Immortal Fire

Immortal Fire
Chapter 55 : Rencana Kembali ke Ibu Kota


__ADS_3

"*Wang Ze, Tuan Muda Xue datang untuk menghadap," lapor salah seorang pengawal yang sedang berlutut di depan Wang Yan.


Pria muda itu tersenyum. Dia mengayunkan lengan kanannya sebagai perintah agar pengawal itu mempersilahkan tamunya masuk. Sang pengawal beranjak dengan patuh.


Wang Yan berperawakan tinggi dan terlihat gagah, namun di sisi lain, dia hanya anak raja yang dimanjakan. Terlebih kondisi tubuhnya yang lemah sejak lahir, dia hanya bisa mengandalkan pengawalan setingkat Pendekar Emas di sisinya.


Mengenai tingkatan pada ilmu bela diri bangsawan, maka Pendekar Emas adalah prestasi terbaik yang bisa diukir oleh kalangan mereka. Sementara tingkat di atasnya, biasanya hanya bisa ditembus oleh praktisi spiritual yang umumnya sudah dibekali berbagai ilmu dasar sejak kecil.


Adapun terhadap Xue Hongli, dia adalah satu-satunya dari keluarga bangsawan yang bisa menjebol prestasi tertinggi dan tidak pernah ada sebelumnya. Saat umur delapan belas tahun dia sudah berhasil menembus Pendekar Bumi tingkat enam. Dan saat ini, Wu Gong-nya sudah hampir setara dengan bela diri Guru Biara Qianhen, sudah sampai pada praktik Pendekar Langit tingkat delapan.


Karena itu, Xue Hongli amatlah disegani di kekaisaran selain sebab latar belakang keluarga bangsawan kerajaan yang melekat pada dirinya. Nama hakim kerajaan Xue Ding amatlah tersohor mengingat dia adalah orang kepercayaan Selir Agung, Wu Qinghua, ibunda dari Wang Yan.


Setelah kasus pemalsuan dekrit oleh Selir Agung, posisi Hakim Xue menjadi goyah meskipun Kaisar tidak mencabut jabatannya. Selir Agung mempercayakan masa depan Wang Yan kepada Hakim Xue, sehingga mau tidak mau, Xue Hongli juga ikut terseret dalam pengabdian sang ayah terhadap Selir Agung.


Itulah sebabnya dia diutus oleh Xue Ding untuk menjemput Wang Yan dari liburannya secara pribadi, berniat menjadikannya sebagai pendamping setia Wang Yan yang dapat menjaganya setiap waktu.


Namun menjadi putra hakim yang sepenuhnya pengabdi Selir Agung, tidak serta merta membuat Xue Hongli benar-benar ikut mengabdi. Satu hal yang perlu diketahui bahwa dia adalah orang Kaisar, tunduk pada Kaisar.


"Wang Ze!"


Kedatangan Xue Hongli menginterupsi kegiatan Wang Yan yang tengah sibuk memutar-mutar pena di jarinya, dia segera berlutut dan memberi hormat padanya.


"Duduklah, Tuan Muda Xue. Aku minta maaf merepotkanmu atas kunjungan ini," ucap Wang Yan dengan ramah.


"Ah, sama sekali tidak merepotkan. Keluarga kami berhutang budi seumur hidup kepada Selir Agung Wu, sudah kewajiban saya untuk memastikan keamanan Yang Mulia."


Xue Hongli duduk pada bangku yang berhadapan, memanggil Shi Xia untuk membawakan kotak berukuran sedang dari keretanya.

__ADS_1


"Sebelum ke mari, saya menyempatkan diri untuk mampir di Asosiasi Nanhua. Saya juga menyiapkan beberapa hadiah untuk anda, saya harap, ini akan berguna." Xue Hongli meletakkan kotak itu di atas meja.


Wang Yan menerimanya dengan antusias, dia tersenyum setelah membuka tutupnya. Xue Hongli membalas senyuman itu dengan bibir yang ditekuk simpul, menunggu reaksi selanjutnya dari Wang Yan.


Sang pangeran kembali menatap Xue Hongli. "Sumber daya ini amatlah berharga, saya menghargai niat baik anda. Terima kasih atas perhatian anda, Tuan Muda Xue."


"*Lan ren! Simpan dengan baik barang pemberian Tuan Muda Xue ini, letakkan di ruanganku," perintah Wang Yan kepada dua pengawal yang berdiri satu meter di sebelah kirinya, tidak jauh dari kursi yang tengah dia duduki.


Mereka pun memindahkan kotak itu dengan hati-hati dari atas meja. Xue Hongli terkekeh melihat Wang Yan begitu menyukai hadiah yang dibawakannya, beberapa kali menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Baru beberapa bulan saja, aku sudah sangat merindukan ibu kota," celetuk Wang Yan menatap permukaan meja. "Bagaimana kabar ayahandaku? Cuaca menjadi sangat dingin akhir-akhir ini, semoga ayahanda selalu diberkati dengan kesehatan."


Xue Hongli mengangguk pelan. "Kabar Baginda sangatlah baik, beliau bahkan sempat menyelenggarakan perburuan kemarin sore. Hanya saja... Masalah kekaisaran mulai tidak terkendali, Perbatasan Huangyin beberapa kali mengalami pengepungan dari Kaisar Tang."


"Bagaimana keadaan di perbatasan saat ini?" tanya Wang Yan dengan raut wajah khawatir.


"Tidak terlalu baik. Kaisar telah mengirim Jenderal Zhao dan Pangeran ke-dua bersama Kavaleri Laoying, untuk melakukan evakuasi terhadap penduduk yang tinggal di daerah perbatasan. Harusnya, dalam satu bulan ke depan, perbatasan telah benar-benar dibersihkan."


Rasa simpati dan prihatin bertengger di hati Xue Hongli. Ia merapatkan bibirnya dan tersenyum simpul kepada Wang Yan, berusaha menyemangatinya.


"Jangan berkecil hati, Wang Ze. Bantuan dan dukungan bukan hanya berasal dari kekuatan. Asalkan seseorang mempunyai ambisi yang kuat dan hati yang bersih, maka dia dapat menaklukkan seluruh dunia," ujar Xue Hongli.


Wang Yan membalas senyumannya. "Kau selalu seperti itu, Tuan Muda Xue, selalu memperlakukan aku dengan baik. Di saat semua orang meremehkanku, menjelek-jelekkan, bahkan mencemooh ibuku, tapi kau masih sangat baik padaku. Kakak-kakak, ketiganya adalah orang hebat. Tapi aku lebih merasa bahwa kau adalah saudaraku."


"Terima kasih," ucap Wang Yan pelan.


***

__ADS_1


Xue Hongli melangkahkan kakinya memasuki kamar sebuah penginapan yang sudah disiapkan oleh pelayan. Setelah menutup pintu, ia segera menanggalkan pakaiannya satu persatu hingga hanya tersisa baju dalam tipis yang menutupi tubuh gagahnya.


Ia menuju ruang mandi yang juga telah dihangatkan oleh pelayan penginapan. Pemuda itu menenggelamkan tubuhnya, dari dada hingga kaki di dalam bak kayu yang diisi oleh air hangat. Lamat-lamat, Xue Hongli memejamkan mata sambil menyenderkan kepalanya di bibir bak mandi. Rasanya menenangkan.


Persoalan negara memang tidak akan ada habisnya. Terlahir sebagai putra keluarga hakim, berarti tidak akan pernah lepas dengan urusan negara. Terkadang, Xue Hongli kerap membayangkan betapa bagusnya jika dia hanyalah anak seorang pengembala saja. Mungkin, dengan begitu, hidupnya bisa lebih tenang dan bebas.


Setiap hari membawa ternak ke gunung, membawa sebuah *Dizi lalu memainkan lagu Shanhua sambil menunggangi sapi ternak, menghindari dunia persilatan dan hiruk-pikuknya.


Prestasi yang telah diukirnya di dunia persilatan dapat dia relakan, meski menjadi orang biasa yang tidak punya kemampuan apapun, tapi itu adalah hal yang lebih baik dari sekadar menjadi bidak di papan *Weiqi dunia.


Selama ini, dia berusaha untuk menjadi lebih kuat dan lebih hebat hanya untuk melindungi diri dari musuh-musuhnya, membangun organisasi Benteng Putih sebagai cadangan kekuatan, untuk menyokong kekaisaran agar tetap kokoh. Dia tidak akan pernah bisa menghindari takdirnya.


Membayangkan itu, beban berat di kepalanya seakan terangkat sebagian besar. Xue Hongli hampir terlelap di posisinya, tak terasa, sudah tiga puluh menit dia berada di sana.


Xue Hongli segera bangkit kemudian mengambil handuk untuk mulai mengeringkan tubuhnya. Ia mengenakan pakaian baru yang tidak terlalu tebal, melangkahkan kakinya ke dalam kamar.


Namun langkah Xue Hongli segera terhenti saat dia menyadari, bahwa dia tidak sendirian di ruangan itu.


"Siapa di sana?!"


----~----~----~----


*Wang Zi : pangeran.


*Lan ren : pelayan (digunakan ketika memanggil pelayan saja).


*Dizi : salah satu jenis seruling di Tiongkok.

__ADS_1


*Weiqi : catur (baduk/igo/catur go)


...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh....


__ADS_2