Immortal Fire

Immortal Fire
Chapter 23 : Rekan Atau Lawan?


__ADS_3

"Aku ingin mempermudah, tapi sepertinya kalian lebih memilih kesulitan."


Liu Ying menyeringai lebar, kemudian megeraskan tinjunya. Kelima pria itu saling menatap satu sama lain, sedikit meremehkan Liu Ying.


"Hei, sepertinya dia masih terlihat sangat muda." salah satu di antara mereka terkekeh.


Pelanggan yang sedang menikmati makanan, tidak terlalu peduli dengan cekcok dan perdebatan yang tengah berlangsung di hadapan mereka.


Liu Ying tersenyum simpul, "Paman, kau tidak bisa menilai tinjuku dari seberapa muda aku. Kalian terlalu meremehkan lawan."


Orang-orang itu tertawa terbahak-bahak, tidak menganggap serius perkataan Liu Ying.


"Anak muda, baju siapa yang kau pakai itu. Baju ayahmu?"


Liu Ying menjadi kesal, "Siapa yang ingin mencicipi tinjuku lebih dahulu? Ingat, aku tidak main-main."


"Dan bila aku menang, semua tagihan dianggap lunas. Bagaimana?" tambah Liu Ying sambil memutar-mutar tinjunya malas.


Bukannya takut, mereka justru tertawa semakin keras seolah-olah kata-kata Liu Ying merupakan candaan yang amat lucu.


"Baik, kau bahkan bisa mendapatkan logam ini." pemilik rumah makan itu memperlihatkan sebuah logam berbentuk bundar dan memiliki ukiran di atasnya.


Logam itu adalah logam eksklusif, hanya orang-orang tertentu yang memilikinya. Biasanya itu digunakan sebagai bukti bahwa orang yang memilikinya dapat makan gratis di toko tersebut dalam batas lima kali penggunaan.


Melihat itu, mata Liu Ying langsung berkilauan. Siapa yang tidak ingin makan gratis semaunya sebanyak lima kali kunjungan?


"Mari paman, majulah terlebih dahulu. Bukankah akan sangat memalukan jika kalian kalah dari anak muda sepertiku?"


Sontak tawa mereka berhenti, salah satu dari kelima pria itu langsung maju tanpa membawa parangnya.


"Memangnya kau sehebat apa, hah-!?"


Pria itu melayangkan pukulan ke wajah Liu Ying, namun dapat dihindari dengan mudah.


Liu Ying tidak balas memukul melainkan menahan kedua tangan pria itu, memutar serta memelintirnya.


Krak-!


Pria itu mengerang saat tangan kirinya diputar oleh Liu Ying dengan mudah menggunakan sebelah tangan. Liu Ying juga tidak nampak kewalahan.


Karena kesal pukulannya tidak mengenai lawan, pria itu mencoba menyerang kaki Liu Ying yang berdiri kokoh.


"Tidak semudah itu-!"


Liu Ying menendang bokong pria itu. Karena tidak mau berlama-lama, Liu Ying melayangkan sebuah bogeman tepat di rahang bagian bawah pria sehingga membuatnya terlempar ke belakang.


Liu Ying tersenyum kemenangan, menaikkan satu kakinya ke atas kursi.


Sontak semua pelanggan yang ada di sana, lari berhamburan untuk menyelamatkan diri.


Pelayan serta sisa empat pria tadi terdiam, "Dia ... dia jenius bela diri-!?"


Wajah mereka berubah serius, Liu Ying paham betul dengan apa yang mereka pikirkan.

__ADS_1


Tanpa aba-aba mereka langsung menyerang Liu Ying sekaligus, tidak terima dengan kekalahan. Tak lupa mereka juga membawa golok di tangan mereka.


Liu Ying juga meraih pedangnya, tapi tidak berniat melepas sarung pedangnya sama sekali.


"Oho-! Kalian terlalu menganggapku remeh, ya?" Liu Ying memainkan kumis palsunya.


"Banyak bicara-!"


Mereka menebaskan golok ke arah Liu Ying secara bersamaan dalam jarak yang dekat, mereka cukup yakin kali ini Liu Ying tidak akan bisa menghindarinya.


Namun mereka cukup terkejut saat Liu Ying sudah tak lagi berada di hadapan mereka, "Bagaima-"


Bugh-!


Bugh-!


Plakkk-!


Bugh-!


...


Dengan sekejap mata, keempat pria itu sudah berbaring di lantai dengan kondisi wajah penuh luka dan lebam.


"Siapa sebenarnya bocah tengik ini-?"


Karena pegal, Liu Ying menarik sebuah bangku untuk diduduki.


"KAU-!"


Pelayan itu kehilangan kata-kata, ia benar-benar kalah telak. Siapa sangka orang yang dia permasalahkan adalah seorang jenius bela diri?


Tiba-tiba saja seorang wanita kisaran umur di atas tiga puluh tahunan, muncul dari arah pintu. Tanpa diduga pelayan serta lima pria yang tadi dipukuli Liu Ying, langsung tunduk hormat.


Tentu saja kehadiran wanita itu mengundang perhatian. Liu Ying kembali berdiri saat wanita muda itu berdiri di tengah-tengah mereka, bertanya-tanya identitas orang itu di dalam hati.


Wanita itu tersenyum manis kepada Liu Ying, kemudian menatap tajam ke arah pelayan dan lima pria tadi sehingga membuat mereka tunduk ketakutan.


"Maaf atas ketidaksopanan dari bawahan saya."


Liu Ying merengut heran, namun tetap membalas senyuman wanita itu.


"Saya Yu Niang, pemilik rumah makan ini."


"Tuan, kalau boleh tahu, siapa dan dari perguruan manakah anda berasal?" ucap wanita itu ramah.


"Panggil aku Mei You Yachi, dari gunung Da An."


Sontak pelayan dan lima pria itu tertawa mendengarnya.


Wanita paruh baya itu tersenyum simpul, "Mei You Yachi, apakah itu benar-benar sebuah nama?"


Liu Ying mengangguk. Jika saja bukan karena menyamar, ia pasti akan menindas mereka dengan nama sekte Teratai Emas.

__ADS_1


Bodohnya Liu Ying malah menyebutkan nama yang konyol karena asal bicara. Mei You Yachi artinya tidak memiliki gigi, sejak kapan Liu Ying kehilangan giginya?


"Tuan, kenapa engkau dinamai begitu?" tanya wanita itu lagi.


Liu Ying berpikir sejenak kemudian tersenyum nakal, "Karena ayahku bernama Bu Yao Ku, kakekku Bu Gan Kan dan leluhurku adalah Bu Shi Mao. Jadi, bisa dibilang sebagai nama warisan keluarga."


*Mei Yao Ku : (jangan menangis), Bu Gan Kan : (tidak berani melihat), Bu Shi Mao : (bukan kucing).


Semua orang yang berada di sana langsung terbahak kecuali sang wanita, lelucon macam apa ini?


"Wo bugan kan ta, ta meiyou yachi. Wo shuo buyou ku, ruguo ni bushi mao."


Anda sedang bermain-main rupanya," ucap wanita itu sambil mengisyaratkan para bawahannya untuk berhenti tertawa.


*Wo bugan kan ta, ta meiyou yachi. Wo shuo buyao ku, ruguo ni bushi mao. (aku tidak berani melihat dia, dia tidak punya gigi. Aku bilang jangan menangis, jika kamu bukan seekor kucing).


⤵️⤵️⤵️⤵️⤵️


Sebuah kalimat yang diambil dari lirik lagu anak-anak pada masa itu.


Liu Ying tertawa lepas melihat wajah masam wanita itu, "Maafkan aku, Nyonya. Aku hanya bercanda."


"Baiklah-!"


"Zhu Han, bawa suruh mereka pergi. Tinggalkan kami berdua dan kembali ke pekerjaan kalian masing-masing," perintah wanita itu kepada si pelayan galak tadi.


Mereka pun segera berlalu, menyisakan dua orang itu yang kini telah duduk berhadapan di kursi meja makan pelanggan rumah makan itu.


Wanita itu berniat membuka percakapan, "Nona--"


"Aku punya kumis!" potong Liu Ying menunjuk bagian atas bibirnya.


"Ah, Tuan. Biar kutebak, kau dari lembah teratai?" ucap wanita itu percaya diri.


Liu Ying melototkan matanya terkejut, "Dari mana kau tahu itu?"


Wanita paruh baya itu tertawa ringan sembari memutar-mutar kipasnya dengan jari.


"Mudah saja, gaya bicaramu nyaris sama dengan Zhou Li. Lagipula dia telah memberitahuku beberapa hal tentangmu," tukasnya santai.


"Gila, apa kau seorang cenayang?"


Dengan seringai lebar, wanita itu mendekatkan wajahnya sambil mengeluarkan sesuatu dari balik lengan Qiankun-nya.


"Menurutmu?"





...Nihao! Selalu Vote dan share cerita ini ke temen-temen kalian, ya. Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya, aku selalu baca komenan kalian loh. ...

__ADS_1


__ADS_2