Immortal Fire

Immortal Fire
Chapter 40 : Melanjutkan Perjalanan


__ADS_3

Setelah beberapa hari mendapatkan perawatan dari Qin Yueyin, Hu Xian Dan Wei Ziyou berangsur-angsur membaik. Liu Ying juga banyak menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan mereka, meski tidak terlalu akrab dengan Hu Xian.


Liu Ying mendapat kabar baik mengenai kelanjutan perjalanan, ternyata Hu Xian tidak berniat menghentikan perburuan. Meski awalnya ditentang keras oleh Wei Ziyou, namun Hu Xian dengan dibantu oleh Liu Ying akhirnya dapat meluluhkan gadis itu.


Hu Xian beralasan bahwa ia ingin menambah wawasan dan pengalaman, sedangkan Liu Ying awalnya hanya karena krisis keuangan. Tapi ia merasa bahwa pemikiran Hu Xian ada benarnya, ini juga merupakan tantangan yang besar dan fantastis. Liu Ying tidak bisa melewatkan yang satu ini.


Tepat sepuluh hari sudah, Liu Ying menetap di tempat itu. Kini adalah waktu yang tepat untuk kembali melanjutkan perjalanan, ia harus kembali kepada tujuan utamanya.


Sekarang Liu Ying sedang bersiap-siap dan mengemas barang-barangnya. Ia mendapat sumber daya yang lumayan dari Qin Baoyu, entah apa budi Liu Ying sehingga wanita itu terus-terusan membantunya. Padahal Liu Ying sudah mendapatkan pengobatan gratis.


"A'Ying, kau sangat harus pergi sekarang?" tanya Qin Yueyin sendu.


Bagaimanapun juga, sepuluh hari bukanlah waktu yang singkat untuk mereka menjadi akrab. Qin Yueyin adalah teman Liu Ying.


"Seorang pengembara tetaplah seorang pengembara, tidak ada tempat di dunia ini untukku menetap. Saudari Qin, meski berpisah di sini, kita akan tetap menjadi teman. Tidak ada yang berubah mengenai hal itu," lontar Liu Ying menatap wajah Qin Yueyin lekat-lekat.


Qin Yueyin terlihat sedih, sedangkan Hu Xian tampak jenuh menunggu. Sesegera Liu Ying mendaratkan sebuah pelukan pada Qin Yueyin, begitu pula Wei Ziyou melakukan hal yang sama.


"Nyonya Qin, aku pamit." Liu Ying memberi hormat dengan menyatukan kedua tangannya kemudian membungkuk diikuti kedua rekannya.


Setelah mengucapkan salam perpisahan, mereka meninggalkan tempat itu. Qin Baoyu dan Qin Yueyin yang mengantar di depan teras mulai tampak menjauh, sebelum akhirnya menghilang di balik persimpangan dan pepohonan yang menutupi seluruh desa.


Tiga anak muda itu melangkahkan kaki ke luar desa Xue Nan, menatap dunia yang luas dan berbahaya yang menghadang di hadapan mereka.


Liu Ying kembali memulai perjalanan utama yang sempat terhenti, ia akan membuktikan kepada seluruh dunia bahwa dia mampu melampaui apapun. Baik Xi Guan maupun dewa, tidak ada yang bisa menghentikannya.


"Ying, kau tidak berbicara apapun sejak tadi. Ada masalah?" tanya Wei Ziyou yang berjalan di sebelah kiri Liu Ying.


"Tidak ada."

__ADS_1


Hu Xian berada tepat dua meter di depan mereka, memastikan tidak ada bahaya yang mengancam dari depan. Bagaimapun juga, bela diri Hu Xian lebih tinggi di antara mereka bertiga.


Selama berada di Layanan Kesehatan Qin, Liu Ying sudah menembus Pendekar Tembaga tingkat satu. Dia mendapatkan satu perkembangan yang lumayan bagus. Sementara Wei Ziyou masih berada di Pendekar Besi tingkat enam, berada enam langkah di bawah Liu Ying.


Tak berapa lama, mereka berhenti di sebuah hutan yang dipenuhi pepohonan bambu. Hu Xian mendengar teriakan dari tempat yang tak jauh dari mereka.


"Bau darah," gumam Liu Ying lirih, ia menegang saat memastikan bahwa aroma itu memang benar-benar aroma darah manusia.


Wei Ziyou menjadi siaga, dia segera mengeluarkan jimat kertas andalannya dan memasang kuda-kuda. "Ying, kau hati-hatilah."


Liu Ying mengangguk dengan tanpa menurunkan kewaspadaannya, dia bersiap-siap menarik pedang dari sarungnya, mengarahkan benda itu ke depan.


"Tidak jauh dari sini. Kalian ikut aku dari belakang, jangan membuat suara." Hu Xian menelusuri pagar bambu yang membentuk jalan itu.


"Cara tumbuhnya tak wajar, sepertinya bambu ini sengaja ditanam rapat-rapat untuk menyembunyikan sesuatu di sebelahnya," ucap pemuda itu lagi.


Liu Ying menggunakan Qinggong agar langkahnya tidak menimbulkan suara, ia merasa ada hal yang mengancam di radarnya.


Sangat mengejutkan, mereka justru menemukan bangunan lusuh nan besar di seberang sana. Tampak banyak penjaga mengelilingi tempat itu seolah menjaga sesuatu yang penting di dalam sana.


"Ge!"


"Sssssstt." Hu Xian meletakkan jari telunjuknya di bibir.


Liu Ying mencoba untuk melihat lebih dekat, menempelkan telinganya berharap mendengar sesuatu.


...***...


"Lapor Pimpinan An Lang, para pelanggan dari Mongolia itu sudah hampir menolak transaksi. Si bajingan Banzorig itu, jika kita tidak bisa mendapatkan sekurangnya lima ratus orang, dia akan melaporkan hal ini kepada Tuan Besar Batukhan agar tidak lagi menjalin kerja sama dengan kita."

__ADS_1


Tampak beberapa mayat bawahannya yang sudah mati, tergeletak di tanah dengan luka panjang di leher. Sisanya hanya menunduk takut dan menggigil, bisa saja mereka jadi yang selanjutnya.


Guratan kemarahan terpampang jelas dari pria tambun yang merupakan pimpinan kelompok itu, wajahnya tidak terlihat dengan jelas lantaran ia mengenakan topeng yang menutupi setengah bagian dari wajahnya.


"Tidak boleh begini. Kita sudah berusaha keras dalam bulan ini, setidaknya mereka sudah menerima sekitar dua ratus budak minggu lalu bagaimana bisa mereka berpikir untuk menghentikan transaksi?!" Pria yang dipanggil An Lang itu melempar botol anaknya ke tanah.


"Katakan pada bajingan itu untuk menunggu beberapa hari lagi, kita hanya butuh waktu." An Lang mengepalkan tangannya marah.


Si bawahan langsung beranjak pergi setelah mendapat perintah, ia tidak mau berlama-lama dan menjadi sasaran kemarahan pimpinannya itu.


Jantung Liu Ying perpacu dengan kencang, ia mencoba menganalisis dan memastikan hal yang telah didengarnya barusan.


"Xian, ini gawat. Mereka melakukan transaksi jual beli manusia!" Liu Ying tidak tahan untuk tidak menggeram.


Hu Xian menarik lengan Liu Ying mundur. "Kita tidak bisa ikut campur dengan masalah ini, tujuan utama kita hanyalah berburu Siluman."


Liu Ying frutasi dibuatnya. Jelas-jelas sesuatu di hadapan mereka adalah masalah besar, bagaimana bisa pemuda itu mengabaikannya?


"Xian, sadarlah! Apa kau akan membiarkan para Bedebah itu untuk menjual rakyat dari negaramu? Di mana kemanusiaanmu Xian, di mana?!"


Hu Xian terdiam sejenak, ia mengusap wajahnya kasar dan mulai emosi. "Kita tidak bisa melawan mereka. Mereka ada ratusan, ribuan, bahkan kira tidak bisa memprediksi jumlah mereka di dalam sana."


"Asalkan kau berani dan punya tekad yang kuat, kita bisa, Xian. Apa kau akan membiarkan ratusan nyawa tidak berdosa itu?"


"Astaga, apa kau gila?! Kalau pun kau punya tekad yang kuat, apa itu bisa melipat gandakan jumlah kita, apa kau akan mendapatkan kekekuatan superior yang diturunkan dewa?" suara rendah Hu Xian menandakan bahwa pria itu menekan emosinya.


"Kita tidak pergi untuk mencari kematian. Ada ratusan sandera berada di dalam sana, kita tidak bisa bertindak gegabah yang seketika saja dapat membuat nyawa mereka melayang," desis Hu Xian kalap.


Liu Ying seketika bungkam, ia mengepal kuat-kuat menahan kekesalannya yang meledak-ledak.

__ADS_1


"Kalau kalian takut mati, biar aku saja."


...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh....


__ADS_2