Immortal Fire

Immortal Fire
Chapter 39 : Hu Xian, Wei Ziyou Dan Perburuan Siluman


__ADS_3

Setelah membersihkan dan membalut semua luka gadis itu, Liu Ying mendudukkan dirinya lelah dan turut duduk di tepi ranjang.


"Gadis, siapa namamu?" Liu Ying melirik perban yang membungkus beberapa bagian tubuh gadis itu.


Sejenak gadis itu terdiam seperti tidak akan menjawab pertanyaan Liu Ying.


"Melihat dari bentuknya, habis bertarung dengan siapa sehingga mendapatkan luka aneh mengerikan ini?" tanya Liu Ying yang sedikit heran dengan keanehan lukanya.


Tidak seperti goresan pedang maupun senjata lainnya, justru seperti cakar raksasa yang membentuk pola dua cakar. Hewan buas apa yang punya dua buah cakar di satu kaki? Ini jelas-jelas hanya satu kaki dan tidak lebih.


Gadis itu memberi tatapan menyelidik. "Aku Wei Ziyou, berasal dari sekte Sungai Perak, Xian Gege dari sekte Tombak Bersiul."


"Kami seharusnya melakukan perjalanan ke Xiliang Jing. Namun di tengah perjalanan, kami bertemu sebuah desa yang seluruh penduduknya terancam oleh serangan Siluman. Kebetulan sekali, kami juga sedang mencari tujuh permata Siluman untuk membantu meningkatkan tingkat kultivasiku. Aku dan Xian Gege berpikir untuk membatu penduduk mengatasi teror itu sekaligus berniat mengambil permata Siluman, kami mendatangi sarang seekor Siluman Macan Hitam berusia sekitar enam ratus tahun."


Wei Ziyou berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Kemampuan kami tidaklah begitu tinggi. Namun entah bagaimana caranya, Xian Gege mampu menumbangkannya meski ia sudah berada di sisa-sisa kekuatannya."


Liu Ying tenggelam bersama pemikirannya sendiri. "Siluman Macan Hitam?"


Liu Ying jadi teringat bahwa Zhou Li pernah mengatakan sesuatu mengenai Siluman dan permata spiritualnya. Kalau tidak salah, permata Spiritual Siluman sangat berharga di dunia persilatan.


Satu buah permata siluman berusia kisaran lima ratus tahun setidaknya setara dengan lima lingkaran tenaga dalam, permata siluman seusia itu adalah yang paling kecil dan biasanya dihargai sebesar tiga puluh keping emas.


Liu Ying baru terpikirkan tentang cara mendapatkan tambahan keuangan yang semakin menipis, ia seperti baru saja mendapat ide brilian.


"Memburu Siluman, apakah tujuan utama kalian adalah Hutan Kematian?"


Wei Ziyou mengangguk. "Lima puluh kilometer ke arah selatan, melewati Distrik Xi Liangjing. Kami diutus oleh sekte untuk mengumpulkan tujuh permata siluman sebagai ujian kenaikan tingkat."

__ADS_1


"Perjalanan ini sangatlah beresiko. Jika saja bukan karena aku yang lemah, mungkin Xian Gege tidak akan mengorbankan dirinya untuk mendapatkan permata siluman itu, semuanya dia lakukan agar aku bisa naik tingkat." Wei Ziyou tampak sangat bersalah, ada penyesalan dalam setiap kalimat yang dilontarkannya.


Gadis itu menjelaskan bahwa jika tahun ini dia tidak mendapatkan peningkatan, maka ia tidak dapat mewarisi sekte Sungai Perak. Ayahnya juga terus mendesak agar ia melampaui setidaknya dua tingkat dalam waktu dekat, dia mungkin bisa diangkat menjadi calon pewaris.


"Mendengar ceritamu, aku sedikit teringat dengan suasana sekteku," gurau Liu Ying sambil merangkul Wei Ziyou di sampingnya.


Gadis itu menjadi sedikit bersemangat saat Liu Ying menyinggung pasal sektenya. "Ternyata kau juga dari perguruan, katakan dari sekte mana kau berasal?"


"Sekte Teratai Emas. Tapi berbeda denganmu, aku bahkan tidak pernah berpikir untuk kembali lagi."


Liu Ying tersenyum menatap lantai yang agaknya berdebu. "Sebenarnya nasib kita ini hampir sama. Kakekku adalah kepala sekte yang suka mengekang dan memaksa, dia bahkan berniat mengirimku untuk mengabdikan seluruh hidupku di kuil untuk selamanya. Untungnya takdir berpihak padaku, hingga akhirnya aku bisa membebaskan diri dari penjara terkutuk itu."


"Tidak kembali lagi?!" pekik Wei Ziyou terkejut.


"Jadi, keman tujuanmu sekarang? Apa kau sedang mencari perguruan lain untuk bergabung?" tanyanya bertubi-tubi.


"Untuk sekarang ini, tujuanku hanyalah menyelidiki kasus kematian orangtuaku." tuturnya singkat.


Liu Ying tidak berniat mengatakan tentang mencari informasi untuk melepaskan segel meridiannya, baginya itu adalah sebuah rahasia kecil yang mungkin tidak diperlukan.


"Namun aku baru saja berpikir tentang permasalahan keuanganku." Liu Ying menjeda sejenak sebelum melanjutkan. "Apa aku boleh ikut berburu Siluman dengan kalian?"


Wei Ziyou menatap dalam kepada Liu Ying, berpikir bahwa kenapa gadis di hadapannya sama sekali tidak terpikir mengenai hidup dan mati?


Wei Ziyou berdehem. "Bukannya tidak boleh, tapi aku juga baru berpikir untuk membatalkan perjalanan ini. Xian Gege sudah menderita cukup parah, aku mulai beranggapan bahwa menjadi pewaris bukanlah sesuatu kewajiban."


Liu Ying mendengus putus asa mendapati jawaban itu. Padahal ia baru saja berharap, ia belum pernah bertemu ataupun melihat secara langsung bagaimana hebatnya Siluman yang kerap kali Zhou Li diceritakan kepadanya.

__ADS_1


"Jadi kau akan berhenti di tengah jalan begitu saja?" timpal Liu Ying lesu.


Sementara itu Wei Ziyou hanya menggidikkan bahunya, Liu Ying berpamitan untuk membiarkan gadis itu istirahat. Trauma Wei Ziyou perlahan-lahan pulih, ia sudah bisa tenang.


"Panggil aku jika kau butuh sesuatu," ucapnya sebelum menghilang dari balik ruangan.


Liu Ying melajukan kakinya menuju kamarnya, berniat melakukan meditasi dan mempraktikkan semua isi dari buku Kitab Pembersih Jiwa yang diberikan oleh Zhou Li, perlahan-lahan ia mulai rileks dan merasa damai.


Qi di daerah itu tidak terlalu tipis, tapi Liu Ying tetap tidak bisa menyerapnya sama sekali. Benar yang dikatakan Zheng Tian, Segel itu benar menutup hampir keseluruhan meridiannya.


Bahkan dalam mengumpulkan tenaga dalam saja, Liu Ying harus mengunsumsi dua kali lipat sumber daya yang umumnya digunakan oleh orang normal. Untungnya selama di Sekte, Xi Guan tidak terlalu mempermasalahkan mengenai banyaknya sumber daya yang dihabiskan oleh Liu Ying.


"Aku merasakannya, tapi sama sekali tidak bisa menjangkaunya," gumam Liu Ying pelan sambil menatap lekat lembaran lusuh di hadapannya.


Ia dapat merasakan sesuatu yang panas di balik rusuknya, ia tidak tahu apa dan kenapa seperti ada yang hidup di sana.


'Lepaskan. Layaknya air yang mengalir tanpa hambatan, seperti hembusan nafas yang tenang tanpa beban.'


Satu kalimat itu yang tercetak dengan gaya tulisan yang sedikit berbeda dari yang lain, ditulis dengan tinta merah dan terlihat lebih kecil dari huruf lainnya. Kata-kata itu terngiang di benak Liu Ying, membuatnya seperti memahami satu hal.


"Dilepaskan, ya?" gumam Liu Ying pelan.


Ia mulai mengumpulkan konsentrasinya membiarkan tenaga yang terkurung di dalam tubuhnya mengalir dan bergolak di meridiannya. Rasanya mengalir dengan sempurna, namun sama sekali tidak bisa keluar.


Dahi Liu Ying sudah mulai basah oleh keringat, namun tetap saja ia tidak bisa mengeluarkan tenaga yang rasanya sangat besar itu. Rasanya tidak mungkin, Liu Ying hanya bisa mengeluarkan tenaga dalam di jumlah kecil sejak dulu. Namun tenaga yang bergolak itu sama sekali tidak bisa keluar.


Jika dipelajari lagi, seharusnya tenaga yang terkunci itu memiliki jalan keluar yang sama seperti jalan keluar tenaga dalam Liu Ying. Gadis itu juga tidak tahu pasti mengenai tenaga jenis apa yang selama ini menempel dan tertahan di dalam sana.

__ADS_1


...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh....


__ADS_2