjadi apa-apa, hanya saja ilmu yang dia pelajari akan ditolak oleh elemennya. Jika seperti itu, maka jurusnya cenderung tidak sempurna dan tidak terlalu kuat. Dan menurutku itu rugi," jawab Zheng Tian diselingi kekehan.
Zheng Tian menjelaskan tentang pentingnya memilih satu jurus inti dan fokus melatihnya. Zheng Tian merasa senang saat Liu Ying banyak bertanya, hal itu membuatnya tak lagi kesepian.
Liu Ying balik menatap bukunya. "Kakek Tian, adakah master yang memilih ilmu atau jurus yang bertentangan dengan elemennya?"
Pertanyaan itu membuat Zheng Tian mencernanya sejenak. "Aku belum pernah mendengarnya. Tapi menurutku, siapa pula yang mau menyia-nyiakan Elemen Spiritual?"
Bibir Liu Ying membentuk huruf 'O' tanpa suara, Zheng Tian tersenyum melihatnya.
"Saat kau memanggilku Kakek, aku teringat kepada cucuku. Kurang lebih seusiamu." ucap Zheng Tian menerawang.
"Kau punya cucu? Dia tidak bersamamu, apakah dia tinggal bersama orang tuanya?"
Zheng Tian menengadah menatap taburan bintang di langit kelam itu.
"Tujuh tahun lalu, desa kami diserang sepasukan orang dari Sekte aliran hitam. Saat itu aku tengah melakukan tapa di gunung Kunlun, tak ada yang selamat termasuk putriku dan anak laki-lakinya."
__ADS_1
"Kalau dia masih hidup, mungkin sudah sama besarnya denganmu," ucap Zheng Tian pelan.
Liu Ying dapat merasakan sarat kesedihan dalam suaranya, sepertinya Zheng Tian sangat menyayangi putri dan cucunya.
"Lalu bagaimana dengan menantumu, apakah dia selamat?"
Zheng Tian terkekeh miris. "Bukan hanya selamat, dia juga kabur tanpa melirik sedikitpun mayat istri dan anaknya."
Sejujurnya Liu Ying turut merasakan kesedihan yang dialami Zheng Tian, ia merasa sedikit beruntung tidak pernah melihat orang tuanya, kehilangan itu menyakitkan.
Liu Ying mencoba tersenyum hangat. "Kalau kau mau, kau bisa menganggapku sebagai cucumu. Aku tidak keberatan."
Pernyataan itu membuat Zheng Tian tertawa pelan, ia menganggap ucapan Liu Ying sebagai lelucon.
"Anak muda, bukankah kau punya kakek. Kenapa kau malah menawarkan diri kepada orang asing?"
"Kau benar," jawab Liu Ying cepat. "Tapi dia lebih terlihat bagus menjadi kepala sekte dibanding menjadi kakek yang baik, dia menjengkelkan."
Zheng Tian terbahak, "Mungkin dia ingin terlihat adil, terlebih menjadi kepala sekte, tidak mudah untuk memenuhi kepentingan pribadi."
"Dia terkadang akan mengakuiki saat ada perjamuan, itupun kalau aku menonjolkan diri." Liu Ying melempar kerikil ke dalam api.
"Apakah orang seperti itu layak dipanggil kakek?" tanya Liu Ying murung.
Zheng Tian langsung bangkit dan menepuk bahu Liu Ying pelan. "Mungkin ada alasan khusus, membuatmu lebih mandiri misalnya."
"Aku tidak punya orang tua, seharusnya dia tidak mengabaikanku. Aku tidak pernah sekalipun mendapatkan senyumannya, apalagi perhatian."
"Dia hanya akan membentak, berteriak, memukulku, menamparku, bahkan menghina ibuku. Aku kabur karena dia berniat mengirimku ke Kuil An Ming untuk menjadi Biksuni." Liu Ying tersenyum miring.
Gadis itu menatap Zheng Tian dengan senyuman, tapi terkesan penuh harap. "Jadi, Pak Tua. Kau harus jadi kakekku, dan aku tidak meminta persetujuanmu."
"Aiyya, bocah nakal. Kau seolah menganggapku barang, aku ini master bela diri." ucap Zheng Tian disambangi dengan tawa.
Sejenak mereka larut dalam pemikiran masing-masing. Jika sudah membahas soal keluarga, siapapun akan jadi sensitif.
"Hei bocah, apa kau mau menjadi kultivator hebat?" tanya Zheng Tian tiba-tiba.
__ADS_1
Liu Ying mengerutkan alis, "Aku tidak pernah terpikir, selama ini aku hanya mengharapkan kebebasan. Bisakah aku?"
"Apa kau tidak punya ambisi? Semacam keinginan kuat yang membuatmu mau melakukan apapun." Zheng Tian balik bertanya.
Kalau dipikir-pikir, Zheng Tian ada benarnya. Liu Ying mulai tertarik dengan bahasan itu.
"Aku selalu ingin lebih kuat dari teman-teman seangkatanku, aku ingin menonjol dan dipandang semua orang." jawab Liu Ying antusias.
Mendengar itu, Zheng Tian mengulas senyum lebar. "Kalau begitu, aku bisa membantumu mewujudkannya. Aku tidak memiliki murid sebagai penerus jurus legendaris keluargaku."
"Jurus legendaris, apa menurutmu aku bisa mempelajarinya?" tanya Liu Ying agak ragu.
Pria tua itu menatap nanar, dengan binar semangat teratai di wajahnya. "Instingku mengatakan, kau bahkan bisa mempelajari berbagai jurus lebih baik dibanding siapapun. Kau istimewa."
Zheng Tian mengeluarkan lebih banyak buku lagi, meminta Liu Ying untuk memindai dan mengingat setiap katanya. Liu Ying hanya menurut saja, siapa yang tidak mau mendapatkan ilmu yang katanya legendaris itu secara gratis?
"Kau pernah mendengar istilah Tingkat Kesempurnaan Jiwa?" tanya Zheng Tian berikutnya tanpa mengalihkan pandangan.
Liu Ying mengangguk mengiyakan, ia pernah mendengar hal itu dari Zhuo Li meski tidak lengkap.
"Aku punya sebuah buku yang mungkin membahasnya, kuharap dapat sedikit membantu."
Liu Ying menyerahkan gulungan kayu kepada Zheng Tian, pria itu menganalisisnya sebentar kemudian kembali bicara.
"Kau harus mengumpulkan Qi murni untuk membangun kesetaraan jiwa, membantu mengalirkan tenaga dalam melalui tubuhmu. Ini akan membantu pada tahap awal kultivasi."
Zheng Tian menarik lengan Liu Ying, memeriksanya. Rasanya ia seperti menemukan hal yang aneh, ada energi yang bergerak tipis mengaliri nadinya.
"Nak, ada hal yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata sederhana, aku menemukan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih unik dibanding beberapa jiwa langka sebelumnya." Zheng Tian terlihat kaget dan kembali memastikan.
*Sorry banget akhir-akhir ini jarang Up, karena saya lagi sibuk mereport website yang udah mirror cerita ini. Rasanya sedih, stres dan kecewa banget.
Kalau kalian mau saya cepat Update secara teratur, mohon bantu saya untuk melaporkan website* : ****Novels2****
Sekian klasifikasi dari saya, Wo ai Nimen ♡
...Nihao! Jangan lupa Vote, komentar dan share cerita ini ke temen-temen kalian, Oghey!?...
__ADS_1